
Sambil duduk mengantri,tiba-tiba ada salah satu Bapak dan seorang anak perempuannya duduk disebelah Dani,kemudian ia tersenyum dan Dani juga membalas senyuman,lalu Bapak tersebut menyapa Dani.
"Selamat pagi Nak,mau mendaftar juga yaa?" tanya Bapak tersebut.
"Iya Bapak,kebetulan saya mendapatkan undangan beasiswa".jawab Dani tersenyum ramah.
"Diedi,nanti jika Ica di terima di OL ,Diedi pokoknya harus menepati janji sehabis ini kita ke HD bermain sepatu roda",Rajuk Ica anak dari Bapak tersebut dengan suara pelan.
"Iya nanti kalo keterima,NEM kamu saja mepet,tuhh...kamu lihat saja banyak saingannya!",tunjuk Bapaknya ke arah sekeliling.
"Maaf Nak,kalo Om boleh tahu NEMnya berapa?",tanya Bapak itu kepada Dani.
"NEM Saya....",Dani ragu-ragu menjawab.
"Tidak apa-apa Nak,ga usah malu -malu,jadi berapa Nak NEM kamu?"
"46 Pak"jawab Dani dengan suara pelan.
Terlihat Bapak beserta Putrinya itu kaget,kemudian mereka memandang Dani dari atas ke bawah,sedangkan Bapaknya memikirkan di dalam hati jika Putrinya hanya mempunyai NEM 30,47,jika di bagi rata hanya akan mendapatkan nilai 6 saja,tentunya hampir mustahil cukup untuk bersaing dengan sekitar 100 orang lebih calon siswa yang hadir pada hari ini,belum dihitung pada saat pembukaan pendaftaran kemarin apalagi perkiraan beberapa hari ke depannya.Ia sangat sedih memikirkan Putri semata wayangnya.
"Lalu yang mana orang tuamu Nak?",tanya Bapak itu.
"Saya semenjak bayi tidak mengenal orang tua saya Pak,saya diasuh oleh Nyak"jawab Dani.
"Lalu yang mana Nyak kamu?"
"Nyak saya baru meninggal bulan lalu Pak karena musibah kebakaran"
"Lalu sekarang kamu datang dengan siapa Nak?"
"Saya datang sendirian Pak,saya datang karena mendapatkan surat undangan beasiswa ini",kata Dani sambil menunjukkan surat undangan.
"Jika Nyak kamu sudah meninggal,sekarang kamu tinggal dengan siapa Nak?"
"Saya tinggal sendirian Pak,gubug kami sudah terbakar,sekarang saya menumpang di ruang UKS sekolah".
Kemudian terdengar suara panggilan dari sebuah speaker,"Nomor antrian 86 menuju ke meja 3".
"Saya permisi dulu ya Pak" kata Dani sambil sedikit menundukkan badannya.
"Anak ini sopan sekali",Gumam Bapak itu dalam hatinya.
Kemudian Bapak itu berkata kepada anaknya
"Kamu dengar khan tadi,anak yang tadi di sebelah Diedi,Sudah tidak punya orang tua dan tempat tinggal,dapet beasiswa lagi,selain itu anaknya juga sopan,kamu contoh tuhh....!"
"Ihh Diedi,memangnya Diedi mau Ica dapat beasiswa tapi ga punya orang tua"Jawab Ica ngasal.
"Hushhh kamu ngasal ngomong aja,emangya kamu mau ga punya Diedi sama Mommy?"
"Kan Diedi yang tadi ngomong".jawab Ica
Sementara itu di meja nomor 3,Dani tiba meja tersebut,sepanjang berjalan ke arah meja ia menjadi pusat perhatian dari semua orang,karena hanya berjalan sendirian dan terlihat sangat kampungan di mata mereka.
"Selamat pagi Bu"sapa Dani Ramah,sambil menyerahkan nomor antriannya.
