
...Selamat membaca...
...Jangan lupa memberi dukungan untuk karya ini ya ☺️...
...•...
...|JyRu 09|...
“Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku setelah membereskan beberapa buku yang baru saja aku gunakan untuk mencatat materi hari ini.
Tidak banyak senyuman seperti biasanya, JyRu terlihat tertekan. Airmukanya seperti mempertahankan ekspresi baik-baik saja saat melihatku, dan itu semakin membuat aku yakin telah terjadi sesuatu setelah kami berpisah semalam. Semua tidak dalam keadaan baik seperti sebelumnya.
“A-aku baik-baik saja.” jawabnya terbata, aku hanya bisa diam memandanginya yang sekarang sibuk membereskan buku-buku di mejanya.
Jengah, aku pun meraih pergelangan tangannya. Ku tatap dalam manik mata oranye nya yang indah, namun dia menghindar dan genggamanku semakin kuat.
“Katakan, ada apa.” tanyaku memaksa. Aku hanya tidak ingin dia terkena masalah karena ulahku yang memaksanya untuk melihat dunia luar disaat neneknya melarang. “Apa sesuatu terjadi setelah kita berpisah semalam?”
Aku tidak peduli jika beberapa orang menangkap pembicaraan kami. Aku ingin memastikan dia tetap baik-baik saja dan tidak celaka karena ulahku.
“JyRu, please jujur sama aku. Apa terjadi sesuatu?”
Aku melihat manik matanya terlihat meredup. Tidak ada binar bahagia sama sekali.
“Jika sesuatu itu terjadi gara-gara aku, aku—”
“Mulai sekarang, tolong jauhi aku. Jika kamu tidak ingin terlibat masalah serius.”
What the fu-ck!! Apa maksudnya?
Aku melepaskan tangan JyRu, namun masih belum lelah menatap wajahnya. Apa yang ingin aku tau, belum terjawab. Dan itu membuatku semakin terpacu untuk tau banyak hal yang berusaha disembunyikan dariku.
Ya, banyak hal. Karena setelah sedikit mengenal dan masuk dalam kehidupan JyRu, semua yang dijalani gadis tersebut terlihat aneh dan tidak wajar.
Oke, katakan saja tujuan neneknya melakukan semua itu agar JyRu tidak terjerumus dalam pergaulan bebas yang bisa membahayakan dirinya sendiri karena terlalu membuka diri dan percaya pada orang lain. Tapi, apa mengurung seorang gadis tanpa mengenal dunia luar, itu wajar? Tidak. Itu sama sekali bukan hal yang patut dibiarkan. Pasti ada alasan mengapa itu dilakukan oleh sang nenek. Terlebih setelah melihat bayangan hitam yang terbang diudara, semalam. Otak modern ku yang tidak percaya akan hal-hal yang berhubungan dengan mitos saja harus sampai goyah dengan melihat secara langsung hal mistis seperti itu.
“Oke. Tapi beri aku alasan jelas kenapa aku harus melakukan itu.”
Tatapannya berubah tajam. Dia berubah menjadi sosok yang tidak aku kenali.
Bukannya memberikan jawaban, dia memilih beranjak pergi dari kelas dan meninggalkan aku yang masih diliputi kebingungan luar biasa dan mencoba mengejarnya hingga pertengahan koridor kampus yang sudah mulai lengang.
Secepat itukah dia berubah?
Tapi, karena apa?
Banyak sekali pertanyaan berputar di otakku. Tapi, belum sempat aku kembali menelaah alasan JyRu memintaku menjauhinya, seseorang datang menyapaku. Suara yang tidak asing ditelinga ku, suara yang pernah aku dengar meskipun aku lupa itu dimana.
“Kak Arthur?”
Aku menoleh, dan tau saat itu juga. Dia, Ghea. Mahasiswi jurusan musik yang pernah bertemu denganku di aula musik.
“Ghea, kan?” tanyaku, berpura-pura menerka. Namun gadis itu mengangguk bersemangat dengan senyuman mengembang sempurna di bibirnya. Gigi kelincinya yang terlihat menggemaskan menyapa indra penglihatanku.
“Kakak lupa?”
Aku menggelengkan kepala. Mana mungkin aku lupa dengan suara manis yang sangat aku sukai ini? Aku tidak mau menjadi orang munafik dengan berkata tidak menyukai Ghea, karena Ghea memang semenarik itu di mata pria. Tak terkecuali diriku.
“Enggak.” sangkal ku tegas.
“Kakak mau pulang?”
“Masih ada satu mata kuliah yang harus aku ikuti.” jawabku tak terlalu gamblang. Aku kembali memutar pandangan, melihat keberadaan JyRu yang semakin menjauh, dan menghilang di perpotongan tangga paling ujung.
“Kak Arthur mencari seseorang?”
Dan tatapan mataku pun teralihkan begitu saja akan pertanyaan Ghea.
“Ah, tidak. Aku hanya sedikit bingung dengan kampus ini karena masih baru, dan temanku meninggalkanku begitu saja.” bohongku didepan Ghea yang terlihat menunggu jawaban dariku.
“Kakak mau pergi ke kelas apa? Barang kali Ghea bisa bantu.”
Manis sekali kan gadis ini? Bukan hanya wajahnya yang imut, ternyata dia juga baik hati mau menawarkan bantuan untukku. Tapi, kurasa untuk saat ini aku belum membutuhkannya.
“Ah, tidak perlu. Takut merepotkan.” jawabku sambil mengibaskan tangan didepannya. Aku memang tidak ingin membuatnya repot dan susah payah mengantarku menuju kelas bahasa.
