
Rabu (07.49), 01 April 2020
----------------------------
Tidak!
Dirinya tidak bisa.
Ia tidak sanggup membunuh gadis cantik bermata hijau yang kini balas menatapnya dengan sikap tenang, sama sekali tak merasa gentar dengan tubuh Kingsley yang berlumur darah.
Darah orang-orang yang telah membunuh ibunya!
Ragu, Kingsley melangkah mundur. Menjauhkan jemari berkuku panjangnya yang semula mencengkeram leher si gadis bergaun panjang layaknya bangsawan.
Sedari kecil, Kingsley hanya hidup berdua dengan ibunya. Pertemuannya dengan orang lain adalah ketika sekelompok lelaki menyeret ibunya dan Kingsley keluar dari gubuk mereka, lalu mengikat sang ibu di salah satu pohon. Jadi jangan heran bila Kingsley bertekad membunuh semua orang yang ditemuinya, sejak sang ibu tewas dalam kobaran api.
“Cepatlah pergi! Sebelum aku berubah pikiran lalu membunuhmu,” perintah Kingsley tegas seraya berjalan menuju sungai berbatu di dekat mereka.
Tadi Kingsley tengah mengejar salah satu pembunuh ibunya yang berhasil melarikan diri ke hutan. Bukannya berhasil menangkap lelaki berjenggot putih itu, dia malah bertemu gadis cantik bermata hijau yang nyaris jadi korban pengganti.
Air sungai itu terasa sejuk saat Kingsley membasuh tangannya yang berlumur darah. Perlahan kuku panjangnya kembali pendek, seiring emosinya yang mulai reda.
Selesai membasuh tangan, Kingsley bangkit lalu berbalik. Namun gerakannya terhenti saat melihat gadis bermata hijau itu belum pergi. Malah menghampar kain lebar di atas tanah lalu mendudukinya. Yang lebih mengejutkan lagi, senyum gadis itu mengembang saat tatapan mereka beradu, membuat Kingsley dengan bodohnya menoleh kanan-kiri untuk memastikan tidak ada orang lain di dekatnya.
“Kenapa kau masih di sini?” tanya Kingsley seraya menghampiri tempat gadis bermata hijau tengah duduk. “Kau tidak takut aku membunuhmu?”
Senyum gadis itu semakin lebar. “Kau tidak terlihat seperti pembunuh. Kau tampak seperti anak lelaki yang kelaparan.” Lalu gadis itu menepuk tempat di sebelahnya, sebagai isyarat agar Kingsley duduk. “Kebetulan aku juga harus makan siang. Jadi kita makan siang bersama.”
Kingsley menggaruk kepalanya dengan bingung. Apa peringatannya kurang jelas?
“Kenapa kau lama sekali? Ibuku akan marah kalau aku tidak makan siang tepat waktu.” Gadis itu menunjuk langit. “Matahari akan bergeser sebentar lagi.”
Ibu?
Mendadak rasa sakit mencengkeram dada Kingsley. Dirinya sudah tidak punya ibu. Bahkan rumah yang ditinggalinya bersama sang ibu telah hancur menjadi abu, dikelilingi bangkai para pembunuh ibunya.
Tak sabar menunggu Kingsley beranjak dari tempatnya berdiri mematung, gadis bermata hijau itu bangkit berdiri lalu menghampiri Kingsley. Tanpa khawatir pakaiannya kotor karena darah di tubuh dan pakaian Kingsley, dia memegang jemari Kingsley lalu menariknya.
Kingsley hanya bisa menatap bingung ke arah gadis itu saat dirinya didorong agar duduk di kain yang menjadi alas di atas tanah penuh dengan daun kering itu. Lalu si gadis turut duduk seraya meraih keranjang dari anyaman bambu yang ditutup kain merah.
“Aku mengambil roti isi untuk makan siang. Ini buatan Meida, pelayan di rumahku. Dan dia manusia. Masakannya yang paling enak. Semoga kau suka.”
Gadis itu menyerahkan makanan di tangannya yang diambil dengan ragu oleh Kingsley. Dia masih tidak mengerti mengapa ada orang yang begitu baik padanya yang sudah membunuh banyak orang.
“Kenapa kau tidak makan bersama ibumu di rumah?”
Gadis itu menghela napas. “Ibuku ratu di kerajaan dryad. Dia selalu sibuk dengan banyak hal. Jadi hanya sesekali saat malam kami bisa makan bersama.”
“Lalu ayahmu?” tanya Kingsley hati-hati.
“Ayahku terbunuh dalam sebuah perang,” sahut Queenza sedih. “Dia hanya manusia tapi bersikeras turut bertarung untuk mempertahankan kerajaan dryad. Saat itu aku masih terlalu kecil. Jadi ingatan tentangnya hanya samar-samar.”
“Kau beruntung. Aku bahkan tidak tahu siapa ayahku.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Kingsley. Dia bahkan kaget dirinya bisa dengan santai bercerita pada orang asing.
“Kau pasti sedih sekali. Lalu ibumu di mana?”
