Leticia

Leticia
Bab 8 : Makanan Kantin



Leticia terkejut bahwa uang yang ia pegang tidak banyak untuk membeli makan untuk mereka bertiga, dan akhirnya Leticia memutuskan untuk hanya membelikan mereka makan siang.


Leticia sudah memasuki area kantin dan langsung membeli makan siang itu. Telah selesai, Leticia kembali ke dalam kelas.


“wah cepat juga ya kamu belinya”, Toma merangkul Leticia.


Leticia yang tidak nyaman dengan keadaan itu langsung mengangkat tangan Toma dan menghindari rangkulan dari Toma.


Toma yang tersadar dengan hal itu, ia akhirnya mengalihkan perhatian dengan mengambil makanan yang telah di bawa Leticia .


“Oledia, ayo duduk ini makan siang kita sudah tiba”, memanggil Oledia untuk datang kepadanya.


Oledia menghampiri Toma dan duduk di sebelah Toma, Leticia yang tidak ada urusannya lagi dengan mereka memutuskan untuk kembali duduk di kursinya dengan keadaan perut kosong dan lapar.


Toma mengecek isi bungkusan makanan itu, dan heran dengan isinya karena hanya ada dua porsi orang. Lalu Toma bertanya kepada Leticia.


“hei Leticia.. kenapa hanya ada dua porsi? Kamu gak makan? Uangnya gak cukup buat beli tiga porsi ya?” tanya Toma ke Leticia.


“oh enggak, aku gak lapar kalian bisa makan”, ucap Leticia menjawab pertanyaan Toma.


Toma yang menyadari ada sesuatu yang aneh dengan Leticia, akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk memakan makanannya dan berinisiatif memberikan makannya kepada Leticia.


“nih.. makan aku gak perlu kamu makan saja”, dengan cara melempar kecil makanannya ke meja Leticia.


Oledia dan Leticia terkejut dengan sikap Toma yang seperti itu.


“loh kok makanan yang udah dikasih Leticia kamu kasih lagi sih ke orangnya, kenapa kamu seperti itu Toma?” dengan nada kesal Oledia berbicara dengan Toma.


“mmm.. kamu makan saja, aku beneran gak papa”, sahut Leticia.


“makan saja cepat! aku mau ke toilet!” Toma berbicara sambil meninggalkan ruang kelas.


“hah? Hei hei heiToma!” Oledia teriak memanggil Toma.


Karena melihat Toma tidak jadi makan, akhirnya Oledia memutuskan untuk tidak memakannya dan memberikan kembali makanannya kepada Leticia.


“nih aku juga tidak jadi, kamu makan saja! Aku baru makan sedikit” Oledia menaruh makanannya di meja Leticia dan ikut meninggalkan kelas.


“loh kok?.. ya sudah”, berbicara dalam hati sambil melihat kedua porsi makannya.


Akhirnya Leticia memutuskan untuk memakan satu porsi dan porsi lainnya ia simpan untuk ia makan di malam hari.


*******


Di dalam toilet Toma pergi bercermin untuk merapihkan rambutnya, karena setelah satu jam pelajaran itu membuat rambutnya sedikit menjadi berantakan.


“aku harus mengalah bukan? Pulang sekolah nanti aku juga bisa makan yang enak dan apapun yang aku mau.. jadi untuk sekarang, sementara aku mengalah terlebih dahulu” dengan kedua tangan yang sibuk membenarkan rambutnya.


“kring... Jam kedua akan segera di mulai di mohon semua murid, staf, dan guru mempersiapkan diri”, suara bel sekolah.


Jam-jam pelajaran lainnya berjalan dengan semestinya. Pembelajaran Toma, Oledia, dan Leticia juga berjalan dengan cukup baik walaupun pasti ada beberapa masalah kecil yang terjadi di antara mereka.


Sampai pada akhirnya jam pelajaran terakhir telah usai dan kegiatan sekolah mengajar dan belajar hari ini pun juga sudah selesai.


Toma yang mendengar bel pulang sekolah berbunyi, ia langsung berlari keluar ruang kelas menuju ke dalam toilet.


Di dalam toilet Toma merapihkan kembali model rambutnya yang berantakan, agar terus selalu terlihat rapih.


“aku harus selalu terlihat rapih apalagi dengan rambut ku ini, klo tidak rapih bagaimana kata dan pendapat orang lain tentang ku?”, dengan wajah yang terus-menerus melihat ke arah cermin.


Toma akhirnya keluar dari toilet setelah cukup lama ia berada di toilet, saat hendak keluar ia tidak sengaja bertemu dengan Leticia di koridor sekolah.


“Leticia tunggu sebentar!” teriaknya dengan memegang pundak Leticia.


Leticia cukup terkejut dengan tindakan Toma itu, yang kemudian membuat ia tanpa sengaja menghindari pundak dari tangan Toma.


Toma pun juga terkejut melihat respon Leticia seperti itu, kemudian untuk mengalihkannya Toma mulai membuka pembicaraannya dengan Leticia.


“oh maaf.. maaf kalo kamu kaget.. aku gak bermaksud seperti itu”, Toma yang berusaha menjelaskan situsnya ini kepada Leticia.


“Toma meminta maaf pada ku? Seorang Toma?!”, ucap Leticia yang terheran-heran.


“oh Iyaa, tidak apa apa.. ada apa ya kamu mencoba menghentikan ku?” Leticia yang berusaha bersikap dan berfikir positif atas tindakan Toma.


“oh..aku cuma mau minta nomor telepon kamu.. karena kita kan satu kelompok di pelajaran biologi, jadi aku butuh nomor telpon kamu untuk membahas tentang kerja kelompok kita ini”, ucap Toma menjelaskan kepada Leticia.


Mendengar hal itu Leticia langsung memberikan respon positifnya kepada Toma dan Leticia juga langsung memberikan nomor telponnya kepada Toma.


“hmm.. ini nomor telpon ku akan aku sebutkan” ucap Leticia.


“tunggu-tunggu, tunggu dulu sebentar” dengan tangan kanan yang sibuk mengeluarkan handphone dari saku celananya.


“oke sebutkan” Toma yang sudah mengeluarkan handphone dari saku celananya.


“0825xxxxxxxx, itu nomor telpon ku” Leticia menyebutkan nomor telponnya.


“oke sudah, sekarang akan aku coba menghubungi nomor telpon kamu ya” Toma yang mengetes apakah telponnya terhubung ke handphone Leticia atau tidak.


“ring ring ring” suara ringtone handphone Leticia berbunyi yang menandakan telpon dari Toma terhubung.


“oh itu sudah masuk telpon dari ku, jangan lupa simpan itu nomor ku, Ya sudah aku pulang duluan ya..” Toma berbicara dengan kaki yang perlahan melangkah meninggalkan Leticia.


Leticia yang di tinggalkan oleh Toma juga ikut pergi meninggalkan sekolah dan menuju kafe XX untuk melamar pekerjaan di tempat Roy bekerja.