
Selasa (07.21), 14 April 2020
-------------------------------
Kingsley mencapai dimensi Immorland melalui pintu penghubung yang pernah diciptakannya sendiri di masa lampau. Awalnya dia pikir pintu itu sudah tertutup kembali mengingat cukup lama tidak digunakan. Tapi ternyata tetap di sana seperti yang Kingsley harapkan.
Cukup jauh dari rumah Queenza. Sekitar 300 mil. Lokasinya yang dulu berada di tengah hutan kini berubah di antara pepohonan dekat jalan. Tapi beruntung masih cukup tersembunyi hingga tidak akan ada manusia yang merasa aneh jika melihat Kingsley menghilang.
Pintu penghubung antara Immorland dan dimensi manusia ada banyak namun hanya bisa dilalui makhluk tertentu. Yang menjadi pintu utama dan bisa dilalui seluruh makhluk tepat berada di hutan amazon. Para malaikat dan guardian memiliki kemampuan untuk membuat pintu penghubung. Karena itu mereka bisa melewati pintu manapun—termasuk Kingsley sendiri—asal mengetahui lokasinya.
Kingsley muncul di hutan timur Immorland. Dan seperti sebelumnya, Mochi sudah menunggu di sana. Kingsley tersenyum pada makhluk lucu yang telah menemaninya sejak remaja.
“Kemarilah.”
Seperti biasa, Mochi langsung melompat ke dalam pelukan Kingsley seperti hewan peliharaan yang manja.
“Kau sudah makan, kan?” tanya Kingsley seraya menggaruk belakang telinga Mochi. Hewan unik peliharaan Kingsley itu pemakan serangga. Jadi dia tidak pernah kesulitan mendapat makanan, terutama di tengah hutan.
Mochi mengangguk menanggapi ucapan Kingsley lalu menggosokkan pipinya yang berbulu lembut ke pipi Kingsley.
“Kau semakin manja, ya? Rindu padaku?” tanya Kingsley sambil terkekeh pelan.
Ngiiikkk… ngiiiikkk…
“Aku juga rindu padamu.” Lalu Kingsley menatap mata bulat Mochi. “Tapi aku tidak bisa terlalu lama di sini. Aku khawatir pada Queenza. Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?”
Tiba-tiba Mochi melompat turun dari pelukan Kingsley lalu mata bulatnya melebar sambil menunjuk ke arah selatan.
Ngiiiikkk… ngiiiikkk…
“Ada pasukan di sana? Kaum guardian memiliki pasukan tersembunyi?”
Mochi mengangguk.
“Sudah kuduga. Pasukan itu pasti terdiri dari orang-orang seperti Tristan dan Emily. Menurutmu apa tujuan pasukan itu dibentuk?”
Mochi menunjuk ke arah Kingsley.
“Untuk membunuhku.” Kingsley menyimpulkan. Raut wajahnya berubah datar tak dapat diartikan. “Itu membuatku semakin yakin tidak bisa meninggalkan Queenza lama-lama. Aku harus segera kembali.”
Ngiiiikkk… ngiiiikkk…
Mochi melompat-lompat seraya kembali menunjuk ke arah selatan.
“Kau tahu tempat para pasukan itu dan ingin menunjukkannya padaku?”
Mochi mengangguk.
Kingsley diam sejenak tampak berpikir. “Baiklah, mungkin sebaiknya memang aku memperhatikan mereka untuk mengukur kekuatan mereka atau langsung menyerang jika ternyata kemampuan mereka tidak seberapa. Memang lebih baik jika aku bisa berada selangkah di depan musuh.”
Lagi-lagi Mochi mengangguk, kali ini tampak lebih bersemangat.
“Kalau begitu tunjukkan jalannya.”
Mochi langsung berbalik, melangkah lebih jauh ke dalam hutan menuju selatan. Sementara Kingsley membuntuti di belakangnya.
***
Tristan bertekad mencari tahu lebih banyak tentang Kingsley sebelum memutuskan kembali ke dunia manusia. Dan satu-satunya yang terpikir olehnya untuk mengorek informasi adalah kaum Echidna.
Echidna adalah kaum yang menyerupai kaum mermaid namun lebih ganas dan tinggal di telaga suci. Telaga suci sendiri adalah tempat sakral untuk menikahkan makhluk Immorland.
Kaum echidna terkenal sangat ketat untuk urusan pernikahan. Apa yang menjadi peraturan di Immorland yang berkaitan dengan pernikahan akan mereka patuhi sepenuh hati. Tidak ada pengecualian, bahkan meski itu kaum guardian sendiri sebagai kaum penguasa saat ini. Tapi Tristan curiga ada echidna yang bersekongkol dengan Kevlar dan pasukan elit guardian hingga bisa menikahkan guardian dengan manusia meski itu melanggar aturan.
