
“Bi Tutik, bisa tolong bukain pintu Bi?” teriak Toma kepada Bu Tutik yang sedang berada di dapur.
“Iyaa, tuan Bibi segara bukain”, terik Bi Tutik menuju pintu.
“Siapa yang datang selain Leticia ke sini?, Kenapa Pak Galih gak ada bunyiin bel suara?”, tanya Toma dalam hati yang terheran-heran.”
Bi Tutik segera membuka pintu nya.
“Haii Tom..ma?!” seorang wanita menyapa Toma, dan wanita itu terkejut ketika melihat Toma dengan Leticia.
“Hah siapa itu?” Toma berbicara dalam hati dengan situasinya yang masih mengerjakan tugas itu bersama Leticia.
“Halo, neng Oledia.. Tuan neng Oledia yang bertamu ke rumah”, ucap Bi Tutik kepada Toma.
“Oledia?, Ngapain dia kesini tumben banget datang ke rumah gak bilang-bilang”, ucapnya dalam hati.
“Oh kok di sini ada Leticia?!” ucap Oledia dengan nada tingginya.
Oledia pun menghampiri Toma dan Leticia.
Leticia yang mendengar dan melihat reaksi Oledia seperti itu tanpa ia sadari tubuhnya bergerak dengan sendirinya untuk berdiri dari duduknya.
“Loh kenapa kamu beridiri?" Tanya Toma kepada Leticia.
“Oledia, kenapa kamu tumben banget datang ke rumah tiba tiba tanpa ngasih kabar ke aku?” Toma yang berbicara kepada Oledia.
“Loh aku mau kasih kejutan buat sahabat ku, emang salah? Kenapa dia bisa ada di sini?” Oledia menunjuk Leticia.
“Biasalah kerja kelompok, kamu kan juga tau aku satu kelompok bareng Leticia untuk tugas biologi” Toma menjelaskan kepada Oledia.
“Sekarang kamu duduk dulu, dan buat Bi Tutik.. aku mau minta tolong, tolong bibi buatin minuman buat Oledia dan habis itu Bibi jangan datang lagi ke sini ya Bi” ucap Toma kepada Oledia dan Bi Tutik.
“Baik tuan segera saya akan segera membawakan minuman untuk neng Oledi” Bi Tutik yang berjalan ke arah dapur.
“Tidak akan terjadi sesuatu bukan? Tuan bukan tipe anak yang seperti itu” ucap Bi Tutik dalam hati.
“Kamu juga Leticia, kamu duduk gak perlu berdiri!” Ucap Toma dengan nada yang sedot lebih tinggi kepada Leticia.
“Loh? Kenapa Toma tiba tiba berubah sikapnya setelah Oledia datang?” Leticia yang terkejut dengan perubahan sikap Toma terhadapnya.
Leticia pun segera menuruti perkataan Toma, dan ia langsung hendak untuk kembali duduk di tempatnya.
Tidak lama waktu berselang, Bi Tutik membawa minuman Oledia dan menyusunnya di meja ruang tamu itu.
“Ini minumnya neng, Bibi merapihkan kamar tuan ya” Bi Tutik melanjutkan pekerjaannya kembali, setelah ia mendengarkan perintah dari Toma sebelumnya.
“Leticia kenapa kamu duduk berdekatan dengan Toma?” ucap Oledia dengan Nanda yang cukup tinggi kepada Leticia.
“Oh aku.. sedang mengerjakan tugas bersama dengan Toma jadi...” Leticia yang tidak sempat menyelesaikan ucapannya itu.
“Sini.. sini.. aduh.. jangan deket-deket sam Toma deh ih.. kamu itu gak pantes” menarik lengan tangan Leticia dengan kencang, dan menggeser posisi duduk Leticia menenjadi lebih jauh dari posisi duduknya yang dekat dengan Toma.
“Aw.. sakit” Leticia yang mengerang kesakitan dengan suara cukup pelan yang ia keluarkan.
“Hah apa? Sakit?! Kamu bilang sakit?! Orang cuma aku colek doang tangan kamu!” Oledia yang mendengar Leticia yang merang kesakitan, membuatnya menjadi tambah jengkel kepada Leticia.
“Geser aja deh kamu sana, dari pada nanti kamu berurusan dengan Oledia. Akhirnya malah nanti jadi tambah ribet” Toma berbicara dengan Leticia.
Akhirnya Leticia pun menjauhkan posisi duduknya dari mereka berdua.
Oledia yang melihat Leticia bergeser dari posisi duduknya, ia bergegas langsung mengantikan posisi Leticia itu. Dan Oledia sekarang duduk tepat di samping posisi duduknya Toma.
Leticia sedang mencoba menganggap kejadian saat ini hanya angin berlalu, kemudian Leticia melanjutkan aktivitasnya kembali dengan merjakan tugas itu di buku miliknya.
Leticia pun telah selesai mengerjakan tugas itu di dalam bukunya, tugas itu Leticia harus di pindahkan ke dalam laptop untuk dibentuk menjadi PPT.
Akhirnya Leticia memutuskan untuk meminjam laptop Toma.
“Toma, aku sudah selesai dengan tugas ini. Sekarang aku harus pindahkan tugas ini kedalam laptop, sedangkan aku tidak mempunyai laptop. Bisakah kamu meminjamkan laptop mu?” ucap Leticia kepada Toma.
“Gini ya rasanya satu kelompok sama orang miskin, gak ada modalnya banget. Masa laptop doang gak punya sih” sindir Oledia.
Leticia yang mendengar hal itu dari mulut Oledia merasa sangat amat sedih. Sehingga tanpa ia sadari, Leticia meneteskan air matanya.
“Aduh pake nangis lagi.. ini aku pinjamin laptop ku, jangan sampe rusak nanti kamu tidak mampu lagi gantiin nya” ucap Toma dengan mengarahkan laptopnya ke arah Leticia.
Leticia yang ingin mengambi laptop itu.
“Prankgg..” laptop itu terjatuh dari tangan Leticia.
karena dengan sengaja Oledia menyenggol lengan Leticia, sehingga membuat Leticia menjatuhkan laptop milik Toma.
Seketika mereka semua membeku dengan kejadian itu.
“Aduh gimana sih, rusak deh ini laptopnya!” marah Toma kepada Leticia.
“Aku gak sengaja, tadi Oledia menyenggol lengan ku yang membuat tangan ku menjadi tidak seimbang, sungguh” Leticia yang mencoba menjelaskan keadaannya.
“Kok kamu bawa bawa aku hah? Klo itu kamu yang salah jangan salahin orang lain dong!” Oledia yang mengelak pertanyaan Leticia.
“Aduh baru kan aku bilangin, hati hati jangan sampai rusak.. ini rusak ini!” Toma yang berada di pihak Oledia.
Toma pun segera berusaha menyalakan laptopnya, tetapi laptop itu tetap tidak bisa menyala.
Toma kemudian memfoto laptopnya itu.
“Karena kamu membuat laptop ku menjadi rusak seperti ini, dan aku yakin kamu pasti tidak bisa menggantinya dengan pembayaran uang yang full.. kamu bisa menggantinya dengan menyicil dan menjadi asisten ku dan kamu tidak bisa menolaknya! Di sini Oledia menjadi saksinya!” ucap tegas Toma.