Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Pernikahan yang dipaksakan



Selasa (07.23), 07 April 2020


---------------------------


Emily tersentak kaget melihat sepasang pria dan wanita asing tiba-tiba muncul di halaman rumahnya saat dia tengah menyiram tanaman bersama pengurus rumah. Dan yang lebih membuat kaget hingga lututnya terasa lemas adalah sosok yang tengah mereka papah.


“Errie?!” Emily berseru seraya bergegas menghampiri mereka sementara pengurus rumah segera membukakan pintu. Rasanya Emily tidak sanggup berdiri lagi melihat tubuh Tristan berlumuran darah. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan air mata berlinang.


“Kita bicara di dalam. Tunjukkan kamarnya!” si wanita, yang tak lain merupakan Marlene, berbisik tanpa menghentikan langkah.


Emily segera mendahului mereka menunjukkan jalan menuju kamar utama yang menjadi kamar Tristan. Tiba di sana, kedua orang itu membaringkan Tristan di atas ranjang.


Emily terkesiap sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dalam posisi berbaring seperti itu, luka-luka di tubuh Tristan terlihat jelas. Sangat mengerikan dan beberapa tampak seperti membusuk.


“Apa yang terjadi? Apa Errie akan baik-baik saja?” tanya Emily dengan tangis tertahan.


“Proses penyembuhan luka di tubuh Tristan sama sekali tidak bekerja,” gumam Marlene pada suaminya.


Paul menggosok pelipis di bagian wajahnya yang terluka. Luka itu ia dapatkan dari semburan tinta seorang Kraken yang dengan sengaja menunjukkan wujud asli di depan manusia lalu memangsa manusia itu. Tapi beruntung pertarungan itu dimenangkan Paul dan istrinya meski akibatnya Paul tidak bisa lagi menunjukkan diri di depan Queenza.


“Sebaiknya aku memanggil Yang Mulia Kaisar ke sini,” putus Paul lalu tubuhnya menghilang ditelan kabut hitam.


Emily menghampiri Marlene sambil meremas kedua tangan, tampak jelas sangat khawatir dan—takut. Bagaimana tidak? Luka di tubuh Tristan tampak tidak bisa disembuhkan. Bahkan sesekali terdengar erang kesakitan dari sela bibir lelaki itu. Seumur hidup, Emily belum pernah melihat Tristan berada dalam kondisi seperti ini.


“Apa tidak ada yang bisa kau lakukan? Sepertinya Errie kesakitan.


Marlene memejamkan mata sejenak sebelum membalas tatapan mata basah Emily. “Errie-mu akan baik-baik saja.”


“Aku bukan anak kecil. Aku tidak butuh jawaban omong kosong seperti itu.” Emily menyahut tajam.


Marlene menghela napas. “Kalau begitu tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu suamiku datang bersama Kaisar. Kaisar pasti tahu apa yang harus dilakukan.”


“Benarkah Kaisar akan membantu?” Nada suara Emily sedikit mengejek. “Errie bukanlah orang yang terlalu penting. Dia masih punya banyak panglima hebat dan rakyat yang harus dia pedulikan. Jadi untuk apa membuang waktu memikirkan keselamatan salah satu panglimanya?”


“Jaga bicaramu,” desis Marlene tidak terima. “Kaisar adalah orang yang selalu mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya. Dan kita semua, termasuk Tristan, adalah rakyatnya.”


Emily memalingkan wajah dari Marlene, tidak ingin memperpanjang perdebatan meski dalam hati dia ingin sekali menyatakan keraguannya.


Di dunia yang dihuni kaum-kaum hebat dengan kekuatan luar biasa, Emily pernah merasa terasing dan tidak sepadan dengan mereka. Tapi kondisi itu tak lantas membuatnya menutup diri. Dia masih berusaha berteman meski banyak yang terang-terangan memandang rendah dirinya. Setidaknnya mereka tidak berani menyatakan perasaan tidak suka secara langsung atau mencoba melukainya karena posisi Emily sebagai manusia yang dipilih panglima tertinggi kaum guardian.


Memang ada semacam upacara khusus dalam tradisi kaum guardian tiap seratus tahun sekali. Upacara itu adalah upacara pangangkatan seorang prajurit guardian menjadi panglima tertinggi. Saat seseorang telah terpilih, orang itu akan diberi tanggung jawab membesarkan seorang bayi perempuan manusia sebagai simbol bahwa kaum guardian bukan hanya pelindung makhluk-makhluk Immorland, tapi pelindung seluruh jagad raya termasuk di dalamnya kaum manusia.


