Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Kekuatan manusia



Jumat (07.55), 10 April 2020


-------------------------


Tadinya Queenza pikir hari ini akan jadi akhir hidupnya saat melihat gadis cantik bermata hazel dengan pedang tajam di tangannya berjalan mendekati Queenza. Dan saat pedang di tangan gadis itu terangkat lalu mengayun, Queenza memekik seraya menutup wajah dengan kedua tangan. Dia semakin mengkerut ketakutan mendengar pedang tajam itu menancap dinding di samping kepala Queenza.


“Aroma apa ini? Lezat sekali.”


Suara lembut gadis di depan Queenza terdengar. Bukannya lega, Queenza semakin ngeri karena menduga yang dimaksud gadis itu adalah aroma darahnya.


“Apa kau yang memasak sendiri makanan itu?”


Makanan?


Masak?


Ragu, Queenza menurunkan kedua tangan dari wajah lalu mengintip. Gadis cantik itu tidak lagi berada di depan Queenza. Dia malah tampak asyik memperhatikan peralatan memasak milik Queenza.


“Wow, kau punya peralatan memasak yang lengkap. Bahkan ada satu set pisau berbagai ukuran.” Emily benar-benar kagum. Dia tidak punya teman manusia dan makhluk Immorland kebanyakan tidak terlalu pandai memasak atau apapun yang berhubungan dengan kreativitas. Mungkin karena terbiasa menggunakan kekuatan dan fokus untuk meningkatkannya membuat mereka kurang berambisi untuk mencipta.


Queenza masih menatap gadis itu dengan hati waswas seraya berusaha menegakkan tubuh. Dia tersentak kaget saat menyadari pedang yang masih tertancap di dinding dekat kepalanya lalu bergeser secara diam-diam.


“Namamu Queenza, kan? Aku Emily.”


Queenza memekik seraya memegang dada saat menyadari gadis bernama Emily itu sudah ada di hadapannya sambil mengulurkan tangan. Padahal dirinya sudah terbiasa dengan gerakan cepat makhluk non-manusia seperti Kingsley. Tapi Queenza tetap kaget dengan gerakan Emily karena dirinya ketakutan.


“Kau takut padaku, ya?” tanya Emily dengan nada sedih.


Ya! “Ehm—tidak,” jawab Queenza ragu.


Emily tersenyum geli. “Kalau begitu kita bersalaman. Aku ingin jadi temanmu.”


Apa ini jebakan? Pikir Queenza. Tapi menuruti kata hati, perlahan Queenza menerima jabat tangan gadis itu.


“Aku tidak benar-benar ingin menyakitimu,” ujar Emily setelah jabat tangan mereka lepas. “Setelah melihat wajahmu, aku tahu kau bukan orang jahat.”


“Oh ya?” tanya Queenza ragu, belum sepenuhnya percaya pada gadis itu.


Emily tersenyum lebar tanpa berniat memberikan penjelasan. “Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apa kau sendiri yang memasak makanan itu?” Emily menunjuk piring dan gelas pecah di lantai sambil meringis. “Maaf sudah merusak barang-barangmu.”


“Tidak apa-apa.” Jemari Queenza saling meremas, masih berpikir dirinya belum sepenuhnya aman. “Ya, aku yang memasaknya.”


“Wah, senang sekali mendengarnya. Aku tidak punya teman yang bisa masak. Mau mengajariku beberapa resep?”


“Kau mau?”


“Tentu saja. Nanti aku akan mempraktekkannya di rumah. Errie sangat menyukai masakanku.”


“Errie? Lelaki yang tadi?” Queenza terbelalak. “Apa Kingsley akan baik-baik saja?” Dia mulai dihinggapi rasa khawatir.


Emily tersenyum lembut. “Kurasa Errie bukan tandingannya. Dia pasti baik-baik saja. Dan aku yakin juga bukan orang jahat.”


“Kenapa kau bisa yakin? Kita harus melerai mereka sebelum ada yang terluka.”


DHUARR!


Kedua gadis itu sama-sama kaget mendengar suara keras dari halaman belakang. Tapi kemudian Emily tersenyum sedih.


“Tentu saja aku yakin. Menghadapimu saja nyaris merenggut nyawanya. Errie hanya bermimpi bisa mengalahkan Kingsley.”


“Aku?” tanya Queenza bingung.


“Kau tidak ingat pada guardian yang kau kalahkan sekitar seminggu yang lalu?”


