Kingsley & Queenza

Kingsley & Queenza
Lawan yang berbahaya



Selasa (07.19), 07 April 2020


----------------------------


“Argh!” Kingsley dikejutkan dengan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang punggungnya hingga dia jatuh berlutut dengan satu kaki. Punggungnya terasa sangat panas, seperti ada bara api yang membakar jaringan kulitnya.


“Sial! Apalagi yang menimpa Queenza sekarang?”


Ada rasa khawatir di hati Kingsley, tapi juga kesal. Seumur hidup dia tidak pernah merasa tidak berdaya seperti sekarang. Bahkan dulu dirinya nyaris tidak pernah terluka.


Ngiiikk…ngiiikk!


Kingsley menoleh ke arah Mochi. Sambil meringis menahan sakit dia berkata, “Aku harus kembali. Ada sesuatu yang menimpa Queenza. Kau tetaplah di sini, awasi para guardian itu.”


Mochi hanya mengangguk sambil menatap Kingsley dengan mata besarnya. Setelah itu Kingsley berbalik, memejamkan mata membayangkan Queenza. Berharap dirinya sudah ada di dekat gadis itu saat membuka mata. Tapi beberapa saat kemudian, tidak ada yang terjadi. Kingsley mendapati dirinya masih di sana, hutan timur Immorland. Bahkan Mochi masih ada di belakangnya.


“Aku tidak bisa mencapai Queenza, Mochi. Sepertinya karena kami berada di dimensi yang berbeda.” Kingsley menipiskan bibir, menahan rasa sakit. “Aku harus pergi sekarang,” ujarnya kemudian lalu menghilang untuk mencapai batas dimensi yang sudah ditandainya.


***


CRRASSHHH!


Tristan kembali meringis. Kali ini punggungnya yang terluka akibat kelopak-kelopak bunga Queenza yang berputar di sekelilingnya.


Menghela napas, dia mencoba tenang. Lalu sepasang sayap dengan bulu-bulu layaknya bulu angsa berwarna kelabu muncul di punggungnya. Sayap itu terentang semakin lebar, tak peduli kelopak bunga melukainya.


Tristan terengah. Luka-luka di tubuhnya berdenyut, dan anehnya, proses penyembuhannya sangat lama. Dia berjuang menjaga kesadarannya untuk menyelamatkan diri.


Lalu mendadak, sepasang sayap di punggung Tristan bergerak, mengepak-ngepak layaknya burung besar. Awalnya pelan. Semakin lama semakin keras yang akhirnya mengibas kelopak-kelopak bunga Queenza dari sekelilingnya.


Kelopak-kelopak bunga itu kembali menyatu membentuk sosok Queenza. Dia sedikit terhuyung karena kerasnya kibasan sayap milik sang guardian.


“Hm, lumayan.” Ada nada mengejek dalam suara Queenza. Tapi ia akui, nephilim di depannya lumayan kuat. “Ini sedikit membosankan.” Sang ratu dryad melipat kedua lengan di depan dada. “Bagaimana kalau aku memberimu kesempatan melarikan diri dan aku akan mengejarmu? Kau jadi punya kesempatan untuk meminta bantuan dan aku akan bersenang-senang.”


Sedikit perasaan takut menyelinap di hati Tristan. Tapi hinaan terang-terangan yang ditunjukkan Queenza membuatnya murka. “Sebelumnya aku memang sempat berpikir untuk melarikan diri. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku tidak akan lari dari pertarungan ini.”


Sudut bibir Ratu Queenza terangkat membentuk senyum sinis. “Dalam keadaan sehatpun kau tidak bisa melawanku. Apalagi dalam keadaan terluka parah seperti sekarang. Tapi aku tidak akan menolak jika kau berniat menghantarkan nyawa.”


Tangan kanan Tristan yang memegang pedang mengepal kuat seiring amarahnya yang memuncak. Lalu perlahan, pedang itu dialiri warna merah seperti bara, yang membuat mata pedangnya bersinar.


