KINGDOM CEO'S

KINGDOM CEO'S
Rapat dengan pihak Kelurahan.



Tepat jam 10 pagi rapat dengan pihak kelurahan dimulai,rapat ini dihadiri oleh Pak Camat,Pak Lurah,Kapolsek dan perwakilan warga yang berjumlah 10 orang.Mereka semua sedang berkumpul didalam kantor Kelurahan,Pintu masuk ke dalam kantor ditutup,dan tampak beberapa petugas Kepolisian dan Hansip berjaga di depannya.


Rapat ini ternyata hanyalah sebuah pengumuman sepihak semata,keluhan warga untuk membangun di lokasi kebakaran ditolak,Para aparat tersebut mengatakan bahwa tanah tersebut bukan milik warga,pemilik aslinya melarang ada kegiatan di lahan miliknya.


Para warga hanya bisa terlihat pasrah dengan pernyataan sepihak ini,Pihak aparat mengatakan dengan mengancam akan menindak tegas warga yang menerobos lahan ,mereka terlihat sedih karena tidak mempunyai kekuatan untuk melawan.


Selain itu tempat penampungan hanya dibuka selama seminggu ke depan dan warga akan dibantu makanan sehari-hari,kemudian akan diberikan uang kerohiman per jumlah warga yang terdata sebagai ongkos pulang ke kampungnya masing-masing,juga bantuan biaya pengobatan dan uang duka untuk korban yang meninggal.


Jika dilihat pemberian bantuan tersebut adalah bersifat semu dan itu semua hanyalah agar terlihat niat perbuatan baik aparat dan pemilik lahan karena sudah memberikan bantuan bagi para korban,dan untuk menghilangkan jejak dibalik kejadian tersebut agar para wartawan koran mendapatkan tulisan yang baik dari kejadian tersebut.Mereka sungguh merencanakan dengan sempurna.


Beberapa hari kemudian,tiba saatnya hari terakhir penampungan.Para warga dikumpulkan di dalam balai kelurahan,mereka dipanggil satu persatu berdasarkan nama kepala keluarga yang terdaftar dan didata.Pendataan kemarun dibuat secermat mungkin karena jangan sampai ada warga yang tidak terdata agar lokasi tersebut bersih dari warga.


"Atas nama Bapak Udin Saprudin",teriak panitia dengan pengeras suara.


Dani memperhatikannya itu adalah Ayah dari kawannya Rogayah.Ia melihat Ayah Rogayah maju ke depan lalu duduk di salah satu bangku.terlihat perwakilan warga mengangguk menyatakan orang tersebut sesuai dengan nama yang dipanggil.


"Ini amplop berisi uang kerohiman sesuai dengan jumlah anggota keluarga anda dan juga ada uang biaya bantuan pengobatan".jelas petugas tersebut sambil memberikan kertas untuk di cap jempol atau tanda tangan.


Pada masa itu banyak generasi orang tua yang tidak bisa baca dan tulis,apalagi jika mereka adalah orang kecil,sudah jelas tidak berpendidikan.Jika seseorang lulus sekolah dasar,dengan ijazah tersebut bisa menjadi pegawai pabrik atau penjaga sekolah,asalkan cukup umur,oleh karena itu cap jempol dianggap sudah sah mewakili.


Setelah menerima amplop tersebut Pak Udin mengucapkan terima kasih,lalu ia diberikan oleh salah seorang panitia kertas nomor bis yang akan dia naiki nanti sesuai tujuannya yaitu Jawa Timur,kampung istrinya.


Pak Udin membuka amplop tersebut dan melihat isinya.kemudian memasukkan uang tersebut ke dalam jaketnya.Lalu ia bergegas menuju ke tempat istri dan kedua orang anaknya,mereka bersiap-siap merapikan barang bawaan mereka karena bis akan berangkat dalam 2 jam,Panitia tidak mau mereka berlama-lama di kelurahan karena untuk menghindari resiko dari para warga yang tidak puas akan uang kerohiman.


Didepan ada lima bangku,dan pemangilan serentak untuk per lima orang.Tiba giliran Dani dipanggil.


