Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
12. Hanya ingin kita menikah



Selasa (07.46), 31 Maret 2020


-------------------------


Queenza masih tidak mengerti apa yang terjadi sebelumnya, saat dirinya membuka pintu rumah dan langsung masuk ke rumah Bibi Marlene. Tadinya Queenza berpikir bahwa dirinya tertular kekuatan aneh Kingsley. Tapi sepertinya tidak. Buktinya ketika tadi keluar dari rumah Bibi Marlene, tidak ada hal aneh yang terjadi.


Mungkinkah Kingsley yang membuat Queenza langsung tiba di rumah Bibi Marlene agar kejadian tadi siang tidak terulang?


Yah, mungkin saja. Namun ingatan itu malah membuat Queenza bergidik ngeri. Ditambah lagi suasana saat ini begitu gelap dan sepi. Jadi tak heran bila perasaan takut semakin menguasai dirinya.


Apa sebaiknya dia kembali ke rumah Bibi Marlene saja? Dia baru meninggalkan rumah itu beberapa meter. Seharusnya Bibi Marlene belum tidur dan kedatangannya kembali tidak mungkin mengganggu. Tapi kalaupun malam ini Queenza menginap di rumah Bibi Marlene, akankah pagi lebih aman baginya? Buktinya makhluk-makhluk mengerikan sebelumnya menyerang Queenza saat siang hari dan di jam sibuk saat seharusnya banyak orang lalu lalang.


Menghela napas, Queenza memantapkan hati. Dia tetap akan pulang malam ini dan melawan perasaan takutnya. Tanpa menghentikan langkah, Queenza memejamkan mata. Menghibur diri dengan membayangkan bahwa dirinya sudah di rumah, mandi air hangat dari shower, lalu tidur nyenyak di balik selimutnya yang hangat. Pasti sangat—


DUKK.


“Owh!” Queenza meringis seraya menggosok keningnya yang terasa sakit karena membentur sesuatu yang terasa keras seperti tembok. Perlahan dia membuka mata lalu terbelalak menatap sekelilingnya.


Ini—di kamar mandi rumahnya? Tapi, bagaimana?


Queenza buru-buru keluar dari ruangan itu untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar sudah pulang. Ya, tidak salah lagi. Ini memang rumahnya!


Astaga, bagaimana bisa?!


“Kingsley!” Queenza berteriak seraya berlari menuju kamarnya. Di rumah ini memang tidak ada kamar mandi yang menyatu dalam kamar. Satu-satunya kamar mandi berada di dekat dapur, menjadi satu dengan toilet dan ruang cuci.


“Kingsley!” Queenza kembali berseru seraya membuka pintu. Di dalam kamar, dia mendapati Kingsley tengah berbaring telungkup dengan laptop Queenza di hadapannya. Sekilas Queenza melirik, lelaki itu tampak tengah bermain salah satu game pc Queenza. “Kingsley! Coba tebak apa yang tadi kualami?”


“Kalau aku bisa menebak, aku akan dapat hadiah apa?” tanya Kingsley sambil lalu tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop.


“Huh, kau jadi pintar tawar-menawar. Tidak ada hadiah. Tebak saja.”


“Tidak menyenangkan.”


Kesal, Queenza langsung menutup layar laptop. Secepat kilat Kingsley mengubah posisi menjadi duduk seraya melotot ke arah Queenza.


“Hei! Aku hampir menang!”


“Memangnya kalau menang, kau akan dapat hadiah apa?” tanya Queenza sinis.


“Aku akan naik ke level selanjutnya.”


Grr! “Aku sedang malas berbasa-basi. Cepat tebak saja apa yang tadi kualami.”


Kingsley mengalah dan memilih menyandarkan punggung di kepala ranjang. “Kau baru saja bertemu istri Nephilim dan berhasil selamat. Ah, atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan—guardian?”


Kening Queenza berkerut. “Apa itu?”


Kingsley tidak langsung menanggapi. Dia hanya menatap lurus ke arah mata hitam Queenza. Mata yang dulu berwarna hijau cantik, berubah semakin terang ketika sedang marah.


