
...Selamat membaca...
...Jangan lupa untuk memberikan like, komentar serta subscribe dan juga Vote dan hadiah jika berkenan ☺️...
...Terima kasih...
...[•]...
...|JyRu 30|...
“Stop! Jangan pernah mengatakan kamu mencintaiku, untuk menahanku. Karena aku akan tetap pergi.”
Kata-kata yang amat sangat menggambarkan sebuah keputusasaan.
“Tolong, berhenti. Kembalilah padaku, Trche Jyl Ruana. Aku mohon padamu.”
Aku melihatnya menghentikan langkah. Namun tubuhnya sama sekali tidak berbalik padaku. Sungguh, aku ingin merutuki kebodohan ku sekarang. Mengapa aku membuat hidupnya menjadi serumit itu, padahal jika aku bisa menahan semua keegoisanku malam itu, kami bisa tetap menjadi sepasang kekasih. Atau paling tidak, kami tetap berteman.
“Untuk apa? Untuk membuatku semakin hancur?” tanyanya yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala. “Aku ... aku tidak seharusnya percaya padamu. Tidak seharusnya aku membuka diriku pada siapapun yang pada akhirnya, sama saja.
Sial! Aku ingin memeluknya sekarang.
“Tolong,” pintaku memohon dengan sangat agar dia tidak mengambil keputusan yang ia sebut takdir.
Sekarang, dia berbalik. Gerakannya terlihat begitu sulit, namun ia tetap berusaha.
“Tolong,” bisikku. Entah pergi kemana suaraku yang biasanya begitu lantang. Aku merasa teramat sedih malam ini. Namun tidak mau munafik juga dengan berpura-pura baik-baik saja padahal kenyataannya aku juga merasa tidak nyaman.
Mengapa JyRu tidak jujur sejak awal padaku dan membuatku menerima apapun dirinya.
Aku berdiri tepat didepannya, lenganku terulur ingin menyentuh surainya yang kotor dan basah. Gadis yang aku cintai, sedang hancur karena diriku. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku sendiri bahagia jika terjadi sesuatu pada JyRu. Pegang janjiku.
Tidak ada perlawanan. Dia hanya diam menatap wajahku yang kini basah oleh airmata. Aku menangis, untuk pertama kalinya karena seorang wanita. Dan dia adalah JyRu, wanita yang berhasil membuatku bimbang dengan keputusan yang hendak ku ambil.
“Aku bisa menolak papa, dan tetap disini bersamamu. Kita mulai semuanya dari awal.” kataku dengan suara parau yang nyaris terbata.
Semoga ada jalan untuk kembali. Semoga saja dia mau menerimaku kembali setelah mendengar ucapan papa yang menyakitkan.
JyRu tersenyum. Namun tidak ada sedikitpun rona bahagia di wajahnya.
“Pergilah, Art. Aku akan baik-baik saja.” katanya lembut. Aku tau dia berbohong agar aku tetap memilih keluargaku. “Mungkin takdir memang tertulis seperti ini, untuk kita.” lanjutnya sedikit tertawa.
“Kita perbaiki!” kataku sedikit menyentak karena kesal. Dan suasana hatiku semakin kacau saat dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada gunanya lagi aku disini. Folk sudah subur. Folk sudah tidak lagi butuh hujan.”
“Kamu salah—”
“Tidak. Semuanya sudah tertulis untukku, Art. Semuanya akan ku tebus dengan diriku, dan Folk akan tetap makmur tanpaku. Itu takdirku dilahirkan dan di turunkan disini.”
Air mataku jatuh semakin deras. Namun sebaliknya, tidak ada airmata lagi di wajah JyRu. Hanya sebuah senyuman yang membingkai wajah cantiknya. Wajah cantik yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun.
Aku tertunduk dalam dengan tubuh bergetar hebat ketika angin tiba-tiba menerpaku. Hujan rintik tiba-tiba turun, dan bersamaan dengan itu wajah JyRu terlihat dalam ingatan. Aku memejamkan mata, mengingat semua kebersamaan yang sudah kami lewati bersama beberapa bulan ini.
