
Kamis (07.54), 16 April 2020
------------------------------
Queenza masih ternganga takjub melihat sekeliling. Angin lembut membelai wajah Queenza. Dia semakin mengeratkan pelukan di sekeliling leher Kingsley sambil memperhatikan bagaimana sayap indah di punggung Kingsley mengepak pelan, membuat mereka melayang di udara.
“Kau tidak takut?” tanya Kingsley dengan raut geli.
“Sama sekali tidak,” sahut Queenza pasti.
“Bagaimana kalau aku menjatuhkanmu?”
“Kau tidak akan melakukannya.”
Seharusnya Queenza tidak mengatakan itu karena kini mata Kingsley berkilat jahil namun Queenza tidak melihatnya. Mendadak tubuh Kingsley terasa panas hingga refleks Queenza melepas pelukannya. Dalam sekejap, tubuhnya terjun bebas dari ketinggian delapan ribu meter.
Queenza berteriak keras. Panik, takut, dan adrenalin menguasai dirinya. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa menyakitkan. Jelas tampak di benaknya bagaimana tubuhnya menghantam tanah dengan sangat keras hingga akhirnya pecah seperti kaca. Mungkin tulang-tulangnya akan remuk seperti bubur sementara darahnya muncrat membasahi sekujur tubuh. Bahkan sekarang Queenza seolah melihat dirinya sendiri terbaring di bawah sana.
“Hahaha…!!”
Bukannya bersimpati atau khawatir, Kingsley malah tertawa keras sambil terbang di sisi Queenza namun tidak cukup dekat untuk Queenza jangkau.
“Tengkorak jelek! Kaisar busuk! ******** tengik!” Queenza mengumpati Kingsley di antara teriakan dan rasa takutnya.
“Seharusnya kau meminta tolong padaku dengan manis.” Kingsley pura-pura marah. “Kalau seperti ini kau membuatku kesal dan aku jadi tidak sabar melihat otakmu berceceran di bawah sana.”
Segala umpatan terbentuk di kepala Queenza namun dia tidak mengatakan satu pun. Sekarang bibirnya terkatup rapat dan dia hanya berdoa dalam hati semoga kematiannya tidak menyakitkan.
“Ayolah, Sayang. Memohon padaku,” desak Kingsley dengan nada geli.
Queenza semakin mengatupkan bibir dan berusaha menjaga keseimbangan dengan merentangkan tangan. Telinganya serasa berdenging sementara matanya terpejam rapat. Beruntung dia mengenakan celana jins dan bukannya rok.
Kingsley berdecak. Daratan semakin tampak jelas di bawah mereka. Akhirnya dia menangkap tubuh Queenza lalu kembali membawanya terbang tinggi.
“Keras kepala,” gerutu Kingsley.
Sadar dirinya tak lagi terjun bebas, Queenza membuka mata lalu menyeringai saat menyadari dirinya kembali berada dalam pelukan Kingsley. “Akhirnya kau yang menyerah. Sudah kuduga kau tidak akan membiarkanku menghantam tanah.”
“Tapi aku benar-benar melepasmu.”
“Karena kau pikir aku tidak akan celaka.” Lalu mata Queenza berbinar penuh harap. “Bisakah kita melakukannya lagi?”
“Kau mau kujatuhkan dari ketinggian lagi?”
“Ya.”
Kingsley terkekeh geli. “Kau sungguh tak terduga.” Dia kembali terbang tapi tidak langsung menjatuhkan Queenza dari ketinggian. Hanya melayang di udara dengan tatapan lurus mengarah pada Queenza. “Kau tahu? Kadang aku merasa seperti mengkhianati Queen.”
“Queen?” tanya Queenza bingung.
“Kau di masa lalu.” Kingsley tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena kadang aku berharap kau tetap menjadi Queenza yang sekarang. Gadis manusia polos yang tidak tahu apapun tentang duniaku. Aku sangat senang bisa mengajarimu banyak hal dan memamerkan kekuatanku. Seperti saat aku baru mengenal Queen. Senang sekali melihat matanya berbinar takjub tiap kali aku menggunakan kekuatanku.”
