Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Permainan yang mengerikan



Kamis (07.44), 09 April 2020


----------------------------


Kingsley membuka pintu kamar Queenza pelan lalu masuk. Di tangannya ada sebuah nampan berisi setangkup roti berlapis selai dan segelas susu. Seingatnya Queenza masa ini memang tidak pernah makan roti lebih dari dua lembar. Tidak seperti Queenza masa lalu yang ternyata sangat rakus.


Tampak Queenza masih berbaring miring di atas ranjang membelakangi pintu. Sudah dua hari dia seperti ini. Hanya keluar kamar untuk melamun. Tapi setidaknya Kingsley bersyukur karena tidak lagi mendengar tangis tertahan Queenza saat gadis itu sendirian.


“Kau tidak bisa seperti ini terus. Memangnya kau tidak ingin sekolah dan bertemu teman-temanmu?” tanya Kingsley seraya meletakkan makanan di atas nakas.


Bahkan jika bukan karena Kingsley yang memaksanya, gadis itu tidak akan makan dan hanya terus berbaring di atas ranjang.


“Queen,” panggil Kingsley lembut seraya duduk di sisi ranjang. “Kau tidak lelah berbaring seperti ini terus?”


Tidak ada sahutan.


“Wajar kalau menyakiti makhluk lain terasa berat dan salah bagimu. Bagaimanapun jiwamu seutuhnya masih merupakan manusia. Tapi percayalah. Meski aku hanya sedikit memiliki jiwa manusia dan lebih banyak memiliki jiwa makhluk buas, pembunuhan yang kulakukan masih terasa berat. Dan orang lain pun pasti pernah merasa demikian. Tapi hidup tetap berjalan. Kau tidak bisa menyerah sekarang.”


“Tapi aku tidak hidup di dunia kalian,” Queenza terisak. “Kau tidak akan mengerti. Orang tuaku selalu mengajarkan bahwa menyakiti orang lain adalah perbuatan salah. Dan aku bukan hanya menyakiti, tapi membunuhnya.”


Tangan Kingsley terangkat, lalu dia membelai rambut panjang Queenza lembut. “Ibuku juga mengajarkan begitu. Menyakiti orang lain adalah perbuatan salah. Tapi akhirnya, dia yang terbunuh di depanku, membuat sisi monsterku muncul lalu menghabisi mereka semua.” Kingsley tersenyum sedih. Meski sudah puluhan—atau mungkin ribuan tahun berlalu, rasa sakit akan kejadian itu masih terasa jelas.


Queenza tertegun. Dia menoleh melihat kesedihan yang tampak jelas dalam mata Kingsley. “Ibumu yang kau bilang dibakar hidup-hidup itu?” tanya Queenza hati-hati. Dirinya yang melihat kecelakaan orang tuanya bisa merasa begitu sakit. Tidak bisa ia bayangkan betapa hancur hati Kingsley saat menghadapi kejadian itu.


Kingsley mengangguk pelan sebagai tanggapan. “Ya. Dan saat itu pembunuhnya bukan hanya satu orang. Jadi yang kubunuh juga bukan hanya satu. Dan usiaku saat itu masih empat belas tahun. Bisa kau bayangkan bagaimana hancurnya aku saat itu.” Kingsley menghela napas, meredakan sesak yang mendadak menghimpit dadanya. “Di usia empat belas tahun ibuku meninggal secara mengerikan dan diwaktu bersamaan aku terpaksa membunuh banyak orang. Aku menjadi buronan saat itu. Diburu seluruh makhluk Immorland karena dianggap sebagai monster yang membunuh ibunya sendiri.”


Queenza terkesiap. Dia bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk di hadapan Kingsley dan refleks menggenggam tangan lelaki itu. “Ibumu dibunuh dan kau yang dituduh sebagai pembunuhnya?”


“Miris, kan?” Kingsley tersenyum penuh ironi. “Yah, mereka yang datang membunuh ibuku juga karena berpikir ibuku memelihara monster yaitu aku. Sasaran mereka selanjutnya adalah aku. Tapi sebelum niat itu terwujud, aku yang lebih dulu membunuh mereka semua.”