Ratu Queenza masih berdiri tenang. Tapi dalam hati dia mulai waspada. Kekuatan itu, menjadikan apapun yang dipegangnya memiliki kemampuan membunuh, adalah kekuatan langka yang hanya dimiliki orang-orang tertentu dari kaum nephilim. Sang ratu ingat seorang nephilim yang mengabdi pada Kingsley dan menjadi salah satu panglimanya. Dia juga memiliki kekuatan semacam itu.


“Aku penasaran. Apa kau bisa mengalahkanku dengan kemampuan rendahan semacam itu.” Sengaja sang ratu membuat lawannya semakin marah.


Rahang Tristan berkedut. Tanpa menanggapi dia melesat ke arah Queenza dengan pedang terhunus. Tapi Ratu Queenza dengan mudah berkelit mengingat gerakan Tristan terbatas karena luka-lukanya. Mendadak dia sudah berada di belakang Tristan seraya melontarkan benang merah andalannya, membuat lelaki itu memekik kesakitan saat benang merah Queenza membelitnya dan kembali melukai tubuhnya.


“Akkhhh!”


“Seharusnya kau memilih pergi tadi. Dengan begitu kematianmu akan sedikit tertunda.” Lalu Ratu Queenza mengarahkan tangannya yang bebas pada tv rusak di ruang tengah itu. Mendadak layar kaca tv yang sudah pecah melayang. Bukan hanya satu, tapi lebih dari lima. Perlahan kaca-kaca itu diselimuti asap hitam, lalu detik berikutnya melesat cepat menghantam perut dan dada Tristan.


“Arghh… uhukk!”


Darah segar menyembur dari mulut Tristan. Napasnya semakin berat dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Saat pandangannya berkunang dan dia pikir ini akan jadi akhir hidupnya, mendadak dua bayangan melesat di depannya.


Queenza terbelalak marah melihat dua orang yang baru datang. Mereka sepasang pria dan wanita, dan juga memiliki sayap kelabu di punggungnya.


Si wanita dengan gesit merangkul tubuh Tristan yang mulai limbung sementara si pria memutus benang merah yang masih dipegang Queenza dengan pedangnya. Sebelum Queenza sempat melakukan apapun, mendadak kabut tipis menyelimuti mereka bertiga lalu ketiganya menghilang.


Grrr!


Makhluk-makhluk buangan menjijikkan. Lain kali mereka tidak akan bisa lolos darinya.


“Akhhh!”


Mendadak Queenza terhuyung. Setelah amarahnya mereda, rasa sakit di punggungnya terasa semakin jelas. Tidak ada lagi busa putih yang menggerogoti jaringan kulitnya. Tapi luka di punggungnya masih menganga, sama sekali tidak ada proses penyembuhan.


“Ada apa denganku? Kenapa proses penyembuhan tubuhku sangat lamban.” Tangan kanan Queenza memegang bahu kirinya, berharap rasa sakitnya mereda. Tapi tidak ada yang terjadi. Dia masih kesakitan.


Lalu seolah baru tersadar, Queenza menatap sekeliling. Dia bingung dengan benda-benda asing di sekelilingnya. Dan—sedikit merasa takut. Di mana dirinya berada? Apa yang terjadi?


***


Kingsley bersandar di sebuah pohon dengan napas terengah menahan rasa sakit. Setelah sampai di dunia manusia, dia kembali mencoba mencapai Queenza. Namun tenaganya sudah terlanjur terkuras karena menahan sakit hingga dia terhenti di beberapa tempat dan yang terakhir di dekat pohon besar yang berjarak dua rumah dari kediaman Queenza.


Tak sanggup lagi melakukan teleportasi, Kingsley memilih berjalan kaki. Bahkan kemampuannya untuk menyembunyikan diri dari pandangan makhluk lain juga mulai melemah. Dengan perasaan ngeri, Kingsley mengawasi sekeliling, dalam hati berharap tidak bertemu dengan makhluk jadi-jadian yang paling ditakutinya.


