KINGDOM CEO'S

KINGDOM CEO'S
Keluarga Pak Liem



Pak Liem,pergi bersama Bu Wieke menuju ke kantor sekolah,kemudian mereka berbincang-bincang di dalam ruangan Bu Wieke,lima belas menit kemudian mereka keluar dari ruangan,Bu Wieke memanggil salah seorang pegawai Tata Usaha.


"Bu Yati,tolong berikan seragam dan buku pelajaran untuk kedua siswa baru ini,detail nama mereka nanti akan saya berikan!",perintah Bu Wieke.


"Baik Bu",jawab Bu Yati.


"Anak-anak kalian ikuti Ibu Yati ke ruangan di samping buat mencoba seragam kalian!",perintah Bu Wieke kepada Dani dan Jessica.


"Ayo anak-anak ikuti Ibu",ajak Bu Yati.


Kami bertiga mengikuti Bu Yati ke salah satu ruangan yang menyimpan banyak seragam sekolah berbagai ukuran,dan buku-buku pelajaran baru yang masih menumpuk di dalam kardus,sedangkan Pak Liem dan Bu Wieke berbicara dengan salah satu pegawai tata usaha yang lainnya untuk melakukan pembayaran biaya sekolah Jessica.Selain itu Pak Liem meminta agar kedua anaknya dapat satu kelas agar memudahkan pengawasan kepada mereka dalam mengerjakan tugas sekolah.


Akhirnya 20 menit kami sudah mendapatkan seragam dan buku-buku pelajaran.Kami menerima nasehat tata tertib sekolah dari Bu Wieke,Pak Liem sudah membayarkan uang muka sekolah Jessica,sisanya akan ia transfer ke rekening sekolah.


Bu wieke tadi sudah berbicara terbuka dengan Pak Liem,mengenai masalahnya karena beasiswa Dani yang ditandatangani langsung oleh Bos Besar pemilik sekolah,oleh karena itu ia berani mengambil keputusan langsung menerima Jessica ,berapapun nilainya Jessica pasti diterimanya,selain itu ia juga melihat ketulusan hati Pak Liem yang bersedia menjadi wali murid.


Sebenarnya pengumuman diterima atau tidaknya siswa baru masih seminggu lagi,kemudian tiga hari setelahnya sekolah ditutup untuk libur panjang sampai tanggal masuk siswa baru.Sungguh beruntungnya mereka sudah diterima secara istimewa sebelum yang lainnya.


Kemudian setelah mereka keluar dari kantor sekolah,mereka duduk sebentar di salah deretan kursi sebelum gerbang dalam sekolah,kursi itu biasanya digunakan para siswa dijemput oleh kendaraan mereka,dikarenakan Dani harus memasukkan seragam dan buku-bukunya ke dalam tasnya,agar ia memudahkan membawanya,karena terlalu banyak dan lumayan berat jika ditenteng,ada tiga pasang seragam harian dan sepasang seragam olah raga,sedangkan Jessica hanya membawa kantung seragamnya saja,buku-bukunya dibawa oleh Pak Liem.


"Oh ya Nak,kita berkenalan,nama saya adalah saya Liem Haryono,kamu boleh memanggil saya Bapak atau yang lainnya juga boleh".kata Pak Liem memperkenalkan dirinya.


"Nama saya Jessica,panggil saja saya Ica",kata Ica tiba-tiba menimpali tanpa disuruh oleh Diedinya


"Nama saya Dani Rezber Pak"


"Wah nama panjangmu Rezber,apakah kamu juga seorang Kristen?"


"Saya seorang Muslim Pak,Rezber adalah nama akhir pemberian Almarhum Nyak yang artinya Rezeki Berkah",jawab Dani Mantap


"Saya sekarang sudah menjadi walimu Nak,mulai sekarang saya akan bertanggung jawab atas dirimu".


"Baik Pak,saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan Bapak sekeluarga".


"Nanti kamu saya antar ke tempat tinggalmu dan besok siang saya jemput untuk tinggal di rumah saya,sekalian besok kita berpamitan dengan guru-gurumu".ucap Pak Liem


"Baik,Pak".