Kingsley menunduk, menatap jemari lentik Queenza yang menggenggam jemarinya. Terasa hangat dan menenangkan. “Aku sempat begitu frustasi dan berpikir akan bunuh diri. Sejak kecil aku hanya hidup berdua dengan ibuku. Bahkan aku tidak kenal makhluk lain selain binatang dan Mochi,” kali ini senyum sayang terbit di bibir Kingsley. “Semua yang kutahu hanya sebatas yang ibuku ajarkan. Tapi aku belajar dengan cepat. Aku juga bisa memahami sesuatu hanya dengan memperhatikannya. Menurutmu apa yang harus kulakukan saat itu selain memilih bunuh diri?”


Queenza hanya menggeleng pelan. Air matanya menetes membayangkan remaja empat belas tahun sendirian di tengah hutan. Tak memiliki apapun selain pakaian yang dikenakannya. Dia pasti kedinginan di malam hari dan kelaparan. Tapi tidak ada tempat untuk meminta tolong karena semua orang ingin membunuhnya.


“Yah, aku sempat memikirkan itu. Ingin bunuh diri. Tapi seseorang membuatku bertahan.” Senyum Kingsley merekah.


“Siapa? Gadis yang kau suka?”


Kingsley terkekeh. “Ya, gadis yang kusuka. Sangat cantik dan bermata hijau. Di saat semua orang berusaha membunuhku atau takut padaku, dia tidak seperti itu. Dia selalu datang ke hutan saat pertama kami bertemu, membawakanku makanan dan pakaian. Bahkan dia juga memberitahu tempat-tempat yang tidak boleh kudatangi karena makhluk-makhluk Immorland sedang memasang jebakan untuk menangkapku.”


“Dia gadis yang sangat baik. Apa dia sudah dewasa?”


“Dia masih dua belas tahun saat itu. Dan dia adalah anak seorang ratu. Kadang aku berpikir, bagaimana mungkin seseorang bisa sebaik dia? Apa dia punya tujuan tersembunyi? Tapi melihat tatapan lembutnya aku percaya bahwa dia memang baik.”


“Siapa namanya?” tanya Queenza penasaran.


“Queenza.”


“Hah?”


“Ya, Queenza. Gadis yang kumaksud adalah kau di masa lalu. Orang yang membuatku bertahan saat terpuruk. Orang yang membuatku memiliki tujuan hingga akhirnya bertekad membangun kerajaan yang menyatukan seluruh makhluk Immorland. Orang yang ingin kujadikan ratuku. Adalah kau.”


Queenza tersenyum seraya menyeka air matanya. “Maksudmu Queenza yang ada di dalam tubuhku?”


“Bukan. Queenza hanya satu. Kau dan dia adalah satu. Jiwa kalian hanya terpecah sekarang. Tapi akhirnya akan menyatu kembali.” Kingsley melepas salah satu tangannya yang digenggam Queenza lalu menghapus air mata dipipi gadis itu. “Aku menceritakan masa laluku hanya agar kau melihat sisi positifnya. Tidak peduli saat ini kau berada di titik terendah dalam hidupmu, namun hidup terus berjalan. Orang tuamu membesarkanmu bukan agar kau menyia-nyiakan hidupmu. Jadi hargai pengorbanan mereka yang telah merawatmu hingga kini.”


Air mata Queenza semakin deras mengalir. Dadanya sesak. Lalu menuruti dorongan hati, ia membenamkan wajahnya di lekukan leher Kingsley sementara kedua tangannya memeluk erat pinggang lelaki itu.


“Terima kasih,” gumam Queenza.


Kingsley tersenyum seraya mengecup lembut pelipis Queenza. “Seharusnya tidak perlu berterima kasih karena kau yang lebih dulu menyelamatkanku dari kehancuran.”


“Aku tetap akan berterima kasih.” Queenza mempererat pelukannya.


“Baiklah. Sama-sama.” Kingsley membalas pelukan Queenza seraya bergumam. “Setelah ini habiskan sarapanmu. Aku susah payah membuatnya.”


“Sarapan apa?”


“Roti berlapis selai.”


“Tidak mau!”


“Kenapa?” Kingsley mengerutkan kening.


Queenza menatap Kingsley tanpa melepaskan pelukannya. “Kemarin seharian aku makan menu seperti itu. Masa sekarang juga?”


Kingsley meringis. “Hanya itu yang bisa kubuat.”


Queenza terkekeh geli. “Biar pagi ini aku masak sarapan lalu kita pergi jalan-jalan.”


Queenza mengangguk.


“Tapi bukankah kau harus sekolah?”


