Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Penyihir



Senin (07.40), 13 April 2020


--------------------------


Baru saja tiba di pintu utama yang menjadi penghubung antara Immorland dan dunia manusia,  dua orang prajurit guardian yang bertugas menjaga gerbang dimensi menghalangi jalannya.


“Ada apa ini?” tanya Tristan dengan nada dingin.


“Maaf, Tristan.” Sejak mendapat gelar panglima guardian, dia memang selalu menolak panggilan dengan embel-embel ‘panglima’. “Kami mendapat perintah dari Kaisar untuk melarangmu masuk ke wilayah Kerajaan Ackerley.”


“Kenapa bisa begitu?”


“Kami juga tidak tahu.”


Rahang Tristan menegang. Memang seperti inilah prajurit guardian termasuk dirinya. Menjalankan perintah meski terkadang tidak mengerti alasannya.


“Kerajaan Ackerley adalah rumahku. Tidak ada seorangpun yang bisa melarangku berada di sini.”


Tristan hendak melangkah namun prajurit yang lain mengarahkan pedang ke lehernya. “Kau juga seorang prajurit guardian. Seharusnya kau mengerti bahwa perintah Kaisar adalah mutlak.”


“Singkirkan pedangmu atau kita akan mempermalukan kaum guardian karena bertarung antar prajurit. Kita akan merusak citra prajurit guardian yang terkenal akan kesetiaan dan persaudaraannya.”


“Kalau disuruh memilih citra atau perintah, sayang sekali aku memilih perintah.”


Sebelum prajurit itu melakukan sesuatu, lebih dulu Tristan menggenggam pedang tajam yang mengarah ke lehernya. Dia segera mengalirkan energi panas bagai bara melalui tangannya ke pedang. Terdengar pekik kesakitan dari prajurit yang memegang pedang. Refleks dia melepas pedangnya lalu mundur. Tampak kini telapak tangannya memerah seperti terbakar.


Tanpa memedulikan telapak tangannya yang berdarah, Tristan membuang pedang ke samping sambil menatap tajam ke arah prajurit yang sudah terluka. Sebelum Tristan mengatakan atau melakukan sesuatu lagi, prajurit yang lain berlutut di hadapan Tristan.


“Panglima, saya mohon. Kami hanya menjalankan perintah.”


“Kalau begitu aku akan menemui si pemberi perintah.”


“Tolong!”


“Biar aku yang mengantarnya menemui Kaisar,” tiba-tiba Eoghan sudah ada di sana, salah satu panglima guardian yang memiliki tato sayap malaikat di sisi lehernya.


Kedua prajurit penjaga itu saling pandang lalu mengangguk pada Eoghan.


Eoghan beralih pada Tristan. Saat Tristan menatapnya, dia mengedikkan dagu sebagai isyarat agar Tristan mengikutinya.


“Kenapa Kevlar melarangku datang ke Ackerley?” tanya Tristan setelah mereka menjauh dari kedua prajurit penjaga.


“Kevlar?” Eoghan terkekeh. “Sejak kapan kau jadi tidak sopan begitu?”


“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”


Eoghan tersenyum. “Sebenarnya aku ingin membalik pertanyaanmu. Kenapa Kevlar melarangmu datang ke Ackerley? Apa yang telah kau perbuat?”


Langkah Tristan terhenti, membuat Eoghan turut berhenti. “Apa kau tahu ada pasukan guardian selain yang kita pimpin?”


Eoghan mengerutkan kening mendengar pertanyaan Tristan. “Pasukan apa? Apa ada prajurit guardian yang memberontak lalu membuat pasukan sendiri?”


Sepertinya Eoghan juga tidak tahu mengenai pasukan elit guardian, pikir Tristan.


“Kau kenal seseorang bernama Paul Argalova?”


Eoghan memicingkan mata saat menatap Tristan. “Kau ini aneh sekali. Sekarang malah menanyakan orang yang sudah meninggal. Apa kau benar-benar membuat ulah?”


