
Jumat (07.44), 10 April 2020
--------------------------
Guardian satu ini cukup merepotkan, pikir Kingsley. Tapi dia mengagumi sifat pantang menyerahnya. Bahkan meski pernah terluka parah di pertarungan terakhirnya.
Kingsley masih bersandar dengan tenang di kursinya. Perhatiannya tertuju pada gadis cantik yang tengah mengarahkan pedang ke sisi leher Queenza. Matanya menyipit saat merasakan aura manusia yang kental namun sudah berbaur dengan aroma guardian di tubuh gadis itu. Jelas dia pasangan guardian di belakang Kingsley.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, pedang di sisi leher Kingsley mulai bergerak hendak mengiris. Namun sebelum itu terjadi, Kingsley mengibaskan tangan ke belakang Queenza seperti mengibas nyamuk hingga membuat gadis di belakang Queenza memekik saat tubuhnya terlempar ke belakang lalu punggungnya membentur lemari. Bersamaan dengan itu Kingsley berkelit ke samping menghindari tebasan pedang sang guardian.
“Em, kau baik-baik saja?” tanya Tristan khawatir melihat Emily berusaha berdiri tegak.
“Mana mungkin baik-baik saja? Ini sakit sekali.” Emily merengut dengan gaya merajuk lalu mengalihkan perhatian pada Kingsley. “Kau kasar sekali pada perempuan!”
“Maaf, Nona. Aku tidak akan kasar kalau kau tidak bermain-main dengan benda berbahaya itu.” Kingsley tersenyum meminta maaf. Sementara itu Queenza masih membeku di tempat dengan tubuh gemetar.
Tristan mengabaikan ucapan Kingsley. Perhatiannya tertuju pada gadis yang tampak ketakutan di kursi meja makan. Seperti yang sudah dijelaskan Kevlar, Kingsley hanya bisa dibunuh dengan membunuh gadis itu. Dan Tristan harus melakukannya secara cepat sebelum kekuatan gadis itu muncul.
Diam-diam Tristam melukai jemarinya sendiri lalu melontarkan darahnya sebelum lukanya sembuh. Namun darah itu tidak mengenai tubuh Queenza seperti yang diharapkan Tristan karena Kingsley sudah lebih dulu menciptakan lapisan pelindung di sekitar Queenza.
Tristan bergerak cepat ke arah Kingsley sambil mengayunkan pedangnya. Kingsley terpaksa menarik tangannya yang terulur untuk melindungi Queenza karena menghindari tebasan pedang sang guardian.
“Em, serang dia sekarang!”
Tanpa menunggu lagi, Emily mengayunkan pedangnya mengincar leher Queenza. Terdengar pekik ketakutan Queenza saat ia menjatuhkan diri ke lantai lalu merangkak bersembunyi ke bawah meja.
“Tidak baik menyuruh wanita saling melukai,” tegur Kingsley seraya memutar ke samping menghindari serangan pedang Tristan. Akibatnya pedang itu menggores dinding dapur.
Tristan semakin geram karena sedari tadi lawannya hanya terus menghindar seolah meremehkan kemampuannya. “Jangan menghindar terus. Lawan aku!”
“Queenza akan marah kalau barang-barangnya rusak. Sebaiknya kita keluar saja.”
BRAKK!
“Aaaaa!!!”
Queenza berteriak saat meja makannya terbelah menjadi dua akibat tebasan pedang Emily. Buru-buru Queenza bangkit lalu berjalan mundur, menatap takut ke arah Emily yang kian mendekat.
Tristan kembali menyerang Kingsley agar Kingsley tidak memiliki kesempatan menyelamatkan Queenza. Seperti tadi, Kingsley hanya menghindar hingga ia mundur keluar melalui pintu belakang. Matahari pagi langsung menyambut sosok kedua lelaki itu dengan suka cita.
“Untuk ukuran guardian, kau lumayan tangguh juga,” puji Kingsley masih sambil menghindar.
Tristan semakin geram karena merasa diejek. Dia berhenti menyerang dengan napas terengah sementara Kingsley masih tampak santai dengan kedua tangan terjalin di belakang tubuh.
Lagi-lagi Tristan melukai tangannya yang tidak memegang pedang. Dia menjentikkan jari, membuat darah di jarinya terlontar ke atas lalu perlahan membesar. Warnanya tidak lagi putih melainkan hitam pekat. Dan kali ini tidak sekedar melukai, namun langsung meledakkan apapun yang terkena sentuhannya.
“Tidak bermaksud sombong. Tapi aku pernah menghadapi yang lebih ganas dari itu. Jadi kau hanya buang tenaga.”
Grrr!
