
Senin (07.41), 13 April 2020
------------------------
Selesai berbincang dengan Kevlar, Tristan semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan kaisar Immorland itu. Saat menemuinya kemarin, Tristan hanya menyakan alasan Kingsley dianggap berbahaya dan harus segera dibunuh. Dan jawaban yang didapat Tristan sama sekali tidak membuatnya puas.
“Dia sangat berbahaya karena kekuatan mengerikan yang dimilikinya. Ada monster dalam tubuh Kingsley yang bisa muncul sewaktu-waktu. Dia juga memiliki dendam terhadap seluruh makhluk Immorland karena telah membuatnya tertidur selama ribuan tahun.”
“Baiklah, dia memang memiliki kekuatan mengerikan. Tapi selama ini dia tidak pernah mengganggu kita, kan? Jadi kenapa Anda bisa menyimpulkan bahwa dia akan membalas dendam kepada para penduduk Immorland? Lagipula orang-orang yang pernah hidup di zamannya sudah meninggal. Seharusnya dia tidak punya alasan lagi untuk mendendam. Kecuali—yah, kecuali terhadap orang-orang yang pernah hidup di zamannya. Seperti Anda misalnya. Bukankah Anda juga sudah hidup ribuan tahun?”
“Apa kau menuduhku sengaja menghasut orang-orang agar mereka memusuhi Kingsley sehingga aku bisa selamat dari dendamnya?” ada nada geram dalam suara Kevlar akibat kelancangan Tristan.
Salah satu alis Tristan terangkat. “Tidak ada satupun dalam kalimat saya yang menyatakan tuduhan semacam itu. Ah, apakah itu rencana Anda?”
Rahang Kevlar tampak menegang. Sementara Tristan masih mempertahankan sikap tenangnya. Saat itulah dia semakin yakin bahwa sebenarnya Kingsley tidak bersalah. Tapi Tristan curiga ada sesuatu yang lebih dari sekedar takut Kingsley membalas dendam hingga Kevlar menciptkan pasukan elit guardian untuk mengalahkan lelaki itu.
“Baiklah, anggap saja memang itu tujuanku. Tapi kalaupun aku tidak berusaha menghasut orang-orangku, bukankah kalian tetap akan berusaha melindungi kaisar kalian ini? Karena itu aku putuskan membangun pasukan elit guardian secara diam-diam. Kingsley memang lawan yang berbahaya. Tapi tidak perlu seluruh makhluk di Immorland turun tangan hanya demi melindungiku darinya. Sebagai kaisar Immorland, aku juga memikirkan rakyatku.”
“Anda memang sangat murah hati.” Tristan mengatakan itu dengan nada datar. “Tapi juga terlalu percaya diri. Bagaimana jika kenyataannya tidak ada yang ingin melindungi Anda? Bukankah itu berarti Anda malah mendorong pasukan elit guardian menghantarkan nyawa padahal belum tentu mereka—kami—memang tertarik melawan Kingsley meski Anda berada dalam bahaya.”
“Kau—”
“Walaupun Anda kaisar Immorland, bukan berarti saya akan menjadi seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Bersedia melakukan apapun yang diminta tuannya. Saya tidak mau berada di pasukan elit guardian.”
“Kau akan dianggap musuh penduduk Immorland jika membangkang dari perintahku.”
“Bahkan Anda sudah mengusir saya dari Ackerley. Jadi itu tidak akan jadi masalah. Selamat tinggal.” Setelahnya Tristan berbalik lalu keluar dari kediaman Kevlar.
Tapi bukan berarti hari itu Tristan langsung pergi begitu saja dari Ackerley. Dia masih mengorek banyak informasi, mencoba mencari tahu ke mana perginya para panglima tertinggi sebelum dirinya.
Kaum guardian dikenal berumur panjang dibandingkan kaum lainnya. Biasanya mereka bisa hidup dua ratus hingga empat ratus tahun. Tapi ada beberapa orang guardian yang bisa hidup sangat panjang, terutama orang-orang zaman dulu seperti Kevlar. Jadi jika dipikirkan lebih jauh, terasa sangat aneh karena tidak ada panglima tertinggi guardian yang masih hidup hingga kini. Atau setidaknya yang diketahui masyarakat umum masih hidup hingga kini.
