
Rabu (06.54), 15 April 2020
-------------------------
Queenza berjalan mondar-mandir dengan gelisah di beranda rumah kepala sekolah. Dia benar-benar khawatir semua yang direncanakan Kingsley tidak berjalan mulus. Ada banyak nyawa yang dipertaruhkan sementara dirinya aman di sini.
Kingsley cepat kembali, mohon Queenza dalam hati. Dia terus berjalan mondar-mandir dengan pikiran melayang ke kejadian tadi pagi.
Queenza sudah mencapai pintu depan saat tiba-tiba Kingsley memanggilnya lalu menyuruh memanggil Emily agar kembali ke dalam rumah. Setelah keduanya berada di depan Kingsley, lelaki itu menjelaskan dengan singkat kecurigaannya bahwa ini semua adalah jebakan. Dan untuk sekedar jaga-jaga, Kingsley menjalankan rencana yang katanya baru dia susun semalam. Saat itu Queenza menolak dan terus mengajukan keberatannya.
Oh, ayolah. Ini perang sungguhan! Bukan sekedar game online. Bagaimana bisa Kingsley menjalankan rencana yang baru dia buat beberapa jam? Bahkan panglima perang sekalipun butuh waktu berbulan-bulan untuk menyusun rencana.
Itu yang membuat kecemasan Queenza terus meningkat. Terutama setelah sekumpulan makhluk dari berbagai jenis—yang berhasil membuat bulu kuduknya meremang—mulai menghilang.
“Itu Missy!” seru Chenna yang sejak tadi menemani Queenza. Dia bergegas berlari ke dekat pohon di halaman rumahnya. Mama Chenna, Queenza, dan beberapa pelayan di sana bergegas mengikuti.
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Queenza cemas karena Missy, wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang menggantikan posisi Queenza, berbaring tak bergerak di atas rumput. Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, Queenza tidak akan bisa memaafkan diri sendiri.
“Tidak ada luka di tubuhnya. Sepertinya dia hanya pingsan. Segelnya juga sudah menghilang.” Chenna menunjuk punggung tangan Missy tempat Kingsley sebelumnya memasang segel berwarna merah dan berbentuk nyala api.
Queenza ingat saat dirinya protes tentang betapa berbahayanya menggunakan orang lain untuk menggantikan posisinya, Kingsley menenangkan dengan berkata bahwa orang-orang yang masih memiliki segelnya akan baik-baik saja. Tidak bisa terluka apalagi terbunuh. Penjelasan itu membuat Queenza bisa bernapas lega. Tapi sekarang dia menyesal tidak meminta Kingsley membuat segel itu bertahan lebih lama. Bukannya langsung menghilang begitu mereka melakukan teleportasi.
“Hah… hah… hah…!”
Tiba-tiba Missy membuka mata lalu duduk sambil bernapas terengah-engah. Melihat itu Queenza menghela napas lega. Dan dia lebih lega lagi karena kini Missy tidak lagi menyerupai dirinya. Dia kembali ke sosok aslinya, wanita berambut ikal panjang dengan mata sehitam rambutnya.
“Missy, kau baik-baik saja, Nak?” kini Amber, Mama Chenna, yang bertanya.
Missy mengangguk pelan sambil mengatur napasnya kembali. “Tadi mereka menikam dadaku. Rasanya sakit sekali membuatku nyaris tidak bisa berpikir.”
“Kenapa sampai sejauh itu?” tanya Queenza dengan nada tinggi, tidak bisa menyembunyikan perasaan cemas sekaligus takut. “Seharusnya kau langsung bertukar tempat sebelum mereka melukaimu.”
Missy menunduk, merasa bersalah. “Aku hanya penasaran, sejauh apa para guardian itu akan bertindak. Ternyata mereka benar-benar bertekad untuk membunuh Anda, Yang Mulia.”
“Hentikan omong kosong tentang Yang Mulia itu!” sergah Queenza. “Silakan panggil Kingsley begitu tapi tidak perlu memberikan perlakuan yang sama padaku. Aku hanya gadis SMA yang mendadak terjebak di dunia dongeng hanya karena orang tuaku memberiku nama aneh!” Queenza terengah-engah. Setelah semua kecemasan yang dialaminya seharian ini, mendengar orang lain bersikap formal dan memanggilnya dengan sebutan konyol itu adalah hal terakhir yang ingin Queenza dengar. Tapi akhirnya Queenza menyesal melihat Missy semakin menunduk takut. “Maaf. Aku terlalu cemas.”
