
Senin (07.31), 06 April 2020
-------------------------
Queenza membuka pintu rumahnya dengan hati bertanya-tanya apakah Kingsley sudah pulang. Tadi pagi lelaki itu berkata hendak ke Immorland menemui Mochi. Mungkin Mochi sudah mendapat informasi yang Kingsley butuhkan dan kata Kingsley Mochi tidak bisa pindah-pindah dimensi. Jadi dia yang harus mendatangi peliharaannya itu.
Mengingat Mochi, Queenza tersenyum. Dia ingin bertemu lagi dengan makhluk lucu dan menggemaskan itu. Tapi tentu saja, Queenza tidak ingin kembali ke Immorland. Seharusnya tadi dia berpesan agar Kingsley membawa Mochi ke sini, dunia manusia.
Astaga, kenapa kedengarannya aneh dan agak mengerikan saat dia sendiri yang berpikir tentang ‘dunia manusia’. Apa itu artinya ia mulai mengakui bahwa makhluk hidup di dunia ini bukan hanya manusia, binatang dan tumbuhan? Tapi yah, bagaimana Queenza bisa mengelak mengakui semua itu sekarang? Dia bertemu ‘mereka’. Bahkan beberapa kali terluka karena mereka.
“Kingsley, kau sudah pulang?” Queenza bertanya, sedikit mengeraskan suaranya begitu melewati ruang tamu.
Tidak ada sahutan.
Queenza menatap sekeliling dan memang tidak ada tanda-tanda keberadaan Kingsley. Dia segera menuju kamar untuk berganti pakaian lalu keluar menuju dapur beberapa saat kemudian. Namun baru saja hendak melewati ruang tengah, langkah Queenza terhenti.
Ada seseorang yang duduk mengarah tv yang rusak namun membelakangi dirinya. Padahal saat hendak masuk kamar, Queenza yakin tidak ada siapapun. Dugaan pertamanya orang itu adalah Kingsley yang baru pulang saat dirinya di kamar. Tapi—Queenza merasakan alarm tanda bahaya di alam bawah sadarnya.
“Kingsley?” tanya Queenza ragu.
Orang itu berdiri perlahan. Queenza bisa melihat tubuh ramping dibalut jaket kulit warna hitam. Ah, sepertinya bukan jaket. Itu lebih menyerupai mantel pria yang bagian bawahnya mencapai lutut. Sementara rambut orang itu juga tergerai panjang seperti Kingsley.
Sama perlahannya seperti saat berdiri, orang itu juga berjalan melewati kursi yang didudukinya dengan sama pelannya. Entah memang dia tipe orang yang sangat tenang dan santai atau hal itu sengaja untuk mengintimidasi Queenza. Tapi sepertinya opsi kedua yang benar karena saat orang itu berbalik, Queenza nyaris jantungan akibat terlalu tegang.
“Kau—siapa?” refleks Queenza mundur selangkah.
Queenza yakin belum pernah bertemu orang itu. Lelaki itu tampan. Namun dingin membekukan. Matanya menyorot tajam, seolah hendak menikam Queenza dengan tatapannya.
Mantel panjang yang dia kenakan sengaja dibiarkan terbuka bagian depannya, menampakkan kaus hitam yang mencetak dadanya. Sepertinya mantel panjang itu mengelabui. Dibalik tubuh ramping orang itu, pasti ada otot-otot yang terbentuk sempurna. Sementara itu bagian bawahnya dibalut celana hitam panjang. Memeluk kaki jenjangnya bagai kulit kedua. Dan di bagian kaki, orang itu mengenakan sepatu sejenis pantofel. Tentu saja, warnanya juga hitam.
“Sudah cukup mengamatiku?” suara yang berat dan dalam menyapa indera pendengaran Queenza.
Rasanya Queenza ingin berbalik sekarang juga lalu kabur. Tapi itu pasti sia-sia jika ternyata orang di hadapan Queenza bukanlah manusia. Tanpa bisa dicegah, tubuh Queenza bergidik ngeri membayangkan mungkin saja orang itu juga salah satu makhluk yang menginginkan darahnya. Sementara dirinya di sini sendirian, tanpa perlindungan. Apakah kali ini Kingsley bisa menyelamatkannya?
“Aku—hanya bertanya-tanya. Apa kau tidak kepanasan mengenakan mantel dan pakaian serba hitam di cuaca terik seperti sekarang?”
Salah satu alis Tristan terangkat. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa yang kukenakan. Kau harusnya lebih khawatir pada nyawamu dan mulai tanyakan pada diri sendiri apa kesalahanmu hingga harus berhadapan dengan prajurit guardian.”
Guardian?