Dan ketika ku buka kembali mataku, tidak ada siapapun. Bahkan bayangan punggung JyRu meninggalkan diriku pun, tidak ada. Hanya aku sendiri, ditengah rintik hujan yang semakin lebat. Hingga mama datang untuk melindungiku dari tangis langit yang seolah ikut bersedih.
Bisakah aku meminta waktu untuk diulang kembali?
“Ayo masuk. Kamu akan sakit jika seperti ini.”
Aku melihat bulan yang redup dibalik mendung. Langit benar ikut bersedih.
Ku langkahkan kaki melewati teras rumah, kemudian berjalan tanpa tenaga melewati papa. Semua sistem tubuhku berantakan hanya karena harus berpisah dengan JyRu.
Kulihat, papa tidak main-main dengan ucapannya. Ada beberapa koper yang sudah siap di ruang tengah, dan itu artinya kami akan kembali ke kota. Papa bahkan tidak peduli bagaimana nasib kuliahku. Papa mengutamakan keselamatan kami, yang aku yakin tidak akan pernah terjadi apa-apa. Kami akan baik-baik saja meskipun tidak kembali ke kota.
Tapi masalahnya, papa menganggap JyRu itu berbahaya. Jadi bagaimana aku memberikan penjelasan padanya agar dia percaya padaku? Agar dia percaya jika JyRu adalah makhluk yang baik?
“Sekarang, ambil kopermu dan segera turun. Kita berangkat ke kota sekarang juga.”
Bukannya menuruti papa, aku memilih berhenti dan memaku kedua kakiku sambil menatap papa lekat-lekat. Meskipun berat untuk menentukan apa yang akan aku pilih. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk berlari mengejar JyRu yang entah sudah dimana sekarang. Dia tidak lagi ada di jangkauan penglihatan ku.
Aku bergegas menaiki motor dan menuju rumah JyRu. Seharusnya dia memang pulang kan? Atau ...
Sesampainya di depan rumah tua tempatnya tinggal bersama sang nenek, tidak ku dapati siapapun disana. Rumah itu tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda seseorang didalam. Aku semakin khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Apa dia harus menerima takdirnya? Apa dia harus menghilang?
Astaga, ini tidak boleh terjadi. JyRu harus tetap ada. Dia tidak boleh menghilang.
Aku memutar tumit, berlari entah kemana. Namun dari artikel yang dibuat JyRu, yang pernah ku baca, jika memang JyRu harus menerima takdir dan menjalani hukuman untuk menghilang, dia akan datang kesebuah tempat menyerupai tempat pemujaan, dimana dia dulu di titipkan kepada manusia.
Letaknya, ada di jantung hutan. Dan sialnya, aku tidak tau tempat itu dimana. Sama sekali tidak tau. Siapa yang akan memandu atau memberitahuku dalam situasi seperti ini?
“Ghea!”
Tiba-tiba nama itu muncul dikepalaku. Aku bergegas meraih ponsel dan mencoba menghubungi Ghea, siapa tau dia pernah datang atau melihat tempat itu.
Nada hubung berbunyi sebanyak tiga kali, dan suara Ghea menyapa di seberang.
“Ada apa, kak Arthur?”
Bagaimana aku memulai pembicaraan dengannya ya? Atau to the point aja?
“Kamu tau letak tempat dimana pertama kali manusia serigala itu terlahir?”
Ya, anggap saja tempat itu adalah tempat lahirnya seorang Trche Jyl Ruana. Karena aku juga tidak tau cara menyebut tempat tersebut. Aku menyimak apa saja yang dikatakan Ghea, dan membalas pertanyaan perempuan sesuai kenyataan.
Ghea mengakhiri panggilan dan mengirim sebuah pesan yang sangat panjang, yang memberitahukan dimana letak dan ciri-ciri tempat yang menjadi tujuannya kali ini.