Tristan semakin murka. Dia mengibaskan tangan ke arah busa hitam yang melayang di depannya. Busa itu langsung melesat cepat lalu memecah menjadi bagian-bagian kecil yang menyerang Kingsley dari berbagai arah.
Sedetik sebelum busa hitam menyentuh tubuh Kingsley, mendadak dia menghilang lalu muncul kembali sekitar tiga meter dari tempatnya berada tadi.
DHUARR!
Suara ledakan saat busa-busa kecil itu saling menghantam di satu titik terdengar keras dan memekakkan telinga. Bahkan tanah yang mereka pijak terasa bergetar karena kuatnya ledakan itu.
“Fyuuhh! Untung aku sempat membuat pelindung di sekitar sini sebelum kalian datang. Tapi pelindung ini hanya membuat para manusia menjauh dan tidak bisa mendengar suara apapun dari rumah ini. Namun sama sekali tidak berlaku bagi makhluk lain. Jadi kalau ada yang bertanya, kau yang harus menjelaskan sebagai sang pelindung.”
“Kau terus-menerus mengejekku. Akan kubuat kau tidak bisa tersenyum lagi.” Tristan kembali mengangkat pedangnya dan bersiap menyerang Kingsley lagi.
“Kaum guardian memang selalu kesulitan bertarung jarak jauh. Kalian lebih mematikan dalam pertarungan jarak dekat. Tapi guardian keturunan murni memiliki kemampuan istimewa. Mengubah apapun yang dia sentuh menjadi senjata berbahaya. Itu bisa digunakan untuk pertarungan jarak jauh. Dan sepertinya kau salah satu keturunan murni.”
Tristan terdiam tidak mengerti. Sejenak dia menatap tangannya yang memegang pedang. Memang sejauh yang ia tahu, hanya dirinya yang memiliki kekuatan ini. Tapi dia tidak menyangka itu ada hubungannya dengan keturunan. Wajar saja. Tristan memang tidak pernah memikirkan kedua orang tuanya sejak dirinya tahu orang tuanya menjalin hubungan asmara tanpa pernikahan hingga Tristan lahir. Di Immorland, itu adalah aib.
“Mungkin kau sudah tahu tentang itu,” lanjut Kingsley. “Tapi sepertinya kau belum tahu bahwa kekuatanmu itu bisa dialirkan. Kau mengalirkan kekuatanmu ke pedang, dan kau pun bisa mengalirkannya lagi ke benda apapun yang disentuh pedangmu. Termasuk tanah yang kupijak.” Kingsley tersenyum. “Kau mengerti maksudku, kan?”
Cahaya merah bagai petir tampak di tanah yang tersentuh pedang. Merambat cepat dengan gerakan tak beraturan ke arah Kingsley. Bahkan cahaya-cahaya merah petir di atas tanah itu menyebar, menyerang Kingsley dari berbagai arah, membuat tidak ada tempat aman untuk berpijak.
Lagi-lagi Kingsley tersenyum sebelum matanya bersinar biru terang. Bersamaan dengan itu, muncul sayap berbulu putih cerah di belakangnya, merentang lebar seolah menggeliat setelah sekian lama tertidur. Lalu sayap itu mengepak pelan, membuat tubuh Kingsley melayang di udara.
Tristan ternganga melihat pemandangan itu hingga tanpa sadar melepas aliran kekuatan di pedangnya. Bukan hanya karena sayap berbulu putih selembut kapas seperti itu tidak pernah ia temui sebelumnya. Tapi juga pancaran energi di sekitar Kingsley yang berubah lebih kuat dan besar. Aura yang terasa unik. Lembut bagai tak berbahaya sekaligus mengerikan.
Melihat Tristan sudah tenang, perlahan mata biru Kingsley yang semula bersinar terang mulai meredup. Tubuhnya melayang turun hingga kembali menatap tanah. Namun sayap lebar di punggungnya tetap terentang dengan gagahnya.
“Tidak perlu repot-repot memuji. Aku memang hebat dan keren.” Kingsley menyusurkan jemari di antara helai rambutnya dengan gaya sombong. Lalu dia menggeliat seraya meregangkan tangan seperti orang yang tubuhnya terasa kaku saat bangun tidur. “Sudah lama aku tidak menggunakan sayapku. Rasanya seperti bebas.” Sayap di punggung Kingsley mengepak, menciptakan angin yang mengibas pot bunga milik Queenza hingga jatuh dan pecah. “Ups! Queenza akan marah melihat itu.”
Tristan masih menatap Kingsley yang terlihat begitu tenang padahal ada musuh di dekatnya. Lalu dia menunduk menatap pedangnya yang masih tertancap di tanah sejenak sebelum kembali menatap Kingsley. “Kenapa kau melakukannya?” tanya Tristan kemudian.
