
...Selamat membaca...
...Jangan lupa untuk memberikan like, komentar serta subscribe dan juga Vote dan hadiah jika berkenan ☺️...
...Terima kasih...
...[•]...
...|JyRu 27|...
Jyru's Side
Karena otak yang sudah tidak lagi berfikir jernih, aku berfikir jika memberi sebuah pelajaran untuk Arthur, adalah hal yang impas untukku. Mungkin dengan begitu, dia akan mengubah jalan pikirnya dan tidak akan pergi dariku.
Disana, aku melihat mereka dalam bayangan mataku saat memejam. Didalam mobil, tiga orang, sedang membicarakan kepindahan mereka. Indera pendengaranku yang tajam bahkan dapat mendengar dengan jelas jika mereka akan membawa Arthur pergi dalam waktu dekat.
Aku semakin geram. Telapak tanganku mengepal kuat, sorot mataku tak lagi bersahabat. Dengan mudah ku dapatkan perubahan wujud karena sebuah emosi. Aku berubah menjadi seekor serigala tanpa harus menunggu bulan menyorot tubuhku, atau mengerahkan otakku dengan susah payah.
Ada sebuah pagar pembatas jalan dengan jurang yang terbuat dari besi berbentuk bulat sebanyak tiga susun, yang diperuntukkan menjaga keselamatan pengendara jika terjadi hal yang tidak disangka karena disini memanglah kawasan hutan, banyak hewan liar yang tidak disangka akan muncul.
Aku ingin memberi Arthur sebuah peringatan agar dia tau, tidak semudah itu dia mempermainkan diriku. Ya, setidaknya begitu.
Bisa kurasakan gesekan roda dengan aspal jalanan yang semakin dekat. Aku mengambil ancang-ancang agar mereka hanya mengalami syok, dan tidak sampai celaka.
Baiklah, sekarang saatnya aku muncul.
Aku berlari ke tengah jalan yang sontak saja membuat mobil itu berusaha berhenti hingga rodanya berdecit nyaring. Tubuh kecilku tertabrak hingga terpental jauh. Tapi tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja dalam hitungan menit. Semua akan kembali normal karena sistem regenerasi yang dianugerahkan padaku, cukup menakjubkan.
Dari tempatku yang berusaha bergerak bangkit, aku melihat mereka yang mengaduh kesakitan. Lalu, aku bisa mendengar kalau adik Arthur sedang menghubungi pria itu untuk datang ke tempat mereka berada sekarang.
Aku duduk memperhatikan, menunggu Arthur datang dan melihat apa yang sudah kulakukan jika dia berani melanggar janjinya. Bagiku, ini hanya sebuah peringatan, sebuah gertakan agar dia tidak pergi dariku.
Tak lama setelah itu, Arthur datang bersamaan dengan sebuah mobil polisi. Mereka sibuk memberikan pertolongan tanpa peduli dengan kehadiranku. Hingga akhirnya, mata kami bertemu. Aku melihat sorot mata kecewa dari pupil mata kecoklatan milik Arthur, lalu dia mengalihkan tatapan. Apa dia sedang berusaha menghindari ku? Tidak mungkin kan?
Bersamaan dengan kedatangan Arthur, Doce datang. Dia mendekat ke arah Arthur dan sontak saja aku berlari mengejar, seolah aku sedang berusaha menyerang pria waktu cintai itu.
Sebuah peluru melesak ke tubuhku saat salah satu dari polisi itu meloloskan tembakan. Aku terhuyung, namun berusaha terus berjalan menjauh, memasuki area hutan yang gelap dengan salah satu sisi perutku yang berdarah. Aku mencoba mengendalikan diri dan mengubah diri untuk menjadi seorang manusia.
Aku bersandar di balik sebuah pohon besar dengan nafas tidak teratur. Kutekan luka yang sekarang terasa begitu panas seperti dibakar. Aku berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhku, dan berhasil. Aku harus segera mencari Doce untuk menghabisinya sebelum dia yang mengambil hatiku.
Aku kembali berwujud menjadi seekor serigala dan berlari cepat mencari sosok Doce. Hingga aku melihatnya disana. Doce masih berada disekitar Arthur yang sudah bersiap meninggalkan lokasi dengan motornya. Aku, mengejarnya.
Kutarik sosoknya hingga menjauh tanpa disadari oleh Arthur, dan hanya ada kami berdua disini. Satu hal yang menjadi tujuanku saat ini adalah, membu-nuhnya. Membu-nuh Doce agar dia tidak lagi mempengaruhi siapapun untuk mengakhiri hidupku. Kalaupun aku harus berakhir, aku sendiri yang akan mengakhiri semuanya. Bukan dia.
Kami saling berguling diatas tanah tertutup daun basah. Dia kembali melayang sejenak, namun aku berhasil menghentikannya, menariknya hingga jatuh tersungkur sekali lagi ditanah. Emosiku sudah meluap, tidak akan ada yang bisa menghentikan ku saat ini.
Doce tertawa melihatku. Dia terlihat bangga pada dirinya karena berhasil membuat Arthur mengambil apa yang seharusnya aku jaga sejak dulu. Sejak aku terlahir di Folk.
“Bagaimana rasanya di abaikan orang yang sudah mengambil harga dirimu, hm?”
Aku tidak memberikan jawaban. Aku hanya menatapnya lurus penuh kebencian. Aku semakin yakin untuk mencabik jantungnya hari ini. Dia kembali tersenyum disudut bibir, lalu berjalan dengan kaki telan-jang tanpa alas kaki.
Suaranya begitu memuakkan.
“Sekarang, serahkan saja hatimu padaku agar aku bisa hidup abadi. Percuma kamu berusaha menyembunyikan keputusasaan yang sekarang sedang menggerogoti rasa percaya dirimu itu, benar?”
Aku masih menyorotnya tajam. Nafasku berembus berat. Doce masih sama menyebalkan seperti dulu. Aku bahkan bertanya-tanya mengapa di ciptakan dengan wujud dan sifat seburuk itu? Lalu, mengapa harus aku yang menjadi incarannya?
Menggelikan.
“Untuk apa aku patah hati?”
“Hei, kamu jangan bicara seolah kamu itu hewan paling kuat di muka bumi.”
Celetukan Doce justru mematik amarah yang semakin membara.
“Berikan hatimu, dan mati lah dengan tenang.”
Tidak akan semudah itu.
Aku mulai menatap matanya, mencari sudut lemah dalam dirinya, kemudian menyerangnya. Akan tetapi, mengapa tidak ada? Yang terbaca justru pribadi Arthur yang begitu jelas.
Sial. Sepertinya dia sudah hampir menguasai Arthur sepenuhnya.
“Kamu yang akan mati di tanganku, sebelum kamu memakan hatiku.” []
...To be continue...