Dan di abad ini, Tristan yang terpilih menjadi panglima tertinggi kaum guardian. Karena itu dia harus pergi ke dunia manusia dan memilih bayi perempuan. Tentu saja, ada kriteria khusus yang harus Tristan patuhi, termasuk batas usia dan bayi itu dalam kondisi tidak terikat dengan siapapun di dunia manusia hingga tidak menimbulkan masalah saat dibawa ke Immorland.


Lalu entah takdir atau hanya kebetulan, Emily yang Tristan pilih. Dia menemukan gadis kecil berusia tepat sepuluh bulan itu di salah satu panti asuhan di dunia manusia.


Seiring waktu, saat Emily menyadari bahwa dirinya berbeda, dia mulai belajar teknik berpedang dan bertarung dari Tristan. Bahkan gadis itu cukup mahir menggunakan busur panah serta pistol. Dia juga mengembangkan hobby memasaknya yang menjadi satu-satunya keahlian yang sering menuai pujian dari Tristan. Ya, Tristan si dingin itu nyaris tidak pernah memuji dan lebih suka mengkritik. Tapi untuk kemampuan memasak Emily, dia tidak pelit melontarkan pujian.


Selain itu, Emily juga memiliki bakat alami yang selalu dia asah. Dia pandai membaca hati orang hanya dengan melihat mata, ekspresi wajah, dan gerak-gerik orang itu. Termasuk hati Kaisar Immorland, Kevlar Kaiven.


Ada sifat licik dalam diri sang kaisar, termasuk haus kekuasaan. Tapi tentu saja, hal itu hanya pernah dia ungkap kepada Tristan. Namun setelah melihat Tristan tampak tersinggung kaisar yang sangat ia hormati dinilai begitu, akhirnya Emily memilih diam, hanya menyimpannya dalam hati.


Jadi tidak heran jika Emily meragukan seorang Kevlar Kaiven. Bahkan meski sang Kaisar benar-benar turun tangan untuk menyelamatkan Tristan, Emily curiga dia memiliki motif tersembunyi.


Kamar itu menjadi hening setelah peringatan tajam Marlene. Hanya sesekali terdengar erang kesakitan Tristan, membuat Emily semakin panik.


Perlahan dia duduk di sisi ranjang lalu memegang lembut tangan Tristan. “Errie, mereka bilang akan menyelamatkanmu. Tolong bertahanlah.”


Sekitar lima menit kemudian, tampak kabut hitam tipis kembali muncul. Begitu kabut itu menghilang, tampak sosok Paul bersama sang penguasa Immorland. Marlene segera menunduk memberi hormat. Emily juga melakukan hal yang meski dengan setengah hati namun tidak beranjang dari tempat duduknya.


“Apakah Anda akan menyelamatkan Errie?” tanya Emily dengan nada penuh harap, mengesampingkan sejenak rasa tidak sukanya terhadap Kevlar.


“Aku tidak bisa menyelamatkannya. Kau yang bisa.”


Emily terbelalak. “Saya—bisa menyelamatkan Errie? Bagaimana caranya? Kalau memang bisa, saya harus segera melakukannya.”


“Tapi kita masih harus menunggu Shamus dan Ametta. Apa mereka belum tiba?”


“Mereka sudah tiba di telaga suci. Mungkin butuh dua jam untuk sampai di sini.” Paul menjelaskan.


“Dua jam?!” pekik Emily. “Bagaimana kalau Errie-ku tidak bisa bertahan sampai dua jam?!”


“Emily!” desis Marlene. “Jaga nada suaramu di depan kaisar.”


Kevlar mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Marlene tenang. “Tristan pasti akan bertahan. Dalam perjalanan ke sini aku sudah meminta Elf kenalanku untuk datang.”


Emily tertunduk, berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi sangat sulit saat melihat kondisi Tristan yang setengah sadar dengan tubuh penuh luka.


Errie akan baik-baik saja, Emily berkata pada dirinya sendiri. Dia tahu bangsa Elf memiliki kemampuan penyembuhan yang terbaik di Immorland. Errie-nya pasti akan bertahan.


“Apa ini perbuatan Kingsley?” tanya Kevlar beberapa saat kemudian.


“Bukan, Yang Mulia,” sahut Paul. “Queenza yang melakukannya.” Dia mengatakan itu sambil melirik Marlene yang juga balas menatapnya.


Kevlar terkejut mendengar informasi itu. Tapi dia tetap mempertahankan sikap tenangnya. “Bagaimana bisa?”


“Kami juga tidak mengerti. Saat itu kami menuju rumah Queenza untuk menyelidiki tentang kondisi Kingsley. Tapi yang kami dapati adalah energi pelindung yang Tristan ciptakan untuk menghalau makhluk lain masuk ke rumah Queenza. Itu artinya ada sesuatu yang Tristan ketahui dan mungkin berniat melakukan sesuatu pada gadis itu.