Setelah itu mereka berjalan menuju ke tempat parkir mobil,mereka berhenti didepan sebuah mobil Mercedez Benz C200 yang terlihat masih sangat baru.Pak Liem menyuruh Dani ikut masuk ke dalam mobil.


"Wahh ini mobil apa,bagus sekali",gumam Dani dalam hati setelah di dalam mobil.


"Kita ke Pasaraya dulu yaa anak-anak",ajak Diedi.


"Kok ke Pasaraya?,Diedi kan janji mau antar Ica ke HD,soalnya teman-teman Ica pasti udah pada nungguin Ica,kita langsung ke HD aja yaa...",rajuk Ica.


"Iya nanti kita ke HD,akan tetapi kita makan dulu di Pasaraya,kan di HD ga ada makanan,Parkir juga kecil susah,kita parkir di Pasaraya terus ke HDnya jalan kaki".jelas Diedi.


"Ya sudah,terserah Diedi saja,yang penting HD Ica datanggg...hahaha...",tawa Ica senang.


Dikarenakan sudah bukan jam masuk kantor,lalu lintas lancar hingga lampu merah Haji Nawi,pada masa itu juga Jakarta belum semacet sekarang,jumlah mobil juga belumlah sebanyak sekarang.


Pak Liem Haryono,Pria berusia sekitar 35 tahun,masih terlihat muda dan energik,selain itu ia juga berpenampilan gaul,karena dulunya ia anak genk klub mobil,yang selalu di puja-puja gadis-gadis.berperawakan sedang,ia adalah seorang warga keturunan.Tahun 1976 ia menikah dengan Jenny istrinya karena perjodohan oleh orang tuanya.walaupun ia mempunyai kekasih seorang wanita pribumi yang sangat ia cintai.ia tidak meninggalkan kekasihnya karena tak disetujui oleh orang tuanya yang selalu menganggap rendah orang pribumi miskin,akan tetapi selalu menjilat kepada pribumi kaya.apalagi kepada pejabat,mereka rela menyuap agar dimudahkan usahanya,Pada masa itu akan sangat mudah menjadi kaya raya jika menjadi seorang pejabat.


"Usia kamu berapa Nak?",tanya Pak Liem untuk memecah kesunyian,walaupun sebenarnya Ica sedang mendengarkan siaran radio Prambors.


"Saya 11 tahun Pak"


"Wahh kalo begitu kamu bisa memanggil Cici ke Jessica,soalnya dia setahun lebih tua darimu".


"Baik Pak".


"Kalau begitu Ica adalah kakak kamu,Ica nanti panggil Dani adik saja",jelas Pak Liem.


"Iya Diedi,nanti Ica panggil Dani adik,yang penting sekarang Diedi nyetirnya cepetan dikit,soalnya udah kesiangan nih",kata Ica sambil melirik jam tangan Swacth yang sebesar Jengkol yang sudah menunjukkan pukul 11.45 siang.


"Kamu pikirannya HD terus..,tuhh lihat di depan macet,lampu merahnya mati".tunjuk Pak Liem


"Diedi sih,lagian kenapa ga lewat Radio dalam aja,kan Panglima Polim udah jelas suka macet",kata Ica.


"Padahal udah dikit lagi yaa".kata Diedi.


"Kita putar balik aja,terus lewat jalan yang nembus sekolah PSKD",kata Ica bersemangat memberikan solusi.


Walaupun Ica masih berusia 12 tahun,ia sangat paham jalan-jalan di Ibu Kota,dikarenakan Diedi dam Mommya sering mengajaknya pergi jalan-jalan,selain itu Diedinya juga membebaskan Ica untuk berpendapat dengan maksud kelak agar Ica mau menjadi orang yang bisa mendengarkan orang lain dan tidak tumbuh sebagai anak yang egois.


Kemudian Pak Liem memutar balik mobilnya,kebetulan sedari tadi posisi mobilnya sudah berada di paling kanan jalan,karena tadinya ia berniat belok kanan di lampu merah jalan Melawai.


Pak Liem melewati jalan di depan sekolah PSKD, menuju ke Melawai Plaza,setelah itu ia belok kiri masuk ke dalam area parkir Pasaraya.