Queenza terkesiap sambil menutup mulut dengan kedua tangan saat memori mengerikan itu merasuk dalam benaknya. “Jadi—jadi makhluk bersayap yang hampir meninggal itu—”


“Ya, Errie-ku,” lanjut Emily. “Awalnya aku setuju datang ke sini berniat membalas dendam karena kau telah menyakiti Errie-ku. Tapi setelah bertemu langsung denganmu, aku jadi tidak bisa melukaimu. Kau bukan orang jahat. Pasti waktu itu kau hanya berusaha melindungi diri karena Errie yang berniat melukaimu lebih dulu.”


Queenza menghela napas lalu balas tersenyum. “Aku lega mendengarnya.”


“Ya, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu.”


“Bukan, maksudku—lega mengetahui bahwa lelaki yang nyaris meninggal karenaku sudah baik-baik saja. Aku tidak tenang selama berhari-hari memikirkan bahwa aku telah membunuh orang.”


Senyum Emily merekah. “Jadi, kau mau membagi resep denganku, kan?”


“Ya. Apa kau sudah sarapan?”


Emily menggeleng. “Belum.”


“Kalau begitu kita coba memasak sesuatu untuk sarapan. Aku juga belum sempat memakan sarapanku.”


Seketika wajah Emily berbinar. Dia mengangguk antusias lalu membuntuti Queenza menuju meja pantry.


***


“Apa dia benar-benar akan daftar Instagram?” tanya Emily seraya menuangkan potongan sayur dan daging ke dalam panci berisi air dan rempah yang sudah mendidih.


Queenza menghela napas. “Aku tidak tahu. Dia jadi kecanduan internet sejak aku mengenalkannya. Dia selalu penasaran dengan banyak hal dan berusaha mempelajarinya. Persis seperti bocah.” Queenza geleng-geleng kepala.


“Jadi benar bahwa dia makhluk purba yang hidup kembali di zaman modern?”


Queenza terkikik geli mendengar istilah itu. “Ya, kurasa begitu. Kau pasti ngeri saat melihat wujud awalnya,” gerakan Queenza yang sedang mengelap meja pantry terhenti saat menyadari sesuatu. “Bagaimana kau tahu tentang Kingsley? Kau bahkan tahu nama kami berdua.”


“Itu karena—”


“Emily!” peringat Tristan.


Lelaki itu sedari tadi hanya berdiri sambil menyandarkan bahu di ambang pintu belakang seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi rupanya dia juga mendengarkan pembicaraan Queenza dan Emily.


“Sepertinya sesuatu yang tidak boleh diungkap.” Emily angkat bahu.


Queenza mengangguk pelan sambil melirik takut ke arah punggung Errie. Walau lelaki itu tampaknya tidak berniat menyerang lagi, tapi jelas tidak menyukai berada di sini.


“Ngomong-ngomong, apa Errie itu kekasihmu?” tanya Queenza dengan suara rendah.


Emily tertawa kecil. “Namanya bukan Errie. Dia Tristan. Errie itu panggilan seperti Ayah atau Papa.”


“Oh, maaf!” Queenza meringis.


“Tapi tampaknya kalian menikah.”


Kedua gadis itu menoleh ke arah Kingsley yang entah sejak kapan sudah ada di belakang mereka.


“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Emily menahan senyum geli.


“Belum. Aku hanya ingin ambil minum.”


Queenza menatap mata Kingsley tajam. “Foto siapa yang kau pasang di profil IG-mu?”


“Tidak ada.”


“Kau harus memasang fotomu.” Emily mendesah. “Aku jadi ingin membuat akun instagram juga. Bolehkan, Errie?”


“Tidak!”


Emily merengut mendengar jawaban tanpa basa-basi itu.


“Suamimu sangat menyebalkan.” Komentar Kingsley. “Kenapa kau mau menikah dengan manusia es itu?”


Queenza mengerutkan kening. “Kalian benar-benar menikah? Tapi kau memanggilnya Errie yang artinya Ayah. Aku jadi tidak mengerti.”


“Kami tidak perlu menjelaskan apapun.” Tristan menegakkan tubuh lalu menghampiri mereka bertiga. “Em, sebaiknya kita kembali sekarang. Ada yang ingin kucari tahu.”


“Tidak bisakah sampai kita sarapan dulu?” pinta Emily dengan nada memohon.


“Tidak!”