"Selamat Pagi Nak,silahkan duduk"Sapa Bu Wieke,seorang petugas panitia penerimaan murid baru,selain itu ia juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah.
"Coba dipanggil orang tuanya Nak!"Perintah Bu Wieke
"Mohon Maaf Bu,saya datang hanya sendirian,saya tidak mempunyai orang tua",jawab Dani sambil memberikan sebuah surat.
Bu Wieke menerima surat tersebut,lalu membaca ada tulisan surat undangan beasiswa,ia merasa sangat senang sekali,sebab pihak sekolah tersebut setiap tahunnya sudah banyak mengirimkan beberapa surat seperti itu, akan tetapi hanya beberapa tahun sekali yang datang mengembalikannya,itupun belum tentu mereka kemudian jadi bersekolah disitu,sedangkan Kepala Yayasan dan Foundation yang membiayai sering marah- marah di dalam rapat yang ia ikut hadiri karena hampir tidak ada penerima beasiswa yang datang.dibukanya.
Kemudian Bu Wieke kembali terkejut setelah membuka dan membaca isi surat itu,ia terkejut karena ditanda tangani langsung oleh sang Bos Besar disitu tertera nama Will Sunjaya.
Sementara itu terdengar suara speaker,"Nomor antrian 87 harap menuju ke meja nomor 2".
"Ayo Diedi,kita sudah dipanggil"ajak Ica
"Selamat Pagi Pak",Sapa Ica bersama Diedinya kepada seorang guru yang bertugas menerima data calon siswa.
"Selamat Pagi Bapak dan Adik,silahkan duduk",sapa Pak Anton,seorang guru panitia penerima data calon siswa.
Sambil mau duduk Bapaknya Ica melihat Dani yang ada disampingnya kemudian mereka saling tersenyum.
"Terima kasih Pak,Saya Liem Haryono,mau mendaftarkan Putri saya Jessica Haryono",kata Pak Liem kepada Pak Anton.
"Baik Pak,Apakah boleh saya melihat surat kelulusannya?",tanya Pak Anton.
"Ini Pak Suratnya,silahkan",jawab Pak Liem sambil menyerahkan surat ijazah anaknya.
kemudian Pak Anton menyerahkan sebuah formulir pendaftaran siswa baru yang harus di isi oleh orang tua calon siswa.
"Mohon Maaf ,ini ada formulir pendaftaran siswa,untuk yang didalam map Bapak bisa di isi dirumah.Biayanya 200 ribu Rupiah dan yang diluar map silahkan Bapak Isi".jelas Pak Anton sambil menyerahkan sebuah pulpen.
Pak Liem menerima Pulpen tersebut dan sambil ia mau mengisinya ia melirik kepada Pak Anton yang sedang membaca NEM anaknya,ia tahu dan melihat mimik muka Pak Anton yang sudah terlihat tersenyum dalam artian merendahkan nilai anaknya,sementara itu dimeja sebelah ia juga mendengar bahwa sepertinya ada masalah.
Di Meja nomor 3....
"Lalu dimana walimu Nak?tanya Bu Wieke.
"Mohon Maaf Ibu,saya tidak mempunyai Wali,baru bulan lalu Nyak yang sebagai Wali saya meninggal dunia karena musibah kebakaran di kampung pemulung".
"Haduhhh...Ibu harus bagaimana nak,karena sudah peraturan sekolah setiap siswa harus ada penanggung jawabnya bisa orang tua atau walinya."jelas Bu Wieke sambil terlihat bingung dan Pusing karena memikirkan tanda tangan dari Bos Besar,artinya calon siswa ini bukan sembarangan.
Di meja nomor 2.....
Pak Liem mendengarkan kebingungan dan permasalahan dari Bu Wieke,tiba-tiba terbesit suatu ide di dalam pikirannya.