“Dasar lelaki! Kau juga pasti akan mengatakan itu saat aku sudah terbiasa dengan kekuatanmu dan tidak lagi merasa takjub saat kau menggunakannya.”
“Bukan seperti itu.” Kingsley terdiam sejenak. Kali ini tidak ada lagi canda dalam matanya. Hanya sorot sedih. “Saat berhadapan dengan jiwa Queen dalam dirimu, aku merasa dia adalah sosok yang berbeda. Awalnya kupikir itu karena perasaan dikhianati yang dia rasakan sebelum aku tertidur. Lalu semua yang dialaminya hingga ia mengkristal. Tapi—meski aku berusaha meyakinkan diri bahwa dia tetaplah Queen yang sama, aku tetap merasa berada di dekat orang asing. Hanya kekuatannya saja yang mengingatkanku pada Queen. Tapi yang lain, dia seperti orang lain.”
Kening Queenza berkerut. “Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu.”
Aku hanya takut, apa yang selama ini kuketahui salah. Aku hanya takut bahwa Queen—ratuku di masa lalu—sebenarnya sudah meninggal. Dan jiwa dalam tubuhmu bukanlah Queen yang kukenal.
Namun kalimat itu tertahan, tidak bisa ia ungkapkan. Kingsley tidak mau membuat Queenza cemas. Akhirnya dia berhasil mengulas senyum, mengabaikan ucapan Queenza sebelumnya.
“Siap terjun lagi?”
“Hei! Jelaskan dulu—Aaaaa!!”
Sama seperti tadi, Queenza terjun bebas. Adrenalin kembali menguasainya namun kali ini tanpa rasa takut dan cemas. Dia hanya amat bersemangat dan gembira. Tahu bahwa Kingsley tak akan membiarkan dirinya terluka.
***
Esoknya Emily masih tampak murung. Dia belum bisa melupakan kejadian kemarin dan sangat merindukan Tristan.
“Sudah kubilang seharusnya kau menunggu bersama Queenza. Sok kuat padahal sebenarnya kau sangat lemah,” ejek Kingsley.
Namun tak seperti biasa, Emily mengabaikan Kingsley dan sibuk mengaduk-aduk sarapannya.
“Itu beli pakai uang. Seharusnya tadi kau bilang kalau tidak mau makan. Queenza sudah susah payah membuatnya.”
Queenza menendang kaki Kingsley dari bawah meja seraya melotot lalu beralih pada Emily. “Sebaiknya kau makan sedikit lalu istirahat. Kau tampak pucat.”
Emily hanya mengangguk pelan sebagai tanggapan.
Ketukan di pintu depan membuat Queenza menegang. Kira-kira siapa yang datang bertamu? Apa salah satu keluarganya?
“Aku akan membukakan pintu dulu. Kingsley, jangan mengganggu Emily.” Lalu Queenza berdiri menuju ke pintu depan.
KLEK.
Seketika mata Queenza terbelalak melihat dua sahabatnya berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang. Sorot mata mereka tampak menuduh.
“Masih ingat pada kami?” tanya Belva tajam.
“Kupikir kau masih menginap di rumah pamanmu di luar kota.” Nada suara Aila tak kalah tajam.
Queenza sama sekali tidak tersinggung. Tahu betul kedua sahabatnya sedang khawatir hingga sikap mereka demikian.
“Aku baru pulang kemarin sore,” bohong Queenza dengan lancar. “Hari ini aku memang berniat masuk sekolah.”
“Masuk sekolah? Dengan kaus dan celana pendek?” Belva memperhatikan pakaian Queenza.
Queenza merengut. “Sebelumnya aku masih memasak lalu sarapan.”
“Kau masak?” kali ini Aila yang menjawab.
“Ya, memangnya kenapa? Kalian tahu sendiri aku suka memasak.”
Sejenak Aila dan Belva saling pandang lalu sikap garang mereka berubah. Keduanya tersenyum lebar.