“Itu—” Kingsley tidak sanggup menceritakan tentang ibunya. “Aku ingat ibuku pernah bercerita. Satu-satunya makhluk yang tidak akan bisa memiliki keturunan jika menikah dengan bangsa manusia adalah bangsa dryad. Tapi kenapa kau bisa lahir?”
Gadis itu mengerti bahwa anak lelaki di hadapannya tidak mau membahas tentang ibunya. “Hmm, kata ibuku karena dia sangat mencintai ayah dan ayah juga sangat mencintai ibuku. Makanya aku bisa hadir di antara mereka.”
“Benarkah bisa seperti itu?” raut wajah Kingsley tampak tak percaya.
Gadis bermata hijau mengibaskan tangan. “Pokoknya kata ibuku seperti itu. Ayo cepat dimakan.”
Melihat gadis itu mulai menikmati rotinya, Kingsley pun melakukan hal yang sama. Satu gigitan, dan dia sadar ucapan gadis itu bukan bualan. Rotinya memang lezat. Akhirnya Kingsley tidak bisa menahan diri untuk memakan roti itu dengan cepat.
“Kau benar-benar kelaparan. Sayang sekali aku hanya bawa dua.”
“Aku sudah kenyang.” Kingsley menjilat remah-remah roti di tangannya. “Tapi kalau ibumu memang seorang ratu, kenapa kau makan di dalam hutan sendirian?”
Gadis itu nyengir. “Aku pergi diam-diam. Aku hanya bilang akan makan di kediamanku.” Raut wajah gadis itu berubah sedih. “Sebenarnya walau ibuku berkata bahwa aku lahir karena cinta, tapi kaum dryad menganggap kelahiranku adalah kutukan. Sama seperti makhluk campuran antara kaum dryad dan manusia yang hidup ratusan tahun lalu. Dia membuat kerajaan dryad banjir darah dan nyaris hancur.”
“Karena itu kau tidak punya teman dan memilih bermain sendirian di hutan,” tebak Kingsley tepat sasaran.
Gadis itu tersenyum sedih seraya mengangguk. Lalu dia mendongak, menatap matahari yang mulai bergeser dari puncak tertingginya. “Dan waktuku bermain sudah habis. Aku harus segera pulang.”
“Tapi—” Kingsley ingin mencegah gadis itu pergi. Tapi dirinya sadar ia tidak pantas.
“Kenapa?” tanya si gadis seraya merapikan keranjangnya lalu berdiri.
Kingsley turut berdiri. “Aku—aku belum tahu namamu.”
“Queenza. Dan kau?”
Kingsley terpana mendengar namanya. “Kingsley.”
“Kau bercanda?” gadis itu tertawa kecil. “Mungkin suatu hari nanti kau akan jadi raja dan aku jadi ratumu.”
“Kau mau?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Kingsley.
“Tentu saja. Kau cukup tampan untuk jadi raja.”
Kingsley berdehem sambil membusungkan dada. “Kalau begitu aku akan memastikan kau menjadi ratuku.”
Queenza tersenyum lebar seraya melambai. Perlahan, tubuhnya berubah jadi kelopak bunga yang menebarkan aroma wangi. Kelopak-kelopak itu terbang, mengitari tubuh Kingsley satu kali lalu melayang tinggi hingga menghilang dari pandangan.
Kingsley ternganga takjub melihat keindahan itu. Ibunya sudah sering bercerita tentang bangsa dryad dan bangsa-bangsa yang lain. Tapi perubahan wujud bangsa dryad menjadi kelopak bunga jauh lebih memikat saat melihat langsung daripada sekedar mendengar cerita.
“Kau akan jadi ratuku, Queenza. Tunggu saja.” Kata-kata itu adalah janji yang pasti akan Kingsley penuhi.
***
“Menikah?!” pekik Queenza tak percaya. Mendadak dia seolah memiliki tenaga untuk bangkit berdiri lalu melotot ke arah Kingsley. “Aku masih sekolah. Aku tidak mau menikah di usia tujuh belas tahun!”
“Tidak perlu berteriak seperti itu. Bukan sekarang. Kita perlu kembali ke Immorland untuk menikah. Tapi itu tidak bisa dilakukan sebelum aku tahu bagaimana situasi sebenarnya di sana. Jadi aku masih harus menunggu informasi dari Mochi.”
“Tapi tetap saja, aku belum mau menikah. Apalagi menikah denganmu!”
“Memangnya aku kenapa?” mata Kingsley menyipit tak suka.
“Aku tidak mau menikah dengan mantan tengkorak.”
“Hei, itu masa lalu. Yang penting adalah sekarang. Dan sekarang aku tampan,” ujar Kingsley dengan nada tersinggung. “Dan kau sudah berjanji.”
“Kau menjebakku!”
“Di bagian mana aku menjebakmu?!”
“Permisyi! Emang lagi syantik… tapi bukan sok syantik. Syantik syantik gini… hanya untuk dirimu!”
Kingsley dan Queenza sama-sama terdiam.
“Apa itu?”