"Atas nama Almarhum Ibu Warnih.....alias Nyak!" seru panitia tersebut


Dani belum tersadar atas nama tersebut,karena sehari-hari ia hanya memanggil sebutan Nyak.


Kemudian salah seorang saksi warga yang membantu panitia mendekati dan berteriak di pengeras suara,"Keluarga Almarhum Nyak...Nyak atau Dani....Dani...",teriak orang tersebut sambil ia melihat Dani,karena ia mengenalnya,ini adalah sudah menjadi fungsi dari saksi warga dan kemudian memanggilnya untuk menuju ke depan.


Dani tersadar setelah dipanggil oleh Bapak tersebut lalu ia maju ke depan dan duduk di salah satu bangku tersebut.


"Ini adalah amplop berisi uang bantuan duka untuk Almarhum Nyak,dan juga uang kerohiman",jelas salah seorang anggota panitia sambil menyerahkan sebuah amplop yang tebal.


"Terima Pak",jawab Dani.


"Silahkan cap jempol disini",perintah petugas itu.


"Adik mau diantar kemana setelah ini?",tanya salah seorang panitia yang bertugas memberikan nomor bis.


"Saya tidak akan naik bis sekarang Pak,karena tiga minggu lagi saya harus ujian kelulusan,untuk sementara saya akan tinggal dengan penjaga sekolah",alasan Dani yang terpaksa berbohong.Ia takut jika akan dipaksa naik bis dan yang jelas ia tidak mempunyai tujuan.


Setelah menerima amplop tersebut Dani segera menuju ke dalam aula untuk mengambil tasnya,ia memasukkan amplop yang belum dibukanya tersebut ke dalam kantung celana Pramukanya kemudian ia memakai celana pramukanya di bagian dalam untuk di dobel dengan celana panjangnya.kemudian Dani mengambil tas sekolahnya dan bergegas ke sekolah untuk menemui gurunya.


Dani berjalan kaki sebentar,karena jarak kantor kelurahan ke sekolah hanya melewati beberapa rumah sajadan terletak di jalan yang sama.Setibanya di sekolah,Dani melihat diluar sekolah sepi,karena murid-murid masih berada di dalam kelas.sekarang masih jam 11 kurang dan sekolah akan berakhir pada pukul 12 siang.


Dani berjalan menuju ke kantor sekolah,kemudian Pak Rahmat yang kebetulan bertugas sebagai guru piket melihatnya duluan dan memanggilnya untuk masuk.


"Masuk Dani!",panggil Pak Rahmat.


"Selamat siang Pak",sapa Dani kepada gurunya.


"Bagaimana keadaanmu dan apa ada yang bisa Bapak bantu?",tanya Pak Rahmat.


"Saya semakin baik-baik saja Pak",jawab Dani sekenanya.


"Jika begitu apa ada yang bisa Bapak bantu ?",tanya Pak Rahmat


"Saya mau meminta bantuan Bapak karena baru saja saya menerima amplop yang berisi uang kerohiman untuk disimpan di tabungan siswa di sekolah",terang Dani walaupun ia sadar selama ia bersekolah ia tidak pernah menabung di sekolahnya.


"Mohon maaf nak,untuk saat ini tabungan sekolah untuk kelas 6 akan segera dibagikan dalam minggu ini dan ditutup,sebab kalian akan segera lulus,lebih baik kamu simpan sendiri uang tersebut atau dititipkan kepada keluargamu",jawab Pak Rahmat


"Saya tidak punya siapa-siapa lagi Pak,Nyak keluarga saya satu-satunya sudah meninggal,sedangkan saya tidak tahu siapa orang tua kandung saya",cerita Dani sambil mengeluarkan sebuah amplop sangat tebal yang belum dibukanya.


Menurut para warga ini semua seperti sudah direncanakan dan diatur,tapi mereka tidak bisa melawan penguasa,karena bukan rahasia umum jika pada masa Orde tersebut bahwa siapapun tidak ada yang bisa dan berani melawan penguasa karena hukum adalah milik penguasa.