
Leticia berjalan keluar kamar dan menuju gerbang masuk kosannya, dengan berusaha jalan walaupun Leticia berjalan dengan terhuyung-huyung karena berusaha menahan rasa sakit kepalanya itu.
Leticia keluar dengan keadaan ia memakai sendal yang saling tertukar, hali itu membuatnya berjalan dengan rasa yang tidak nyaman.
“Akhh!! berjalan dengan sendal yang tertukar seperti ini rasanya benar-benar sangat membuat ku tidak nyaman, tapi jika aku merubahnya sekarang itu akan membuang buang banyak waktu ku.”
“Aku harus segera sampai mini market itu! dan segera mendapatkan obat sakit kepala ini” Leticia menyemangati dirinya sendiri.
Dengan keadaan lengan baju kirinya yang penuh darah, kening kirinya yang terluka, kepalanya yang terasa sangat menyakitkan, rambutnya yang sangat berantakan dan pemakaian sendal yang tertukar membuat penampilan Leticia sangat tidak enak di pandang.
“Ih.. ibu ibu lihat ada orang gila di sana Bu, aku sangat takut!!” teriak seorang anak kepada ibunya dengan menunjuk-nunjuk kearah Leticia.
“Ih iyaa.. penampilannya gak bagus banget.. sangat kacau nak.. jangan sampai kamu berpenampilan seperti itu ya.. menjijikan!! Ya sudah jangan kamu lihat” kata ibu anak itu sambil menepatkan anaknya menjauhi Leticia.
Leticia yang tidak dapat beraksi apapun dengan keadaannya seperti itu, ia pun hanya bisa menatap mereka berdua yang berjalan perlahan melalui Leticia.
“Tak... Tak...” suara dua batu besar yang menimpa Leticia.
“Akhh!!!” Leticia berteriak kesakitan.
Sebuh batu besar yang terlempar mengenai kepala dan lengan kiri Leticia.
Akibat dari lemparan batu besar itu membuat kepala dan lengan kiri Leticia berdarah, dan itu membuatnya mengeluarkan cukup banyak darah.
“Sakit sekali!! kepala ku tambah sakit!! Lengan kiri ku berdarah cukup banyak dan itu sangat sakit!! Aku tidak bisa memegang kening dan kepala ku dengan lengan kiri ku” keluh sakit Leticia yang hanya bisa ia simpan dalam diri.
“Kamu!! Jangan lihat lihat kami! Kamu membuat anak saya menangis ketakutan karena melihat kamu! Kamu membawa sial tau ga?!!” bentak ibu anak itu yang ternyata melemparkan batu itu kepada Leticia.
Leticia yang mendengar hal itu, ia pun langsung mengalihkan pandangannya dari mereka berdua.
Dan Leticia yang mendengar hal itu ia merasa sangat sedih dan merasa sangat hancur, sehingga tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
“Kenapa dia berbicara seperti itu kepada ku? Aku tidak melakukan apapun kepada anaknya.. Aku disini hanya berusaha mendapatkan obat untuk kepala ku.. hiks... hiks.. hiks..” ucapnya dalam hati dengan air mata yang terus keluar membasahi kedua pipi Leticia.
“Sudah jangan menangis Leticia! kamu harus kuat! Kalau kamu terus menangis seperti ini.. itu kan menjadi sangat menyakitkan untuk kepala mu itu!!”, Leticia yang sedang berusaha menyemangati dirinya.
Leticia pun berusaha untuk tidak menangis, dan ia melanjutkan perjalanannya ke minimarket.
Perjalanan yang cukup memakan waktu yang lama, walaupun sebenarnya jarak antara kosan Leticia dengan minimarket itu tidak sangatlah jauh.
“Kcrieng” suara lonceng yang terdengar ketika Leticia membuka pintu minimarket itu.
Saat Leticia memasuki minimarket, penjaga kasir yang melihat keadaan Leticia, ia merasa sangat terkejut dan takut untuk mendekati Leticia.
Penjaga kasir itu adalah wanita yang sama saat Leticia membeli sebuah sedal dan obat luka pada waktu itu.