“Kalau boleh aku tahu,” ujar Kingsley lambat-lambat. “Apa yang ingin kau ketahui? Mungkin aku bisa memberi petunjuk.”


Tristan menatap Kingsley tajam. “Sejujurnya aku masih tidak percaya padamu. Bagiku kau adalah musuh.”


“Sayang sekali.” Kingsley angkat bahu. “Padahal aku bisa mengajarimu menguasai kekuatan guardian sepenuhnya tanpa perlu menjadikan manusia sebagai alat.”


Gerakan Emily yang sedang mengaduk masakan dalam panci langsung terhenti. Dia menoleh menatap Kingsley penuh tanya. Begitu pun Tristan. Lelaki itu mengerutkan kening tanda tidak mengerti.


“Apa maksudmu?” Emily yang lebih dulu bertanya. Dia merasa agak terganggu dengan ucapan Kingsley. Menjadikan manusia sebagai alat? Apa yang Kingsley maksud adalah dirinya?


Bukannya menjawab, Kingsley malah balik tanya, “Apa kau tahu alasan mengapa makhluk Immorland dilarang menjalin hubungan asmara dengan manusia?”


“Katanya itu akan merusak keseimbangan alam. Dan itu juga alasannya mengapa manusia memiliki dunia yang terpisah dengan kaum Immorland. Karena manusia tidak boleh menjalin hubungan cinta dengan selain sebangsanya.”


Kingsley tersenyum kecil. “Kalau memang seperti itu, seharusnya kalian berdua juga dihukum karena telah menikah demi menjaga keseimbangan alam. Begitu juga dengan pasangan suami istri yang menyelamatkan Tristan. Mereka juga harus dihukum karena yang satu guardian dan satunya lagi manusia.”


“Maksudmu—mereka berdua bukan sama-sama guardian?” tanya Tristan dengan nada tak percaya. Padahal dia sama sekali tidak mencium aroma manusia dari Paul ataupun Marlene. Menurut Emily, mereka berdua yang menyelamatkan dirinya.


“Yang wanita bukan. Tapi karena mereka sudah lama menikah—mungkin sudah lebih dari seratus tahun—aroma manusia si wanita mulai menghilang.” Kingsley menoleh ke arah Emily. “Sama sepertimu. Semakin sering kau bersama Tristan dan—hm, bercinta dengannya, semakin kau akan menyerupai kaum guardian, termasuk memiliki kekuatan seperti kekuatan Tristan. Dan semakin intim hubungan kalian, semakin bertambah kekuatan kalian.”


“Ke—kenapa bisa begitu?” suara Emily bergetar. Rasa sakit mencengkeram dadanya saat ia berpikir dirinya dimanfaatkan. “Apa hanya berlaku untuk manusia tertentu atau… atau—aku tidak mengerti.”


Kingsley menghela napas. “Semua makhluk memiliki keunikannya sendiri. Bahkan manusia yang sekarang dianggap makhluk lemah karena tidak memiliki kekuatan, sebenarnya memiliki keunikan yang jika digunakan dengan cara salah akan sangat mengerikan hasilnya.” Dia terdiam sejenak, agak tidak tega melihat mata Emily yang mulai berkaca-kaca. “Dan keunikan manusia terletak pada keturunannya.


“Jika makhluk Immorland menikah, meski berbeda kaum, keturunanya akan memiliki genetik salah satu orang tua. Misal guardian dan dryad yang menikah, maka anak mereka akan memiliki genetik guardian atau dryad. Tidak pernah perpaduan keduanya. Tapi jika seorang dryad menikah dengan seorang manusia, maka keturunan mereka akan menjadi lebih kuat dari orang tuanya. Kalau istilah zaman sekarang, spesies baru. Tapi biasanya anak mereka akan diakui sebagai kaum dryad. Seperti Queenza.”


“Aku?” tanya Queenza bingung.


Kingsley mengangguk. “Dan seperti nephilim.” Dia menoleh menatap Tristan. “Nephilim adalah keturunan malaikat dan manusia. Tapi akhirnya tidak diakui sebagai malaikat dan memiliki kekuatan yang berbeda dari kaum malaikat. Saat itu kaum malaikat terlalu sombong dan merasa sangat suci hingga keberadaan manusia dianggap menodai kesucian mereka. Karena itu keturunan mereka menjadi makhluk buangan hingga muncul kaum baru. Nephilim. Dan yang sekarang dikenal dengan sebutan guardian.”