Sepertinya Queenza pernah mendengar itu. Tapi di mana? Nanti dia akan bertanya pada Kingsley. Ya, nanti. Jika dirinya selamat.
“Kesalahan? Aku salah apa? Jadi kau ini semacam penegak hukum?”
“Kau menjalin hubungan dengan makhluk Immorland. Itu kesalahan fatal yang tak terampuni.” Tristan menyibak mantel yang menutupi paha kanannya, menampakkan pedang yang tergantung di sisi tubuh.
“Immorland?” tanya Queenza antara bingung dan takut melihat pedang di pinggang lelaki itu. “Aku sungguh tidak mengerti kau bicara apa.”
Mata Tristan berkilat marah. “Aku paling benci orang yang berbuat salah tapi pura-pura tidak menyadari kesalahannya.”
Tringg!
Queenza memekik kaget sambil mundur dua langkah melihat lelaki di depannya mendadak mengeluarkan pedang lalu digenggam erat di sisi tubuhnya.
“Kau—kau pasti salah paham. Aku bahkan tidak mengerti kesalahanku.”
“Orang yang kau panggil Kingsley, dia bukan manusia, kan?” Tristan langsung menyimpulkan bahwa pasangan gadis itu adalah lelaki yang dipanggilnya saat masuk rumah. Tapi yang menjadi pertanyaan Tristan sejak mendengar nama itu, kenapa kedengarannya tidak asing?
Queenza tidak langsung menjawab. Dalam hati menimang-nimang, jawaban apa yang kira-kira bisa menyelamatkannya dari maut? “Dia—ya, dia bukan manusia. Tapi aku mengenalnya tanpa sengaja. Ceritanya panjang. Kau pasti akan kelelahan jika mendengar ceritaku sambil berdiri.” Queenza nyengir gugup.
“Aku tidak butuh penjelasan bagaimana kalian saling mengenal. Yang kupedulikan hanya hubungan kalian saat ini. Kau sebagai manusia mengetahui keberadaan kami saja sudah merupakan kesalahan. Apalagi sampai menjalin hubungan dengan makhluk dari dimensi kami.”
“Jadi, aku dianggap bersalah karena aku adalah manusia?”
“Ya. Manusia tidak boleh tahu keberadaan kami.”
Bukan, itu rumahmu.
Kerajaan bangsa dryad. Kau mau pulang ke sana dengan tubuh manusiamu?
Dulu itu rumahmu. Sebelum kau lahir kembali sebagai manusia. Sekarang kita tidak tahu apa masih ada yang setia padamu.
Queenza teringat kata-kata Kingsley saat mereka masih di hutan. Kingsley bilang dirinya dryad, kan?
“Ah, kebetulan sekali!” Queenza menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya. “Aku memang bukan manusia. Aku berasal dari bangsa dryad.” Queenza berusaha memasang tampang meyakinkan sementara jantungnya berdetak cepat, waswas lelaki itu mengetahui kebohongannya.
“Kau pikir aku bodoh? Jelas-jelas aroma tubuhmu manusia.” Mata Tristan menyipit kesal. Dia melangkah mendekat membuat gadis di depannya mengambil langkah mundur.
“Aku tidak bohong.” Queenza menepuk dadanya sendiri. “Aku bisa menyamarkan aroma tubuhku.”
“Tadi kau berbicara seolah tidak mengerti tentang kami. Seolah kau belum pernah bertemu makhluk dari Immorland. Lalu sekarang kau hendak meyakinkanku bahwa kau berasal dari kaum dryad? Apa itu lelucon?”
Napas Queenza mulai terengah karena rasa takut yang semakin menyerangnya. Dalam hati dia memanggil-manggil nama Kingsley, berharap Kingsley bisa merasakan bahwa dirinya berada dalam bahaya. “Tadi itu—aku sengaja melakukannya. Kau pasti juga merasakannya, kan? Aku agak berbeda. Darahku menguarkan aroma yang membuat banyak makhluk mendekat. Karena itu aku harus berpura-pura menjadi manusia dan tidak memberitahu siapapun bahwa aku sebenarnya berasal dari kaum dryad.”
Tristan berhenti melangkah, membuat Queenza bisa menghela napas lega. Apa dirinya sudah berhasil lolos dari maut?
“Alasanmu sama sekali tidak masuk akal. Seharusnya kau tetap di kerajaan dryad dan berada di antara keluargamu. Dengan begitu akan ada banyak orang yang melindungimu daripada kau di sini hanya bersama makhluk yang tidak jelas berasal dari kaum apa.”
“Itu—ceritanya juga panjang. Sebaiknya kau duduk dan aku akan membuatkanmu kopi agar tidak bosan mendengar ceritaku.”
