
Dani segera menyerahkan amplop tersebut kepada Pak Rahmat gurunya dengan harapan agar dibantu untuk disimpankan.Ia tahu selama ini Pak Rahmat adalah seorang guru yang baik dan juga sangat perhatian kepada para muridnya,juga Pak Rahmat adalah salah seorang guru yang pertama kali menemui Almarhum Nyak untuk mengajaknya agar bisa bersekolah.
"Saya mohon Bapak mau membantu saya untuk menyimpan amplop ini,karena saya tidak tahu kepada siapa harus menyimpannya",harap Dani kepada Pak Rahmat
"Kita hitung bersama kemudian kita buka amplopnya ya nak",ajak Pak Rahmat.
Kemudian mereka bersama membuka amplop tersebut.didalamnya ada sebuah kertas tertulis uang duka atas nama Almarhum Warnih sebesar 1 juta rupiah dan juga uang kerohiman atas nama Warnih dan Dani sebesar masing masing 250 ribu rupiah.
"Uang ini harus tetap kita hitung kembali untuk mengetahui jumlahnya, apa sesuai dengan tulisannya",ajak Pak Rahmat sambil menghitung uang tersebut.
Tak lama kemudian setelah uang tersebut dihitung,ternyata jumlahnya sangatlah tepat sebesar total 1,5 juta Rupiah.
"Uang ini berjumlah 1,5 juta nak,ini adalah uang yang banyak,Bapak akan membantumu menyimpan,akan tetapi bukan Bapak yang menyimpan uang ini",jelas Pak Rahmat.
"Lalu Bapak akan titipkan kepada siapa uang ini pak?",tanya Dani dengan wajah cemas.
"Kita akan menyimpannya di Bank dengan atas namamu,kelak hanya kamu seorang yang bisa mengambilnya di Bank"jelas Pak Rahmat.
"Baik Pak",jawab Dani
"Nanti kamu akan mendapatkan tabungan pelajar,ini adalah jenis tabungan untuk siswa yang masih bersekolah,anak Bapak juga ikut tabungan ini",jelas Pak Rahmat
"Kamu tunggu sebentar Bapak akan membuat keterangan untukmu sebagai pengganti kartu pelajar,ini adalah syarat untuk menabung di Bank,kamu tunggu disini,nanti jam pulang sekolah Bapak akan mengantarmu ke Bank",jelas Pak Rahmat sambil menuju ke mesin ketiknya.
Kemudian Pak Rahmat mulai mengetik ,mempergunakan mesin ketik manual milik sekolah.Ia menulis dua lembar surat keterangan siswa,satu untuk pihak Bank dan satunya untuk Dani yang kelak bisa ia pergunakn untuk mengambil uang jika kelak dia membutuhkan uang.
Pemberian uang duka sebesar 1 juta Rupiah sangatlah tidak sebanding dengan nyawa orang yang menjadi korban kebakaran.Pada saat itu di tahun 1989 sebagai perbandingan harga sebuah motor baru Honda Astrea hanyalah seharga kurang lebih 2 juta Rupiah,Jika ditahun sekarang harga sebuah motor Honda baru sekitar kurang lebih 15 juta rupiah.Untuk menghilangkan jejak dan menghindari adanya penuntutan kelak,maka pemilik lahan memberikan uang duka yang cukup bagi keluarga,mereka juga memberikan uang kerohiman yang cukup untuk sebagai perbandingan pada saat itu tiket bis ke Jawa Timur dari jakarta hanya sekitar seharga 30 ribu Rupiah.warga pulang kampung.
Tentu pemberian uang dari pemilik lahan tidak ada nilainya bagi para warga,sebab para orang tua atau mereka menempati lahan tersebut sebelum kemerdekaan,walaupun tanah itu tak bertuan karena sejak jaman penjajahan tanah tersebut adalah sudah menjadi Tempat pembuangan sampah di ibu kota.
Lahan tersebut sangatlah strategis,terletak di pinggir jalan raya,dan ini sangat memudahkan bagi Truk pembawa sampah .
Seharusnya jika ada warga yang menempati suatu tanah selama beberapa generasi atau tahun dan tanah tersebut belum ada pemiliknya,maka ia dapat membuat surat atas kepemilikan tanah tersebut,ada warga yang mencoba mengurusnya akan tetapi selalu ditolak karena dengan alasan tanah tersebut adalah fasilitas untuk umum sebagai tempat pembuangan sampah.Lalu pada akhirnya entah mengapa setelah kebakaran ini ada pihak perusahaan milik para koruptor yang mempunyai sertifikat kepemilikan lahan.
