Jyru

Jyru
13



...Selamat membaca...


...Jangan lupa dukungannya untuk JyRu ya . . . 😊...



...|JyRu 13|...


Aku melihat punggung JyRu yang sedang fokus mengikuti mata kuliah hari ini. Pikiranku kalut dan ingin mencari kebenaran tentang pikiran yang tiba-tiba timbul begitu saja ketika benang yang kusut dalam otakku beberapa waktu lalu, mulai terburai. Salah satunya, tentang apa hubungan JyRu dengan manusia serigala itu jika dihubungkan dengan kata-kata Ghea dan sifat para orang-orang di kampus yang menjauhinya. Tidak masuk akal, tapi terus saja membuatku tidak nyaman dan terus menggabungkan hal-hal yang tidak mungkin.


Materi yang di sampaikan hari ini pernah aku ikuti di kampus lama. Jadi, aku hanya perlu mendengar karena aku sudah paham. Dan benar tentang dugaan ku, metode disini sedikit lamban.


Aku menghela nafas kasar dan menyandarkan punggung di sandaran kursi, lalu menatap sketsa yang aku gambar beberapa saat lalu. Sebuah sketsa yang aku sendiri tidak tau mengapa aku membuatnya tanpa tujuan jelas. Sketsa wajah seseorang yang selalu menjadi objek otakku merapal dan mengurai benang kusut sebuah mitos. Berikut sketsa seekor serigala yang—


Ah, ini tidak mungkin kan? Aku hanya asal menebak saja tanpa dasar dan alasan lainnya yang relevan. JyRu itu manusia sama seperti aku. Tapi, dia memiliki kehidupan yang jauh dari peradaban manusia modern, seperti kami. Harusnya hanya seperti itu, kan?


Oke. Jangan berfikir macam-macam dan cari pembahasan logis dengan otak sendiri. Cerita itu hanya mitos. Belum tentu benar atau tidaknya, nyata atau tidaknya. Jadi, yang perlu aku lakukan, hanya terus mengikuti arus tanpa harus terseret terlalu jauh dan berakhir ikut tenggelam ke dasar dan tidak mampu lagi menatap permukaan.


Tak berselang lama, rektor didepan menyudahi materi dan pamit setelah memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya. Tatapan mataku kembali tertumbuk pada siluet JyRu yang terlihat seperti sedang membereskan buku. Aku bergegas bangkit dari bangku dan menyapanya.


“Ada acara tidak hari ini?”


JyRu mendongak menatap padaku, kemudian menggeleng. “Tidak, kenapa?” tanya nya lalu tersenyum.


“Ah, aku ingin mengajak kamu ke toko yang kapan hari kita datangi itu.” tanyaku sedikit ragu dan pesimis. Aku punya satu buku yang ingin ku beli disana, di toko buku yang ada di dalam Mall itu.


Sebut saja toko meskipun tulisan di papan bagian depannya adalah Mall. Tempat itu tidak bisa disebut Mall, karena . . . ah, sudahlah jangan dibahas.


“Aku—”


“Nanti aku yang bicara dengan nenek kamu setibanya di rumah.”


Aku pikir ini tidak akan jadi masalah karena kami berteman 'kan?


JyRu terlihat berfikir. Mungkin ajakanku terlalu beresiko untuknya.


“Baiklah. Tapi jangan pulang terlalu malam. Aku khawatir nenek menungguku.”


Aku mengacungkan ibu jari dengan sebuah senyuman yang aku bentangkan di bibir. Berusaha meyakinkan JyRu jika aku tidak akan membuatnya kesulitan lagi seperti malam itu. Aku menatap matanya,


“Kamu kenapa?”


JyRu mengangkat wajahnya sebentar, menautkan manik mata kami beberapa detik kemudian tertunduk.


“Tidak kenapa-kenapa.” jawabnya berusaha terlihat tenang tapi nampak jelas di mataku ada sebuah rasa yang tidak bisa aku tebak dengan jelas. Dia terlihat gusar dan sedikit ketakutan.


“Ada sesuatu yang mengganggu mu? Apa kamu keberatan dengan ajakan ku? Katakan saja, tidak apa-apa.”


JyRu menatapku sedikit lebih lama. Aku pun tak melewatkan kesempatan untuk menelisik manik matanya untuk mencari tau apa yang sedang ia pikirkan hingga terlihat murung seperti itu. Namun tetap, aku tak menemukan apapun didalam pupil oranye miliknya. Semua terlihat baik-baik saja. Tapi apa yang membuatnya terlihat sendu?


“Aku . . . aku hanya sedang tidak suka mendapat tugas.”


Aku tau itu bohong. Tapi, mari percaya saja kepadanya. Biarkan dia dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Biarkan dia meredam dirinya sendiri untuk saat ini.


“Mau belajar bersama?”


JyRu menggeleng. Kemudian tersenyum padaku.