Tapi tentu saja, pelindung yang Tristan ciptakan tidak cukup kuat untuk menahan kedatangan kami. Kami berhasil menerobos masuk dan mendapati Tristan sudah terluka parah. Mungkin jika kami terlambat sedikit saja—” Paul tidak sempat melanjutkan karena mendadak Emily berdiri, menatap tajam ke arahnya.


“Siapa gadis yang bernama Queenza dan di mana dia tinggal? Aku akan membalas perbuatannya pada Errie-ku.”


“Tenangkan dirimu, Em.” Lagi-lagi Marlene memperingati. Dia tidak suka sikap tidak sopan Emily di depan sang Kaisar.


“Percuma kau bertemu dengannya saat ini.” Kevlar berkata tenang. “Lihat saja Errie-mu. Dia sampai terluka parah. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya membantu proses penyembuhannya. Akan tiba nanti waktumu berhadapan dengan Queenza. Saat itulah kau bisa membalasnya.”


Emily membalas tatapan tenang Kevlar tanpa rasa takut. Perbuatan ini tergolong tidak sopan. Tapi dia tidak peduli. Tidak pernah peduli. Karena dengan menatap matanya, Emily bisa membaca isi hati Kevlar meski tak tampak jelas karena Kevlar tergolong pandai menyembunyikan isi hati. Dan sekarang dia merasa Kevlar tengah berusaha menjadikannya pion dan permainannya.


“Emily,” geram Marlene. “Tundukkan kepalamu!”


Tidak ingin membuat keributan, Emily memilih memalingkan wajah dari Kevlar lalu kembali menatap Tristan.


Klek.


Pintu kamar terbuka lalu tampak seorang lelaki akhir tiga puluhan berkulit putih dan berambut perak yang menjadi salah satu ciri khas kaum elf.


“Maaf sedikit lama, Yang Mulia.” Lelaki itu menunduk memberi hormat pada Kevlar.


“Tidak apa, Cyril. Segera lakukan tugasmu.”


Elf yang dipanggil Cyril membungkuk sekali lagi lalu menoleh ke arah ranjang. Seketika dia tertegun melihat kondisi Tristan. “Ini—ini, sepertinya aku—tidak bisa menyembuhkannya.” Cyril mengatakan itu dengan terbata. Dia tidak menyangka Tristan terluka parah sampai seperti ini.


“Hanya buat dia bertahan sampai beberapa jam.”


Cyril mengangguk mengerti. Dia segera duduk di sisi ranjang lalu menyalurkan energi penyembuhannya melalui telapak tangan ke kening Tristan.


Kevlar menatap serius luka-luka di tubuh Tristan. Apa benar itu perbuatan Queenza? Ratu dryad yang diingat Kevlar memang memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Apalagi sejak menikah dengan Kingsley, kekuatannya menjadi lebih besar karena dia berbagi kekuatan dengan Kingsley.


Tapi tidak ada kekuatannya yang semengerikan ini. Semua luka yang Queenza timbulkan perlahan akan sembuh tergantung kemampuan orang itu menyembuhkan diri. Tentu saja asalkan Queenza tidak menyerang titik vitalnya dan membuatnya tewas sebelum proses penyembuhan diri dalam tubuhnya bekerja.


Lalu, kenapa Tristan bisa sampai seperti ini? Luka-luka di tubuhnya bukannya sembuh malah membusuk. Mungkinkah gadis itu dan Kingsley sudah kembali berbagi kekuatan? Kalau benar begitu, berarti tubuh Kingsley sudah utuh dan kekuatannya juga sama mengerikannya seperti Queenza.


Tanpa ada yang tahu, kedua tangan Kevlar mengepal dan rahangnya menegang memikirkan hal itu. Tidak ada waktu lagi. Mereka harus segera binasa.


Tidak sampai dua jam kemudian, Kevlar merasakan kehadiran Shamus dan Ametta serta seorang dari kaum Echidna. Dia memberi perintah Cyril untuk menyudahi pengobatannya dan segera pergi setelah lelaki itu berjanji akan menutup mulut atas kejadian ini.


Tidak ada yang boleh tahu. Kecuali Kevlar sendiri dan pasukan elit guardian. Bahkan keberadaan pasukan elit guardian pun tidak boleh diketahui oleh seluruh makhluk di Immorland, termasuk kaum guardian. Ini adalah rahasia para tetua guardian. Dan Kevlar tidak mengkhawatirkan tentang Cyril karena dia pasti hanya menduga bahwa Paul dan Marlene adalah orang kepercayaan Kevlar, bukannya berasal dari kelompok khusus yang sengaja Kevlar dan para tetua guardian ciptakan.