Amber berdiri di samping Queenza, memegang lembut lengan gadis itu seraya membelai punggungnya. “Kami juga cemas, Sayang. Tapi mereka semua pasti akan baik-baik saja.”
Queenza mengangguk lemah lalu berusaha mengulas senyum. “Senang mendengar Anda memanggil saya tanpa embel-embel ‘Yang Mulia’ dan sejenisnya.”
Ya, sejujurnya Queenza merasa agak risih sejak Kingsley membawanya ke rumah ini hanya dalam satu kedipan mata tadi pagi. Semua orang—termasuk gurunya, Pak Hendri, dan kepala sekolah—bersikap formal dan terus menggunakan panggilan menggelikan itu. Sebelumnya dia tidak punya kesempatan untuk bertanya karena semua orang tampak sibuk. Tapi setelah semuanya pergi, dia bertanya pada Chenna yang menjelaskan bahwa Kingsley dulunya adalah Kaisar Immorland dan Queenza adalah ratunya.
Baiklah, ternyata Kingsley tidak membual bahwa dirinya adalah kaisar. Tapi tetap saja. Hanya karena ia memiliki nama dan wajah yang sama dengan permaisuri Kingsley dulu, bukan berarti Queenza benar-benar wanita itu. Yah, meski tak bisa dipungkiri kadang Queenza merasa aneh dengan dirinya sendiri. Terutama saat tragedi yang nyaris merenggut nyawa Tristan. Queenza benar-benar merasa ada orang lain dalam tubuhnya.
Amber membalas senyuman Queenza. “Dan tolong jangan bersikap formal padaku juga. Panggil saja Amber.”
Queenza menggeleng kuat. “Tidak bisa. Anda jauh lebih tua dan istri kepala sekolah. Saya tidak mau bersikap kurang ajar.”
“Itu menyakitkan, Sayang. Kau terang-terangan menyebutku sudah tua, membuatku teringat pada keriput di wajahku.”
“Oh, maaf.”
Amber mengibaskan tangan seraya tersenyum geli. Lalu ia beralih kembali pada Missy. “Kau bisa berjalan sendiri, kan?” Setelah Missy mengangguk, Amber melanjutkan. “Istirahatlah di kamar tamu. Kau pasti masih syok. Biar pelayan menyiapkan pakaian ganti untukmu.”
“Tidak perlu. Saya akan menunggu yang lainnya bersama kalian. Setelah itu langsung pulang bersama Papa saya.”
Queenza ingat salah satu harpy yang turut pergi adalah Papa Missy. Dia juga termasuk orang kepercayaan Pak Jervis. Queenza sempat bertanya-tanya apa Pak Jervis adalah raja kaum harpy. Sejauh yang dirinya tahu, para penduduk Immorland masih menggunakan sistem pemerintahan berbentuk kerajaan. Dan mengingat banyaknya bawahan Pak Jervis, jadi wajar jika Queenza berpikir demikian.
Namun Chenna menjelaskan bahwa Papanya bukanlah raja kaum harpy. Dia hanya rakyat biasa yang mendapat izin penuh dari kaum guardian untuk menetap di dunia manusia. Sementara Raja atau orang penting dalam kerajaan tidak mungkin bisa mendapat izin semacam itu. Lagipula orang-orang yang memiliki jabatan tinggi dalam kerajaan cenderung lebih suka menetap di Immorland untuk mengatur pemerintahan.
Mungkin karena Jervis suka menolong dan berteman dengan siapapun—termasuk makhluk yang disebut berasal dari kaum rendahan—hingga akhirnya dia memiliki banyak anak buah yang setia padanya.
Setelah yakin Missy benar-benar tidak terluka, mereka bersama-sama menunggu orang-orang yang pergi berperang. Lalu hampir dua jam kemudian, tampak seorang harpy menukik turun di halaman rumah Jervis bersama seorang wanita di punggungnya. Begitu sang harpy menjejak tanah, si wanita melompat turun seraya meregangkan tubuhnya.
“Emily!” seru Queenza lega.
Emily melambai ke arah Queenza lalu bergegas menuju beranda tempat Queenza dan yang lainnya menunggu.
“Kau baik-baik saja, kan?” Queenza langsung menodong Emily dengan pertanyaan. Meski baru mengenal gadis itu sebentar, Queenza sudah merasa akrab seolah mereka sudah lama berteman.
