Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Epilog K&Q Season 1



Jumat (07.49), 17 April 2020


Bab selanjutnya dimulai dari prolog lagi (Kingsley & Queenza Season 2) ^_^


-------------------------------


Sekali lagi Queenza memperhatikan tampilan dirinya di cermin. Gaun sebatas lutut yang dikenakannya agak membuatnya tak nyaman. Dia belum pernah berias seperti ini. Pakaian sehari-hari yang dikenakannya adalah celana jins dan kaus. Tapi kemarin Kingsley bersikeras mengajaknya berbelanja. Dia bahkan mengancam jika hari ini Queenza tidak menggunakan make-up, dia akan menjadikan Queenza makanan troll.


Dasar makhluk menyebalkan! Berani sekali mengancam dirinya padahal uang yang digunakan untuk berbelanja adalah uang Queenza sendiri. Tapi yah, mau bagaimana lagi. Queenza juga takut menjadi makanan makhluk-makhluk itu. Setidaknya Kingsley berjanji akan mengembalikan uangnya begitu berhasil merebut kerajaan Ackerley kembali.


Dari semua yang Queenza alami dua hari ini, yang paling sulit menjelaskan pada kedua sahabatnya siapa makhluk-makhluk yang ada di rumahnya. Awalnya Queenza ragu untuk memberitahukan yang sebenarnya karena berpikir keberadaan makhluk-makhluk dari Immorland adalah rahasia. Tapi Kingsley bilang tidak apa-apa manusia biasa tahu mengenai mereka. Toh zaman dulu makhluk dari Immorland dan dunia manusia saling berbaur dan menjalin hubungan.


“Jadi, apa penjelasanmu?” tanya Belva dua hari lalu saat mereka bertiga sudah berada di kamar Queenza.


“Apa lelaki yang baru datang dengan kepulan asap itu ninja?” Aila tak mau ketinggalan untuk mengajukan pertanyaan.


“Duduk dulu,” gumam Queenza seraya berjalan menuju ranjang lalu duduk bersila sambil bersandar di kepala ranjang.


Dengan enggan, Aila dan Belva mengikuti Queenza lalu duduk di hadapannya.


“Sekarang kau tidak punya alasan lagi untuk menghindar.” Belva melotot. “Ayo jelaskan!”


“Dengar,” Queenza menggigit bibir bawah sejenak sebelum melanjutkan, “mereka  bukan manusia. Mereka makhluk dari dimensi lain.”


“Tidak lucu!” sergah Aila.


Queenza mengangkat kedua tangan sebagai syarat agar kedua temannya diam. “Aku akan menjelaskan yang sebenarnya. Kalian mau percaya atau tidak, terserah.” Dia menghela napas sejenak. “Saat aku menghilang beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan Kingsley, lelaki yang berbicara sambil bersandar di ambang pintu dapur. Lalu karena beberapa alasan, aku memberinya tempat tinggal. Dan semuanya menjadi di luar kendali karena ternyata beberapa makhluk dari dimensi lain itu berusaha membunuhku. Beruntung ada Kingsley yang selalu melindungiku. Lalu Tristan dan Emily, lelaki yang baru datang dan gadis yang menangis, mereka juga tinggal di sini karena ada kesalahpahaman yang terjadi di tempat tinggal mereka.”


Penjelasan Queenza memang jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Tapi dia harap itu cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu Belva dan Aila. Setidaknya Queenza berusaha untuk berkata jujur.


“Apa kau menceritakan salah satu kisah fantasi?” tanya Aila kemudian.


“Lihat, kan! Kalian tidak mungkin percaya. Itu sebabnya aku memilih tidak bercerita. Sama seperti saat aku mengatakan bahwa aku bisa merasakan aura aneh dari orang-orang disekitarku. Kalian juga tidak percaya. Memangnya kalian pikir aku akan dapat keuntungan apa dengan menceritakan kisah khayalan?!”


Seketika suasana menjadi sesepi pekuburan begitu Queenza meluapkan isi hatinya. Tapi lalu dia menyesal. Wajar jika Belva dan Aila tidak percaya. Apa yang Queenza alami memang tidak masuk akal dan terkesan khayalan.


“Maaf, aku jadi melampiaskan amarah pada kalian. Aku tidak akan mengulang cerita tak masuk akal ini lagi. Anggap saja aku tidak menceritakan apapun. Tapi kuharap kalian bersedia pergi dan tidak bertanya lagi. Karena aku tidak ingin berbohong pada kalian.”


