
Kamis (07.50), 09 April 2020
-----------------------------
Jervis tengah serius mempelajari dokumen di mejanya saat mendadak jendela ruang kerjanya terbuka lalu angin malam yang dingin berembus masuk hingga tirai jendela berkibar.
Keningnya berkerut saat memperhatikan keluar jendela yang memaparkan pemandangan samping rumah. Dia yakin sudah mengunci jendela beberapa waktu lalu. Jadi bagaimana angin bisa membukanya?
Berdiri, Jervis menuju jendela lalu menutupnya kembali. Baru saja selesai mengunci, ia merasakan aura seseorang terasa dalam ruangannya. Seseorang yang jelas bukan manusia. Seseorang dengan kekuatan yang jauh di atasnya.
Refleks Jervis berbalik lalu perhatiannya langsung tertuju pada seseorang yang sedang duduk santai di sofa panjangnya. Orang itu tampak begitu angkuh dan penuh wibawa namun sorot matanya lembut saat membalas tatapan Jervis.
“Maaf membuatmu kaget.”
Jervis mendekati orang itu lalu sedikit menundukkan kepala memberi hormat. “Saya tidak menyangka Anda akan datang. Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Ya dan tidak.”
Jervis mengerutkan kening tidak mengerti.
“Duduk saja. Leherku sakit berbicara sambil mendongak begini.”
Jervis tersenyum kecil kemudian duduk. Dia memang belum lama mengenal lelaki di hadapannya. Tapi Jervis tidak salah menyerahkan kesetiaannya. Kingsley, begitu lelaki itu mengenalkan diri, lebih sering bersikap seperti teman daripada seorang pemimpin atau atasan. Padahal Kingsley berhak karena Jervis telah menyerahkan diri untuk menjadi anak buahnya.
“Hmm, rumah ini sepi. Apa semua orang sudah tidur?”
“Ya. Tapi ada banyak penjaga di sekitar rumah.”
Kingsley mengangguk. “Aku bisa merasakannya.”
Jervis terdiam. Dia merasakan tiba-tiba ada yang berbeda dengan sekitarnya. Udaranya lebih hangat dan seolah sama sekali tidak ada udara yang berembus. Dia mendongak, memperhatikan sekitarnya lalu menyadari ada kabut tipis yang mengurung mereka berdua. Jervis kembali menatap Kingsley penuh tanya.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dan ini bersifat pribadi. Aku tidak akan mengambil resiko ada yang mencuri dengar.”
Jervis mengangguk mengerti.
“Tapi pertama aku ingin bertanya dulu. Seberapa besar kau akan menyerahkan kesetiaanmu padaku?”
“Tentu saja sepenuhnya,” sahut Jervis mantap seraya sedikit menunduk. “Saya dan keluarga saya serta mereka yang mengabdi pada kami.”
“Bahkan meski itu berarti kalian harus mempertaruhkan nyawa?”
Jervis mendongak tiba-tiba, menatap sorot mata biru Kingsley yang tampak serius untuk memahami maksud lelaki itu.
“Belum terlambat untuk menarik diri,” lanjut Kingsley. “Aku sedang terlibat masalah besar. Kalau kau dan keluargamu ada di belakangku, kalian juga akan terkena imbasnya. Jadi aku hanya ingin memastikan.”
Tak butuh waktu lama untuk Jervis memutuskan. Perhatian Kingsley yang masih memberinya pilihan untuk mundur jelas menunjukkan bahwa lelaki itu pantas menjadi seorang pemimpin. “Saya tidak akan mundur. Kami siap mempertaruhkan nyawa untuk Anda dan Nona Queenza.”
Kingsley tersenyum. “Terima kasih.”
“Kalau boleh tahu, masalah apa yang sedang Anda hadapi?”
“Sepertinya aku hanya sedikit membuat kesal kaum guardian hingga mereka semua berniat membunuhku dan Queen. Mungkin tidak lama lagi bukan hanya kaum guardian yang memburuku. Tapi juga seluruh penduduk Immorland.”
“Hah?” Jervis melongo mendengar itu. Memiliki masalah dengan seorang guardian saja bisa berbahaya apalagi sampai menjadi buruan seluruh kaum Immorland.
