Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Makhluk tanpa aura



Rabu (07.32), 08 April 2020


----------------------------


“Queenza!”


Kingsley berseru dengan pandangan mengarah sekeliling dapur. Tadi dia hanya ke kamar mandi sebentar setelah sarapan bersama Queenza. Sarapan roti berlapis selai seperti yang biasa Queenza sajikan. Tapi tanpa dipanggang karena Kingsley tidak mengerti caranya memanggang roti. Namun begitu kembali ke dapur, Queenza sudah tidak ada di sana. Bahkan auranya pun tak terasa yang menandakan gadis itu tidak ada di dalam rumah.


Mendesah, Kingsley menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia baru ingat Queenza di masa lalu, ratunya, memiliki rasa ingin tahu yang besar. Dia pasti penasaran dengan dunia modern yang asing baginya dan bertekad mencari tahu.


“Sepertinya aku harus mengurungmu di kamar nanti,” gerutu Kingsley seraya memejamkan mata untuk pindah ke tempat Queenza berada.


Saat membuka matanya kembali, Kingsley menatap keramaian di depannya dengan bingung. Ini seperti—perayaan? Ada arena tempat bermain, bagian penjual aneka makanan olahan, dan pedagang kaki lima. Semua itu diatur mengelilingi tempat terbuka yang dijadikan arena pertunjukan, baik tari-tarian atau pertunjukan sirkus.


Lalu di mana Queenza?


Kingsley berbalik hendak mencari tempat yang lebih sepi untuk menghilang. Tadi dia muncul di antara penonton yang asyik menikmati atraksi sirkus. Untung perhatian semua orang tertuju pada hiburan yang ditampilkan. Jika tidak—


“Ba—bagaimana kau bisa tiba-tiba muncul di depanku?” tanya seorang pemuda yang mungkin seusia Queenza.


Kingsley tertegun. Ternyata dirinya tidak seberuntung itu. “Aku datang dari sana, mencari tempat yang nyaman untuk menonton. Tapi ternyata acaranya tidak terlalu bagus," ujar Kingsley seraya menunjuk samping kanannya.


“Tidak mungkin. Jelas-jelas kau tiba-tiba muncul menghalangi pandanganku. Apa kau—” pemuda itu ragu hendak mengutarakan pertanyaannya. “adalah vampir?”


Salah satu alis Kingsley terangkat. Pertanyaan pemuda itu sama seperti pertanyaan Queenza saat mereka pertama kali bertemu. Apa di dunia modern ini para manusia percaya adanya vampir tapi tidak dengan makhluk lainnya?


Ragu, pemuda itu mendekat ke arah Kingsley. Dia hanya sedikit lebih pendek dari Kingsley hingga mudah untuk berbicara dekat telinga Kingsley yang sengaja Kingsley tutupi dengan rambut panjangnya agar tidak terlihat perbedaan dengan manusia.


“Hei, aku bisa menjaga rahasia. Dari dulu aku percaya bahwa vampir dan werewolfe hidup di antara manusia.”


“Wow, dari mana kau tahu?” Kingsley cukup tertarik dengan pemuda itu. Dia mengetahui keberadaan makhluk Immorland tapi masih hidup tenang tanpa gangguan para guardian. Atau apakah para guardian itu hanya menghukum manusia yang menjalin hubungan dengan makhluk Immorland?


“Pertama aku yakin dengan keberadaan mereka dari buku Bram Stroker. Dia menceritakan mereka—makhluk-makhluk itu maksudku—seolah benar-benar melihat mereka dengan matanya sendiri. Lalu aku mencari tahu dugaan mengenai keberadaan mereka dari internet yang membuatku semakin yakin. Dan kau tahu? Aku sudah membaca semua buku yang berhubungan dengan makhluk-makhluk non-manusia itu. Termasuk Twilight dan The Night Huntreess. Dan  kesimpulannya sama. Mereka ada. Di sekitar kita. Mengincar manusia yang tidak beruntung lalu menghisap darahnya.”


Baiklah, Kingsley tidak sepenuhnya mengerti apa yang dibicarakan pemuda itu.


“Jadi, bagaimana menurutmu?” desak pemuda itu.


“Kalau begitu sebaiknya kau lebih berhati-hati menjaga diri. Jangan sampai kau jadi santapan mereka.”


“Itu juga yang kupikirkan,” ujar pemuda itu antara serius dan bersemangat. Senang ada orang yang sepemikiran dengannya.