“Melakukan apa?” Kingsley menghampiri Tristan.
Tristan tersenyum penuh ironi. Rautnya tampak bingung menandakan ada banyak yang mengganggu pikirannya. “Kenapa kau mengajariku cara menggunakan kekuatanku? Bukankah itu berbahaya bagimu?”
“Sekali lagi bukan bermaksud sombong tapi pada dasarnya aku memang sombong. Kau sama sekali bukan tandinganku. Kau bahkan belum bisa menggunakan seluruh kekuatan kaum guardian dengan sempurna. Kau perlu banyak belajar sebelum bermimpi bisa mengalahkanku.” Kingsley menyeringai.
Tristan terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Otaknya bahkan masih kacau karena belum bisa menerima penjelasan Kevlar mengapa dirinya harus menikahi Emily. Seharusnya dia belum boleh pergi sekarang. Tapi Tristan merasa tertekan dan memutuskan kembali mendatangi Queenza meski tanpa izin. Dia hanya ingin menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya tapi tidak menyangka akan berada dalam situasi seperti ini. Berhadapan dengan musuh yang—sama sekali tidak menganggap Tristan sebagai musuh.
Kingsley memperhatikan Tristan yang tampak kacau dengan pikirannya sendiri. Keningnya berkerut memikirkan sebuah kemungkinan lalu memilih menanyakannya. “Kenapa kau menikahi gadis manusia? Bukankah itu aturan yang tidak boleh dilanggar? Dan kau sebagai prajurit guardian bukankah bertugas menegakkan aturan?”
Tristan tertawa sumbang. Tangannya memegang gagang pedang dengan kuat lalu mencabutnya dari tanah. Kemudian dia mendongak membalas tatapan mata biru Kingsley. “Sayang sekali aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu karena aku sendiri tidak tahu. Mereka bilang itu bisa menyelamatkanku karena kondisiku sangat buruk saat pertarungan terakhir. Tapi—semua penjelasan itu belum bisa diterima akalku. Dan aku semakin tidak mengerti mengapa orang yang katanya kejam dan memiliki kekuatan mengerikan yang bisa menghancurkan Immorland mau memberitahuku bagaimana cara menggunakan kekuatanku, bahkan sama sekali tidak mencoba melukaiku.”
“Mungkin aku sedang pura-pura baik?”
Tristan mendengus. “Ya, mungkin saja.” Lalu dia tertegun saat mengingat sesuatu. “Emily!” serunya seraya melesat masuk ke dalam rumah.
Kingsley tersenyum kecil seraya mengikuti guardian yang belum ia ketahui namanya itu. Perlahan sayapnya menekuk kembali ke punggung lalu perlahan menghilang, menyisakan pakaian Kingsley yang berlubang di area tempat sayapnya keluar.
Jantung Tristan berdegup kencang karena perasaan khawatir yang melingkupinya. Melihat Kingsley baik-baik saja, itu artinya Emily tidak berhasil melukai Queenza. Dan mungkin alasannya karena jiwa Queenza yang lain telah muncul.
Tapi begitu tiba di dapur yang berantakan karena pertarungan tadi, Tristan tertegun. Dia mendapati Emily dan Queenza heboh membicarakan resep makanan sambil memotong-motong daging dan sayuran.
“Em, apa yang kau lakukan?”
Emily mendongak dari daging yang sedang dipotong-potongnya lalu melambai ke arah Tristan. “Errie, Queenza jago memasak. Kita kan belum sarapan dan Queenza juga belum sempat memakan sarapannya. Jadi kita makan bersama mereka, ya?”
“Tapi—” Tristan menatap Emily tidak mengerti. “Mengapa kau percaya padanya?”
Emily hanya tersenyum lembut sebagai tanggapan lalu beralih pada Queenza. “Queenza, kau harus mengajariku resep yang lain.”
Queenza mengangguk antusias. “Sering-sering saja datang ke sini.”
“Tentu saja!” seru Emily senang.
Kingsley yang baru memasuki dapur namun mendengar jelas pembicaraan mereka menepuk bersahabat pundak Tristan. “Jangan terlalu dipikirkan. Ikut saja sarapan bersama kami.”
Tristan hanya menatap Kingsley tanpa ekspresi, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Maaf kutinggal dulu. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Pekerjaan?” tanya Queenza.
“Aku mau daftar Instagram. Katanya aku akan dapat banyak uang kalau bisa jadi Selebgram.”
“Hah?”
Ketiga orang di dapur itu hanya bisa melongo mendengar jawaban Kingsley.
----------------------------
♥ Aya Emily ♥