Tristan terpaku. “Sudah meninggal? Paul Argalova sudah meninggal?”


“Sebenarnya aku tidak tahu apa yang kita bicarakan adalah orang yang sama. Tapi Paul Argalova yang kutahu sudah meninggal ratusan tahun yang lalu. Dia adik dari kakek buyutku yang pernah dinobatkan sebagai panglima tertinggi sepertimu.” Eoghan tersenyum kecut. “Kau tahu? Ayahku sangat berharap aku yang berhasil mendapat gelar panglima tertinggi untuk mengulang keberhasilan kakek buyut. Karena itu dia agak kecewa setelah mengetahui aku gagal.”


Mendadak jantung Tristan berpacu cepat saat sebuah pemahaman merasuk dalam benaknya. Namun dirinya tidak mau terlalu berburuk sangka dulu. Dia harus memastikan kebenarannya sebelum membuat kesimpulan.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Eoghan hati-hati saat melihat wajah Tristan memucat. “Emily juga tidak ada. Apa dia bersamamu? Rumah kalian kosong. Bahkan para pelayan juga pergi.”


Tristan menghela napas untuk meredakan debar jantungnya. “Maaf aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku harus segera menemui Kevlar, sendirian.”


“Apa kau akan pergi?”


Tristan yang sudah siap melesat cepat namun urung mendengar pertanyaan Eoghan. Lalu dia kembali menatap lelaki yang bisa dibilang sudah menjadi temannya sejak kecil. “Entahlah.”


“Aku merasa kau akan pergi jauh dan tidak kembali.”


“Mungkin saja. Apalagi aku sudah tidak diterima di sini.”


“Tidak bisakah aku membantumu sebagai seorang teman?”


“Tidak.” Lama Tristan hanya menatap Eoghan sebelum berujar, “Tapi aku bisa memberimu nasihat sebagai seorang teman. Mulai sekarang berhati-hatilah. Apa yang kau lihat dan kau dengar belum tentu kebenarannya. Selalu waspada pada sekelilingmu karena—mungkin saja—orang yang kau hormati ternyata adalah musuhmu.”


Eoghan tertegun. “Apa yang kau maksud adalah Yang Mulia Kaisar?”


Kali ini Tristan tidak menanggapi. Sejenak dia masih memandang Eoghan lalu berbalik. “Selamat tinggal,” pamitnya sebelum melesat pergi.


Tanpa keduanya sadari, orang nomor satu di Ackerley yang sedang mereka bicarakan berdiri tak jauh dari mereka, bersandar di sebatang pohon. Dia termasuk yang paling hebat dalam menyamarkan auranya. Matanya menyipit tak suka dengan pandangan mengarah ke tempat perginya Tristan.


Sepertinya aku tidak bisa melibatkan Tristan untuk rencana penyerangan terhadap Queenza, pikir Kevlar.


***


“Kau mau berangkat sekolah?” tanya Emily begitu ia menyelesaikan sarapannya.


Kemarin setelah cukup lama bersitegang, akhirnya Tristan mengizinkan Emily tetap tinggal. Tapi harapan Emily untuk mendapat penjelasan lebih jauh tentang makhluk Immorland tidak terlaksana. Pasalnya, si pemilik informasi tengah merajuk dan tidak mau berbicara pada siapapun.


“Ya. Aku sudah izin sakit beberapa hari. Kalau izin lebih lama, teman-temanku akan datang ke sini menjenguk lalu bertanya macam-macam setelah melihat kalian.”


Yang paling sulit adalah mencegah Aila dan Belva untuk datang ke rumahnya. Sejak hari pertama Queenza menelepon minta tolong dibuatkan surat izin sakit, kedua sahabatnya itu bersikeras datang. Beruntung mereka percaya saat Queenza mengatakan bahwa dirinya menginap di rumah salah satu pamannya di luar kota. Tapi mereka


“Lalu bagaimana denganku?”