“Sebaiknya aku pergi sekarang,” gumam Kingsley lalu hendak melewati pemuda itu namun si pemuda menghalangi jalannya.


“Lalu kau—“ Dia menoleh kanan kiri. Semua orang tampak fokus pada pertunjukan. “Apa juga bagian dari mereka?”


“Hmm, bukan.” Sepertinya menyenangkan meladeni pemuda itu sebentar, pikir Kingsley. “Aku bukan bagian dari kaum rendahan itu. Vampir dan werewolfe termasuk kaum rendahan. Mereka hanya sedikit lebih kuat dari Troll, Ogre, atau makhluk-makhluk sejenis mereka.”


Mata pemuda itu berbinar penuh rasa ingin tahu. “Lalu kau, termasuk kaum apa?”


“Aku makhluk yang tidak termasuk dalam kaum apapun karena darah seluruh makhluk lainnya ada dalam tubuhku. Tapi kalau kau tanya orang tuaku, aku keturunan campuran antara manusia dan malaikat.”


Pemuda itu ternganga. “Nephilim?”


“Wow, kau juga tahu tentang Nephilim?” Kingsley tersenyum kagum.


“Itu ada di salah satu film yang pernah kutonton.” Pemuda itu memukulkan kepalan tangan kanan pada telapak tangan kirinya. “Ternyata aku benar. Mereka semua ada. Sekarang aku bisa mematahkan pendapat ibuku yang berkata semua film yang kutonton tidak berguna.”


Kening Kingsley berkerut memikirkan kalimat terakhir pemuda itu. Sepertinya itu bukan hal bagus. Jika dibiarkan seperti ini, pemuda itu akan sibuk mencari tahu keberadaan para makhluk Immorland dan bukannya memikirkan masa depannya.


Salah dirinya sendiri juga. Bukannya mencari Queenza, malah sibuk meladeni pemuda itu.


“Jadi, apa kau hidup berbaur dengan manusia atau kau punya tempat tertentu yang menjadi rumah para makhluk non-manusia?”


“Sekarang?”


“Ya, sekarang.”


“Sekarang aku hanya manusia biasa. Acara syutingku sudah selesai. Jangan lupa menonton filmnya nanti.” Kingsley tertawa dibuat-buat seraya menepuk bahu pemuda itu. Internet memang sangat berguna. Dia jadi mengerti bagaimana cara para manusia itu berubah kecil hingga muat dalam kotak hitam yang disebut tv.


Senyum yang sebelumnya menghiasi bibir pemuda itu menghilang seketika. “Maksudmu—kau pemain film? Jadi yang kau bicarakan tadi acara film?”


“Ya, seperti film yang sering kau tonton. Aku jadi penjahatnya. Kau harus menonton.” Kingsley tersenyum lebar lalu bergegas melewati pemuda itu tanpa pamit. Begitu menjauh, senyumnya memudar dan digantikan perasaan cemas memikirkan keberadaan Queenza.


***


Queenza ternganga takjub melihat keramaian di sekitarnya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa terdampar di tempat ini padahal belum pernah ke sini. Padahal biasanya perpindahan tempat yang bisa dilakukannya hanya jika dia pernah mengunjungi tempat itu.


Dengan langkah anggun layaknya seorang bangsawan, Queenza berjalan santai melihat-lihat aneka makanan yang tersaji di atas meja. Sesekali dia berhenti menyaksikan pertunjukan di tengah area ini.


Rasanya Queenza ingin mencicipi semua makanan yang ada. Dia selalu mengagumi kemampuan memasak kaum manusia. Tapi sayang, dia masih kenyang. Roti yang disajikan Kingsley tadi sangat lezat dan empuk. Tidak seperti roti keras yang biasa Queenza makan. Hingga tanpa sadar dia sudah memakan lebih dari sepuluh lembar roti berlapis—apa itu? Benda lengket lezat. Queenza lupa menanyakan namanya.


Cukup lama berjalan, Queenza tertarik pada makanan yang dipegang seorang wanita. Wadahnya agak tinggi, menyempit di bagian bawah dan melebar di bagian atas. Lalu di bagian yang lebar itu, tampak makanan yang terlihat lembut, diletakkan mengerucut ke atas.