Ada sesuatu yang memang membuat Kingsley bertanya-tanya. Saat dirinya menyerap ingatan Queenza, seharusnya Queenza juga menyerap ingatan Kingsley. Tapi sepertinya gadis itu tidak mengalami hal yang sama. Apa mungkin karena tubuh manusianya?


“Kenapa diam?” desak Queenza.


“Baiklah, aku menyerah. Aku tidak tahu apa yang kau alami.”


Wajah Queenza berubah cerah. Dia punya kesempatan untuk menyampaikan berita besar. “Saat aku membuka pintu depan tadi, tiba-tiba aku sudah berada di rumah Bibi Marlene. Lalu saat hendak pulang, tidak ada yang terjadi ketika aku membuka pintu depan rumah Bibi Marlene. Tapi keanehan yang sama terjadi ketika aku sudah berjalan beberapa meter dari rumah Bibi Marlene. Aku hanya memejamkan mata sekilas, membayangkan akan mandi air hangat begitu tiba di rumah, dan mendadak aku sudah ada di kamar mandi. Apa itu perbuatanmu?”


Kingsley mengerutkan kening. Walau Queenza tidak mendapat ingatan Kingsley, tapi sepertinya Queenza mendapat kekuatan Kingsley saat mereka bertukar darah. “Aku tidak melakukan apapun.”


“Sungguh? Berarti aku sendiri yang melakukannya? Apa itu karena siang tadi aku sudah, sudah—mati?”


“Kau belum mati karena aku menyelamatkanmu tepat waktu. Jadi kau berhutang nyawa padaku. Sebagai gantinya, kau harus jadi budakku seumur hidup,” jelas Kingsley enteng.


Queenza mencibir. “Jangan harap!”


“Atau aku akan ambil lagi nyawamu?” Kingsley pura-pura mengancam.


“Ambil saja!” Queenza tidak mau kalah.


Kingsley terkekeh. “Kau lebih berguna dalam keadaan hidup.” Karena sepertinya, sekarang nyawaku ada di tanganmu, lanjut Kingsley dalam hati.


“Aku merasa seperti dimanfaatkan,” gumam Queenza tidak suka. “Tapi kalau begitu, aku bisa hemat ongkos bepergian. Aku juga tidak perlu buru-buru ke sekolah kalau bangun kesiangan,” wajah Queenza berbinar.


“Ya, benar. Memang menyenangkan. Dan bersiaplah mencari alasan jika ada yang melihatmu muncul secara tiba-tiba.”


Queenza terbelalak. Dia tidak memikirkan sejauh itu. Apa ada yang melihatnya menghilang tadi? Semoga Bibi Marlene sudah masuk rumah saat Queenza menghilang.


“Jadi sama seperti ilmu yang perlu dipelajari agar kau bisa memanfaatkannya dengan benar, kekuatan juga begitu.”


“Seiring dengan kekuatan yang besar, datang juga tanggung jawab yang besar,” gumam Queenza.


“Nah, itu kau pintar.”


Queenza nyengir. “Sebenarnya itu kutipan dalam film Spiderman.”


“Film menggelikan tentang manusia laba-laba itu?” tanya Kingsley dengan nada mengejek.


“Menggelikan? Memangnya kau tidak?”


“Aku tampan.” Kingsley nyengir. “Aku ingin menonton filmnya secara langsung. Ingatanmu tidak begitu bagus.”


“Kau bilang filmnya menggelikan!”


Kingsley mengabaikan seruan Queenza dan memilih berbaring di sisi ranjang, bahkan tanpa repot-repot memindahkan laptop yang masih tergeletak di dekat kakinya. “Selamat malam,” gumamnya tanpa rasa bersalah.


Dasar makhluk menyebalkan!


Queenza meraih laptopnya lalu ia bawa ke kamar orang tuanya. Tidak ada pilihan lain. Malam ini Queenza harus tidur di kamar itu meski harus menahan sesak karena kerinduan. Mungkin besok dia akan membujuk Kingsley agar bersedia bertukar tempat tidur.


Tidak seperti yang Queenza takutkan, dia bisa tidur dengan nyaman begitu kepalanya menyentuh bantal. Perasaan rindu itu hanya muncul sekilas, tapi bisa segera diredam. Tapi pagi ini, Queenza terjaga dengan perasaan gelisah. Perutnya  terasa melilit seperti belum diisi berhari-hari. Padahal dia sudah makan malam di rumah Bibi Marlene. Tidak punya pilihan lain, Queenza bergegas keluar kamar menuju dapur.