“Tentu saja kau di sini bersama Kingsley.”


“Bersama manusia purba yang sedang merajuk itu? Bisa-bisa aku tidak sanggup menahan diri untuk menantangnya dan membuat rumah ini menjadi arena pertarungan.” Emily merengut.


“Aku juga tidak tertarik berduaan denganmu, wanita siluman.” Tiba-tiba Kingsley muncul seraya menarik kursi meja makan lalu duduk.


“Siapa yang kau sebut siluman?” Emily melotot.


“Kingsley, kau mau sarapan juga?” Queenza buru-buru menengahi.


“Tentu saja kau!” Kingsley mengabaikan Queenza.


“Kalau aku siluman berarti kau monster!”


“Monster kedengarannya keren.” Kingsley mengelus dagunya tampak berpikir.


“Dasar monster purba kekanakan!”


BRAKK.


“Oke, stop!”


Emily dan Kingsley langsung bungkam lalu menoleh ke arah Queenza yang baru saja menggebrak meja. Tampak mata hitam Queenza perlahan berubah menjadi hijau.


“Gawat,” gumam Kingsley pelan.


“Kenapa?” tanya Emily sama pelannya. Keduanya tidak mengalihkan perhatian dari Queenza.


“Kita akan mati,” suara Kingsley semakin pelan.


“Hah?”


Napas Queenza memburu seiring penglihatannya yang semakin kabur. Tapi kemudian dia seperti mendapat kesadarannya kembali. Buru-buru ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, meredakan amarah yang sempat menguasainya karena menghadapi dua orang yang tingkahnya seperti anak kecil.


“Em, tunggu aku di luar. Kita pergi berbelanja bahan makanan.”


Seketika wajah Emily berbinar. Dia mengangguk dengan semangat lalu bergegas menuruti perintah Queenza.


“Dan kau,” Queenza menunjuk Kingsley yang masih duduk. “Berhenti bersikap seperti anak kecil yang sedang merajuk. Aku kemarin hanya memberitahumu bahwa followermu itu adalah makhluk jadi-jadian sebangsa pengamen yang menggodamu di depan rumah. Kau mau percaya atau tidak terserah!”


Bibir Kingsley mengerucut. “Bukannya kau mengatakan itu hanya agar aku berhenti bermain instagram dan gelas-gelasmu aman?”


Memang!


“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak dengan penjelasanku. Yang jelas aku hanya mengingatkanmu. Jadi jangan merajuk padaku. Mengerti?”


“Iya,” sahut Kingsley malas.


BRAK!


“Mengerti atau tidak?” Queenza melotot.


“Iya.” Kingsley bersuara lebih keras sambil meringis ngeri menatap Queenza.


“Bagus. Aku mau pergi dulu. Jangan membuat ulah.”


Kingsley berdiri. “Aku juga mau pergi. Tadi aku keluar kamar hendak memberitahu itu.”


“Ke mana?”


“Immorland. Aku mendapat pesan dari Mochi. Jadi aku akan menemuinya.”


Kening Queenza berkerut. “Sebenarnya bagaimana cara Mochi mengirim pesan padamu? Jangan bilang dia bisa menggunakan ponsel.”


Kingsley menepuk keningnya sendiri dengan ujung jari telunjuk. “Telepati. Mochi hanya bisa memberitahu bahwa dia ingin bertemu denganku. Lalu aku akan mendapat informasi darinya melalui mata dan gerak tubuhnya. Seperti itu cara kami berkomunikasi sejak dulu.”


Queenza manggut-manggut. “Apa semua hewan peliharaan di Immorland bisa begitu?”


“Setahuku tidak. Aku hanya beruntung bertemu Mochi. Kalau di dunia manusia, dia seperti anjing yang sangat mengerti majikannya.”