Karena itu Tristan mencari tahu panglima-panglima tertinggi guardian sebelum dirinya lalu mengorek informasi dari keluarga mereka. Hingga akhirnya dia mendapat kesimpulan bahwa panglima tertinggi guardian akan menghilang secara misterius atau dikabarkan meninggal beberapa lama setelah pengangkatannya.
Awalnya Tristan berpikir menghilangnya mereka semata-mata karena harus bergabung dengan pasukan elit guardian yang bertugas melaksanakan perintah kaisar secara diam-diam. Tapi saat memikirkan alasan mengapa panglima tertinggi guardian diwajibkan mengasuh seorang bayi perempuan manusia, Tristan langsung mendapat jawabannya.
Tidak ada hubungannya dengan pasukan khusus. Alasan mereka harus menghilang berkaitan dengan aturan yang harus mereka langgar demi meningkatkan kemampuan diri. Menikahi manusia.
Jelas itu melanggar aturan. Jika hal ini sampai didengar kaum lain, kaum guardian tidak akan lagi mendapat rasa hormat. Seluruh kaum juga akan mengabaikan aturan itu. Kevlar jelas tidak ingin itu terjadi. Karena jika kaum Immorland memiliki hubungan asmara dengan manusia, keturunan mereka akan menjadi spesies baru dengan kekuatan lebih tinggi dari orang tuanya. Kekuatan yang nantinya kemungkinan besar akan menyaingi kekuatan kaum guardian.
Brengsek!
Tak pernah Tristan sangka kaisar yang begitu dihormatinya adalah ular licik. Dia jadi bertanya-tanya, benarkah yang Kevlar ceritakan tentang masa lalu Kingsley? Tentang Kingsley yang membunuh ibunya sendiri dan membantai banyak orang? Terutama, tentang Kingsley yang memperkosa ratu bangsa dryad demi mendapat kekuatan abadi.
Tanpa bisa dicegah, bayangan Kingsley dengan wajah bodohnya yang menatap layar laptop merasuk dalam benak Tristan. Benarkah lelaki yang bisa membuat orang jantungan hanya karena satu follower bisa melakukan hal sekeji itu?
***
Queenza meringis seraya melirik kantong-kantong belanjaan di kedua tangannya dan kedua tangan Emily. Sudah banyak yang mereka beli. Tapi sepertinya gadis itu masih bersemangat dan belum mau berhenti.
“Queenza, kita ke sebelah sana.” Emily menunjuk.
“Kita sudah menghabiskan banyak uang.”
“Kenapa kau yang repot? Toh aku yang membayar semua ini dengan uang Errie-ku.”
“Tapi aku sudah lelah.”
“Sayang sekali aku belum.”
“Kita sudah memutari seluruh area pertokoan ini dua kali!” nada suara Queenza mulai meninggi.
“Satu kali lagi lalu kita berhenti. Kadang ada barang yang lupa dibeli karena terlalu fokus pada yang lain.” Dengan santai Emily melenggang dengan pandangan memindai barang-barang di sekelilingnya, mengabaikan raut kesal Queenza di belakangnya.
Tanpa keduanya sadari, ada dua pasang pria dan wanita yang sejak tadi membuntuti mereka, mengawasi gerak-gerik mereka sambil mencari kesempatan untuk menyergap.
“Aku menyerah! Kita istirahat dulu.” Kali ini Queenza tidak mau dibantah. Dia langsung menyeret lengan Emily masuk ke salah satu kedai minuman.
“Payah,” ejek Emily setelah mereka memesan minuman dan kue.
“Aku malah heran kakimu itu terbuat dari apa. Aku sama sekali tidak akan kaget kalau ternyata di dalamnya bukan tulang tapi besi.”
Emily nyengir. “Sebenarnya ini karena aku terlalu senang. Aku belum pernah berbelanja dengan teman perempuan. Jadi rasanya sangat menyenangkan.”