Tristan ternganga, tidak menyangka ada rahasia sebesar itu dibalik larangan menjalin hubungan dengan kaum manusia. “Berarti aturan itu tidak salah, kan? Menjalin hubungan dengan manusia jelas akan merusak keseimbangan alam.”


“Tentu tidak salah. Jika aturan itu berlaku untuk seluruh makhluk. Tapi jelas salah, jika aturan itu dibuat agar kaum lain tidak bisa memiliki keturunan yang lebih kuat dari orang tuanya sementara salah satu kaum berusaha semakin meningkatkan kekuatan keturunan mereka. Apalagi jika kaum itu adalah kaum guardian karena bukan hanya keturunan mereka yang semakin kuat, tapi juga mereka sendiri. Guardian yang menikahi manusia. Keduanya juga bisa saling menyembuhkan. Bahkan aku berani bertaruh pemimpin kalian juga pasti memiliki pasangan manusia agar kekuatannya semakin meningkat.”


“Pemimpin kami belum menikah!” geram Tristan.


“Ah, pasangan belum tentu sudah menikah. Orang yang belum menikah pun juga bisa memiliki anak.”


TRAANGG!


Mendadak ujung pedang Tristan sudah berada di sisi leher Kingsley. Dadanya terasa panas. Dia merasa Kingsley menyindir dirinya. “Jaga bicaramu!”


Kingsley angkat bahu. “Aku hanya membeberkan fakta. Kau marah karena aku menduga kaisarmu adalah lelaki tak bertanggung jawab?”


Lama Tristan masih diam dalam posisi itu. Bahkan Emily dan Queenza juga tak berani sekedar bergerak. Tapi kemudian Tristan menarik kembali pedangnya. Kingsley bukan bermaksud menyindir orang tua Tristan. Bahkan mungkin lelaki itu sama sekali tidak tahu tentang orang tuanya.


“Em, ayo pulang.” Tristan kembali menyarungkan pedangnya.


“Tidak!” untuk pertama kalinya Emily menolak keinginan sang Errie. “Aku akan tetap di sini. Ada banyak yang ingin kuketahui.”


“Kita tidak bisa memercayainya.”


“Mungkin Errie tidak. Tapi aku bisa. Aku percaya pada mereka.” Emily menatap tajam Tristan tak mau dibantah.


Suasana terasa semakin tegang. Queenza yang sedari tadi hanya diam mendengarkan jadi bingung harus melakukan apa.


“Sebaiknya aku kembali ke kamar,” pamit Kingsley seraya menuang air dengan ke dalam gelas lalu menghilang dari sana.


Dalam hati Queenza mengutuk Kingsley. Lelaki itu yang memulai suasana tidak nyaman ini dan sekarang kabur begitu saja.


“Pokoknya aku akan tetap di sini. Kalau Errie mau pulang, silakan saja,” putus Emily lalu berbalik kembali ke arah kompor. “Queenza, kita lanjutkan lagi. Aku semakin lapar setelah pembicaraan tadi.”


“Em, aku—”


PRANG!


Suara gelas pecah terdengar dari arah kamar utama yang sudah diklaim Kingsley sebagai miliknya. Refleks Tristan langsung melesat sementara Queenza dan Emily berlari menuju arah suara.


“Apa yang terjadi?” tanya Tristan sambil menatap sekeliling kamar dan mengendus udara untuk mencari jejak aroma makhluk lain.


“Kingsley, kau baik-baik saja?” Queenza menghampiri Kingsley yang membeku di tengah ruangan lalu memegang lengannya. Hati-hati dia menghindari pecahan gelas di sekitar Kingsley.


“Aku tidak merasakan makhluk apapun selain kita,” Tristan memberitahu.


“Kingsley, katakan sesuatu!” Queenza semakin khawatir.


“Aku—” ucapan Kingsley terhenti hanya di satu kata itu seolah bingung bagaimana menjelaskan.


“Kau kenapa?” desak Queenza.


“Aku—aku memiliki follower.”


Serempak ketiganya menoleh ke arah laptop yang sepertinya memang ditinggal Kingsley dalam keadaan menyala. Layar laptop saat ini menampilkan halaman Instagram versi web dan tampak jelas angka satu di bagian jumlah follower.


“Lain kali aku akan benar-benar membunuhnya!” geram Tristan seraya berderap keluar kamar dengan perasaan jengkel.


-----------------------------


♥ Aya Emily ♥