Dan sekarang, giliran Tristan serta Emily yang bergabung dengan pasukan elit guardian.


“Hormat, Yang Mulia.”


Terdengar suara yang kemudian disusul kabut hitam tipis. Tak lama kemudian, tampak tiga orang berdiri di kamar itu. Dua wanita dan satu pria yang memanggul kendi.


Emily memperhatikan mereka dengan seksama. Sayang dia tidak memiliki kemampuan mencium aroma dan aura. Jadi dia tidak tahu makhluk apa saja yang baru datang.


“Kondisi Tristan parah. Segera lakukan tugas kalian.” Ujar Kevlar lalu dia beralih pada Paul dan Marlene. “Pasang pelindung di sekitar rumah ini. Dan habisi semua saksi mata.”


Emily tersentak mendengar perintah terakhir Kevlar. “Siapa yang kau maksud? Para pelayan?!”


“Kau hanya harus pedulikan Tristan,” ujar Kevlar bersamaan dengan tubuh Paul dan Marlene yang menghilang ditelan kabut hitam.


“Tidak! Jangan sentuh mereka!” Emily hendak keluar kamar tapi terhenti mendengar ucapan salah satu wanita yang baru datang. Wanita yang mengenakan pakaian serba hijau.


“Kondisinya buruk. Kemungkinan dia tidak akan bertahan.”


Kedua tangan Emily mengepal antara ingin melindungi para pelayannya atau memastikan Tristan bisa selamat. Tapi akhirnya dia memilih menghampiri Tristan lalu berdiri di sisi ranjangnya.


“Segera saja lakukan ritualnya,” perintah Kevlar dingin.


“Dia harus duduk.” Wanita berpakaian hijau itu berkata lagi. “Jika tidak bisa, wanitanya yang harus menyangga tubuhnya. Air suci tidak boleh terkena orang lain selain calon mempelai.”


Emily menoleh tiba-tiba ke arah wanita itu. “Apa—apa maksudmu?”


Wanita itu membalas tatapan kaget Emily. “Apa mempelai wanitanya tidak tahu bahwa dia akan menikah?”


“Em, ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Tristan,” ujar Kevlar datar.


“Bagaimana caranya pernikahan bisa menyelamatkan Errie-ku? Dan juga, pernikahan ini di luar telaga suci. Ini melanggar aturan. Kaum Echidna akan murka.”


“Wanita di depanmu berasal dari kaum Echidna. Kami tidak melanggar peraturan karena kondisi Tristan memang tidak memungkinkan untuk pergi ke telaga suci,” Shamus menerangkan, padahal sebenarnya mereka memang melanggar aturan.


Kaum Echidna dikenal sangat tegas dan tidak pernah mengistimewakan suatu kaum. Jika muncul larangan dari penguasa Immorland bahwa tidak boleh ada pernikahan dengan manusia, maka mereka akan mentaati aturan itu. Tapi selalu saja ada pembangkang yang bisa diajak bekerjasama. Contohnya wanita echidna yang datang bersama Shamus dan Ametta.


Emily ternganga sambil menatap wanita berpakaian hijau itu. Dia masih belum bisa menerima kondisi ini. Hidup bersama Tristan yang selalu menegakkan aturan membuatnya tidak bisa mentolerir pelanggaran.


“Errie akan marah nanti,” gumamnya pelan.


“Itu urusanku. Aku yang akan menjelaskan semua pada Tristan. Kau tidak perlu mengatakan apapun. Yang kau perlu lakukan sekarang hanya melakukan yang diperintahkan karena dengan begitu Tristan akan selamat. Lagipula, bukankah kau menyukai Tristan? Ini kesempatanmu memiliki Tristan seutuhnya.”


Emily menoleh, melemparkan tatapan tajam ke arah Kevlar. Ucapan Kevlar terkesan mengejek, membuat Emily dada Emily bergemuruh marah.


Ada perasaan kesal di hati Kevlar melihat Emily berani menantang matanya. Tapi juga kagum karena tidak ada makhluk Immorland yang berani melakukan itu kecuali Emily yang hanya seorang manusia biasa. Sepertinya gadis itu memang cocok menjadi pasangan Tristan.


“Jadi, bagaimana? Kau lebih suka diam mematung begitu lebih lama dan membuat Tristan meninggal?”


Kedua tangan Emily mengepal di sisi tubuh. Lalu dengan kemarahan tertahan dia berkata, “Baiklah, aku menerima pernikahan ini.”


Mata Kevlar berkilat licik meski sikapnya masih tenang menampakkan wibawa. Dia selalu mendapatkan apa yang dirinya inginkan. Termasuk membuat kaum guardian menjadi semakin kuat dan tidak terkalahkan kaum lainnya.


--------------------------


♥ Aya Emily ♥