Setelahnya Queenza hendak beranjak dari sana. Tapi urung karena Belva menggenggam tangannya. “Bagaimana kalau aku bilang, aku percaya padamu?”


Queenza membalas tatapan serius Belva. “Tidak mungkin. Kau hanya tidak ingin persahatan kita rusak karena ha ini.”


“Aku serius. Memang sulit diterima akal. Tapi aku percaya padamu.”


“Maaf, Za.” Aila menimpali. “Aku sadar ucapanku tadi menyinggungmu. Tapi aku juga sependapat dengan Belva.” Dia menatap Queenza penuh harap.


Queenza menghela napas lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi tolong jangan desak aku untuk menceritakan lebih dari yang kuceritakan tadi hari ini. Lain kali aku akan menjawab semua pertanyaan kalian. Situasi saat ini agak—kacau.”


Kedua sahabat Queenza mengangguk setuju hingga membuatnya lega.


Hari ini lagi-lagi Queenza harus bolos sekolah. Tapi beruntung kali ini kepala sekolah sendiri yang menemui wali kelas Queenza untuk meminta izin. Entah apa yang Pak Jervis katakan. Kalau seperti ini terus, sepertinya lebih baik Queenza minta surat pindah dari sekolah.


Setelah tidak ada lagi yang ingin ia ubah dari penampilannya, Queenza bergegas keluar kamar.


Emily juga mengenakan gaun dan tampak cantik seperti peri. Sejak tinggal di sini, dia tidur bersama Queenza di kamar utama yang dulu merupakan kamar orang tua Queenza. Sementara Tristan memilih tidur di luar dan tidak membuang waktu untuk meminta diizinkan tidur di kamar yang Kingsley tempati. Entah karena tak nyaman tidur dengan sesama lelaki dalam satu kamar, sungkan mengingat Kingsley adalah seorang kaisar, atau karena yakin Kingsley tidak akan mau berbagi. Tapi sepertinya alasan terakhir yang paling masuk akal.


Lalu Tristan, Queenza akui dia tampak gagah dengan setelah jas yang membalut tubuhnya dengan pas. Entah di mana dia menyembunyikan pedangnya. Tapi saat ini dia tampak tak berbahaya tanpa senjata tajam itu. Hanya sorot mata elangnya yang masih menusuk tajam.


Sementara Kingsley, Queenza menahan napas melihat sosoknya yang dibalut celana bahan, sepatu pantofel, kemeja lengan panjang, dan dasi. Semuanya itu dalam warna hitam hingga membuatnya tampak misterius. Hanya kemejanya yang memiliki pola garis diagonal warna putih hingga dia tidak tampak seperti bayangan gelap. Namun keseluruhan warna itu sangat cocok untuknya, menonjolkan warna kulitnya yang putih bersih dan biru matanya yang tajam sekaligus lembut.


Kingsley sangat tampan!


Pernyataan itu jelas belum bisa menggambarkan sosok adonis di depannya. Tapi bahkan meski di bawah todongan pistol, Queenza tidak akan mau mengakui hal itu. Bisa-bisa makhluk yang “katanya” kaisar itu semakin besar kepala.


“Sudah siap?” tanya Kingsley.


Queenza berdehem sejenak. “Ehm, iya. Siapa yang membantumu mengenakan dasi?”


“Google,” sahut Kingsley sambil angkat bahu.


Queenza hanya geleng-geleng kepala. Tapi kemudian dia mengutarakan apa yang mengganggu pikirannya. “Aku agak gugup dengan pertemuan ini. Apa aku memang harus datang? Melihat pakaian yang kita kenakan, sepertinya ini pertemuan formal.”


“Tentu saja. Kau harus mendampingiku,” sahut Kingsley dengan nada yang tak ingin dibantah.


“Tapi ini pertemuan apa? Apa yang harus kulakukan nanti?”


“Kita akan bertemu dengan banyak orang, penduduk Immorland yang tinggal atau kebetulan ada di sini dan mengabdi pada keluarga Jervis. Kau mungkin sudah bertemu dengan beberapa di antara mereka dua hari lalu di rumah Jervis. Sekarang aku ingin memastikan siapa di antara mereka yang bersedia berada di belakangku dan membantuku merebut kerajaanku kembali. Yang menolak atau takut, bisa menyingkir. Entah mendukung musuh atau hanya jadi penonton,” Kingsley menoleh ke arah Tristan. “Dan itu juga berlaku untukmu. Kau berhak memilih.”