“Hanya sedikit memar di pinggang.” Emily tersenyum lebar seolah itu bukan masalah. “Tapi yang paling mengerikan saat dia membawaku terbang. Aku nyaris muntah beberapa kali.”
“Dan dia terus mengoceh sepanjang jalan hingga telingaku sakit,” gerutu harpy yang tadi membawa Emily.
Dalam situasi lain, Queenza pasti akan tersenyum geli mendengar itu. Tapi saat ini tidak yang dia rasakan selain cemas. “Lalu yang lain bagaimana?”
“Tapi kenapa kau sedih?” desak Queenza.
“Ehm, yah. Walau aku tidak pernah dianggap bagian dari kaum guardian, tapi selama belasan tahun aku tumbuh dan besar di antara mereka. Bagaimanapun aku menganggap mereka adalah kaumku. Jadi sangat menyakitkan rasanya melihat mereka dibunuh secara keji di depan mataku dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolong.” Setetes air mata Emily bergulir. Dia buru-buru menghapusnya lalu berusaha tetap menampilkan senyum.
Queenza langsung memeluk Emily, mengerti perasaan gadis itu. “Maafkan aku.”
“Kenapa kau yang minta maaf? Mereka yang salah. Aku hanya—terlalu emosional. Dan sangat merindukan Errie-ku.”
“Apa kau bisa menghubunginya? Dia punya ponsel, kan?”
“Ya, punya. Tapi tetap tidak bisa dihubungi jika Errie sedang berada di Immorland.”
“Dia pasti segera kembali.” Hanya itu yang Queenza katakan seraya menepuk lembut punggung Emily lalu melepaskan pelukan. Tapi sepertinya kalimat itu bukan ditujukan untuk Emily melainkan untuk dirinya sendiri. Untuk meyakinkan bahwa Kingsley pasti akan segera kembali.
Setelahnya mereka masih menunggu. Matahari sudah mulai terbenam saat pasukan yang pergi untuk bertarung mulai berdatangan. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali karena tidak lagi memiliki segel dari Kingsley yang bisa membuat mereka pindah tempat dalam sekejap.
Tidak ada yang terbunuh. Semuanya pulang hanya dengan luka-luka kecil yang akan segera sembuh dan—senyum puas. Mungkin seperti itulah ekspresi rakyat jika diberi kesempatan menghabisi pemegang kekuasaaan di pemerintahan yang menindas mereka, seperti para koruptor misalnya.
“Apa semua guardian itu berhasil dibunuh?” tanya Amber begitu suaminya mendekat.
Jervis mengangguk. “Ya, tapi hanya para guardian yang dikirim untuk membunuh Queenza. Kurasa masih ada lebih banyak lagi. Sekarang kita harus benar-benar waspada karena kaum guardian sudah tahu bahwa kita melawan mereka.”
“Ini salahku. Seharusnya kalian tidak terlibat.” Queenza tertunduk seraya menyeka air matanya.
“Jangan terus menyalahkan diri sendiri, Queenza,” tegas Chenna. “Mereka yang bersalah. Kau hanya dijadikan alat untuk membunuh Kaisar Kingsley. Dan kami semua di sini tidak akan membiarkan kaisar dan ratu kami terluka.”
“Sudah kubilang aku bukan—”
“Sekeras apapun kau mneyangkalnya, itu tidak akan mengubah kenyataan.” Emily berkata hati-hati. “Kadang takdir memang lucu. Kau lihat saja aku.” Emily membentangkan kedua tangannya untuk menegaskan maksudnya. “Sebelumnya aku adalah bayi yang bahkan tidak diinginkan orang tuanya hingga harus berakhir di panti asuhan. Tapi sekarang, ternyata aku menjadi pasangan seorang guardian. Siapa yang bisa menduga hal itu?”
Queenza terdiam. Emily benar. Tapi dirinya tetap belum bisa menerima semua ini. Dan—“Di mana Kingsley?” Queenza nyaris meneriakkan apa yang sejak tadi dia pikirkan.
Jervis menggeleng. “Kami tidak tahu. Dia tidak pergi bersama kami.”
Queenza memilih berjalan mondar-mandir untuk meredakan ketegangannya dan membiarkan topik sebelumnya menggantung di antara mereka. Dan sepertinya, mereka pun tidak berniat melanjutkan pembicaraan itu.