Tiba di telaga suci, Tristan langsung menuju gerbang utama kediaman para echidna. Kaum satu ini memang terkenal tidak bersahabat dengan makhluk lainnya. Mereka sangat tertutup dan hanya berurusan dengan dunia luar saat akan ada yang menikah.
“Jelaskan tujuanmu!”
Tristan mendongak menatap burung sejenis gagak yang bertengger di atas gerbang. Burung itu merupakan peliharaan kaum echidna dan hanya bisa ditemukan di telaga suci. Yang membedakan dengan gagak hanya burung itu tidak memiliki paruh melainkan bibir layaknya manusia hingga membuatnya bisa berbicara.
“Aku ingin menemui Raja Echidna.”
“Untuk apa?”
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
“Katakan dengan jelas.”
Ragu, Tristan mengangkat tangannya menunjukkan cincin pengikat di jari manisnya. “Aku menikahi manusia. Dan kau mengerti arti cincin ini, kan? Aku menikah secara sah, di hadapan seorang echidna.”
“Ada pengkhianat,” gumam burung serupa gagak itu. “Masuklah dan tunggu di sisi telaga.”
Selesai berkata demikian, burung itu mengepakkan sayapnya lalu terbang masuk ke area telaga suci. Tak lama kemudian pintu gerbang utama terbuka. Perlahan Tristan melangkah masuk. Dan begitu ia telah berada di dalam, pintu gerbang kembali tertutup di belakangnya.
Ini pertama kalinya Tristan masuk ke telaga suci. Sebelumnya ia tidak pernah merasa harus menghadiri pernikahan siapapun. Ternyata telaga ini sangat indah. Di sisi-sisinya bermekaran bunga-bunga yang sangat indah dengan berbagai warna, menjadi penghias dinding tinggi yang membatasi telaga suci dengan dunia luar.
Di salah satu dinding, seberang Tristan kini berada, terdapat batu besar yang menyerupai goa. Sepertinya itu yang disebut kediaman sang ratu. Meski para echidna memiliki istana di dalam telaga, tapi sang satu sering menghabiskan malamnya di daratan hingga raja echidna berinisiatif menciptakan goa itu.
“Panglima tertinggi guardian. Suatu kehormatan mendapat kunjungan dari Anda.”
Tristan menghadap samping kirinya, baru menyadari ada seseorang di sana. Jelas dia adalah sang raja sendiri dengan mahkota bertahtakan berlian di kepalanya dan jubah hijau panjang menyapu tanah. Sepertinya di saat raja-raja yang lain berusaha menyamakan trend fashion dengan dunia manusia, raja yang satu ini masih mempertahankan pakaian tradisionalnya.
Tristan sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk rasa hormat. “Saya yang merasa terhormat bisa bertemu Anda langsung.”
“Tidak masalah. Di sini sangat nyaman,” ujar Tristan seraya duduk. Itu bukan basa-basi. Udara di sana memang sangat menyegarkan sekaligus menenangkan.
Sejenak sang raja melirik jari manis Tristan. “Sepertinya benar yang dikatakan peliharaanku. Kau sudah menikah. Tapi aku masih tidak percaya bahwa istrimu adalah manusia.”
“Istriku memang manusia.” Tristan menjawab pertanyaan sang raja yang memilih tetap berdiri. “Lebih tepatnya gadis manusia yang kuasuh sejak bayi demi memenuhi persyaratan menjadi panglima tertinggi guardian. Pasti Anda sudah mendengar tentang hal itu.”
Raja Echidna memicingkan mata. “Bagaimana bisa?”
Tristan mengangkat bahu. “Aku tidak sadarkan diri saat ritual pernikahan itu dilakukan.”
“Cincin pengikat tidak akan muncul jika kedua mempelai dalam keadaan tidak sadar.”
“Emily sadar. Waktu itu aku terluka parah dan Kevlar mengatakan padanya bahwa satu-satunya cara menyelamatkanku adalah dengan menikahiku.”
Bibir sang raja menipis tidak suka. “Kevlar melanggar aturannya sendiri. Meski demi menyelamatkan panglimanya, tidak sepantasnya dia sebagai seorang kaisar mengkhianati rakyatnya sendiri.”
“Anda tidak bertanya bagaimana sebuah pernikahan bisa menyelamatkanku yang sekarat. Itu artinya Anda juga tahu apa yang akan terjadi jika makhluk Immorland menikah dengan manusia.”
Sang raja tersenyum lembut. “Tentu saja aku tahu. Aku sudah hidup sangat lama. Bahkan jauh lebih lama dari kaisar sebelum Kevlar.”
