
Rabu (07.36), 08 April 2020
----------------------------
Setelah lebih dari tiga jam berlalu, akhirnya Kingsley berhasil membujuk Queenza agar pulang. Tapi tentu saja, sang ratu tidak mau pulang dengan mudah. Dia bersedia menuruti Kingsley setelah mendapat benda bulat yang bisa melayang di udara dengan tali panjang sebagai penahannya.
“Balon?” tanya Kingsley lalu mendesah. “Queen, aku sudah bilang tidak bawa uang.”
“Kalau begitu aku tidak mau pulang.” Queenza angkat bahu lalu menyandarkan punggung dengan nyaman di kursi taman tempat mereka berdua duduk.
Kingsley menghela napas seraya menatap kumpulan balon yang diikat menjadi satu oleh si penjual. Jujur saja, sangat mudah memutus salah satu tali balon itu lalu mengarahkan angin agar Kingsley bisa mengambilnya. Tapi—itu sama saja dengan mencuri. Seorang Kaisar yang terhormat tidak boleh melakukan hal hina seperti itu. Apalagi yang dicuri hanya balon.
“Tidak mau?” Queenza berdiri sambil menatap langit yang mulai gelap. “Kalau begitu aku pergi jalan-jalan lagi. Masih banyak yang membuatku penasaran di sini.”
Kingsley turut berdiri lalu menangkap pergelangan tangan Queenza sebelum gadis itu menjauh. “Baiklah. Kau mau yang warna apa?”
“Tentu saja hijau. Kau lupa warna kesukaanku?” ada nada kesal dalam suara Queenza.
Kingsley mendengus. “Kau terus mengatakan benci padaku tapi tidak mau aku melupakanmu dan berpaling pada wanita lain.”
Wajah Queenza memerah tapi dia tetap mempertahankan sikap tenangnya. “Apa aku pergi saja?”
“Dasar tukang mengancam,” gerutu Kingsley.
“Saya belajar banyak dari Anda, Yang Mulia Kaisar Kingsley.”
“Ah, senangnya. Sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu.”
“Balon!”
Kingsley meringis lalu mengalihkan perhatian pada balon-balon yang bergerak pelan seiring belaian angin. Ibu jari dan jari tengah Kingsley menyatu lalu ia jentikkan ke arah tali salah satu balon. Tampak segaris tipis cahaya merah melesat lalu memutus tali balon yang diinginkan Kingsley hingga balon itu melayang bebas menyambut langit malam.
“Maaf, Pak,” gumam Kingsley pelan saat melihat raut kecewa si penjual balon.
“Kau berlebihan. Dia masih punya banyak. Aku hanya minta satu.”
Kingsley berbalik menghadap Queenza. “Tapi itu mata pencahariannya. Satu balon tentu sangat berarti baginya.”
“Ah, sudahlah. Aku mau ambil balonnya saja.” Dalam sekejap Queenza menghilang meninggalkan Kingsley yang masih dipenuhi rasa bersalah.
Dulu Queenza tidak pernah bersikap tak acuh seperti ini. Dulu ratunya adalah wanita lemah lembut yang penuh senyum. Tapi sepertinya semua sifat itu perlahan terkikis. Dia dipaksa menjadi wanita tangguh sejak kematian tak wajar ibu dan ayahnya. Kematian yang didalangi seluruh keluarga Queenza sendiri—bahkan sebagian besar kaum dryad. Namun hingga kini, Queenza tidak pernah tahu. Kingsley menutup rapat bibirnya akan kejadian itu karena tidak ingin sang ratu lebih terluka.
Puncaknya saat kematian Kingsley. Hingga kini Kingsley masih penasaran bagaimana sang ratu juga tewas. Jelas dia melalui masa-masa sulit hingga akhirnya tubuhnya mengkristal. Dan hal itu tentu juga mempengaruhi kepribadian Queenza saat ini.
Menghela napas, Kingsley putuskan menyusul Queenza. Dia memejamkan mata sejenak, dan ketika membuka matanya kembali tampak ratunya tengah memegang balon dengan kedua tangan sementara perhatiannya tampak fokus melihat ruang terbuka dalam balon.
“Kau sedang apa?”
“Tidak ada apapun di dalamnya. Tapi kenapa benda ini bisa membesar seperti ini?”
“Itu karena—”
DOR!
Kingsley tertegun melihat balon hijau di tangan Queenza pecah. Sementara Queenza tampak membeku dengan kedua tangan masih melayang di depan tubuhnya seolah tengah memegang balon.
“Queen, kau baik-baik saja?” tanya Kingsley ragu saat tak tampak gerakan dari wanita itu. Bahkan raut wajahnya masih tampak kaget seolah dia mendadak menjadi patung begitu balon di tangannya pecah.
Mendadak Kingsley terbelalak saat dilihatnya Queenza jatuh ke belakang masih dengan tubuh kaku seperti patung yang dirobohkan. Buru-buru Kingsley melesat menangkap tubuh Queenza sebelum menghantam tanah. Seketika, tubuh gadis itu melemas dalam dekapan Kingsley.