Queenza menatap sekeliling. Di area itu terlihat banyak yang memakan makanan itu. Tapi mereka tidak mengunyahnya. Hanya menjilat-jilat hingga habis. Lalu yang membuat Queenza semakin takjub, wadah makanannya pun bisa dimakan.


“Mau beli es krim dulu sebelum naik halilintar?”


Queenza menoleh mendengar obrolan di dekatnya. Dia terus memperhatikan dua wanita itu berjalan mendekati seorang lelaki yang tampak sedang membersihkan meja di depannya. Tapi apa itu memang benar-benar meja? Kenapa banyak benda asing di atasnya?


Beberapa menit memperhatikan, mata Queenza melebar melihat si lelaki memberikan kedua wanita itu makanan yang dari tadi menarik perhatiannya. Sekarang dia tahu dari mana para manusia mendapat makanan yang dijilat-jilat itu.


Setelah kedua wanita tadi pergi, Queenza bergegas menghampiri lelaki itu yang kini asyik mengobrol dengan lelaki lain di dekatnya.


“Aku mau seperti yang dipegang wanita tadi,” ujar Ratu Queenza pada lelaki di hadapannya.


“Es krim vanila? Tunggu sebentar.” Si penjual es krim langsung menyiapkan pesanan Queenza.


Queenza mengangguk sambil memperhatikan yang dilakukan lelaki itu dengan rasa ingin tahu.


Sementara itu Kingsley yang baru berhasil menyusul Queenza menghampiri gadis itu dengan napas terengah. Terpaksa dia berjalan kaki mengelilingi seluruh area itu karena tidak ingin menarik perhatian lagi.


“Aku masih mau makan itu,” tunjuk Queenza tenang ke arah es krim.


Kingsley ternganga. Astaga, dirinya tidak punya uang!


“My queen, Sayang. Nanti kita beli di dekat rumah. Di sana lebih enak,” bisik Kingsley.


“Aku mau yang itu.” sang ratu tidak mau dibantah.


“Tapi aku tidak bawa uang.” Kingsley tampak memelas.


Ucapan Kingsley terdengar oleh si penjual yang hendak menyerahkan es krim pada Queenza. “Jadi siapa yang akan bayar?”


Kingsley nyengir ke arah si penjual. “Kami tidak jadi beli.”


BRAK.


“Berani sekali mempermainkan pedagang. Memangnya pekerjaanku seperti mainan bagi kalian?”


“Jangan dengarkan dia. Aku tetap menginginkan makanan itu.”


“Serahkan dulu uangnya!” si penjual mengulurkan tangan di depan Queenza.


“Uang?” tanya Queenza bingung.


BRAK.


Lagi, penjual es krim yang memang dikenal mantan narapidana dan sulit mengontrol emosi itu menggebrak meja jualannya, menarik lebih banyak perhatian ke arah mereka. “Jangan pikir karena kau perempuan aku tidak berani memukulmu!”


Perlahan mata hijau Queenza bersinar seiring amarahnya yang meningkat. “Berani sekali kau menaikkan nada bicaramu di depanku.” Nada suara Queenza dingin dan mematikan.


Kingsley mendesah sambil menepuk keningnya. Saat dirinya menoleh ke samping kanan, tampak tiga banci melambai dan memberikan ciuman jauh padanya.


Sial!


Seharusnya tadi Kingsley membuat dirinya tidak terlihat. Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot jalan kaki dan langsung pindah ke tempat Queenza berada tanpa khawatir ada manusia yang melihatnya. Efek cemas benar-benar tidak baik untuknya.


Dan sekarang dirinya semakin cemas karena menjadi pusat perhatian. Terutama pusat perhatian para makhluk bertulang lunak yang mengerikan itu.


“Kau mau serahkan makanan itu atau tidak?” nada suara Queenza semakin dingin.


Si penjual tampak tertegun sejenak melihat mata Queenza berkilau bagai zamrud tertimpa cahaya. “Tentu saja tidak! Kalau kau mau es krim, kau harus bayar!”


“Queen, nanti kita kembali lagi kalau aku bawa uang.” Kingsley hendak menarik tangan Queenza namun dia meringis karena merasakan panas menyengat dari tangan gadis itu. Terpaksa Kingsley melepasnya karena tangannya terbakar seolah memegang bara api.


“Lebih baik kalian pergi saja sebelum kesabaranku semakin habis!” si penjual berseru makin marah.


“Ehm, permisi.” Mendadak seorang lelaki awal tiga puluhan mendekat. “Biar aku saja yang membayar. Ini.” Dia menyerahkan lembaran uang pada si penjual.


