Leticia

Leticia
Bab 17 : Kenapa?



Roy sedang berbaring di tempat tidurnya, dengan tangan yang berada di atas kepalanya.


“Ada apa dengan Leticia? Mengapa dia terlihat tidak fokus? Apa ada masalah yang sedang Leticia hadapi?” Roy bertanya-tanya dalam hati.


“Tadi Leticia baik-baik saja, tapi kenapa pas pulang dari rumah temannya itu ia menjadi sangat murung? Sehingga saat aku berbicara dengannya ia tidak merespon pembicaraan ku”, hal itu membuat Roy semakin penasaran dengan keadaan yang menimpa Leticia.”


“Aku harap tidak ada kejadian yang buruk menimpa Leticia, dan semoga ia jujur dengan kata-katanya yang Baik-baik saja.” Roy yang berusaha berfikir positif mengenai Leticia.


Roy pun memutuskan untuk memejamkan matanya, dan memutuskan untuk segera tidur.


*******


“Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa membayar ganti rugi laptop Toma itu? Laptop itu bukankah laptop Toma itu harganya sangat amat mahal?”


“Uang gaji ku di kafe XX juga tidak banyak, dan aku juga harus membayar uang kos ini setiap bulan dan harus menempati janji ku pada kak Roy untuk mentraktir makan untuknya saat gaji pertama aku terima, Aku juga harus mengeluarkan uang setiap hari untuk aku makan dan menuruti setiap permintaan dari Toma.”.


“Mengapa saat itu Oledia tidak mengatakan apapun kepada Toma? Kenapa harus aku yang di salahkan untuk semuanya? Bukankah di sin Oledia juga bersalah? Mengapa Oledia melampiaskan semuanya pada ku?”.


“Aku merasa bersalah dengan Toma, kenapa saat itu aku tidak benar-benar menjaga laptop Toma? Kenapa aku sangat ceroboh tentang hal itu? Kenapa aku tidak memegang laptop Toma dengan erat dan ku genggam dengan baik? Bukankah saat Toma memberikan laptop itu padaku berarti dia berusaha mempercayai ku sepenuhnya tentang laptopnya itu?”.


“Aku merasa bersalah kepada Bi Tutik, ia sangat baik kepada ku, tetapi aku membuat Bi Tutik menjadi tempat pelampiasan amarah Toma. Walaupun sebenarnya aku tahu bahwa Toma marah terhadap ku, tapi Toma tidak bisa mengutarakan atau melampiaskan marah nya itu kepada ku..”.


“Mengapa aku haru merusak kepercayaan Toma, yang telah ia berikan padaku saat itu?”.


“*Saat ini 'Dia' juga pasti sedang mencari cari ku.. aku merasakan firasat buruk tentang hal ini, aku harap dia tidak dapat menemukan ku disini dan membuat hidup ku menjadi lebih sulit”.


“Dan mengapa 'Dia' terus menerus berusaha melakukan itu kepada ku?, apa yang telah aku perbuat sehingga 'Dia' melakukan ini kepada ku?”


“Sebenarnya apa yang telah aku perbuat sehingga mengakibatkan semua hal ini? aku sudah berusaha sekuat tenaga ku untuk selalu bersikap baik kepada semua orang”.


“Aku selalu berusaha menerima sikap mereka terhadap ku walaupun itu salah. Tapi mengapa semuanya malah bersikap seenaknya terhadap ku?”


“Aku tidak pernah berbuat jahat kepada mereka.. aku tidak pernah berbuat jahat kepada mereka.. aku tidak pernah berbuat jahat kepada mereka..”.


“Aku bahkan berusaha untuk hidup sebagai hantu yang tidak ingin di lihat, di ketahui dan ingin di abaikan oleh semua orang”.


“Tetapi.. Bahkan diriku yang tidak pernah menganggu mereka, mereka tetap merasa terganggu kepada diri ku. Aku tidak pernah menempatkan diri ku untuk diketahui semua orang”.


“Kenapa hal ini terus menerus terjadi kepada diri ku? kenapa*?!!”


Leticia tidak bisa meneteskan air matanya, ia hanya memiliki tatapan kosong yang membuat matanya menjadi memerah.


Leticia belum melepaskan tas pundaknya ataupun mengganti pakaiannya. Saat Leticia memasuki kamar kosannya ia pun langsung terduduk meringkuk di pojokan kamarnya.


Leticia sudah duduk dengan tubuh yang meringkuk dan dengan pikiran yang tidak fokus dengan waktu yang lama, sehingga tubuhnya tidak dapat menopang dengan baik yang membuat Leticia terjatuh tergeletak di atas lantai.


“Ugh” Leticia mengeluarkan suara kecil itu saat dia terjatuh tergeletak di atas lantai.


Dalam posisi berbaring pun ia tetap membuat tubuhnya meringkuk di lantai, dengan keadaan tas pundaknya yang masih tetap ia gunakan.


Leticia masih tetap memikirkan hal dan bertanya kepada dirinya telah itu terus menerus, sehingga ia merasakan kepalanya yang terasa sangat amat sakit.


“Ugh.. kepalaku sakit sekali.. rasanya seperti ingin pecah!! rasanya sakit sekali!!” dengan kedua tangan yang memegang kepalanya.


“Kenapa ini!! aku tidak pernah merasakan sakit kepala yang seperti ini sebelumnya.. ini sakit sekali!!” Leticia memukul kepalanya dengan kencang dengan harapan ia dapat meredam sakit kepalanya.


Sakit kepala yang Leticia rasakan tidak berangsur membaik dan ia merasakan sakit kepala itu yang bertambah dengan hebat.


“Apa yang harus ku lakukan? apakah aku harus keluar dari kamar dan pergi ke minimarket untuk mendapatkan obat sakit kepala dengan segera? Ugh... Ya.. sepertinya aku harus melakukan hal itu, aku sangat tidak kuat merasakan sakit kepala ini!!”, Leticia menaruh tas pundaknya itu di lantai dan ia beranjak untuk berdiri.


Leticia berjalan menuju pintu kamar kosan dengan kedua tangan yang terus menerus memegang kepalanya.


Leticia pun berjalan terhuyung-huyung mendekati pintu kamarnya kosan itu dengan segera.


“Akhh!!” teriak kecil Leticia.


Leticia terjatuh saat ingin memegang gagang pintu itu , sehingga membuat keningnya terbentur ganggang pintu itu dengan amat sangat keras.


“Ah.... Berdarah... kening ku berdarah.. tetapi kepala ku sakit sekali!! Sampai aku tidak bisa merasakan sakit benturan itu di kening ku!!” Leticia mengelap darah yang berada di kening dan di lantai kamar nya.


Leticia berusaha kembali untuk berdiri, dengan kedua yang memegang gagang pintu itu dengan harapan dapat membantunya untuk berdiri.


Leticia berusaha dengan keras untuk berdiri.


Leticia akhirnya berhasil untuk berdiri. Leticia langsung membuka pintu itu, dengan lengan kirinya penutupi kening itu untuk menahan luka tersebut agar tidak adanya darah yang menetes netes ke lantai.


“Kryeekkk...” akhirnya pintu itu berhasil Leticia buka.