Jyru

Jyru
19



...Selamat membaca...


...Silahkan meluangkan waktu untuk memberi Like, komentar, serta jangan lupa untuk berlangganan, vote dan beri hadiah untuk JyRu jika berkenan ☺️...


...Terima kasih...



...|JyRu 19|...


“Doce Gumbl, adalah makhluk yang bisa menyerang manusia serigala saat hatinya sedang terluka, rapuh, dan putus asa.”


Katanya, dan aku masih perlu mendengarnya lebih jauh.


“Seandainya, jika kamu terpilih menjadi orang yang dipercaya oleh manusia serigala untuk menjadi orang terdekatnya, apa kamu bisa menjaga hati dan perasaannya, Art?”


Haruskah aku menjawab iya?


“Itu, tidak tau. Aku akan berusaha untuk melakukan itu jika memang perlu.” kataku, tidak meyakinkan sama sekali.


JyRu tersenyum lembut. Rambut oranye yang terkena siraman matahari sore, terlihat begitu indah. Matanya terlihat berkelip dalam binar bening yang mampu membuat siapapun yang melihatnya, akan terpanah.


“Aku hanya bertanya. Jangan dimasukkan hati. Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu?”


Aku segera mengusap pipiku dengan telapak tangan. Mencoba membuat wajahku kembali relax.


“Benarkah? Apa aku terlihat sangat kaku sekarang?”


Bukan lagi tersenyum, JyRu terkekeh mendengar jawabanku. Astaga, ini sangat memalukan.


“Ya, wajahmu terlihat seperti ... ketakutan.”


Buru-buru aku menyangkal asumsi JyRu tentang ekspresi wajahku yang memang sejak dulu seperti ini.


Ah, tidak. Aku memang sedikit khawatir saat JyRu berkata demikian. Aku takut, jika ucapan JyRu menjadi kenyataan dan aku tidak berhasil membuktikan ucapanku dan membuat manusia serigala itu dalam bahaya, yang artinya, Folk juga akan berbeda dalam masalah karena kehilangan sosok mitologi yang mereka percaya mampu membuat tanah tempat tinggal mereka berubah subur.


Jika manusia serigala itu mati, secara otomatis folk akan kembali mengalami kekeringan. Tanahnya akan gersang, tandus, dan mereka akan hidup dalam kesengsaraan seperti kehidupan lampau mereka sebelum adanya sosok manusia serigala yang dianugerahkan kepada mereka sebagai berkah.


“Ah, ya. Aku hanya khawatir tidak bisa membuktikan ucapanku.”


JyRu kembali menundukkan kepalanya. Kali ini raut wajahnya terlihat sendu.


“Padahal, kamu hanya perlu setia pada pertemanan dan menjaga hatinya.”


Hati.


Hati yang seperti apa? Maksudnya, hati dalam artian sebenarnya yang akan dimangsa oleh Doce Gumbl, atau ... hati yang berhubungan dengan perasaan?


“Kamu hanya perlu menjaga hatinya agar tidak putus asa, dan berakhir dimangsa oleh Doce Gumbl.” kata JyRu dengan nada rendah dan terdengar begitu sedih.


Hati dalam artian dua hal yang sama. Tentang sebuah perasaan, dan tentang hati dalam artian sebenarnya.


“Kalau seperti itu, sangat berat untuk manusia biasa seperti aku. Aku tidak akan sanggup menjaga dua artian hati yang kamu maksud.” kataku jujur. “Jadi, aku berharap tidak bertemu dengan dia.”


JyRu menatapku dengan sorot mata kosong. Dia terlihat kecewa.


“Benarkah kamu tidak ingin bertemu dengannya?”


Aku mengangguk yakin. Aku tidak akan bisa mengemban tanggung jawab besar menjaga sumber kehidupan Folk.


“Ya. Mustahil untukku.”


Kedua bahu JyRu jatuh layu dengan nafas berembus cukup keras.


“Padahal, pasti menyenangkan bisa bertemu dan menjadi orang beruntung yang dipilih.”


“Memangnya kenapa?”


“Dia akan memberikan apapun yang kamu minta.”


“Oh benarkah?” tanyaku berbinar, dan JyRu mengangguk antusias. “Apa dia bisa mengembalikan aku ke kota?”


Senyuman dan tatapan antusias JyRu sirna seketika, dan hal itu cukup menghibur untukku hingga aku tertawa lepas.


“Jangan berharap hal mustahil. Dia bukan pesulap yang bisa mengembalikan kamu hanya dengan menjentikkan jari.”


Aku tertawa, sangat terhibur.


“Kamu sendiri yang berkata jika dia akan memberikan apapun yang aku minta.”


“Oke, pertanyaan selanjutnya saja yang harus aku bahas sekarang. Jangan menertawakan manusia serigala yang tidak bisa mengembalikan kamu ke kota.”


“Baiklah, baiklah.” kataku sambil memegangi perut yang mulai kaku karena terlalu bersemangat tertawa.