Penjaga kasir itu melihat keadaan Leticia yang berantakan dengan baju yang dipenuhi darah, ia pun tidak dapat mengenali bahwa itu adalah Leticia, wanita yang ia tolong saat itu.
Leticia mendekati penjaga kasir itu dengan kepala tertunduk dan rambut yang menutupi wajahnya.
“To Tolong.. Tolong bawakan saya sakit obat kepala dan obat luka!! Ini terasa sangat amat menyakitkan.. saya tidak bisa menahannya lebih lama lagi” Leticia berbicara dengan suara yang merintih.
“Sebentar akan saya bawakan” penjaga kasir itu langsung berjalan menuju etalase yang di penuhi obat-obatan.
“Saya beli semua jenis obat sakit kepala itu!” karena Leticia tidak mengetahui obat apa yang cocok dengan dirinya untuk mengatasi sakit kepalanya itu.
“Baiklah.. akan saya hitung harganya untuk semua barang ini” penjaga kasir itu mengiyakan permintaan Leticia.
“Saya harap anda lebih cepat.. saya ingin pulang..” Leticia mengucapkan itu kepada penjaga kasir.
“Teet..teet..” suara mesin yang terdengar dari kasir.
“Ini semua totalnya Rp 34.000,00-,” dengan membungkus semua obat Leticia.
Leticia langsung membayar obat-obatan itu dan langsung keluar dari minimarket itu untuk segera pulang menuju kosannya.
“Kcrieng” suara lonceng yang terdengar ketika Leticia membuka pintu minimarket itu.
Leticia yang bergegas pulang dengan membawa beberapa obat di tangannya.
“Aku harus segera pulang untuk minum obat sakit kepala ini, Aku harus segera bergegas pulang!! Aku kuat menahan sakit ini dengan lebih lama!!” Leticia yang sedang memaksakan dirinya untuk selalu tersadar agar ia tidak pingsan di pinggir jalan.
“Akhh!! Tapi ini sangat amat menyakitkan!!” Leticia yang kembali memukul mukul kepalanya dengan kedua tangannya itu.
Leticia pun akhirnya berhasil sampai kosan, dan ia langsung menuju kamar kosannya itu.
“Kryeekkk...” pintu kamar kosan Leticia terbuka
Leticia langsung memasuki kamar kosannya itu, dan langsung segera menutup dan mengunci pintunya itu agar orang orang yang yang tertidur itu tidak terbangun akibat dirinya.
“Ah.. jam 1 malam? Butuh waktu berapa lama untuk aku sampai ke kosan ini dari minimarket itu?!” Leticia yang tidak sengaja melihat jam dinding di kamarnya.
Leticia pun langsung segera duduk di ranjangnya dan membuka plastik kresek itu, agar ia dapat meminum obat sakit kepala itu.
“Sekarang yang aku butuhkan hanyalah segera meminum obat sakit kepala ini dan untuk luka ini akan ku obati esok pagi” Leticia mengeluarkan ketiga jenis obat sakit kepala itu dari plastik kresek.
“Tapi yang mana yang harus aku minum? Mana yang lebih efektif menyembuhkan sakit kepala ku ini? Akhh ini sangat sakit aku harus segera meminumnya!!”
Akhirnya Leticia pun memutuskan untuk meminum ketiga jenis obat itu.
“Aku harap obat-obat ini dapat menyembuhkan sakit kepala ku dengan segera..”
Tidak lama setelah meminum ketiga jenis obat itu, Leticia langsung tidur terlelap.
********
“Tok..Tok..Tok..” suara ketukan pintu.
“Leticia..Leticia buka pintu Cia, ini kak Roy buat makan siang untuk kamu.. Leticia... Leticia” Roy yang terus menerus mengetuk pintu kamar kosan Leticia.
“Ada apa ini dengan Leticia? Kenapa dia dari pagi tidak ada suara apapun dari kamarnya.. seperti tidak adanya kehidupan.. atau dia sedang pergi saat aku memasak?” Roy yang bertanya-tanya tentang Leticia.
Sudah cukup lama Roy berada di depan pintu kamar kosan Leticia sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya itu, tapi sampai saat ini tidak adanya respon apapun dari kamar Leticia.