Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Prolog K&Q Season 2



Senin (06.51), 20 April 2020


**Yang mau cepet baca next part bisa searching di mbah google "Kingsley & Queenza" tanpa tanda petik. Di sana sudah sampai season 3. Cuma ada di akun The_Queenza. Kalau kalian nemuin selain di akun itu dan selain di sini, bisa lapor langsung. **


--------------------------


Queenza membuka mata dengan pikiran berkabut. Dadanya masih terasa sakit—sangat sakit. Tapi dia tidak tahu mengapa. Dan di mana dirinya berada. Otaknya seolah berceceran dan dia berusaha mengumpulkannya kembali.


“Dia sudah sadar.”


Suara seorang wanita. Terdengar tidak jauh dari tempat Queenza berada.


“Butuh berapa lama sampai kau bisa memulai ritualnya?”


Suara itu terdengar lebih berat dan maskulin. Jelas suara lelaki. Queenza memperhatikan semua detail itu di antara kabut yang menyelubungi otaknya.


“Kira-kira satu bulan lagi, tepat bulan purnama, Yang Mulia,” ujar wanita itu.


“Kau yakin ini akan berhasil?” tanya si lelaki.


“Hamba belum pernah melakukannya. Tapi menurut catatan leluhur hamba, ini akan berhasil. Mengingat mereka sudah terikat dan darah wanita ini ada dalam tubuh Kingsley, seharusnya tidak akan ada masalah. Setelah mereka bangkit kembali, Kingsley sudah bukan makhluk abadi yang tidak bisa terbunuh. Istrinya sendiri adalah kelemahannya.”


Kingsley?


Apa yang mereka katakan? Apa mereka berencana membangkitkan Kingsley kembali? Itu tidak akan terjadi. Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan mereka mengambil darahku untuk membangkitkannya.


Dengan tekad itu, Queenza berusaha menyingkirkan kabut yang masih bertahan di otaknya. Dia mengerang, merasakan jantungnya semakin sakit saat bergerak.


Pertanyaan lain muncul kemudian. Kenapa dirinya belum mati—atau seperti kata ibunya—mengkristal setelah jantungnya ditikam?


Sejenak suasana hening. Sepertinya orang-orang yang tadi berbincang kini terdiam memperhatikan kondisi Queenza yang pasti mengenaskan.


“Aku sendiri yang akan menyembunyikan mayat Kingsley,” suara lelaki itu terdengar lagi. “Kita tidak bisa mengambil resiko para abdi setianya membangkitkan dia sebelum wanita itu bisa digunakan untuk membunuhnya.”


“Tapi dia harus tetap diawasi,” si wanita bersikeras. Terdengar jelas khawatir ada yang tidak sesuai rencana.


“Mochi saja sudah cukup. Bukankah selama ini Mochi juga yang mengawasinya dan Kingsley tidak pernah curiga?”


Tidak ada sahutan. Mungkin orang yang diajak bicara si lelaki hanya mengangguk.


Selama beberapa saat, suasana kembali hening. Lalu terdengar suara lelaki itu memanggil, “Kevlar!”


Sekitar dua detik kemudian, terdengar pintu di ruangan itu terbuka lalu menutup kembali. Queenza tidak bisa menebak ruangan apa tempatnya berada. Apakah kamar? Penjara?


“Ya, Yang Mulia.” Sahut suara yang dikenali Queenza.


Dengan kemarahan yang membakar dadanya, dia berusaha berbaring menyamping dari posisi semula yang telentang seraya mengangkat tubuh. “Ke… mari… kau… baji… ngan!” geram Queenza dengan suara terputus-putus menahan sakit. Penglihatannya juga belum sepenuhnya fokus. Keadaan sekelilingnya seperti bayangan kabur namun semakin lama semakin menampakkan bentuk.


Queenza tidak mungkin melupakan orang itu. Bahkan suaranya pun ia ingat betul. ******** itu hanya berdiri diam saat dirinya ditikam dari belakang. Dan dari sorot matanya yang sempat Queenza lihat sebelum menutup mata, lelaki itu memang menginginkan kematiannya.


Orang-orang di ruangan itu tampaknya hanya memperhatikan gerak-gerik Queenza namun mengabaikannya. Dan lelaki yang dipanggil Yang Mulia berbicara dengan tenang pada Kevlar seolah Queenza tidak mengatakan apapun tadi.


“Sesuai janjiku padamu, mulai saat ini Kerajaan Ackerley akan menjadi milikmu dan kau akan segera diangkat menjadi Kaisar Immorland. Tapi sebelum itu, tunjukkan bahwa kau pantas mendapat gelar seorang Kaisar. Bunuh semua abdi setia Kingsley. Bawakan aku sepuluh kepala para panglima dan tetua yang paling setia pada Kingsley.”


Mendengar itu, Queenza mulai mengaitkan sesuatu. Kini otaknya sudah mulai bisa diajak berpikir meski tubuhnya masih terasa sakit dan lumpuh. “Kev… lar, kau… menipu… ku? Apa kau… berbohong… bah… wa… Kingsley yang… telah membunuh… saudari… dan calon… suamiku…?”


“Pergilah Kevlar. Segera lakukan tugasmu!” suara yang dipanggil Yang Mulia itu lagi.


“Tunggu…!” Queenza berseru lemah.


Queenza menyipitkan mata, berusaha fokus pada wajah lelaki yang tampaknya berjongkok sekitar dua meter di depannya. Hal itu membuat Queenza menyadari satu hal. Dirinya terbaring di atas lantai. Atau tanah. “Siapa kau?”