Kesabaran Tristan hilang sudah. Dia berjalan cepat hingga dalam satu kedipan mata sudah selangkah di depan Queenza, dengan ujung pedang hanya berjarak dua inchi dari leher Queenza.
Queenza membeku dengan mulut terbuka. Dia bahkan tidak berani untuk sekedar berteriak. Tubuhnya gemetar. Kedua tangannya meremas erat seragam di sisi tubuh.
“Kau membuang waktuku.”
Tristan menarik pedangnya menjauh. Kaki kanannya perlahan bergeser, melakukan ancang-ancang untuk menyerang. Dan dalam hitungan detik, pedangnya berayun, mengincar leher Queenza.
Lepas dari rasa terkejutnya karena perubahan fisik Queenza, Tristan segera menegakkan tubuh lalu berbalik, menatap tajam sosok Queenza yang kini berdiri bingung sambil menatap kedua tangannya sendiri.
“Apa itu tadi?” gumam Queenza pada dirinya sendiri namun pertanyaan itu terdengar jelas oleh Tristan.
“Kau benar-benar dryad? Tapi sepertinya kau tidak menyadari kekuatanmu sendiri.”
Menyadari kesalahannya, Queenza berusaha bersikap tenang, membalas tatapan Tristan dengan dagu diangkat. “Aku hanya belum pernah menggunakan kekuatan ini. Jadi aku sedikit kaget.”
Mata Tristan menyipit. “Perubahan fisik menjadi kelopak bunga adalah ciri khas kaum dryad. Biasanya kaum dryad yang bukan dari kalangan atas hanya bisa berubah menjadi dedaunan. Jadi tidak mungkin kau tidak pernah melakukannya. Bahkan anak kecil kaum dryad sudah bisa menggunakan kekuatan itu.” Diam-diam Tristan melukai telunjuknya sendiri dengan kuku tajamnya. “Banyak yang kau sembunyikan. Sepertinya aku tidak bisa langsung membunuhmu. Kau harus ikut aku ke Immorland.”
“Tidak.” Queenza menggeleng.
“Kenapa tidak? Kau tidak ingin bertemu keluargamu?”
“Mereka semua sudah meninggal.”
“Setidaknya kau bisa berkumpul dengan kaummu.”
“Kau tidak mengerti.”
“Maka jelaskan padaku. Nanti di Immorland.”
Panik, Queenza berbalik hendak melarikan diri melalui pintu belakang. Tapi itu kesalahan fatal. Dia malah memberikan Tristan kebebasan untuk menyerangnya.
Melihat kesempatan itu, Tristan mengibaskan tangannya yang terluka. Setetes darah di jarinya melesat bagai peluru. Saat darah itu terkena terpaan udara, dia membesar dan berubah warna menjadi putih bagai busa susu yang dikocok. Terus membesar hingga akhirnya menghantam punggung Queenza selebar telapak tangan orang dewasa.
“AARRGGHH!” Queenza berteriak keras dengan tubuh ambruk ke lantai.
Sesuatu yang menghantam punggung Queenza awalnya bagai tersengat listrik kekuatan tinggi. Lalu rasa sakitnya semakin menjadi, karena ternyata benda seperti busa di punggungnya seolah mengikis pelan apa yang mengenainya. Dimulai dari pakaian Queenza, terus ke jaringan kulitnya.
“Sakit, tolong,” erang Queenza. Dia duduk bersimpuh di lantai, sementara salah satu tangannya memegang pundak, berharap bisa menghilangkan rasa sakit itu.
“Seharusnya kau menerima ajakanku. Jadi tidak perlu terluka seperti ini.” Ternyata Tristan sudah berdiri di belakang Queenza, hanya berjarak dua langkah.
Air mata kesakitan Queenza membasahi pipinya. “Bu—bukankah kau tidak ingin diketahui manusia? Sebaiknya kau pergi karena teriakanku pasti akan mengundang para tetangga.”
“Aku sudah menciptakan pelindung di sekitar rumah ini. Tidak akan ada yang mendengarmu. Sebaiknya kau menyerah dan ikut aku.”
Marah!
Rasa sakit yang membuatnya tak berdaya mendadak membuat Queenza marah. Perlahan matanya berubah menjadi hijau. Berkilat semakin terang seiring amarahnya yang kian memuncak. Sementara kedua tangannya saling mengepal di sisi tubuh.
“Kau akan terus merasa sakit sebelum mengatakan bersedia ikut denganku.”
Bibir Queenza menipis. “Dasar makhluk hina. Sedikit saja diberi kepercayaan kalian menjadi besar kepala. Pantas saja kalian dianggap makhluk buangan.”