Si penjual menerima uang itu sambil melirik sinis ke arah Kingsley dan Queenza lalu menyerahkan es krimnya pada si lelaki. “Lain kali jangan beli kalau tidak punya uang.” Peringatnya tajam.


Lelaki itu tersenyum pada Kingsley dan Queenza. “Sebaiknya kita tidak berdiri di sini. Kita menghalangi antrian.” Lalu dia berjalan menjauhi penjual es krim.


Melihat lelaki itu menjauh dengan es krim yang sudah diklaim Queenza sebagai miliknya, buru-buru Queenza mengejar lalu berdiri di depan lelaki itu. “Itu milikku!” ujarnya tajam.


Lelaki itu mengulum senyum. “Ya, tentu saja.” Lalu dia menyerahkan es krim di tangannya pada Queenza.


Gadis di depannya sangat menarik. Selain aroma darahnya yang manis, ada sesuatu yang menarik perhatian si lelaki. Dia bisa mencium aroma kaum dryad dibalik aroma manusia di tubuh wanita itu. Apa wanita itu keturunan campuran antara dryad dan manusia? Tapi bukankah pernikahan campuran antara bangsa dryad dan manusia tidak bisa menghasilkan keturunan? Yah, itu yang dirinya tahu.


“Ehem,” Kingsley berdehem karena lelaki itu terus memperhatikan Queenza. “Terima kasih atas bantuannya. Istriku agak—sulit diatur.”


“Istri?” lelaki itu terbelalak. “Dia masih terlihat sangat muda.”


“Aku sudah bukan istrimu sejak aku menancapkan belati di dadamu!” mata Queenza bersinar tajam saat menatap Kingsley, membuat Kingsley meringis.


Lelaki itu meringis mendengar ucapan Queenza. Sepertinya ada situasi buruk di antara mereka. Dia buru-buru mengulurkan tangan ke arah Kingsley untuk mengalihkan pembicaraan.


“Ngomong-ngomong namaku Kenzie.” Lelaki itu memperkenalkan diri. Dia lumayan penasaran dengan orang di hadapannya. Orang itu memiliki aura dan aroma banyak makhluk di dalam tubuhnya.


“Aku Kingsley.” Kingsley menjabat tangan Kenzie. “Dan dia Queenza.” Lalu dia merendahkan nada suaranya. “Aku tidak berani bilang istriku lagi meski benar kami sudah menikah.”


Kenzie tersenyum geli. Sejenak dia menunduk menatap jari manis Kingsley dan Queenza. Tidak ada cincin pengikat di sana. Sepertinya mereka memang belum menikah. Hanya nama mereka saja yang unik di zaman sekarang. Mungkin cinta lelaki itu bertepuk sebelah tangan.


“Tapi kalian tidak memakai cincin pengikat. Sepertinya kalian memang belum menikah.”


“Kami sudah menikah!” Kingsley ngotot.


“Tanpa cincin pengikat, artinya aku punya kesempatan untuk mendekati gadis cantik ini.” Ya, Kenzie memang tertarik pada Queenza sejak pertama melihatnya.


“Hei!”


“Kau merayuku! Kau mau mati?!” Queenza melotot ke arah Kenzie.


Kingsley menyeringai senang sementara Kenzie terkekeh mendengar tanggapan Queenza. “Kau benar-benar menarik. Tapi sayang sekali aku harus segera pulang. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu.” Tanpa menunggu tanggapan, Kenzie pergi meninggalkan mereka.


“Dasar manusia itu! Dia menolong hanya karena ada maunya. Ternyata dia tertarik padamu, Queen.”


“Kau yakin dia manusia?” tanya Queenza sambil menjilat es krimnya. “Aku tidak bisa merasakan aura dan aromanya.”


Kingsley tertegun, baru menyadari hal itu. Biasanya kaum Immorland menyembunyikan aura dan aromanya dengan meniru aroma dan aura manusia. Tapi tadi lelaki itu—Kenzie—sama sekali tidak memiliki aura dan aroma.


“Menurutmu dia makhluk apa, Queen?”


“Yang jelas dia makhluk yang akan merepotkan jika menjadi musuhmu,” sahut Queenza tak acuh seraya meninggalkan Kingsley sambil menjilat es krimnya dengan tenang.


--------------------------------


♥ Aya Emily ♥