“Bagus sekali. Kau bisa menyogok kami dengan masakanmu agar kami tidak marah lagi.” Aila menyeringai senang.
Seketika Queenza terbelalak, sadar akan kesalahannya. Dia buru-buru menghadang pintu saat kedua sahabatnya hendak masuk. “Tapi aku hanya membuat satu porsi. Tidak ada untuk kalian. Besok saja akan kubuatkan sesuatu lalu kita makan bersama di sekolah.”
Belva menyipitkan mata curiga. “Apa yang kau sembunyikan di dalam rumah hingga kami tidak boleh masuk?”
Tidak mau mendengar alasan Queenza lagi, Aila dan Belva langsung menerobos masuk. Tiba di ruang tengah mereka terkejut melihat tv yang rusak. Lalu lebih terkejut lagi saat menyadari ada suara-suara dari arah dapur seolah ada yang sedang makan.
Ragu, keduanya berjalan pelan menuju dapur. Tapi langkah mereka harus terhenti karena Queenza kembali menghalangi.
“Tidak ada apapun di sini. Sebaiknya ikut ke kamarku. Aku harus segera berganti pakaian.”
“Apa itu di dapur?” tanya Aila pelan, mengabaikan ocehan dan dorongan Queenza.
“Tidak ada apapun!”
“Tapi—”
“Queen, apa ada masalah?”
Ketiga gadis itu langsung membeku mendengar suara berat seorang lelaki dari arah dapur.
Kingsley sialan! Tidak bisakah dia tutup mulut saja? Kalau seperti ini bagaimana Queenza harus menjelaskannya?
“Kau menyimpan lelaki di rumahmu?!” nada suara Belva meninggi.
“Bukan seperti itu—” Queenza kalang kabut hendak menjelaskan. “Itu—”
“Halo, gadis-gadis cantik.”
Belva dan Aila terbelalak melihat lelaki berambut hitam panjang tengah menyandarkan bahu di ambang pintu dapur. Pakaiannya berupa celana jins dan kemeja berwarna hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Selain itu dia juga memiliki warna mata biru yang indah.
Sementara kedua sahabatnya masih syok, Queenza memejamkan mata frustasi, tidak mengerti di mana Kingsley meletakkan otaknya. Sekarang apa yang harus ia jelaskan pada Aila dan Belva. Apa ceritanya bahwa dia tanpa sengaja membangunkan tengkorak dari dimensi lain bisa diterima kedua sahabatnya itu?
“Queenza, aku tidak menyangka kau benar-benar menyimpan lelaki di rumahmu,” akhirnya Aila kembali mendapatkan suaranya.
“Nona-nona, aku sedikit tidak nyaman dengan kata ‘menyimpan’. Itu seperti aku ini adalah daging yang biasanya disimpan dalam kulkas. Yah, meski Queenza menganggapku lezat tapi—”
“Kau menganggapnya lezat?!!” Belva benar-benar meneriakkan pertanyaan itu.
Queenza meringis. “Bukan seperti yang kalian pikirkan—”
“Memangnya kau tahu apa yang kami pikirkan?” Aila melotot. Biasanya dia lebih tenang dan sabar. Tapi kali ini, perbuatan Queenza menurutnya di luar batas dan sebagai seorang sahabat, dia akan memastikan Queenza tidak memilih jalan yang salah.
“Yah, kalian pikir—” Queenza tidak tahu bagaimana melanjutkan kalimatnya. Sungguh, rasanya sekarang dia ingin berbalik lalu mematahkan batang leher Kingsley.
“Jawab pertanyaanku!” seru Belva lantang. “Kau sudah berpelukan dengannya?”
“Itu—”
“Iya atau tidak?” Belva melotot.
Akhirnya Queenza mendesah pasrah. “Iya.”
Kedua gadis di depannya terkesiap. Lalu Aila membuat isyarat ciuman dengan kedua tangannya, “Kalian juga sudah—seperti ini?”
Queenza menggigit bibir. “Tapi itu tidak seperti yang kalian pikirkan.”