“Tidak. Ayo!” ajaknya tak mau menyerah. Ia menarik satu tanganku dan mengajak beranjak dari tempat kami berdiri. Karena merasa tidak enak, aku pun mengikuti langkah kakinya yang sekarang, seperti menjadi sorotan mata-mata ingin tau.
“Teman kakak, perempuan atau laki-laki?”
“Perempuan.”
Aku melihat Ghea hanya memberi anggukan sebagai tanda paham.
“Setauku, dikelas kakak itu, ada salah seorang mahasiswi yang dijauhi hampir seluruh mahasiswa disini.”
Aku mengerutkan kening. Apa Ghea sedang membicarakan JyRu?
“Aku tidak tau.” jawabku sekenanya, karena jujur aku tidak ingin mendengar nama JyRu muncul sebagai nama mahasiswi yang dimaksud Ghea.
“JyRu, kakak mengenalnya?”
Benar bukan?
“Oh, tentu.”
“Dia murid yang aneh.”
Aneh? Bagaimana bisa dia berkata begitu tanpa tau bagaimana sosok JyRu yang sebenarnya.
“Maksud kamu aneh itu yang bagaimana? Aku tidak mengerti.” kataku benar-benar ingin tau alasan mereka si pembenci sampai menganggap JyRu seperti itu.
“Kata teman-teman yang memiliki kemapuan melihat hal-hal—”
Kata-kata terhenti ketika JyRu tiba-tiba muncul dihadapan kami. Tiba-tiba, tanpa terdengar suara ketukan sepatu diatas lantai, tanpa terlihat siluetnya mendekat ke arah kami.
“Astaga.” pekik Ghea setengah berteriak. Langkah kaki gadis itu menapak mundur, seolah JyRu adalah objek yang harus dihindari.
Dan satu pertanyaan kembali muncul dalam kepalaku. Bukankah tadi dia sudah berada jauh, bahkan menghilang di perpotongan tangga paling ujung disana. Lalu bagaimana bisa dia sampai disini secepat ini?
“Kelas sudah akan dimulai. Bukankah kamu memintaku untuk pergi bersama-sama? Kenapa jalanmu lamban sekali?”
Kapan aku mengatakan ingin pergi bersamanya? Aku tidak pernah berkata apapun, apalagi memintanya menemaniku menuju kelas bahasa.
“O-oh. Ya.” jawabku gugup dan mengalihkan tatapan lurus dari JyRu kepada Ghea untuk mengucapkan pamit. “Makasih udah nemenin aku sampai disini ya, Ghe. Sampai jumpa lagi lain waktu.”
“I-iya, kak.”
Dan Ghea berlalu begitu saja dengan wajah seperti ketakutan. Namun JyRu masih betah menatap lurus gadis yang sudah berjalan cepat menjauh dari kami itu.
Tidak seperti Ghea yang menatap takut kepada JyRu, aku justru menatap lega karena JyRu bersedia kembali untukku.
Aku melewatinya sambil berkata, “Lain kali, jangan tinggalkan aku sendirian. Aku belum hafal letak semua kelas di kampus ini.” kataku frustasi lalu berjalan mendahului dan di susul JyRu yang juga melangkah di balik punggung ku.
Seluruh kewarasan ku masih mempertanyakan hal yang sama, kapan JyRu datang kepadaku? Padahal aku sudah benar-benar melihat dan memastikan jika dia tidak lagi ada dalam radius yang bisa dijangkau langkah dengan cepat.
Hingga sesampainya kami di sebuah kelas yang masih sangat asing bagiku, JyRu membawaku duduk disampingnya. Tatapan mereka masih sama, mereka menatap aneh dan penuh tanya kearah kami. Terutama JyRu.
Ku letakkan tas punggung dimeja, dan duduk disamping JyRu. Kelas bahasa ini, memiliki aula yang sangat besar dengan bangku membentuk setengah lingkaran seperti tangga yang memiliki ruang pijakan berbeda.
JyRu memilih meja tepat di tengah, hingga ratusan pasang mata yang penasaran itu dengan mudah mendapatkan kami.
“Terima kasih sudah mau kembali padaku. Padahal, tadi Ghea sempat menawariku bantuan.”
Tidak ada jawaban. JyRu hanya diam menunduk menatap pensilnya yang sekarang sibuk menggambar sebuah pola hewan. Aku mengetahui itu dengan cepat.
“Aku, tidak akan mengganggumu lagi jika kamu memberi alasan yang konkrit untukku.” kataku masih belum mau menyerah akan rasa ingin tahuku sendiri.
Dan ya, pola itu sudah membentuk seekor hewan.
Serigala.
Serigala yang terlihat familiar dimataku.
“Kamu tidak membutuhkan alasan. Kamu hanya perlu melakukannya sebelum menyesal.”
“Apa karena orang lain menganggap mu seperti itu, jadi kamu juga menganggap ku sama seperti mereka?” tekanku frustasi berharap dia mau berterus terang karena sudah terpojok. Namun sial menyapa, karena tepat setelah suaraku yang terdengar sedikit meninggi itu terhenti, rektor masuki ruangan dan kelas pun dimulai.
Semua fokus menatap pada layar putih terbentang yang sekarang menampilkan materi pembahasan. Tapi aku, tetap tidak bisa fokus hingga tanpa aku minta. Telapak tanganku menulis sesuatu, kemudian mendorong tulisan itu ke hadapan JyRu.
Kamu berhutang penjelasan padaku.
[]
...To be continue...