“Baiklah, kalau begitu hati-hati.”


Kening Kingsley berkerut. “Kenapa kau terdengar cemas? Sebelumnya saat aku menemui Mochi kau terlihat santai saja.”


Queenza angkat bahu. “Aku hanya agak cemas. Mungkin juga trauma karena saat kau pergi waktu itu, aku diserang Tristan.”


“Ada Emily bersamamu.”


Queenza mengangguk lalu tersenyum. “Aku agak berlebihan, ya?”


Kingsley tidak menyahut. Dia menghampiri Queenza lalu memeluknya lembut. “Semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu.”


Queenza memejamkan mata, menikmati pelukan hangat Kingsley yang menenangkannya. “Cepat pulang. Jujur aku—agak takut mendengarmu hendak pergi.”


“Takut aku tidak kembali?” Kingsley terkekeh. “Wajar sih. Keberadaanku memang memberikan efek kecanduan.”


Queenza berdecak pelan seraya melepaskan diri dari pelukan Kingsley. “Kasihan Emily menunggu di depan. Aku bisa dibunuh suaminya nanti.”


Kingsley tersenyum meremehkan. “Tristan hanya cari mati kalau mencoba melakukan hal itu lagi.” Lalu Kingsley membelai lembut rambut Queenza. “Hati-hati.”


“Kau juga.”


Keduanya masih berpandangan, tampak enggan untuk berpisah. Seolah saat itu adalah saat terakhir mereka akan bersama.


***


Di tempat lain, jauh di pedalaman hutan Immorland, seorang wanita cantik bergaun biru tersenyum lembut seraya membelai puncak kepala binatang peliharaannya. Binatang lucu menyerupai perpaduan kelinci, kucing, dan anjing. Binatang yang dipanggilnya dengan nama Mochi.


Wanita itu tampak akrab dengan alam sekitarnya. Sama sekali tidak khawatir akan ada binatang buas yang menyerang. Dia tetap duduk bersandar pada sebatang pohon. Kedua kaki terjulur ke depan sementara Mochi duduk nyaman di pangkuannya.


Srek srek.


Gerakan tangan wanita itu yang membelai Mochi berhenti sejenak mendengar suara gesekan daun seolah dikuak seseorang. Tapi lalu dia tersenyum kembali dan tangannya melanjutkan membelai.


“Nona,” sapa orang yang baru datang seraya menjejakkan satu lutut ke tanah dalam posisi menghormat.


“Kevlar,” wanita itu balas menyapa. “Apa pasukan elit guardian sudah siap bertarung?”


“Sudah, Nona. Mereka hanya tinggal menunggu perintah.”


“Jangan kerahkan semua. Kita masih membutuhkan pasukanmu itu untuk menjalankan rencana B jika rencana kali ini gagal.”


“Baik. Lalu kapan kita akan bergerak?”


“Tunggu sampai Kingsley mencapai perbatasan. Setelah itu tugas kalian mengurus Queenza dan biar Mochi yang mengalihkan perhatian Kingsley agar lebih lama di Immorland.”


“Lalu Emily bagaimana?”


“Apa susahnya menghabisi manusia yang baru sedikit menyerap energi guardian?”


Kevlar mengangguk. “Sayang sekali padahal Tristan termasuk guardian yang paling kuat.”


“Apa yang bakal menjadi batu sandungan lebih baik segera singkirkan saja.”


“Iya, Nona.”


Senyum wanita itu perlahan memudar digantikan raut kejamnya. “Sangat disayangkan aku tidak bisa membunuh Kingsley dengan tanganku sendiri untuk membalas dendam. Tapi tidak apa-apa. Yang penting dia mati.”


Tanda bintang di kening wanita itu memerah seiring kemarahannya yang tersulut. Tanda bintang yang hanya bisa didapat melalui garis keturunan. Tanda milik kaum penyihir.


----------------------------


♥ Aya Emily ♥