Leticia

Leticia
Bab 22 : Mencoba Bersikap Normal



“Kenapa pas tadi di telpon, suaranya terdengar seperti orang yang sedang sakit? Tapi dia kenapa tiba-tiba harus sakit seperti ini? Bukankah kemarin sebelumnya Leticia baik-baik saja? Apa yang membuat dirinya merasakan sakit hanya dalam satu malam?” Toma yang sedang berbaring sambil membaca buku materi untuk presentasi esok.


“Apa karena kemarin, aku terlalu keras padanya? Dan hal itu yang membuatnya kepikiran lalu menjadi sakit? Atau karena ada masalah lain yang sedang ia hadapi?”.


“Atau dia memang benar benar marah kepada ku, karena kemarin aku terlalu keras padanya.. sehingga ketika aku menelponnya di malam hari, Leticia berada di suasana hati yang sedang tidak baik?”.


“Akh!! Aku jadi tidak bisa konsentrasi!!” Toma menutup buku materi itu.


“Kenapa aku harus memikirkan yang seharusnya tidak aku pikirkan? Biarkan saja dia! Mau sakit atau tidak itu bukan urusan mu Toma!” Toma sedang memarahi pikirannya sendiri.


“Tapi kenapa dia, bilang dia baik-baik saja kalau ternyata dia sedang sakit? Kenapa dia harus berbohong kepada ku seperti itu? Aku sangat tidak suka dengan orang yang suka berbohong dan suka menipu orang lain!” suara hatinya yang berbeda dengan pikirannya.


“Toma!! Kenapa kamu lagi dan lagi berfikir tentang hal yang tidak penting itu? Masih banyak lagi hal yang lebih penting kamu lakukan daripada memikirkan hal itu! Contohnya seperti melanjutkan membaca buku materi ini! Besok presentasi!” Toma kembali membuka buku materi itu.


“Fokuskan terus padangan dan pikiran mu ke buku ini.. ini lebih penting” mendekatkan buku materi itu ke wajahnya.


Toma pun akhirnya memaksakan dirinya untuk fokus dalam membaca buku materi itu demi presentasinya esok hari.


*******


“Tring...Tring...Ting...” suara alarm pagi yang berbunyi.


Leticia terbangun dari tidurnya dan segera mematikan alarm pagi itu.


“Ugh!! Badan ku semuanya terasa sakit sekali.. apa ini karena aku tidur di lantai semalaman? Tapi kenapa bisa tiba-tiba aku tertidur pulas? Padahal malam itu kepala ku terasa sakit sekali..” Leticia beranjak dari tidurnya.


Kemudian saat itu juga, Leticia langsung pergi ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.


“Aku harus sampai di sekolah lebih pagi untuk berlatih presentasi di dalam kelas, setidaknya walaupun berisik ataupun aku di ganggu di sekolah aku bisa merasa lebih tenang daripada aku di rumah sendirian” pikir Leticia saat membersihkan tubuhnya.


Leticia telah selesai mandi, ia pun langsung segera memakai pakaian sekolahnya untuk hari ini.


Leticia pun harus mengobati dan mengganti plester untuk semua luka-lukanya itu.


“Akh..Ah.. ternyata luka ini masih terasa sangat perih dan menyakitkan, padahal luka ini aku dapatkan sudah dari dua hari yang lalu.. aku harap luka ini tidak meninggalkan bekas apapun” dengan tangan yang sibuk mengobati luka itu.


Leticia telah selesai mengobati semua luka yang ada di tubuhnya itu, kemudian Leticia pergi mendekati tas pundaknya dan segera memasukkan buku-bukunya yang penting untuk dia bawa hari ini.


“Oh iyaa jangan lupa untuk membawa baju ganti” Leticia memegang dan memasukkan baju itu yang ia beli kemarin, untuk ia pakai di hari pertamanya kerja.


“Aku harus bisa menahan diri ku, agar orang lain tidak melihat diri ku seperti orang yang sedang merasakan cemas dan ketakutan".


“Walaupun sebenarnya dalam lubuk hati ku, aku sangat amat merasa gelisah dan was-was terhadap 'Dia' yang berada di sekitar linkungan ku.. karena dia bisa menemukan ku kapan saja”.