"Mohon maaf Pak,saya tinggal sebentar ke meja sebelah,saya tadi mengenal anak yang disebelah,sepertinya dia dalam masalah".Pak Liem memohon izin sebentar sambil meninggalkan Pak Anton dan ia berpindah tempat ke meja di sebelahnya.
"Selamat Pagi Ibu",sapa pak Liem sambil menjulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Iya selamat pagi Pak",jawab Bu Wieke terheran karena melihat Pak Liem berpindah tempat dari meja sebelahnya.
"Mohon maaf Ibu jika saya telah lancang,tadi saya sempat mendengarkan bahwa adik ini mempunyai masalah karena tidak mempunyai seorang wali?",tanya Pak Liem Kepada Bu Wieke yang sedang kebingungan.
"Iya betul Pak"
"Tadi saya juga sempat sedikit berbincang dengan anak ini sewaktu kami bersama duduk di ruang antrian,ia sudah menceritakan bahwa walinya telah meninggal dunia karena musibah kebakaran,dan ia sekarang tinggal sendirian menumpang di ruangan UKS sekolahnya"jelas Pak Liem
"Jadi begitu ya Pak ceritanya",Bu Wieke terkejut dan merasa iba setelah ia mendengarkan dari Pak Liem,ia tadi belum sempat menanyakan semua dengan jelas kepada Dani.
"Jika Ibu tidak keberatan,saya bersedia menjadi wali dari anak ini,dan saya bersedia bertanggung jawab sepenuhnya,anak ini sangat cerdas dan sopan,ia bisa menjadi penyemangat putri saya Jessica untuk belajar di sekolah ini",ucap Pak Liem bersungguh-sungguh sambil menunjukkan arah putrinya.
Bu Wieke melirik ke arah Jessica,kemudian ia merasa senang karena permasalahan yang dihadapinya tiba-tiba teratasi.
"Baiklah jika begitu Pak,itu adalah perbuatan yang baik dan mulia dari niat Bapak,akan tetapi sebaiknya Bapak menanyakan dahulu kepada Nak Daninya",saran Bu Wieke.
"Nak,jika boleh apakah kamu bersedia ikut dengan saya,Saya akan menjadi orang tua kamu selanjutnya dan bertanggung jawab atas dirimu sepenuhnya,dan saya juga tidak akan mengubah keyakinanmu,Kamu boleh memegang kata-kata saya ?",tanya Pak Liem bersungguh-sungguh.
Dani merasa senang sekali mendengarkannya,ini terasa seperti sebuah anugrah buatnya,akhirnya doa-doanya terjawab,selain ia bisa mendapatkan orang tua baru,ia juga akan bisa bersekolah.
"Saya bersedia Pak,akan tetapi saya meminta maaf sebelumnya jika nanti ada perkataan atau perbuatan saya yang tidak berkenan kepada keluarga saya"
"kamu tidak usah memikirkan itu nak,karena itu nantinya sudah menjadi tugas saya untuk mendidikmu",jelas Pak Liem.
Karena Bu Wieke sudah mendengarkan secara langsung dari kedua belah pihak,ia kemudian memanggil Pak Anton.
"Pak Anton,tolong berkas-berkas anak Bapak ini diserahkan ke saya!",perintah Bu Wieke kepada Pak Anton.
"Ini berkas ijazah Jessica ,Putri dari Bapak Liem Liem Haryono saya serahkan ke Ibu",kata Pak Anton kepada Bu Wieke.
"Pak Liem,berkas Putri anda sudah saya terima,Selamat Putri anda sudah diterima,sehabis ini mohon Bapak mengikuti saya menuju ke kantor sekolah untuk membicarakan kesanggupan orang tua membayar biaya sumbangan sekolah untuk Putri anda,sedangkan untuk Dani tidak dikenakan biaya sama sekali hingga ia lulus,semua biaya menjadi tanggung jawab Yayasan,Kedua anak anda sekarang adalah menjadi siswa yang pertama kali diterima di sekolah ini".Jelas Bu Wieke