Queenza termenung di depan kulkas, mencari ide hendak memasak apa. Tapi entah mengapa tidak ada makanan yang menarik perhatiannya. Bahkan buah-buahan dalam kulkas pun sama sekali tidak menggugah selera Queenza.


Krriiuukkk.


Tidak punya pilihan lain, Queenza mengambil sebuah apel sambil menyiapkan bahan untuk membuat omelet. Masakan yang membuatnya sangat mudah dan cepat serta mengenyangkan menurut Queenza. Beberapa saat kemudian, aroma omelet memenuhi dapur, mengundang lidah untuk segera mencicipi.


“Hmm, aromanya lezat.”


“Astaga!”


Queenza memekik kaget mendapati Kingsley sudah duduk dengan nyaman di kursi meja makan. Tatapannya tampak berbinar mengarah ke omelet buatan Queenza yang masih berada di atas wajan.


“Bisakah kau tidak muncul secara tiba-tiba begitu?”


Kingsley tidak menanggapi. “Ada jatah untukku juga, kan?”


Queenza menatap Kingsley kesal. “Sepertinya nafsu makanmu sangat mengerikan. Untung aku memasak lumayan banyak.” Dia menyajikan omelet ke dua piring lalu meletakkan satu di hadapan Kingsley. “Kau menghabiskan hampir semua buah yang kubeli hanya dalam waktu satu hari.”


“Lebih baik dihabiskan daripada membusuk,” sahut Kingsley seraya menikmati masakan Queenza. “Hmm, lezat. Makhluk Immorland memang tidak sehebat manusia dalam hal memasak.”


“Karena kami kreatif,” Queenza menyeringai sombong.


“Ya, kuakui.”


Ada perasaan bangga dalam hati Queenza. Walau manusia tidak memiliki kekuatan seperti makhluk-makhluk anneh itu, tapi kaumnya memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki kaum lainnya. Dengan perasaan senang, Queenza menikmati sarapannya hingga tandas lalu meminum air banyak-banyak.


Krriiuukkk.


Queenza memegang perutnya dengan bingung. Rasa laparnya masih terasa. Bahkan kini perutnya makin melilit. Padahal dirinya sudah menghabiskan dua butir apel dan seporsi besar omelet.


“Kau bilang nafsu makanku mengerikan. Tapi ternyata kau lebih mengerikan,” ejek Kingsley. Jelas dia mendengar bunyi perut Queenza.


“Ada apa dengan perutku?” pertanyaan itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri.


“Sepertinya gilingan dalam perutmu sudah rusak. Kau harus menggantinya dengan yang baru.”


Queenza merengut seraya berdiri untuk membereskan bekas makan mereka. Namun saat dia membungkuk di atas meja untuk meraih piring Kingsley, refleks matanya terpejam sambil menghirup aroma lezat yang merasuk ke indera penciumannya. Dan seketika, perut Queenza kembali berbunyi, bahkan kali ini lebih nyaring.


“O’oo… jangan bilang kau lapar darahku sekarang,” ujar Kingsley seraya memperhatikan raut wajah Queenza yang tampak tengah mengendus aroma tubuhnya.


Mendengar ucapan Kingsley, buru-buru Queenza membuka mata seraya menegakkan tubuh. “Apa maksudmu? Aku manusia. Aku tidak minum darah. Memangnya kau pikir aku vampir?”


“Ah, benar juga. Kau tidak mungkin minum darah,” gumam Kingsley dengan gaya mengejek. Lalu dengan santai, Kingsley mengarahkan kuku jari telunjuknya—yang entah sejak kapan berubah panjang dan tampak tajam—ke arah lengannya. Dengan sedikit sayatan memanjang, darah merah menetes dari luka yang dibuat Kingsley.


Mendadak tubuh Queenza menegang dengan tatapan mengarah pada luka di lengan Kingsley. Bukan karena ngeri atau jijik, tapi karena aroma lezat yang tadi masuk ke penciumannya, kembali menguar dan kali ini jauh lebih tajam.