Sungguh, tubuh manusia Queenza sangat menyiksa. Meski Kingsley memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, kemampuan itu jadi tidak berguna karena yang terluka sebenarnya adalah tubuh Queenza. Luka di tubuhnya muncul akibat luka di tubuh Queenza hingga untuk menyembuhkannya hanya dengan cara menyembuhkan Queenza.


Kingsley bersyukur pintu depan rumah Queenza tidak dikunci hingga dia bisa masuk dengan mudah. Tak terasa ada tanda-tanda keberadaan makhluk lain selain Queenza. Tapi jelas sempat ada jejak. Sepertinya kaum guardian.


Mereka? Ya, ada lebih dari satu guardian karena aromanya masih jelas tercium. Pasti mereka belum lama pergi. Kingsley jadi penasaran bagaimana Queenza bisa selamat dari mereka.


“Queenza,” panggil Kingsley dengan gigi terkatup rapat. Dia melewati ruang tamu lalu terhenti di ruang tengah yang tampak kacau namun tidak menemukan sosok Queenza di sana.


Kingsley diam sejenak, mencari keberadaan Queenza dengan mengendus udara. Gadis itu di dapur. Tanpa menunggu lagi, Kingsley bergegas ke dapur dan mendapati gadis itu duduk menunduk di salah satu kursi depan meja makan.


“Queenza,” Kingsley menyebut nama itu dengan penuh rasa syukur. Dia segera mendekati Queenza lalu melukai lengannya. Dalam situasi lain, Kingsley pasti akan melukai lidahnya untuk menggoda gadis itu. Tapi sekarang bukan saat yang tepat. “Cepat minum!” perintahnya sambil menyodorkan lengannya.


Queenza mengangkat kepalanya sedikit, memperhatikan luka berdarah di lengan Kingsley. Matanya menyipit curiga. Darah kaisar ******** itu beracun. Apa dia pikir dirinya bodoh hingga dengan sukarela menenggak racun. Itu tidak akan terjadi. Setidaknya sebelum dia menghabisi nyawa ******** di depannya.


“Queen, tidak ada waktu lagi. Ayo minum! Kau kesakitan.”


Queen?


Itu panggilan sayang Kingsley yang dulu selalu berhasil membuainya. Tapi tidak lagi. Dirinya tidak akan tertipu lagi.


“Apa yang kau tunggu?” geram Kingsley, mulai hilang kesabaran.


Bibir Queenza menipis sementara titik-titik keringat semakin banyak bermunculan di wajahnya. Itu menunjukkan bahwa dia hanya pura-pura tenang untuk menyembunyikan rasa sakitnya.


“Queen—”


Sebelum Kingsley sempat menyelesaikan kalimatnya, mendadak Queenza berdiri secepat kilat seraya menikamkan pisau yang sudah berlumur darahnya ke perut Kingsley. Mata hijaunya berkilat marah penuh dendam saat membalas mata biru Kingsley yang tampak kaget.


“AAARRGGHH!”


Di luar dugaan Queenza, rasa sakit tikaman pisau menyerang perutnya sendiri. Dia berteriak histeris seraya mundur dua langkah. Dia menunduk menatap tangan kirinya yang memegang perut dan kini berlumuran darahnya sendiri.


“Apa—apa yang terjadi?”


Menahan rasa sakit yang kian menjadi, Kingsley mencabut pisau dari perutnya lalu mendekati Queenza. Kali ini sorot matanya tegas tak ingin dilawan. Sebelum Queenza sempat melakukan sesuatu lagi, dia mencengkeram rahang Queenza seraya melukai lidahnya sendiri lalu menyatukan bibir mereka.


***


Mata Queenza mengerjap lalu perlahan terbuka. Dia terdiam menatap langit-langit kamar yang terasa asing. Tapi suara-suara yang tak kalah asing itu memaksanya untuk bangkit dari posisi berbaringnya.