“Aku harus kuat.. aku harus kuat.. aku harus tetap kuat.. untuk bertahan hidup” Leticia mencoba menyemangati dan meyakini dirinya.


“Aku harus bersikap seakan-akan tidak ada yang terjadi pada ku.. agar mereka tidak curiga dengan sikap ku dan mulai menjauhi ku” Leticia sembari mengunakan sepatunya.


“Kryeekkk...” suara pintu kamar kosan Leticia yang di buka.


“Uh? Kak Roy? Selama pagi.. kak Roy sudah mau berangkat ke kafe kah?” Leticia melihat Roy juga membuka pintu kamarnya, kemudian Leticia berinisiatif untuk menyapa Roy.


“Pagi juga Leticia, ia nih kakak mau berangkat ke kafe sekarang, kamu juga udah mau berangkat sekolah ya.. kamu pergi ke sekolah dengan apa?” tanya Roy kepada Leticia, walaupun Roy sedang sibuk memanaskan motornya.


“Iyaa kak, aku ke berangkat ke sekolah selalu berjalan kaki kak, sudah terbiasa” tersenyum lebar kepada Roy.


“Ya udah kalau gitu bareng aja sama kakak, kan sekolah dan kafe searah, gimana kamu mau?” tanya Roy dengan memberikan helmnya.


“Kak Roy menawari ku tumpangan, sejujurnya aku tidak enak hati harus merepotkan kak Roy lagi.. tapi kali ini aku harus ikut kak Roy, karena kalau aku pergi ke sekolah sendiri apalagi dengan berjalan kaki, itu akan membuat ku susah jika tiba-tiba bertemu dengan 'Dia' di jalan” pikir Leticia.


“Baik kak aku ikut bareng kakak, terimakasih kak atas tawarannya” Leticia mengambil helm itu dari tangan Roy.


Saat Leticia ingin memakaikan helm itu di kepalanya, ia terkejut dengan kata kata Roy yang sangat penuh perhatian padanya.


“Hati-hati dalam menggunakan helm itu di kepala mu Leticia, luka di kepala dan di kening mu pasti belum sepenuhnya sembuh, tapi jika kamu berhati-hati luka kamu pasti tidak akan terasa sakit” Roy mengucapkan itu kepada Leticia dengan senyum manisnya.


“Baik ka Roy” Leticia membalas senyum Roy, dan ia mendengarkan ucapan Roy dengan menggunakan helm itu dengan berhati-hati.


“Kcilk” suara pengait tali helm.


“Wah ini sudah tidak sulit lagi ya kak untuk di kaitkan, haha” ketawa kecil Leticia.


“Iyaa dong, pengaitnya sudah kak ganti dengan yang baru.. kalo sudah mari naik” ucap Roy kembali dengan senyuman yang manis.


Kemudian, Leticia dan Roy segera pergi meninggalkan kosan mereka.


Tetapi di sepanjang perjalanan itu Leticia hanya menundukkan kepalanya.


“Aku harus menahan kepala ku agar tetap tertunduk, agar ketika 'Dia' tidak sengaja berpapasan dengan ku, dia tidak dapat mengenali wajah ku ini” pikir Leticia di sepanjang jalan.


Leticia pun sudah sampai di sekolah nya, dan Roy menurunkannya tepat di pintu gerbang sekolah Leticia.


“Ini kak helm nya.. terimakasih ya kak sudah memberikan aku tumpangan” senyum Leticia kepada Roy dengan helm yang ia pegang di tangannya.


“Iyaa Sama-sama Leticia, kak Roy harap kamu di sekolah menjaga luka-luka kamu itu dan hal lain yang kak Roy harapkan yaitu kamu tidak mendapatkan luka lain lagi di tubuh mu itu”


Senyum manis Roy dengan tangan kiri mengambil helm dari tangan Leticia, dan dengan tangan kanan yang mengelus halus rambut Leticia.


“Baik kak.. hati-hati di jalan” Leticia melambaikan tangannya ke arah Roy.


Roy pun meninggalkan Leticia dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kafe XX.


Leticia yang melihat Roy telah meninggalkan dirinya, Leticia pun langsung dengan segera masuk kedalam lingkungan sekolah dengan berlari.