“Aku? Seseorang yang tidak perlu kau tahu. Kau hanya sedang sial karena menjadi orang yang bisa digunakan sebagai alat untuk membunuh Kingsley.”


“Kau pasti… musuh Kingsley.”


Terdengar tawa mengejek. “Itu sudah jelas, kan? Aku tidak mungkin menginginkan dia mati kalau aku adalah temannya.”


“Aku sudah… membuatnya tertidur. Dia… tidak akan pernah bangun… kecuali ada yang membangunkannya. Seharusnya… itu sudah cukup.”


“Tidak, sama sekali tidak cukup.” Suara lelaki itu mendesis, seolah menahan amarah yang memuncak. “Penyihir ****** itu bilang bahwa Kingsley yang akan membunuhku. Jadi sebelum itu terjadi, aku yang akan lebih dulu membunuhnya dan memastikan dia tidak bisa bangkit lagi.”


“Penyihir?” Queenza bertanya dengan nada tak percaya. “Mereka sudah punah.”


Lelaki itu tertawa. Sangat keras. “Ya, aku yang membunuh mereka semua. Tapi aku masih menyisakan beberapa untuk kepentinganku sendiri.”


Penglihatan Queenza semakin jelas. Dia menyadari mereka berada di ruangan luas tanpa perabot. Dan selain lelaki yang masih berjongkok di depannya, hanya ada satu orang lagi yaitu wanita yang sebelumnya berbicara dengan lelaki yang dipanggil Yang Mulia ini. Namun ia belum bisa melihat wajah kedua orang itu dengan jelas.


“Kau membunuh mereka? Kenapa?” Queenza masih harus menghela napas tiap bicara karena itu terasa menyakitkan. Tapi setidaknya dia tidak perlu terbata lagi.


“Tentu saja karena ****** yang berani berkata bahwa aku akan tewas di tangan Kingsley. Aku anggap itu sebagai hinaan. Tidak akan ada yang bisa menyentuhku apalagi sampai melukaiku. Bahkan Kingsley sekalipun meski dia disegani para malaikat dan berhasil menjadi kaisar Immorland pertama.”


Untuk pertama kalinya, Queenza bisa tertawa mengejek. “Tapi kedengarannya kau takut pada Kingsley,” dia menghela napas sejenak. “Itu sebabnya kau mencari cara untuk membunuhnya.”  Meski Queenza masih membenci Kingsley atas perbuatan lelaki itu, tapi tak dipungkiri dia senang mengetahui siapapun orang di depannya ini merasa takut.


Tidak ada tanggapan lagi. Sepertinya lelaki itu sedang berusaha untuk menahan diri agar tidak menghancurkan kepala Queenza saat ini juga. Lalu dia berdiri, melangkah menghampiri wanita lain di ruangan itu.


“Sekarang dia milikmu sebelum waktu ritual. Terserah ingin kau apakan. Yang jelas jangan sampai dia mengkristal sebelum ritual dilakukan.”


“Hamba tahu apa yang harus hamba lakukan, Yang Mulia.” Terdengar nada riang dalam suara wanita itu. Lalu dia menggantikan posisi lelaki tadi, berjongkok di depan Queenza.


“Halo, Queenza.” Sapa wanita itu.


“Apa kau ******* lelaki pengecut tadi?”


“Lucu sekali kau masih bisa memaki dalam kondisi seperti ini. Kita lihat apa kau masih bisa begitu setelah merasakan kekejamanku. Tapi—aku tidak keberatan memperkenalkan diri. Toh sudah lama kita tidak bertemu.”


Lalu terasa tangan wanita itu menyentuh kening Queenza. Dalam sekejap semua menjadi jelas. Dan Queenza terbelalak saat matanya menangkap raut wajah wanita di depannya. “Kau—”


“Ya, ini aku. Senang melihatmu seperti ini sekarang. Meski sebenarnya dendamku lebih besar pada Kingsley dan ingin dia yang ada di posisimu, tapi ini sudah cukup membuatku puas. Aku juga membencimu, sangat. Jadi pasti menyenangkan menghabiskan satu bulan untuk menyiksamu. Aku bahkan berharap kau mengemis meminta aku membunuhmu.


“Jalang menyedihkan!” lalu dengan sisa tenaganya, Queenza meludah ke wajah wanita itu.


Perlahan mata wanita itu berubah merah seiring kemarahannya yang menyala. Lalu dengan gerakan cepat, dia menjambak rambut Queenza seraya menarik tangan wanita itu ke belakang hingga terdengar bunyi tulang patah diiringi suara teriakan Queenza.


“Tenang saja. Aku akan membiarkan proses penyembuhan dirimu bekerja lalu kita akan mengulanginya lagi. Kudengar manusia setengah dryad sepertimu bisa memulihkan diri lebih cepat daripada kaum nephilim. Mungkin aku juga akan memberikanmu kesempatan istimewa untuk memilih sendiri pisau yang akan kugunakan untuk menyayat tubuhmu.”


Lalu wanita itu tertawa, sebelum teriak kesakitan Queenza menggantikan tawanya.


----------------------------


Karena sebelumnya udah janji, jadi aku post part ini. Tapi berhubung ada kebijakan baru dari MT, kayaknya aku gak bisa lanjut di sini lagi. Kalian bisa baca nextnya di mbah google Kingsley & Queenza. Sudah sampai season 3 di sana.


Babay ^_^


♥ Aya Emily ♥