“Bagaimana kalau ternyata kita yang terkecoh? Mungkin para guardian itu sebenarnya bertekad langsung mengincar Kingsley. Sekarang Kingsley sendirian dan bisa saja seseorang berhasil melukainya.”
“Itu tidak mungkin terjadi,” Jervis berkata pasti. “Yang Mulia Kaisar Kingsley tidak bisa dibunuh kecuali melalui dirimu. Para guardian hanya bunuh diri jika memilih menghadapinya langsung.”
Ucapan Jervis tak lantas membuat Queenza tenang. Dia terus gelisah dan merasa tidak nyaman karena berada di antara para makhluk yang menguarkan aura dingin dan pekat. Tapi anehnya, Queenza tidak merasakan aura aneh itu dari para harpy. Sama seperti saat berada di dekat Kingsley, dia juga tidak merasakan keanehan. Mungkinkah para harpy dan Kingsley bisa menyembunyikan auranya?
Entah sudah berapa langkah yang Queenza buat di beranda Jervis sementara para pasukan saling mengobati, tiba-tiba tampak kabut putih di depan gerbang kediaman Jeris. Semuanya mulai waspada, khawatir ada musuh yang menyerang. Tapi begitu kabut putih perlahan memudar, tampak sosok lelaki berpakaian serba hitam dengan sayap berbulu putih yang merentang indah.
“Kingsley!” seru Queenza. Tanpa pikir panjang lagi, dia berjalan cepat menuruni undakan beranda lalu berlarik menuju gerbang. Dan seolah hidupnya hanya bergantung pada hal itu, Queenza menghambur ke dalam pelukan Kingsley, melingkarkan kedua lengannya di leher Kingsley lalu memeluk erat lelaki itu.
“Merindukanku?” tanya Kingsley sambil membalas pelukan Queenza. Senyumnya merekah. Rasanya seperti pulang, kembali ke tempat seharusnya ia berada. Meski baru saja melepas kepergian seorang sahabat dan masih berduka karenanya, tapi ada perasaan lega yang seolah berhasil mengangkat beban di pundaknya saat melihat Queenza berlari ke arahnya lalu memeluknya erat.
Queenza terisak. Semua kecemasannya luruh menjadi air mata. “Aku ingin berbohong… hiks, tapi… aku tidak sanggup. Jadi… hiks… ya! Aku merindukanmu, Yang Mulia Tengkorak Jelek!”
Kingsley terkekeh pelan. Menarik Queenza semakin rapat dalam pelukannya. “Tak kusangka aku bisa merindukan panggilan itu. Dan—aku juga merindukanmu. Padahal kita hanya berpisah beberapa jam. Sepertinya setelah ini aku akan terus membuntutimu seperti anak ayam. Aku tidak ingin menanggung perasaan rindu lagi. Karena rindu itu berat.”
Queenza menjauhkan kepalanya untuk membalas tatapan Kingsley namun kedua lengannya masih melingkari leher lelaki itu sementara lengan Kingsley memeluk pinggangnya erat. “Apa kau sedang mempromosikan film? Masih berniat jadi selebgram?” tanya Queenza tajam dengan mata basah.
Kingsley mengerucutkan bibir seperti bocah yang merajuk. “Aku sudah berhenti main instagram sejak kau bilang followerku akan banci. Bukankah kau sudah tahu itu?”
Queenza kembali membenamkan wajah di sisi leher Kingsley untuk menyembunyikan senyum gelinya. Padahal dirinya hanya menakut-nakuti Kingsley. Tapi Kingsley benar-benar percaya bahwa followernya adalah seorang banci.
Lalu perhatian Queenza beralih pada sayap Kingsley. Seharusnya dirinya takut karena sayap itu menegaskan bahwa Kingsley memang bukan manusia. Tapi dia malah terpesona.
“Aku tidak tahu kau memiliki sayap. Apa tadi kau terbang?”
“Ya. Terbang selalu berhasil membuatku merasa tenang,” Kingsley menagkui.
Queenza kembali menjauhkan kepalanya untuk menatap Kingsley. Kali ini matanya berbinar penuh harap. “Aku ingin tahu rasanya. Apa kau mau membawaku terbang bersamamu? Tadi seorang harpy membawa Emily terbang dan itu membuatku penasaran.”
Kingsley tersenyum lebar lalu mengecup lembut kening Queenza. “Kita akan terbang, sejauh yang kau inginkan.”
---------------------------
♥ Aya Emily ♥