Kingsley terkekeh. “Tidak perlu kaget begitu. Aku sudah biasa menjadi buronan sejak umur empat belas tahun.”
Jervis semakin tidak mengerti.
Raut wajah Kingsley berubah serius. “Tadinya kupikir aku hanya ingin melanjutkan hidupku. Berbaur dengan manusia biasa seperti kau dan yang lainnya. Tapi mengingat banyak yang mengincar nyawaku dan nyawa Queenza membuatku tidak bisa tinggal diam. Jadi setelah memikirkan ini selama seminggu penuh aku telah membuat keputusan. Akan kurebut kembali kerajaan yang susah payah kubangun dengan kedua tanganku. Akan kurebut kembali kerajaan Ackerley.”
Jervis ternganga mendengar itu. Kingsley tersenyum mengerti. Wajar Jervis kaget. Berniat merebut kerajaan Ackerley berarti mengibarkan bendera perang ke arah bangsa guardian, serta seluruh kaum Immorland lain yang telah mengabdikan diri kepada kaum guardian.
Tapi beberapa detik kemudian Kingsley yang dibuat kaget karena mendadak Jervis menjatuhkan diri ke lantai. Kepalanya terantuk sudut meja kaca hingga akhirnya dia berhasil sujud di hadapan Kingsley.
“Ka—kau, sedang apa?” tanya Kingsley bingung.
“Maafkan hamba yang tidak langsung menyadarinya. Selama ini hamba selalu meragukan cerita kakek Awel. Ternyata dia benar. Yang Mulia Kaisar Kingsley suatu hari nanti akan kembali,” jelas Jervis masih dengan posisi berlutut di hadapan Kingsley.
“Awel?” Mata Kingsley melebar. “Dia masih hidup?”
“Ya, dia salah satu tetua bangsa harpy. Tapi satu-satunya yang masih hidup hingga kini. Katanya itu berkat darah Anda.”
Kingsley tersenyum mengingat sosok harpy yang begitu setia padanya. Saat Kingsley membawa Awel ke kerajaan Ackerley, dia hanyalah remaja kurus yang sama sekali tidak memiliki rasa percaya diri. Dia menjadi bahan cemooh karena cacat. Harpy yang tidak memiliki sayap.
“Awel. Satu-satunya orang yang tetap hidup meski tanpa sengaja meminum darahku.”
Itu juga alasan Kingsley membawanya ke Ackerley. Awel remaja yang kelaparan berniat mencuri makanan di tenda prajurit pasukan Kingsley yang baru selesai berperang. Ternyata tenda yang ia masuki adalah tenda Kingsley. Dia memakan makanan di meja dan langsung meminum air di dekatnya. Padahal air itu adalah air bekas Kingsley membersihkan luka penuh darah di tubuhnya sebelum mulai menutup.
“Dia sangat mengagumi Anda. Dia menceritakan semua tentang Anda pada semua orang. Tapi kami hanya menganggap cerita Kakek Awel hanya bualan. Kami tidak percaya bahwa seseorang yang sudah mati bisa bangkit kembali.”
“Berarti kau juga tidak percaya bahwa keturunan dryad dan manusia bisa mengkristal lalu lahir kembali.”
Mata Kingsley menyipit mendengar penjelasan Jervis. Sekarang dia semakin yakin pada satu hal. Sesuatu yang disembunyikan kaum guardian dari kaum lainnya di Immorland.
“Lupakan. Itu tidak terlalu penting sekarang.” Kingsley mengibaskan tangan. “Jadi, di mana aku bisa menemui Awel?”
“Kakek Awel tidak pernah menampakkan diri secara terang-terangan. Dia bilang dirinya diburu tapi tidak pernah jelas menunjukkan siapa yang memburunya. Karena itu dia selalu hidup berpindah-pindah, tidak pernah lama di satu tempat.”
“Jadi aku tidak bisa menemuinya?”
“Bisa. Saat bulan purnama di akhir tahun. Dia selalu datang saat acara ritual suci kaum harpy. Apalagi dia akan menjadi salah satu pengisi acara, bercerita pada semua orang tentang banyak hal.” Jervis tersenyum.
“Tapi bukankah ritual itu tidak boleh dihadiri orang lain selain kaum harpy?”