Queenza memajukan tubuhnya, “Bahkan di Immorland?” suaranya berbisik, khawatir ada yang mendengar.
Emily mengangguk dengan raut sedih. “Tidak ada yang mau berteman denganku karena aku berbeda. Di Immorland manusia dianggap sebagai makhluk rendahan. Tapi mereka tidak bisa terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka karena aku adalah anak asuh panglima tertinggi guardian.”
Queenza mengangguk-angguk. “Kedengarannya kau bukan saja tidak punya teman perempuan. Tapi juga tidak punya teman lelaki.”
“Aku tidak butuh teman lelaki. Aku punya Errie.” Emily menyeringai bangga.
Queenza tersenyum mengejek. “Itu karena kau belum pernah punya teman lelaki. Coba saja punya.”
Emily tampak memikirkan ucapan Queenza. “Mungkin aku bisa menganggap Kingsley teman lelaki. Tapi dia sangat menyebalkan.”
Queenza terkekeh mendengarnya. Selanjutnya mereka terus mengobrol hingga rasa lelah mereka hilang lalu keduanya melanjutkan perburuan. Lebih tepatnya Emily yang melanjutkan perburuan sementara Queenza membuntutinya dengan berat hati.
***
“Seharusnya kita langsung membawa mereka tadi saat mereka istirahat di kedai minuman. Tempat itu tidak terlalu ramai,” geram seorang lelaki berambut cokelat.
Pasangan lelaki itu yang berpostur mungil namun tidak bisa menyembunyikan kecantikannya, menepuk lembut punggung si lelaki berambut cokelat. “Kita tidak bisa melakukan itu. Jika ada manusia yang melihat mereka berdua tiba-tiba menghilang akan menjadi tanda tanya besar. Kita tidak boleh menarik perhatian.”
Wanita lain dengan pewarna bibir semerah darah turut menanggapi, “Tapi kita juga tidak bisa menunggu lebih lama. Waktu kita terbatas karena Kingsley bisa kembali kapan saja dan mereka berdua tidak boleh sampai kembali ke dalam rumah gadis itu karena Kingsley sudah memasang pelindung tak tertembus di sana.”
Si lelaki berambut cokelat mengangguk setuju lalu menoleh ke arah lelaki yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Pasangan si wanita berlipstick merah darah. “Kau ada ide?”
“Kita akan menyergap mereka setelah mereka turun dari kendaraan umum dalam perjalanan pulang. Mereka masih harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai rumah gadis itu dari jalan raya. Di sana banyak pepohonan dan tidak terlalu ramai.”
“Ya, asalkan mereka tidak pulang pas jam makan siang.” Komentar wanita bertubuh mungil.
“Aku yakin mereka akan pulang setelah jam makan siang.” Lelaki itu berkata pasti.
“Baiklah, kalau begitu kita sergap mereka di sana.” Lelaki berambut cokelat menyetujui.
***
Queenza terus mengeluh dalam perjalanan pulang karena banyaknya belanjaan mereka. Terutama setelah keduanya turun dari angkutan umum di jalan raya dan harus berjalan kaki sekitar lima ratus meter untuk mencapai rumah Queenza.
“Aku jera pergi berbelanja bersamamu,” gerutu Queenza.
“Memangnya kenapa? Seharusnya kau senang karena aku membelikanmu banyak barang-barang.”
Queenza tak lagi menanggapi. Dia memilih berjalan cepat agar segera tiba di rumah lalu mengistirahatkan tubuhnya.
“Hei, tunggu aku!” seru Emily setengah berlari karena Queenza berjalan cepat. “Seharusnya kau menungguku. Aku sudah berbaik hati berjalan dengan kecepatan manusia padahal aku juga bisa berjalan secepat kilat. Yah, walaupun belum secepat Errie.”
Queenza terus saja berjalan cepat tanpa menghiraukan ucapan Emily. Tapi kemudian langkahnya melambat lalu berhenti melihat sepasang pria dan wanita berdiri beberapa meter di depannya. Tampak jelas menghadang dirinya.