“Sekarang akhir pekan. Sekolahku libur.” Queenza melepas pelukan lalu turun dari ranjang seraya membenahi rambutnya. “Ayo ke dapur. Sekalian aku akan mengajarimu memasak.”


“Kedengarannya menyenangkan.”


***


Kingsley terdiam memperhatikan keramaian di hadapannya. “Ini seperti perayaan yang kau datangi dengan jiwa Queenza masa lalu.”


“Rasanya aneh mendengarmu menggunakan istilah ‘Queenza masa lalu’.” Queenza merengut. “Yah mirip tapi berbeda. Ini bukan perayaan. Ini taman hiburan.”


“Sama-sama banyak pedagang dan ada arena bermainnya juga.”


“Ya, tapi berbeda. Taman hiburan akan selalu ada di sini. Tapi perayaan hanya ada di saat-saat tertentu.” Queenza memperhatikan Kingsley dengan mata menyipit. “Kupikir kau bisa paham karena sudah menyerap ingatanku.”


“Sepertinya aku tidak menyerap semua ingatanmu. Kita harus berbagi darah lagi.”


Queenza geleng-geleng kepala lalu berjalan menuju bagian penjual tiket. Kingsley membuntuti di belakangnya. Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di arena permainan pemacu adrenalin.


“Aku ingat di area yang dijadikan tempat perayaan waktu itu juga dekat dengan taman hiburan sederhana. Di sana juga ada permainan ini tapi tidak besar. Namanya roller coaster.”


Kingsley mendongak, menatap kereta yang berjalan dengan cepat di lintasan yang tidak beraturan. Ada yang tinggi, rendah dan melengkung. “Kenapa mereka berteriak? Apa ada hal buruk yang menimpa mereka?”


“Kau akan tahu setelah kita mencobanya.” Queenza nyengir jahil lalu menarik lengan Kingsley untuk antri.


Tiba giliran mereka, keduanya duduk berdampingan. Queenza tampak sangat antusias sementara Kingsley melirik risih pada orang-orang yang menatapnya penasaran.


“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” bisik Kingsley.


“Tentu saja. Kau sangat mencolok dengan rambut panjangmu itu,” balas Queenza dengan sama berbisiknya.


“Jangan harap aku mau memotong rambutku.” Ujar Kingsley tegas.


“Aku tidak bilang begitu.” Queenza nyengir.


Seorang petugas menghampiri mereka satu per satu memastikan sabuk pengaman sudah terpasang sempurna. Setelahnya kereta mulai berjalan pelan.


“Biasa saja,” gumam Kingsley meremehkan.


“Oh ya?” Queenza bertanya tak percaya.


Beberapa detik kemudian, kereta mulai meluncur mendekati lintasan menurun. Queenza sudah bersiap menghadapi kejutan histeria namun Kingsley tetap tenang. Akhirnya kereta benar-benar melaju cepat, meliuk sana sini seolah akan menghempas jatuh para penumpangnya.


“Wow!” seru Queenza kagum melihat Kingsley masih tetap tenang hingga mereka turun dari roller coaster. Bahkan lelaki itu tak tampak sedikit pun membuka mulut sementara Queenza merasa tenggorkannya sakit karena terlalu keras berteriak. “Baiklah, Yang Mulia Kaisar. Kuakui kau memang hebat.”


Kingsley hanya mengangguk sekali dengan gaya anggun, masih dengan bibir terkatup rapat.


“Kalau begitu kita mau ke mana lagi?” tanya Queenza antusias, belum jera hendak mencoba wahana lain.


“Toilet,” gumam Kingsley pelan, nyaris seperti bisikan.


“Hah? Toilet?” Queenza memastikan.


Lagi-lagi Kingsley hanya mengangguk sekali.


“Oh, ayo kita cari toilet. Mungkin di sebelah sana.”


“Bisakah kita cepat?” tanya Kingsley, lagi-lagi dengan suara pelan.


“Memangnya kenapa?”


“Aku—tidak sanggup menahannya lagi. Semua sarapanku—naik ke tenggorokan.”


Queenza terbelalak. “Kau akan muntah?”


Lagi, Kingsley mengangguk sekali. “Kepalaku berputar.”


“Dasar, ayo cepat!” Queenza menarik tangan Kingsley untuk mencari toilet seraya menggerutu. “Tampilan luarnya saja yang keren. Ternyata perutmu lemah.”


-----------------------------


♥ Aya Emily ♥