***
Kingsley melipat tangan di depan dada dengan pandangan mengarah halaman belakang. Bahunya ia sandarkan di ambang pintu belakang sementara pikirannya berkelana, memikirkan bagaimana cara mengembalikan Queenza ke sosok aslinya, gadis manusia tujuh belas tahun.
Bukannya Kingsley tidak senang ratunya yang ada di sini. Tapi dunia modern seperti sekarang tidak cocok untuk ratunya yang sedang dalam kondisi tidak bisa mengendalikan emosi. Ditambah lagi mereka sama-sama tidak mengerti dunia modern, membuat semuanya semakin rumit.
Hhhh!
Entah berapa lama Kingsley berdiri di sana, mendadak tubuhnya menegang saat mendengar isak tangis dari arah kamar Queenza.
Kingsley bergerak cepat, melesat menuju kamar Queenza. Keningnya berkerut saat mendapati gadis itu duduk meringkuk di atas ranjang sambil menangis memilukan.
Perlahan Kingsley mendekati Queenza lalu berdiri di samping ranjang. Dia sama sekali tidak bisa melihat mata Queenza karena gadis itu menunduk di atas lututnya.
“Queenza,” panggil Kingsley pelan.
Gadis itu tidak mengubah posisi, malah semakin terisak setelah mendengar suara Kingsley.
Seketika Kingsley yakin gadis di depannya ini sudah bukan sang ratu. Apalagi aura mematikan yang melingkupi ratu Queenza sudah menghilang. Ah, ternyata efek suara keras letusan balon berhasil membuat sang ratu terkena serangan jantung hingga Queenza asli langsung menguasai tubuhnya. Bisa jadi ini karma sang ratu karena telah memaksa lelaki baik seperti dirinya untuk mencuri.
“Queenza, kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis?” tanya Kingsley seraya duduk di sisi ranjang.
Tak ada tanggapan.
Ragu, Kingsley membelai lembut rambut panjang Queenza tapi mendadak gadis itu menepis tangannya seraya melemparkan tatapan tajam ke arah Kingsley dengan mata hitamnya.
“Apa yang terjadi padaku? Monster apa yang ada dalam tubuhku?”
“Monster?” tanya Kingsley bingung.
“Jangan pura-pura tidak mengerti. Aku ingat semua yang terjadi sejak kedatangan makhluk bersayap itu. Dia—aku—” Queenza kembali terisak. Perasaan ngeri merambati hatinya mengingat bagaimana tubuh makhluk itu terluka parah. Darah di mana-mana.
Kingsley terbelalak, tidak menyangka Queenza dalam keadaan sadar saat sang ratu menguasai tubuhnya. Apa itu artinya perlahan jiwa Queenza dan sang ratu mulai melebur hingga akhirnya menjadi satu jiwa yang utuh? Atau, apakah salah satu jiwa itu akan mati?
“Hei,” Kingsley bergeser mendekat lalu memegang lembut kedua tangan Queenza. “Kau melakukan itu hanya untuk melindungi diri. Makhluk itu yang salah karena telah menganggumu dan mencoba menyakitimu.”
Queenza menyentak tangannya dari genggaman Kingsley. “Dia sudah terluka. Parah! Aku melihatnya bahkan tidak sanggup berdiri tegak lagi. Tapi aku—ada keinginan membunuh yang menggebu dalam dadaku.” Queenza memegang kepalanya dengan kedua tangan. “Otakku serasa akan pecah mendengar perintah itu. Bunuh! Bunuh! Bunuh!”
Dada Kingsley sakit mendengar itu. Dia menarik tubuh Queenza ke dalam pelukannya dan tetap memeluknya erat meski Queenza berusaha melepaskan diri hingga akhirnya gadis itu menyerah, membiarkan tangisnya pecah di dada Kingsley.
***
Perlahan kelopak mata Tristan terangkat, manampakkan mata hitamnya yang masih berkabut. Selama beberapa detik dia masih diam dalam posisi telentang, berusaha mengumpulkan ingatannya yang serasa tercerai.
Mendadak tubuh Tristan menegang seiring ingatan akan pertarungannya dengan gadis manusia bernama Queenza. Refleks dia bangun, mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Napasnya memburu. Kengerian akan pertarungan itu masih terasa.
Tristan menunduk, memperhatikan seluruh tubuhnya. Tidak ada luka sedikitpun. Apa kemampuan penyembuhan tubuhnya yang membuat semua luka itu menghilang?
Belum juga kebingungan Tristan mendapat jawaban, dia semakin bingung menyadari ruangan itu bukanlah kamarnya. Keseluruhan tempat itu terasa asing meski ada beberapa barang yang Tristan kenali sebagai miliknya di atas nakas.
“Em! Emily!”
Tristan hanya sedikit manaikkan nada suaranya. Jika Emily ada dalam rumah ini, dia pasti mendengar panggilannya seperti bisikan langsung di telinganya.
Seperti yang Tristan harapkan, tak lama kemudian tampak pintu kamar terbuka lalu Emily masuk dengan napas terengah. Wajahnya tampak berbinar dan matanya berkaca-kaca saat melihat Tristan.