“Aku baik-baik saja, Art. Jangan terlalu khawatir kepadaku. Kamu berlebihan jika kamu memikirkan aku sedang ada masalah.”


Baiklah, mari menyerah sejenak untuk tau banyak hal di kemudian hari.


“Maaf kalau aku terlihat seperti itu.”


JyRu mengusap satu lenganku. “Tidak apa-apa, wajar karena kamu adalah manusia. Mereka memiliki berbagai macam ekspresi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.”


***


Seolah sudah direncanakan matang olehku, aku yang sejak pagi membawa helm di motor yang aku bawa ke kampus, dengan gerakan cepat menyerahkan helm itu kepada JyRu untuk ia pakai.


Aku menyalakan mesin motor dan menunggu JyRu naik ke atas boncengan. Dan tak butuh waktu lama, motorku terguncang ketika JyRu menaikinya. Aku menahan keseimbangan dengan kedua kaki menapak di atas tanah lembab yang tertutup daun kuning yang masih basah. Kedua telapak tangan JyRu menyentuh pundak ku, kemudian menepuknya satu kali di bagian kanan sebagai isyarat jika dia sudah siap, dan aku melajukan motor.


Kami menjadi perhatian sepanjang jalanan menuju pintu gerbang keluar kampus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin melihat sisi JyRu yang selama ini di jauhi oleh seseorang dari sudut pandang diriku sendiri, bukan berdasarkan kata apalagi hasutan orang. Dia sebenarnya tidak pantas menerima diskriminasi dari orang lain yang tidak tau seperti apa kehidupan JyRu semala ini.


Topik inilah yang akan aku bawa hari ini saat melewati bentangan aspal yang terlihat lengang, cenderung sepi.


“Boleh aku tanya sesuatu?” kataku singkat, semoga JyRu tidak keberatan.


“Ya.”


Aku menarik nafas dalam, takut salah pilih topik dan salah bicara.


“Kenapa . . . orang-orang di kampus terlihat seperti menjauhi mu?” tanyaku penuh rasa ingin tau.


Suara berisik angin yang masuk melalui celah kecil Helm yang ku kenakan sedikit mengganggu indra pendengaran ku yang mencoba fokus menangkap jawaban JyRu atas pertanyaan yang aku ajukan.


“Entahlah. Aku tidak begitu peduli terhadap tanggapan mereka kepada ku.”


Tentu. Harus seperti itu, karena hanya dengan cara itu, dia bisa memenuhi dirinya dengan sikap dan rasa percaya diri. Aku kagum pada JyRu, karena dia mampu bertahan diantara orang-orang yang menganggap juga melihat nya aneh dan berbeda.


“Ah, ya. Itu memang harus kamu lakukan sebagai bukti jika kamu tidak seperti apa yang mereka duga.” jawabku sedikit memprovokasi, siapa tau dia akan bicara tentang dirinya setelah ini. “Jadi, kamu tidak masalah dengan tatapan mereka yang melihatmu seperti itu?”


Aku melirik spion motor. JyRu mengangguk. “Ya. Tidak masalah.”


Masih saja tidak berhasil.


Eum . . .


E . . .


Mari kita coba.


“Apa kamu percaya dengan makhluk mitologi?”


Ini pertanyaan jebakan. Aku harus siap mendengar apapun jawaban dari JyRu, itu adalah konsekuensi yang harus aku terima.


“Makhluk mitologi?” kata JyRu membalik pertanyaan.


“Ya.”


Aku kembali melirik kaca Spion motor, dan aku dapati wajah JyRu yang terlihat tidak nyaman membahas hal ini.


“Ya, aku percaya.”


Sepertinya semua orang disini percaya dengan mitos itu. Jangan bilang aku salah memilih partner bicara lagi, selain mama dan July.


“Apa kamu sedang membicarakan mitos tentang manusia serigala di Folk?” tanya JyRu melanjutkan asumsinya tentang ajakan ku memuat topik makhluk mitologi.


“Aku rasa, aku perlu tau tentang mitos itu, karena aku penduduk baru disini.” kataku beralibi. Entah mengapa, dari sekian banyak mitos yang pernah aku dengar, Folk memiliki cara tersendiri untukku ingin tau semuanya.


“Sebaiknya, kamu percaya saja dan jangan mengorek apapun.”


Lho, JyRu bisa menebak nada suaraku, ya? Kenapa dia seperti tau maksudku bicara mengenai hal ini dengannya.


“Penduduk asli Folk yang sudah lama tinggal, sangat sensitif dan tidak suka di usik.” peringatnya padaku. Aku masih tidak ingin menyerah begitu saja.


“Lalu, apa aku boleh tau semua itu darimu?” []


###


JyRu jawab apa ya?🤔


Enaknya, nanti JyRu ditulis kasih jawaban apa? Pengakuan, atau penyangkalan?