Perusahaan tersebut bisa mempunyai surat kepemilikan lahan seluas lebih dari 3 hektar ini tentunya bukan perusahaan biasa,mereka sudah merencanakan dengan cermat cara merebut lahan tersebut.
Jika membayar biaya penggantian tempat tinggal warga maka pihak perusahaan akan memerlukan uang yang sangat besar dan belum tentu juga warga mau memberikan tanahnya dan mau pindah.
Setelah membuat surat kepemilikan lahan dengan rahasia,Perusahaan tersebut merencanakan untuk membuat kebakaran di gubug semua warga,mereka membayar beberapa warga penghianat dengan iming-iming uang yang besar agar membakar seluruh rumah dengan sembunyi-sembunyi,setelah warga keluar dari lokasi karena kebakaran mereka mengirimkan para preman untuk menjaga lahan tersebut agar warga tidak kembali dan mengakui bahwa mereka adalah pemilik lahan yang sah dengan memasang Plang kepemilikan lahan diatas tanah tersebut.Sedangkan untuk menutupi kejahatan perusahaan karena adanya korban kematian dan menghindari tindak nekat warga,perusahaan mengeluarkan uang terima kasih yaitu uang duka dan uang kerohiman untuk pindah warga.
Kembali ke sekolah...
"Surat sudah jadi nak,ini sudah Bapak Stempel,nanti tinggal menunggu kedatangan Bapak Kepala Sekolah saja",jelas Pak Rahmat.
Dani mengetahui tadi ia melihat Kepala sekolah bersama Pak Agus salah satu guru,ada di salah satu meja panitia,mereka membuka meja sendiri,sebuah meja yang penuh dengan buku Raport siswa lengkap dengan surat pindahnya yang sudah diketik dan stempel,tinggal hanya ditanda tangani saja jika ada wali murid yang akan memindahkan sekolahnya.Jika ada beberapa wali murid yang menumpang tinggal karena mempunyai kerabat yang tinggal atau menjadi warga kelurahan tersebut dan anaknya masih disekolahkan maka surat pindah yang sudah dibuat tidak ditanda tangani.
Semua proses pembuatan surat pindah sekolah untuk warga korban kebakaran dibuat setelah ada rapat kordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan beberapa hari sebelumnya.
Tepat jam 12 siang bel sekolah berbunyi,tanda murid-murid telah selesai belajar.Beberapa orang guru memasuki kantor sekolah karena telah selesai mengajar,mereka semua menyapa Dani dan menanyakan kabarnya,semua guru sangat mengenal Dani,selain karena prestasinya sebagai juara kelas,ia juga adalah murid kelas 6,artinya hampir semua guru pernah menjadi wali kelasnya.
Tak lama kemudian Kepala sekolah dan Pak Agus datang,mereka berdua telah menyelesaikan tugasnya membagikan surat pindah bagi para siswa.
"Selamat siang Pak",sapa Dani kepada Kepala Sekolah.
"Kamu ingin mengambil surat pindah ya?",tebak Kepala sekolah kepada Dani.
"Sebentar akan Bapak cari dan tanda tangani",terlihat kepala sekolah bergegas mencari tumpukan Raport siswa yang tersisa kurang dari 10 buku,ia tahu bahwa bis yang membawa warga akan diberangkatkan pukul 1 siang ,setelah acara makan siang.
"Saya bukan ingin pindah Pak",jawab Dani
"Lalu...",kata tanya kepala sekolah yang belum menyelesaikan kata-katanya karena sudah dipotong oleh Pak Rahmat.
"Maaf Pak,ini Dani kemari karena dia masih ingin menyelesaikan ujiannya disini,ia tidak mempunyai keluarga lagi karena wali muridnya Ibu Warnih telah meninggal dunia,selain itu ia telah meminta tolong saya agar menyimpankan uang duka dan kerohiman miliknya,saya berencana menyimpankan uangnya di Bank dengan atas nama Dani sendiri",jelas Pak Rahmat
"Baik kalau begitu",jawab Kepala Sekolah sambil menerima surat keterangan Pelajar yang harus ia tanda tangani dari Pak Rahmat
"Setelah ini saya akan mendampinginya pergi ke Bank",jelas Pak Rahmat