Tristan tidak mengatakan apapun. Dia memang belum memberikan jawaban pasti, hendak menyerahkan kesetiaan pada Kingsley atau memilih pergi.


“Lalu apa yang harus kulakukan?” Queenza mengulang pertanyaannya dengan frustasi. Dia merasa tidak ada gunanya ikut dalam pertemuan itu.


“Tak peduli seberapa keras kau menyangkal, kau adalah ratuku, Queenza. Jadi kau harus mendampingiku. Lagipula nyawamu juga terancam.”


“Hanya mendampingimu? Berdiri di sampingmu? Kenapa kau tidak bawa patung saja?” Ada nada kesal yang terselip di antara nada frustasinya.


“Tidak ada yang melarangmu bicara di sana. Jadi jika kau memiliki usul atau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, katakan saja.” Sahut Kingsley tak acuh.


Queenza mengerucutkan bibir. Dia yakin Kingsley mengatakan itu karena tahu Queenza akan memilih diam selama pertemuan. Mana mungkin dia berbicara di depan banyak orang yang tidak dirinya kenal, tanpa mengerti apa yang mereka bahas.


Tanpa permisi, Kingsley menautkan jemarinya dan jemari Queenza. “Kau terlalu banyak berpikir. Ikut saja dan jangan lepas tanganku.” Tanpa menunggu tanggapan, dia beralih pada Tristan yang kini lengannya dirangkul Emily. “Kita berangkat sekarang.”


Tristan mengangguk lalu membiarkan Kingsley dan Queenza yang menghilang lebih dulu. Kemampuan berpindah tempat dalam hitungan detik adalah salah satu keistimewaan kaum guardian. Tapi semakin jauh jaraknya, tenaga si pengguna akan semakin banyak terkuras. Beruntung rumah Jervis tidak sampai bermil-mil jauhnya dari rumah Queenza. Jadi mereka bisa tiba di sana dalam satu kedipan mata.


***


Kasak-kusuk langsung terhenti begitu Kingsley tiba di depan gerbang kediaman Jervis lalu melangkah masuk tanpa melepas genggamannya di tangan Queenza yang mulai berkeringat gugup. Dan para tamu yang diundang mulai tampak gelisah saat melihat seorang guardian dan pasangannya di belakang Kingsley. Apalagi guardian yang itu. Tidak ada yang tidak mengenal Tristan karena dia adalah panglima tertinggi guardian abad ini.


Melihat kedatangan Kingsley, Jervis langsung menghampiri lalu mengantar mereka berempat ke kursi depan yang sudah disiapkan.


Halaman rumah Jervis yang luas telah diatur untuk pertemuan ini. Di bagian depan dibuat panggung kecil agar semua orang bisa melihat dan mendengar jelas apapun yang disampaikan. Di depan panggung berjejer kursi-kursi yang sangat banyak. Mungkin lebih dari dua ratus kursi. Dan masih banyak tamu yang berdiri karena tidak cukup tempat. Undangan ini memang terbuka. Siapapun boleh datang, dengan syarat berpakaian formal. Meski dari kalangan musuh sekalipun. Tujuannya jelas, menyatakan perang pada mereka yang membela kaisar guardian dan mencari tahu siapa yang bersedia ikut berperang bersama Kingsley.


“Kalau begitu aku akan langsung berbicara.”


Queenza sempat menarik tangannya saat Kingsley terus berjalan menuju panggung. Tapi Kingsley menyentak tangannya dan Queenza tidak mampu melawan. Dia juga tidak berani mendebat Kingsley karena banyak mata yang memperhatikan mereka.


Tiba di atas panggung dan berhasil mencuri perhatian, dengan sengaja Kingsley menatap mereka yang hadir. Dia berdiri dengan tegak ala bangsawan. Satu tangannya menggenggam jemari Queenza sementara tangan yang lain dimasukkan ke dalam saku celana.


Berbeda dengan Queenza, dia mati-matian berusaha menegakkan tubuh karena lututnya terasa bergetar. Sementara pandangan matanya mengarah pada puncak kepala orang-orang yang hadir. Hal itu mengingatkan dirinya akan salah satu nasihat ayahnya.