Queenza mencibir. “Kupikir kau sudah tahu segalanya setelah menyerap ingatanku.” Tanpa menunggu tanggapan, dia mengambil uang receh yang sering ia selipkan di laci dapur lalu menyerahkannya ke tangan Kingsley. “Berikan uang itu pada pengamen di depan.”
Kingsley berdecak malas tapi tidak membantah. Dia berdiri lalu bergegas menuju pintu.
Queenza menghela napas lega setelah Kingsley pergi. Otaknya serasa penuh sekarang. Kenyataan bahwa kini dirinya kecanduan darah Kingsley masih sulit diterima. Dan sekarang Kingsley sudah mencekokinya dengan keinginan tak masuk akal lelaki itu. Dia ingin menikahi Queenza. Astaga!
Dengan kasar Queenza mengangkat piring bekas makan dirinya dan Kingsley lalu menetakkannya dalam bak cuci piring. Untung piring-piring itu cukup kuat untuk menahan amarah Queenza. Jika tidak, mungkin sekarang jemari Queenza sudah terluka karena pecahannya.
Selesai mencuci piring dan mengeringkannya, Queenza bertekad untuk masuk sekolah hari ini. Dia butuh menghindar dari Kingsley. Butuh kembali ke rutinitas normalnya. Jika terus di sini, tak lama lagi dirinya pasti akan jadi gila.
“Queenza!”
Suara teriakan itu samar didengar Queenza. Namun dia yakin itu suara Kingsley. Memang aneh kenapa Kingsley lama sekali padahal hanya menyerahkan uang receh pada pengamen. Buru-buru dia menuju pintu depan untuk melihat apa yang tengah menimpa Kingsley. Namun langkah Queenza membeku di ambang pintu yang terbuka. Kedua tangan menutup mulutnya yang ternganga, antara ingin tertawa keras atau meringis kasihan.
Tampak di bawah pohon mangga depan rumah Queenza, dua banci melompat-lompat hendak meraih sesuatu. Sementara Kingsley memeluk salah satu dahan pohon mangga, seolah itu tali penyelamatnya.
“Duh, eike jatuh cintrong ama tuh lekong.” Banci dengan wig ikal panjang dan rok bergaris selutut.
“Bang, sindang turun. Capcus hamilin eike, Bang!” banci berambut lurus dengan pakaian yang menyerupai gaun tidur melompat-lompat sambil melemparkan ciuman jauh ke arah Kingsley.
“Queenza!” Kingsley kembali berteriak.
Berusaha meredam tawanya, Queenza meraih selang untuk menyiram tanaman lalu menyalakan airnya. Seperti mengusir hewan liar dari halaman rumahnya, Queenza menyemprot kedua banci itu hingga keduanya lari keluar pagar diiringi sumpah serapah.
“Jahara bingit cyin, tuh pere!”
“Eike doain tumbuh bintil-bintil di anunya lekong yey!”
“HUUAAA!!”
Kedua banci itu langsung melepas high-heels lalu berlari secepat kilat saat melihat Queenza menghampiri mereka dengan gunting bunga di tangannya.
Melihat kedua banci itu pergi, Queenza tak kuasa lagi menahan tawa. Dia meletakkan gunting bunga di atas rumput hias lalu menghampiri pohon mangga tempat Kingsley masih memeluknya dengan setia bagai seorang kekasih.
“Mereka sudah pergi. Ayo turun!”
“Aku… tidak bisa!” suara Kingsley lemah.
Queenza menahan tawa gelinya yang hampir menyembur kembali. “Kenapa tidak? Kau mau di situ seharian? Bagaimana kalau mereka kembali?”
Tubuh Kingsley tampak menegang. Tapi detik berikutnya, dia menghilang dari atas pohon mangga.
Queenza terbelalak. Dia segera masuk kembali ke dalam rumah seraya menggerutu dalam hati. Kalau dia bisa menghilang begitu, kenapa tidak dari tadi?
“Kingsley!”
Queenza mencari di dapur namun tak ada siapapun di sana. Tujuan Queenza kemudian adalah kamar dan ternyata menemukan Kingsley duduk di sudut kamar dengan kedua kaki ditekuk.
“Hei, kalau kau bisa—”
“Huaaa…!!! Aku sudah ternoda!”
Ternoda?
Queenza ternganga seraya berlutut di depan Kingsley yang raut wajahnya tampak sangat menderita. “Mereka sudah melakukan apa padamu?”
“Mereka menodai mataku… huaaaa!”
“Hah?”
“Mereka mengangkat rok… lalu menunjukkan anu mereka padaku…huaaa…”
Queenza meringis. “Kenapa tidak kau bakar anu mereka? Atau lakukan apapun seperti saat kau melawan musuh?”
Kingsley tertegun, seolah baru sadar dirinya memiliki kekuatan. “Ya, benar. Kenapa aku tidak melakukannya!” Lalu dia hendak berdiri seperti orang yang siap balas dendam, tapi kemudian urung dan memilih duduk kembali.
“Kenapa tidak jadi?”
“Aku tidak bisa. Mereka… adalah makhluk jadi-jadian paling mengerikan yang pernah kuhadapi.”
Seketika tawa Queenza pecah.
-------------------------
♥ Aya Emily ♥