Masih dengan duduk di atas ranjang, Queenza menoleh ke arah Kingsley yang tampak duduk di kursi panjang dengan tatapan fokus pada benda di pangkuannya. Ternyata suara-suara aneh yang didengarnya berasal dari benda itu.


“Yes, aku menang lagi!” seru Kingsley beberapa saat kemudian seraya mengacungkan tinjunya. “Queenza, ternyata game ini sangat mudah. Aku selalu menang. Lain kali carikan aku game yang lebih menantang.”


Tanpa menoleh, Kingsley memang tahu Queenza sudah terjaga. Dia masih fokus pada laptop di pangkuannya tapi beberapa saat kemudian mendongak ke arah gadis itu karena heran tidak mendapat tanggapan.


“Sial!” Kingsley terperanjat dengan mata terbelalak. “Kau—kenapa kau masih di sini?”


Mata hijau Queenza menyala terang penuh kemarahan. Tapi kali ini dia tidak berniat kembali menyerang Kingsley. Ada sesuatu yang salah. Bukan hanya sekelilingnya, tapi juga reaksi tubuhnya sendiri terhadap luka yang dialami Kingsley. Karena itu Queenza memilih menunggu untuk mencari tahu.


“Bagaimana ini?” tanya Kingsley pada dirinya sendiri. “Kenapa Queenza tidak kembali? Kenapa ratuku yang ganas yang malah tetap di sini?”


“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Queenza dengan emosi yang makin memuncak. Sikap tenangnya dahulu tampaknya telah terkikis karena dendam dan perasaan dikhianati.


“Ah, tidak.” Kingsley menggaruk tengkuknya. “Tapi kenapa masih di sini? Seharusnya kau pulang saja.” Eh, pulang ke mana? Kingsley meringis karena bingung sendiri.


“Kau mengusirku?!” nada suara Queenza meninggi.


Kingsley memindahkan laptop di pangkuannya ke samping lalu dia berdiri menghampiri Queenza lalu duduk di sisi ranjang. “Bukan begitu, Ratuku. Tapi saat ini aku lebih membutuhkan Queenza yang lain.”


PLAK.


“Kau menjalin hubungan asmara dengan wanita lain saat kita masih terikat pernikahan? Itu perbuatan paling hina di Immorland. Apalagi kau seorang kaisar. Kau dan gundikmu seharusnya mendapat hukuman!”


Kingsley ternganga sambil menggosok pipinya. Kalau dipikir lagi, kedengarannya memang seperti dirinya memiliki dua istri. Tapi wanita lain yang dia maksud bukan orang lain, tapi Queenza sendiri. Queenza yang lain. Nah, kenapa sekarang jadi membingungkan?


“Queen, aku tidak menikah lagi. Yang kumaksud Queenza juga. Kau sendiri. Tapi sedikit berbeda.” Kingsley nyengir.


Wajah Queenza memerah. Dia tampak siap menyerang Kingsley sewaktu-waktu. “Hanya karena nama kami sama, kau jadi tidak merasa bersalah? Aku tidak akan tinggal diam. Kau harus tetap dihukum!”


Kingsley mendesah. Lalu beberapa detik kemudian, dia kembali menatap Queenza dengan sinar jail di matanya. “Kenapa kau mendadak mempermasalahkan aku memiliki istri lain? Bukankah kau sangat membenciku? Seharusnya kau tidak peduli. Apa kau cemburu?”


“Aku bukan cemburu, kaisar bodoh! Aku hanya merasa terhina karena perbuatanmu.” Queenza menghela napas untuk meredakan amarahnya. “Tapi kesampingkan dulu masalah itu. Aku lapar. Dan di mana kita? Kenapa banyak benda aneh di sini?” tanya Queenza sambil menatap sekelilingnya bingung.


Seketika Kingsley tertunduk, bingung atas situasi yang dihadapinya. Dirinya sendiri hanya mengetahui dunia modern ini dari ingatan Queenza yang diserapnya. Jadi bagaimana dia akan menjelaskan semua ini pada Queenza dari masa lampau?


--------------------------


♥ Aya Emily ♥