Kalau kamu gugup saat berdiri di depan banyak orang, jangan tatap mata mereka karena itu akan membuatmu semakin gugup. Dan jangan menunduk karena itu akan menunjukkan kelemahanmu. Lihat puncak kepala mereka dan abaikan tatapan-tatapan yang mengarah padamu. Anggap itu hanya perasaanmu saja.


Queenza menghela napas. Tiba-tiba perasaan sedih menderanya karena teringat sang Ayah. Beruntung ucapan Kingsley kemudian berhasil mengalihkan perhatian Queenza.


“Kalian pasti sudah mendengar tentang diriku dari Jervis.” Kingsley sengaja menjeda ucapannya. Dia yakin semua orang mendengar meski ia tidak menggunakan pengeras suara. “Ya, aku adalah Kaisar Kingsley yang telah membangun Kerajaan Ackerley dan menjadi Kaisar pertama di Immorland. Aku juga yang menggantikan kepemimpinan kaum malaikat. Dan sekarang aku berniat merebut kembali kerajaanku.”


Gumaman mulai terdengar. Bisik-bisik semakin jelas dan ramai. Sepertinya mulai terbentuk golongan pro dan kontra. Dan entah bagaimana, yang semula hanya kasak-kusuk pelan menjadi aksi saling tunjuk. Bahkan seruan Jervis hanya dianggap angin lalu.


“Bisakah kalian tenang?” tanya Kingsley masih dengan nada biasa, seolah sama sekali tidak terganggu keributan di sekitarnya.


“Kami sama sekali tidak percaya padamu!”


“Dia pasti hanya seorang pembohong!”


“Jaga bicara kalian!”


“Kalaupun benar dia, bukankah Kaisar Kingsley adalah monster. Berarti dia monster yang harus kita bunuh!”


“Tapi kita juga tidak tahu kebenaran cerita itu!”


“Aku lebih percaya cerita yang sudah kudengar sejak kecil!”


“Jervis, kau akan menyesal. Kau mendorong kita semua ke dalam sumur bersama monster!”


Queenza ternganga mendengar beberapa kalimat itu. Perasaan gugupnya seolah sirna begitu saja. Hatinya turut pedih mendengar tuduhan itu. Dia menoleh ke arah Kingsley, menunggu apa yang akan dia lakukan.


“Jangan menatap iba padaku. Aku sudah mendengar tuduhan itu seumur hidupku,” ujar Kingsley pelan namun tanpa mengalihkan perhatian dari orang-orang di hadapannya.


“Kenapa kau tidak berusaha menjelaskan?”


“Apa yang harus kujelaskan? Tidak peduli apa pendapat mereka tentang diriku dulu, mereka hanya harus melihat diriku yang sekarang. Bagaimana caraku memimpin. Bagaimana caraku melindungi rakyatku. Dan itu yang akan kutunjukkan.”


Queenza meremas tangan Kingsley, membuat lelaki itu menoleh dan balas menatapnya. “Kau bilang aku permaisurimu, kan? Tapi aku tidak benar-benar tahu tentangmu. Apa saja yang sudah kau alami. Tentang ibumu. Tentang ayahmu. Maukah kau menceritakan semua itu padaku.”


Perlahan senyum Kingsley terbit. “Jadi sekarang kau mau mengakui bahwa kau permaisuriku.”


“Aku masih tidak yakin tapi yah, anggap saja sekarang aku mengakuinya. Jadi kau mau berjanji menceritakan kisah hidupmu padaku?”


“Dengan senang hati, Permaisuriku.” Lalu terdengar seseorang berteriak sambil menunjuk ke arah Kingsley. Dari nada bicaranya, jelas itu bukan kalimat yang enak didengar. Kingsley kembali menatap orang-orang itu. “Tapi nanti. Sekarang aku harus membungkam mereka dulu.”


Mendadak langit berubah gelap hingga tampak seperti malam. Tapi itu hanya terjadi di halaman rumah Jervis. Semua orang seketika terdiam. Dan mereka terbelalak saat mata Kingsley bersinar biru terang bagai laser.


DHARRR!


Petir biru menyambar ke arah orang yang tadi menunjuk-nunjuk Kingsley. Terdengar teriakan kaget. Banyak yang melompat menghindar. Kursi-kursi bergelimpangan. Dan tampak lubang selebar satu meter dan hitam di tempat yang tadi tersambar petir.


DHARRR!


Lagi, petir menyambar. Kali ini berhasil melukai orang yang menyebut Kingsley monster. Dia berteriak saat kakinya berubah menghitam dan panas. Beruntung Kingsley tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Jika tidak, tubuh orang itu akan langsung hancur menjadi serpihan daging dan tulang.