Tristan terdiam sejenak, menimbang-nimbang hendak menanyakan tentang Kingsley atau tidak. Tapi kemudian dia memilih menanyakannya. “Kalau begitu apa Anda kenal dengan seseorang bernama Kingsley?”
Mata sang Raja terbelalak. Dia tampak kehilangan sikap tenangnya. “Bagaimana kau tahu tentangnya? Dia Kaisar Kingsley. Kaisar sebelum Kevlar. Tapi itu jika yang kita bicarakan adalah orang yang sama dan bukannya hanya sama nama saja.”
“Seorang Kaisar?” nada suara Tristan meninggi. “Lelaki konyol yang bermimpi menjadi Selebgram untuk mendapat uang itu seorang kaisar?”
Sang Raja mengerutkan kening. “Mungkin orang yang kita bicarakan berbeda.”
“Ya, pasti begitu. Aku akan memukul kepalaku sendiri jika ternyata dia seorang kaisar.”
Raja Echidna terkekeh geli. “Tampaknya kau tidak sekaku dan sedingin yang dibicarakan orang-orang. Tinggal lah lebih lama dan aku akan menceritakan semua yang ingin kau tahu.”
“Anda akan melakukannya?” senyum tipis Tristan muncul melihat sang raja mengangguk. “Kebetulan ada banyak yang ingin kuketahui.”
“Kita punya banyak waktu.”
***
Emily meraba sisi pinggangnya tempat pedangnya tergantung. Beruntung dia membawa pedangnya yang tersembunyi dibalik roknya yang berlapis. Sejenak dia memperhatikan keempat orang itu sambil berpikir cepat bagaimana mengalahkan mereka. Jelas dirinya kalah jumlah dan kekuatan.
“Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat serang dan bunuh Queenza. Jangan sampai kekuatannya lebih dulu muncul.”
Suara itu berasal dari arah hutan. Lalu tak lama kemudian, tampak lebih dari dua puluh orang muncul mengepung mereka. Emily dan Queenza ternganga.
“Haha… lucu sekali. Kalian benar-benar pengecut,” ejek Emily sambil menahan debar jantungnya. Mereka benar-benar berambisi menghabisi Queenza hingga mengerahkan banyak orang hanya untuk membunuhnya.
“Em, kita benar-benar tidak akan selamat,” bisik Queenza.
“Berlindung saja di belakangku.”
Selesai berkata demikian, Emily mengeluarkan pedangnya lalu ia acungkan dengan berani menantang pasukan elit guardian yang mengepung mereka. Apa ini sudah semuanya? Atau masih ada lebih banyak lagi di dalam hutan?
“Bunuh Queenza dengan cepat, langsung tusuk jantungnya!” salah seorang lelaki berkata.
“Lewati aku dulu,” ujar Emily lantang. Tapi baru selesai dia berkata begitu, kabut hitam menyelubunginya membuat pandangannya gelap.
Emily mengibaskan tangan menghalau lapisan kabut itu. Tapi baru saja kabut itu menipis, pinggangnya ditendang hingga ia jatuh tersungkur. Sambil meringis menahan sakit, Emily bangkit dan menyadari dirinya sudah jauh dari Queenza. Hanya empat orang, dua pasang pria dan wanita yang menghadangnya, sementara sisanya menyerang dan mengepung Queenza.
Di sisi lain, Queenza menatap takut orang-orang yang tampak beringas di sekelilingnya sementara belanjaannya dan belanjaan Emily sudah tercecer di tanah.
SRRAAAT.
“Akh!”
Queenza meringis sambil memegang bahunya yang baru saja terkena sabetan pedang. Tanpa bisa dicegah air mata menetes membasahi pipinya.
“Tolong jangan bunuh aku,” mohonnya.
Namun tak ada yang peduli. Kini tiga lelaki guardian di depannya menghunuskan pedang dan tampak jelas mengincar jantungnya.
Buru-buru Queenza berbalik hendak melarikan diri. Tapi jelas itu gerakan yang salah dan sia-sia. Guardian di belakangnya langsung melayangkan pedang dan menciptakan luka melintang di perut Queenza.
“Queenza!!”
Terdengar teriakan Emily saat tubuh Queenza jatuh telentang di tanah. Dia sudah menyerah, tahu tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Lalu matanya terpejam saat sebilah pedang menukik lurus ke arah dadanya.
CRAAASH!
“Argh!”
Hanya pekik tertahan itu yang terdengar dari sela bibir Queenza saat pedang menikam jantungnya. Kemudian semuanya terasa kabur.
Selesai sudah.
Dan perang sesungguhnya pun terjadi.
---------------------------
♥ Aya Emily ♥