Belva menyusurkan tangan di rambut pendeknya yang hanya mencapai pundak seperti orang tua yang frustasi atas kelakuan anaknya yang kelewat batas. “Baiklah karena kau masih berpikir itu tidak seperti yang kami pikirkan. Pertanyaan terakhir, apa lelaki itu tinggal di sini?”
“Ya,” sahut Queenza lemah.
“Di mana dia tidur?” desak Belva.
“Di kamarku tapi aku—”
“Cukup!” Belva mengangkat tangan menyuruh Queenza diam. “Aku sungguh tidak menyangka kau sudah terjerumus sejauh ini. Seharusnya aku terus mendampingimu meski kau beralasan ingin sendiri, sakit, atau alasan lainnya.” Tanpa bisa dicegah, air mata Belva menetes dan dia segera menyekanya. “Aku merasa gagal menjadi sahabatmu. Kau kesepian dan sedih. Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendirian.”
Aila juga terisak. “Aku juga merasa gagal. Kau menciptakan tembok tinggi dan aku tidak berusaha menerobosnya, malah membiarkanmu terus menjauh.”
Mata Queenza berkaca-kaca, terharu dengan perhatian kedua sahabatnya. Lalu dia merangkul mereka berdua sekaligus dan membiarkan air matanya menetes.
“Huaaaa… hiks… hiks!”
Tangisan itu bukan berasal dari mereka bertiga. Ketiganya tertegun lalu sama-sama menoleh ke arah dapur. Kingsley yang masih berdiri di ambang pintu dapur hanya mengangkat bahu.
“Apa ada orang lain lagi?” tanya Aila.
“Itu—”
“Errie!”
Bersamaan dengan seruan itu, kabut hitam tipis muncul di ruang tengah, semakin lama semakin tebal. Dan setelah kabut itu menghilang, tampak sesosok lelaki tampan dengan tatapan tajam bagai elang berdiri di sana. Yang membuat Aila dan Belva merasa seperti terkena serangan jantung adalah sayap kelabu di punggung lelaki itu. Mereka tak lagi memperhatikan sosok wanita yang menerobos keluar dari dapur hingga lelaki yang tadi berdiri di sana terpaksa menyingkir.
“Errie.” Emily menangis dalam dekapan Tristan membuat Tristan mengerutkan kening bingung.
“Ada apa?”
Emily tidak menanggapi dan hanya memeluk Tristan lebih erat.
Kingsley menghampiri Tristan lalu berhenti saat jarak mereka hanya sekitar dua meter. “Kau sudah kembali. Kuharap kau sudah mendapat jawaban dari semua pertanyaanmu.”
“Sebagian besar iya”
“Kalau begitu, kau harus ikut ke pertemuan dua hari lagi. Di sana kau bisa menentukan kau akan berpihak pada siapa.”
“Pertemuan apa? Dan kenapa aku harus memilih untuk berpihak?”
“Karena aku tahu kau tidak akan diam saja saat perang terjadi. Kau bukanlah orang yang hanya bisa diam dan menonton.”
“Perang apa?” kali ini Tristan bertanya dengan nada hati-hati.
“Aku akan merebut kembali kerajaanku. Kerajaan Ackerley.”
Selama dua detik, Tristan hanya ternganga. Tapi lalu dia bertanya dengan nada tak percaya. “Jangan bilang kau adalah Kaisar Kingsley yang itu.”
“Aku memang Kaisar Kingsley yang itu.” Kingsley mengangkat bahu meski tak mengerti apa yang dibicarakan Tristan.
“Sepertinya aku harus memukul kepalaku sendiri,” gumam Tristan pelan.
“Kalian sedang bermain drama, ya?” tanya Belva.
“Queenza, kau bawa para pemain teater ini dari mana?” desak Aila.
Queenza menepuk keningnya sendiri. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa Kingsley bisa menghapus ingatan seseorang? Semoga iya karena dia butuh itu sekarang untuk menghapus ingatan Belva dan Aila.
---------------------------
♥ Aya Emily ♥