“Aku tidak peduli apa pendapat kalian tentangku.” Suara Kingsley menggelegar. Kali ini semua lebih memperhatikan dengan takjub sekaligus takut. “Aku ada di sini untuk memberitahukan pada kalian bahwa aku menyatakan perang dengan Kaisar Kevlar dan seluruh pengikutnya. Akan kurebut kerajaanku kembali. Kalian berhak memilih. Tetap tinggal dan berperang bersamaku atau pergi.” Kingsley diam sejenak, masih dengan matanya yang bersinar biru. Tampak begitu terang di antara kegelapan yang melanda halaman rumah Jervis. “Jadi, siapa yang akan tetap di sini bersamaku?”


Baru satu detik kalimat tanya itu terlontar, Jervis dan keluarganya maju ke barisan depan lalu berlutut. Lutut kiri menjejak tanah sementara lutut kanan menyangga lengan kanan yang bertumpu di atasnya.


“Hamba sudah pernah menyatakannya tapi di sini hamba akan mengulangnya. Hamba dan seluruh keluarga hamba menyerahkan kesetiaan pada Yang Mulia Kaisar Kingsley dan Ratu Queenza! Kami akan mengabdi pada Yang Mulia!”


Tak menunggu waktu lama, perbuatan Jervis dan keluarganya ditiru orang-orang yang dua hari lalu ikut dalam pertarungan. Mereka serta keluarganya juga berlutut di depan Kingsley  dan Queenza.


Sejenak yang lain saling pandang. Tapi lalu mereka menyingkirkan kursi-kursi dan turut berlutut. Tapi ada pula yang melesat pergi, termasuk dua orang yang tadi diserang Kingsley. Dan ternyata delapan puluh persen yang hadir memilih tetap tinggal dan menyerahkan kesetiaan pada Kingsley.


Setelah semua orang berlutut, tinggal Tristan dan Emily yang masih berdiri di pinggir. Tristan dengan raut datarnya yang tak terbaca sementara Emily dengan raut gelisah. Perlahan semua orang juga mulai gelisah saat menyadari Kingsley dan Tristan saling pandang dengan tajam. Apa sang panglima tertinggi guardian akan menantang sang kaisar bertarung atau malah pergi?


Tapi yang mengejutkan, sambil menggenggam jemari Emily, Tristan mendekat ke barisan orang-orang yang berlutut lalu turut berlutut. Emily juga mengikutinya dengan senang hati.


“Hamba, Tristan—panglima tertinggi guardian—dan istri hamba Emily, menyerahkan kesetiaan pada Yang Mulia Kaisar Kingsley dan Ratu Queenza,” ujar Tristan tenang sekaligus mantap. Ucapan yang didengar semua orang di halaman luas itu dan berhasil mengobarkan semangat mereka.


“Aku menerima sumpah kalian. Jika ada yang berkhianat, aku berhak menjatuhkan hukuman. Dan sebagai gantinya, kalian berada di bawah perlindunganku.” Perlahan cahaya di mata Kingsley memudar dan langit mulai terang kembali. “Tapi perang di depan mata bukanlah permainan. Aku tidak bisa selalu melindungi kalian. Ikut bersamaku artinya menyerahkan nyawa. Apa kalian siap menanggung resikonya?”


“Kami siap, Yang Mulia!”


Terdengar jawaban lantang dan mantap dari semua orang.


“Kalau begitu bangunlah. Banyak yang harus kita kerjakan karena pasti berita ini sudah sampai ke telinga Kaisar Kevlar.” Lalu Kingsley beralih pada Queenza. Mereka saling bertatapan. “Kau takut?”


“Ya,” Queenza mengakui.


“Kau sudah lihat kekuatanku, kan? Butuh lebih dari seorang Kaisar licik untuk mengalahkanku,” ujar Kingsley sombong.


“Tapi hanya butuh satu banci untuk membuatmu pipis di celana,” Queenza berbisik hingga hanya Kingsley yang bisa mendengarnya. “Bagaimana kalau musuhmu itu menggunakan pasukan banci? Kau pasti mati duluan.”


Seketika bulu kuduk Kingsley meremang dengan mata melebar membuat tawa Queenza pecah.


-----------------------------


Terima kasih untuk segala vote, like, dan komentnya ♥♥♥


Update lagi hari senin ^_^


♥ Aya Emily ♥