“Errie, akhirnya kau sadar.” Suara Emily tercekat. Dia bergegas menghampiri Tristan lalu memeluk Errie-nya erat. “Aku sungguh cemas. Kupikir kau tidak akan bangun lagi.” Akhirnya tangis Emily pecah.
Tristan tidak nyaman dengan kedekatan tubuh mereka. Sejak kecil Emily memang manja dan kerap kali mencium atau memeluknya tanpa permisi. Tapi semua itu tak pernah mengganggunya hingga dua tahun terakhir. Lekuk tubuh gadis itu semakin terasa. Wajahnya yang dulu imut semakin menampakkan kecantikan seorang wanita.
Sial!
Terpaksa Tristan melepas pelukan Emily sebelum otaknya semakin berkelana bebas meski merasakan jelas bahwa gadis itu sangat sedih dan membutuhkan pelukannya. Mata Emily bengkak dan merah. Sepertinya bukan sekali ini dia menangis.
“Berapa lama aku tertidur?”
“Dua hari.” Emily menggigit bibir menahan isakannya.
“Astaga.”
Tristan tertunduk, teringat bagaimana Queenza menyerangnya lalu dua orang menyelamatkannya. Dia hendak menanyakan pada Emily mengenai dua orang itu namun pandangannya terpaku pada garis merah yang melingkari jari manis Emily. Garis merah terang seperti digambar dengan spidol membentuk cincin. Tapi jelas tidak bisa dihapus hingga ajal menjemput.
Cincin pengikat!
Tristan mengangkat jemari Emily lebih dekat ke depan wajahnya. Dia yakin salah lihat. Tapi cincin pengikat itu semakin jelas, meneriakkan pada Tristan bahwa gadis yang dirawatnya sejak kecil itu telah diperistri seseorang.
“Apa maksudnya ini?” Tristan menghunjam Emily dengan tatapan dinginnya. “Kau menikah? Saat aku tak sadarkan diri?”
Emily terdiam. Tatapannya menunjukkan ketakutan. Dia yakin Tristan akan murka begitu mengetahui kenyataannya.
“Jawab, Em! Apa mendadak kau bisu, hah?”
Dada Tristan panas. Dia kecewa. Sangat. Emily memang tidak pernah mengaggapnya sebagai seorang ayah. Tapi—dirinya yang membesarkan gadis itu. Dirinya yang terjaga sepanjang malam menunggui gadis itu ketika sakit. Dan—sialan! Bahkan Emily masih terlalu muda untuk menikah.
“Errie—”
“Ah, begitu rupanya.”
Mendadak Tristan tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Terutama tidak ingin tahu siapa lelaki yang telah menikah dengan gadis itu. Dengan kasar dia melepas tangan Emily lalu turun dari ranjang, berjalan gusar ke arah jendela tinggi dalam kamar itu.
Brengsek! Sebenarnya dirinya marah karena Emily menikah diam-diam atau marah karena dia menikah? Apa itu artinya Tristan tidak mau gadis itu menikah, sama sekali?
“Errie—”
“Kau merasa sudah besar, ya?” tanya Tristan sinis tanpa menoleh. “Sekarang kau merasa berhak menentukan masa depanmu tanpa izin dariku. Baiklah, tidak masalah. Lalu kenapa kau masih di sini? Seharusnya kau bersama suamimu sekarang.”
“Errie—”
Mendadak Tristan berbalik dengan nyala api amarah di matanya. “Berhenti memanggilku begitu! Kau masih ingat apa arti panggilan itu, kan? Errie artinya ayah. Ayah bagi manusia yang dipilih panglima tertinggi guardian. Tapi ikatan itu otomatis terputus saat salah satu di antara kita meninggal atau kau menikah. Dan sekarang kau sudah menikah. Itu artinya aku bukan lagi Errie-mu.”
Emily terisak sambil menyeka pipinya yang basah. Dia tidak pernah melihat Tristan semarah ini padanya. Lalu akan semarah apa saat Tristan tahu bahwa lelaki yang menikah dengannya adalah—Tristan sendiri.
“Errie—maaf. Aku tidak punya pilihan.”
Tristan tertegun. Dia mengerutkan kening mendengar kalimat terakhir Emily. Dalam satu kedipan mata, dia sudah berlutut di depan gadis itu. “Apa ada yang memaksamu menikah?”
Emily tidak menjawab, hanya terisak pelan.
“Em, katakan saja! Kau tahu aku akan melindungimu, kan?”
Emily tetap bungkam.
“Siapa lelaki itu?” Akhirnya Tristan ingin tahu. Rasanya dia akan memecahkan kepala siapapun lelaki itu yang berani memaksa Emily menikah dengannya.
Namun Emily tetap diam.
“Katakan Em! Sebelum kesabaranku habis,” geram Tristan.
Lama Emily masih diam. Akhirnya dengan suara pelan dia berkata, “Kau Errie. Lelaki yang menikah denganku adalah kau.”
Seketika wajah Tristan memucat. Dia jatuh terduduk di lantai dengan pandangan tak percaya mengarah pada Emily.
------------------------
♥ Aya Emily ♥