Refleks Tristan mundur tiga langkah. Tangan kanannya semakin erat memegang gagang pedang.
Ada yang berbeda. Aura Queenza menjadi jauh lebih kuat dan tajam, meski aroma tubuhnya masih jelas manusia. Insting Tristan mengatakan ada sesuatu yang berbahaya. Sangat berbahaya.
Queenza bangkit berdiri dari duduk bersimpuhnya, masih dengan membelakangi Tristan. Perlahan busa mematikan di punggungnya menghilang, meninggalkan luka lebar yang tampak jelas.
Tristan terbelalak melihat itu. Seharusnya busa yang berasal dari darahnya tidak akan menghilang secepat ini. Biasanya bisa memakan waktu hingga setengah jam, membuat lawannya terkapar dengan luka mengerikan. Tapi Queenza bisa membuat busa itu menghilang hanya dalam hitungan menit, yang menandakan bahwa dia punya kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
“Kau tidak perlu menunggu sampai aku melukaimu lagi, kan? Ikut aku sekarang!” perintah Tristan tegas. Dia masih bersikap tenang padahal seluruh tubuhnya kini tengah menegang waspada.
Perlahan Queenza berbalik, membalas tatapan dingin Tristan dengan mata hijaunya.
Tristan terbelalak melihat itu. Dia yakin warna mata Queenza sebelumnya adalah hitam. Bagaimana caranya sekarang berubah menjadi hijau terang bagai zamrud?
“Sayang sekali kau bukan nephilim yang ingin kutemui. Tapi aku masih bisa berpura-pura bahwa kau adalah dia dan membunuhmu dengan cara yang paling menyakitkan untuk membalas sakit hatiku.”
Nephilim?
Sepertinya Tristan menyadari sesuatu sekarang. Queenza di depannya dan Queenza yang tadi adalah jiwa yang berbeda. Mungkin Queenza yang sebelumnya memang hanya manusia biasa namun ada makhluk lain—dari kaum dryad—yang entah bagaimana bisa menempati tubuh Queenza.
Tristan memang belum pernah mendengar hal semacam itu. Tapi seperti kepercayaan manusia, arwah bisa menempati raga seseorang, kan?
“Kaum kami sudah lama tidak menggunakan panggilan itu lagi. Sekarang kami dikenal dengan sebutan kaum guardian.”
“Penjaga? Pelindung?” tanya Queenza dengan nada mengejek. “Jangan membuatku tertawa. Kalian hanya kaum buangan. Menusuk dari belakang saat kalian diberi kepercayaan.”
Jemari Tristan mengepal. Tentu saja dia marah mendengar kaumnya dihina. “Jangan lantas kau menyalahkan seluruh kaum guardian saat seseorang dari kaum kami mengkhianatimu.”
“Sayang sekali aku sudah terlanjur membenci kaum kalian. Jadi terima saja nasib sialmu.”
Tristan sudah lebih dulu melesat saat Queenza masih hendak bersiap. Dia berpindah tempat dengan cepat sementara kukunya kirinya memanjang, siap melukai tubuh bagian samping Queenza. Namun baru saja mengibaskan tangan, tubuh gadis itu berubah menjadi kelopak bunga yang berputar-putar di sekelilingnya.
Sadar serangannya gagal, Tristan memegang pedang dengan kedua tangan. Lalu dia ayunkan untuk menebas kelopak-kelopak bunga itu, namun tidak ada satupun yang terkena serangannya. Bahkan untuk menangkap satu kelopakpun dia tidak bisa.
Akhirnya Tristan menghentikan serangannya yang percuma. Napasnya tersengal karena dia seperti bertarung sendirian, dengan udara kosong.
Mendadak, kelopak-kelopak itu berputar mengelilingi Tristan semakin cepat dan dekat. Lalu Tristan tersentak kaget saat bagian tubuhnya yang terkena sentuhan kelopak bunga itu bagai teriris pisau, pedih dan mengeluarkan darah segar.
Menyadari dirinya berada dalam bahaya, Tristan melesat hendak menjauh dari kelopak-kelopak bunga yang berputar di sekelilingnya. Namun dirinya tidak bisa. Kelopak-kelopak itu mengikutinya seolah mereka bagian dari tubuhnya.
“Arrghh… grrr!” Tristan menggeram antara marah dan sakit. Kini tubuhnya sudah dipenuhi luka. Dia bahkan jatuh berlutut dengan bertumpu pada pedangnya karena tak kuasa menahan serangan.
Dirinya harus bisa melarikan diri entah bagaimana caranya. Karena jika tidak, dia akan tewas mengenaskan di sini.
----------------------------
♥ Aya Emily ♥