Sebenarnya Aku sedikit putus asa dan tidak puas dengan isi pesan Ghea. Karena jika seperti ini, aku juga bisa mencarinya di laman internet. Tapi, dari pesan panjang Ghea itu jugalah yang berhasil menuntunku untuk sampai di sebuah tempat yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Setelah ku baca lebih paham, ternyata isi pesan itu lebih detail dan aku tidak sulit menemukan lokasi yang sedang kucari.
Aku ada di jantung hutan dengan udara lembab yang sangat dingin dan gelap karena hari memang sudah terlalu malam untuk berada didalam hutan untuk seorang manusia normal seperti diriku.
Disini, aku bisa melihat sebuah bangunan tanpa atap, dengan pelataran ubin yang sangat luas, lalu terdapat delapan pilar berukuran raksasa yang mengelilingi ubin tersebut. Tidak ada yang lain. Ah, ternyata aku melupakan satu bangunan kecil yang letaknya tidak begitu jauh dari tempatku berdiri saat ini.
Disana ada seperti bangunan induk yang memiliki dua pilar, memiliki atap, dan ... mengapa tempat itu berkelip?
Aku berlari kesana.
Mataku terbuka lebar saat melihat sumber kelip itu berasal. Aku melihat dengan jelas, JyRu sedang duduk bersimpuh membelakangi tempatku berdiri, dan ada nenek yang berdiri tidak jauh dari JyRu dengan tatapan kosong penuh kesedihan.
Ini salahku. Bukan salah mereka.
Aku mengesampingkan apapun yang membuatku ragu. Aku tidak bisa mengingkari perasaanku sendiri pada JyRu. Aku mencintainya. Aku bahkan rela menukar diriku jika hal itu bisa membuat JyRu tetap berada disini.
Aku menerjang kelip debu yang menyerupai kunang-kunang yang berhambur di udara itu. Lantas dengan gerakan cepat aku mendekap tubuh JyRu, membawanya kedalam pelukan erat agar dia tidak pergi. Agar dia tidak menghilang.
“Maafkan aku,” bisikku yang tidak ditanggapi sedikitpun oleh JyRu. Pandangannya kosong. JyRu seperti diambang kesadaran.
“Aku mohon sadarlah, maafkan aku.”
Tetap tidak ada respon, dan aku semakin ketakutan saat tubuh JyRu semakin lemah. Astaga, mengapa aku melakukan ini pada perempuan yang aku cintai.
Aku menangis kencang sambil mendekapnya semakin erat. Takut jika dia akan berubah menjadi abu dan berhambur ke udara.
“Jyl Ruana, tolong dengarkan aku.” pintaku lagi sembari mengguncang tubuhnya berharap dia akan kembali sadar. Tapi tidak berhasil.
Suara berisik menyerupai angin berputar menyapa pendengaran. Suara desisan kelip yang bertabrakan, berubah menyerupai irama kesedihan. Sampai aku mendengar dia berbisik lemah, suaranya begitu kecil dan sendu.
“Terlambat, Art.” katanya. Seketika itu juga aku terbelalak, memeluknya semakin dan semakin erat.
“Tolong jangan pergi. Maafkan aku.”
Kelip itu berputar semakin cepat dan menjadi gemuruh. Aku dan JyRu berada di pusat putaran tersebut.
“Aku mencintaimu.” kataku pada akhirnya. Hingga mataku menggelap, tak ada lagi yang bisa kulihat selain pekat. Kepala dan tubuhku seperti melayang di udara, dan aku bisa merasakannya seperti nyata.
Lalu, sebuah bayangan putih datang dengan sinarnya yang terang di kejauhan.
Jika kamu ingin dia tetap berada disini, cintai dia. Jangan pernah mengkhianati atau menyakiti dia sedikitpun.
Aku mendengarnya dengan jelas. Suara itu begitu lemah lembut, namun tanpa wujud.
Dan karena dia juga mencintaimu, ku beri kalian satu kesempatan.[]
...To be continue ...