“Ya, benar. Anda tidak bisa datang. Tapi kakek Awel bisa mendatangi Anda. Saya akan memberitahu tentang Anda padanya.”
Kingsley mengangguk setuju lalu berdiri. “Sebaiknya aku pulang sekarang sebelum Queenza bingung mencariku.” Dia menatap Jervis yang masih berada dalam posisi bersujud. “Lain kali jangan bersujud seperti ini lagi. Kau membuatku tidak nyaman.”
“Ah, tapi—”
“Satu lagi. Bisakah kau meminta seseorang melindungi Queenza saat keluar dari rumah? Aku tidak bisa selalu disampingnya.”
“Tentu saja. Saya akan meminta Dixon untuk melindungi Nona Queenza. Dia salah satu petarung terbaik saya.”
“Terima kasih.”
“Anda tidak perlu berterima kasih. Memang sudah tugas saya sebagai abdi untuk melindungi Anda dan Nona Queenza.”
“Tapi ibuku selalu mengajarkan untuk berterima kasih saat ada orang yang berbuat baik padaku.”
“Ah,” Jervis kehilangan kata-kata.
“Kalau begitu aku pulang sekarang.”
“Ya.”
Baru saja satu kata itu meluncur dari bibir Jervis, mendadak dia kembali merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan sekitarnya. Saat mendongak, ternyata Kingsley sudah tidak ada di depannya.
***
Pagi ini Queenza terus merasa gelisah. Khawatir tiba-tiba ada orang yang menyerangnya lagi. Mungkinkah dirinya trauma akan penyerangan tiba-tiba yang menimpanya akhir-akhir ini?
“Kenapa tidak dimakan?” tanya Kingsley melihat Queenza hanya mengaduk makanan di piringnya. “Jangan bilang kau lapar darahku lagi.” Kingsley menyipit curiga. “Kemarin aku sudah memberimu makan. Dan sebelumnya kau bisa bertahan tanpa meminum darahku lebih dari tiga hari.”
Queenza berdecak malas. “Tidak ada hubungannya dengan darahmu.”
“Lalu apa? Kau takut aku menghabiskan kuota internetmu untuk download film lagi?”
Queenza melotot. “Kau juga menghabiskan kuota internetku untuk main game online!”
“Itu menyenangkan.” Kingsley nyengir.
Queenza mengibaskan tangan. Dia tidak sedang ingin mempermasalahkan hal itu. Ada yang lebih mengganggunya saat ini. “Apa kau tidak merasa aneh?”
“Tentang apa?”
“Semuanya terasa normal selama seminggu terakhir. Tidak ada serangan atau hal buruk yang terjadi.”
“Bukankah itu bagus? Mungkin mereka jadi takut pada kita karena kalah bertarung denganmu terakhir kali,” sahut Kingsley santai seraya menikmati sarapannya.
“Tidak mungkin.” Queenza menggeleng. “Aku merasa kita sedang menghitung mundur seperti menunggu bom waktu. Aku yakin mereka akan datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar.” Mata Queenza melebar saat sesuatu melintas di benaknya. “Apa menurutmu mereka sedang mengasah kemampuan untuk menyerang kita lain kali?”
“Mungkin saja.”
“Itu artinya mereka akan semakin kuat sementara kita di sini tetap seperti ini.”
“Mau bagaimana lagi?” Kingsley angkat bahu.
Kesal, Queenza menarik rambut di pelipis Kingsley. Lelaki itu langsung mengeluh sakit. “Bisa-bisanya kau makan dengan tenang saat situasi seperti ini?”
“Situasi apa? Tidak ada yang terjadi.” Kingsley meringis setelah berhasil melepaskan rambutnya dari tangan Queenza.
“Tapi mereka bisa datang kapan saja.” Queenza mulai tampak frustasi.
“Saat ada yang datang, baru kita menyambutnya dengan tangan terbuka.
Mendadak Queenza terkesiap sambil menutup mulut dengan kedua tangan dengan pandangan ke arah belakang Kingsley. Lalu dia berubah kaku melihat sebilah pedang terjulur di samping lehernya. Pedang yang sama persis seperti yang berada di samping leher Kingsley sekarang.
“Senang kalian menyambut kedatangan kami.”
---------------------------
♥ Aya Emily ♥