“Kenapa berhenti? Bukankah kau ingin segera tiba di rumah?” Emily yang baru tiba di sebelah Queenza bertanya. Tapi lalu dia menyipitkan mata setelah melihat apa yang menarik perhatian Queenza. “Kelihatannya mereka bukan orang baik.”
“Sepertinya memang begitu.” Queenza membenarkan.
Emily menoleh ke belakang karena merasa diawasi. Dan benar saja, ada dua orang lain di belakang mereka. Juga sepasang pria dan wanita. “Ada dua lagi di belakang. Sepertinya mereka berasal dari kaum elit guardian.”
“Benarkah? Mungkin kau harus bicara pada mereka.”
Emily mengangguk. “Hai, apa kalian mencariku?”
“Tidak. Kami mencari gadis di sampingmu. Jadi menyingkirlah.” Wanita berlipstik merah darah di depan Queenza dan Emily berkata.
“Dia temanku. Aku tidak akan pergi.” Emily mulai bersikap waspada. Sepertinya ini tidak akan selesai dengan baik.
Setelahnya tidak ada lagi yang menanggapi. Secara bersamaan keempat orang itu menciptakan kabut hitam yang langsung melingkupi mereka berenam. Dan setelah kabut hitam itu perlahan memudar, mereka tidak lagi berada di jalanan menuju rumah Queenza melainkan di tanah lapang tengah hutan.
“Kita di mana? Apa kita di Immorland?” tanya Queenza panik.
Emily mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Sepertinya bukan. Ini masih di dunia manusia. Tapi jelas sangat jauh dari tempat kita berada tadi.” Lalu Emily beralih pada empat orang yang masih mengepung mereka. “Apa mau kalian? Untuk apa kalian mencari Queenza?”
“Walau kau anggota pasukan elit guardian yang masih sangat baru, tapi seharusnya kau sudah tahu alasan kami menginginkannya.” Wanita bertubuh mungil berkata lantang. “Dan sekarang kau dianggap sebagai pengkhianat karena bukannya menjalankan perintah, tapi malah berteman dengan musuh.”
“Queenza bukan orang jahat.”
“Tidak peduli dia orang jahat atau bukan. Jika keberadaannya bisa menjadi kehancuran Immorland, kita sebagai pasukan khusus yang bertugas melindungi Immorland harus membunuhnya.”
“Siapa yang bilang bahwa keberadaan Queenza akan menjadi kehancuran Immorland? Kevlar? Bahkan aku tidak percaya untuk sekedar meminjamkan uang padanya. Dia licik.”
“Tutup mulutmu!” hardik lelaki berambut cokelat.
Queenza tidak mau tinggal diam. Dia juga hendak menyulut emosi lawan seperti yang Emily lakukan. “Menyedihkan. Kalian menyebut diri kalian pasukan elit. Tapi kenyataannya butuh empat orang untuk mengalahkan dua orang wanita lemah. Sama sekali tidak elit.”
“Aku tidak lemah.” Emily merengut. “Tapi kau benar. Mereka memang tidak elit.”
Seperti yang mereka berdua harapkan, ketiga guardian itu mulai diliputi amarah. Tapi yang satu masih tampak tenang seolah tidak ada yang terjadi.
“Akan kupastikan kalian mati perlahan dan menyakitkan,” geram lelaki berambut cokelat seraya menarik pedangnya dari sarung pedang di pinggang.
Emily menempelkan bahunya ke bahu Queenza lalu berbisik, “Sekarang apa?”
“Kenapa tanya padaku. Kupikir kau punya rencana.”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Jangan coba-coba mencari wanita lain meski aku mati, Errie. Kalau kau melakukannya, arwahku akan mendatangimu lalu mencekikmu.”
Queenza melirik Emily, “Kau baru saja mengucapkan permohonan terakhir sebelum meninggal?”
Emily meringis. “Karena aku tidak yakin kita bisa selamat.”
Queenza bungkam, tidak tahu lagi harus menanggapi bagaimana. Kalau Emily saja berpikir seperti itu, apalagi dirinya yang hanya manusia biasa?
-------------------------------
♥ Aya Emily ♥