Dengan sengaja, Kingsley meletakkan salah satu sikunya di meja. Lengannya yang terluka menghadap Queenza sementara pipinya disandarkan pada kepalan tangannya. Mata biru Kingsley memperhatikan bagaimana mata Queenza yang semula hitam, perlahan berubah menjadi hijau terang.


Perlahan, Queenza mulai hilang kesadaran. Di pikirannya kini hanya keinginan untuk meredakan rasa laparnya. Dengan gerakan cepat yang tidak mungkin dilakukan manusia, dia mengitari meja makan berbentuk bundar itu lalu membungkuk di depan lengan Kingsley yang terluka sambil mengendus, membaui aromanya.


“Lezat,” gumam Queenza seraya menjilat bibir bawahnya.


Sebelum Queenza sempat menjilat lukanya, Kingsley menarik lengannya yang terluka lalu menyembunyikan di belakang tubuh. “Kau tidak boleh minum darahku,” nada suara Kingsley tegas.


“Kumohon.” Queenza mengatupkan kedua tangan di depan dada, menandakan kini dia dikuasai rasa laparnya.


“Tidak boleh sebelum kau mengabulkan satu permintaanku. Tidak ada penolakan.”


“Apa itu?” ada setitik kesadaran dalam diri Queenza yang melarangnya langsung mengiyakan permintaan Kingsley.


“Katakan iya dulu, lalu kau minum darahku. Setelah itu baru kukatakan apa permintaanku.”


Lagi-lagi Queenza tidak langsung menjawab. Namun dirinya tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Rasa lapar sudah menguasai otaknya. “Baiklah, aku janji.”


“Keputusan yang bagus.”


Kingsley nyengir seraya kembali melukai lengannya yang sudah sembuh. Kemudian ia menyodorkannya pada Queenza. Dengan gerakan cepat seperti hewan yang kelaparan, dia berlutut di samping Kingsley lalu mengarahkan mulutnya untuk mengisap luka Kingsley.


Lezat!


Manis!


Tidak ada makanan di dunia ini yang bisa menggambarkan rasanya. Lidah Queenza seperti dimanjakan dengan rasa baru yang tiada duanya.


Entah berapa lama Queenza mengisap. Dia sendiri tidak sadar waktu. Dia seperti kehilangan jati diri. Mungkin sudah satu jam berlalu, atau mungkin baru satu menit? Queenza tidak tahu. Yang jelas dia tidak mau berhenti mengisap.


“Cukup.” Lagi-lagi Kingsley menggunakan nada tegas seraya menarik lengannya menjauh dari mulut Queenza.


“Kurang.” Queenza menatap mata biru Kingsley dengan raut memohon.


Kingsley menggeleng. Dengan ibu jarinya dia menghapus darah di bibir bawah Queenza lalu jemari panjangnya menahan dagu gadis itu agar mendongak menatapnya. “Kau harus belajar mengendalikan diri. Jangan sampai rasa lapar menguasaimu. Kau adalah pemilik tubuhmu. Jangan biarkan kau yang dikendalikan tubuhmu!”


Keduanya saling bertatapan cukup lama. Kingsley dengan tatapan tegasnya sementara Queenza dengan tatapan memohon. Tapi perlahan, warna mata Queenza menggelap. Hingga akhirnya berubah hitam sepenuhnya.


“Ya Tuhan!” seperti orang yang baru terjaga dari mimpi, tubuh Queenza menjadi lemas dan ia jatuh terduduk di lantai. “Apa yang terjadi padaku?” dia bertanya pada diri sendiri dengan pelan.


“Bukan hal penting. Kau hanya kecanduan darahku.” Kingsley angkat bahu. Tak memedulikan raut ngeri Queenza, dia melanjutkan. “Nah, sekarang kita bahas keinginanku. Kau sudah berjanji tidak akan menolaknya.”


“Aku tidak akan mengingkari janji,” geram Queenza untuk menyembunyikan perasaan waswasnya.


Kingsley tersenyum geli. “Tidak perlu ketakutan seperti itu. Aku hanya ingin kita menikah.”


-----------------------------


♥ Aya Emily ♥