“Apalagi pertanyaannya tadi?” tanya JyRu, ketus hingga membuatku kembali tertawa hingga punggung ku melengkung.


“Apa ya?”


“Kenapa kamu begitu ingin tau banyak hal?”


“Karena aku khawatir.” sahutku cepat masih di antara tawa di bibirku. “Selain itu, aku juga merasa ada banyak sekali hal yang tidak aku mengerti selama tinggal disini.”


Tidak ada jawaban, hanya suara gemericik air yang mengalir yang menjadi jawaban atas ucapanku karena JyRu memilih bungkam untuk hal itu.


“Katakan, apa lagi yang ingin kamu ketahui sekarang?”


Aku berusaha mengingat kembali rentetan pertanyaan yang tadi aku sodorkan pada JyRu. Dan ya,


“Lalu, ramuan itu?”


Ada gelagat tidak biasa yang aku tangkap dari gerakan tubuh JyRu. Dia seperti tidak nyaman mendengar pertanyaan tersebut. Tapi setelah itu aku kembali mendengar suaranya menyapa indera pendengaran milikku.


“Nenek, bisa membuat dan tau banyak hal tentang tumbuh-tumbuhan. Nenek juga bisa membuat beberapa ramuan untuk menangkal hal-hal mistis yang sedang mendekat padamu, atau mencoba menyakitimu.”


Oh,


“Jadi, itu alasan kamu berkata jika jiwaku dalam bahaya, saat itu?” tebak ku tak sabar ingin mendengar penjelasan dari JyRu. Akan tetapi, dia mengangguk ragu.


“Ya. Kira-kira seperti itu.” jawabnya pelan, kemudian melanjutkan. “Nenek bilang, dia melihat sesuatu sedang mengikutimu dan ingin mempengaruhimu, dan yang paling buruk, dia ingin menyakitimu.”


Aku meremas tanganku sendiri. Jadi, mimpi itu benar? Dia sedang berusaha mempengaruhiku? Sosok itu, sedang berusaha mengambil alih diriku?


“Sebab itulah, nenek berpesan padamu untuk tidak menoleh saat kamu mendengar bisikan-bisikan aneh yang dia katakan di telingamu.”


Tapi, aku sudah terlanjur melanggar itu karena penasaran.


Aku melihat JyRu menoleh dengan sorot tajam dan menakutkan. Ia terlihat seperti marah kepadaku.


“Jangan bilang jika dirimu melanggar ucapan nenek ku, Art?” katanya dengan nada tajam menghujam dan tekanan yang mendominasi. Aku tidak lagi mampu bersuara ketika melihatnya seperti dikungkung antara rasa takut dan marah.


Ya, JyRu terlihat khawatir dan panik dalam waktu bersamaan.


“Aku tidak melakukannya. Tapi aku selalu menoleh kebelakang saat aku memimpikan sosok hitam itu. Aku tidak melakukannya di dunia nyata.”


Seharusnya itu tidak jadi masalah, bukan?


JyRu menatap langit. Kali ini, dia terlihat frustasi. Matanya memejam, bibirnya mengembuskan nafas besar yang terdengar begitu lelah.


“Itu artinya, dia sudah mengambil setengah jiwamu untuk ia kendalikan.” katanya yang seketika itu juga membuat bulu kudukku merinding.


“Apa maksudmu? Bagaimana kamu tau akan hal itu? Siapa kamu sebenarnya, JyRu?”


JyRu menatap nanar kedua bola mataku.


“Nenek yang memberitahu.” sahutnya sinis. Aku tau, pertanyaanku tidak masuk akal didengar karena nenek JyRu memang tau banyak hal tentang hal mistis. Mungkin JyRu sedikit banyak juga tau karena sang nenek yang memberitahunya, termasuk sosok hitam yang katanya mengancam jiwaku itu.


“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak tau sama sekali jika didalam mimpi, sosok itu juga bisa melakukan hal yang sama seperti didunia fana.”


“Aku tidak tau.” jawabnya tenang dan masih memasang raut wajah datar tanpa bisa ku tebak. “Aku harus bertanya pada nenek untuk bisa menjawab pertanyaan darimu.”


Aku mengembuskan nafas, meremas suraiku karena merasa bodoh, lalu aku memutuskan untuk menunda semua pertanyaan yang membutuhkan jawaban itu karena matahari sudah semakin tergelincir dan hendak bersembunyi dari peradaban.


“Oke. Kita harus kembali sekarang sebelum hari berubah gelap.” ajakku yang di laksanakan JyRu tanpa banyak bicara. Dia berdiri dan kembali mengenakan alas kakinya, kemudian menapak diatas dedaunan yang membusuk diatas tanah Folk yang lembab dan dingin ini.


Tapi, terlepas dari semua itu, aku ingin mengatakan hal lain kepada JyRu. Satu hal yang sangat menggangguku akhir-akhir ini. Dan satu hal yang ingin sekali aku ucapkan saat mendapatkan waktu berdua saja bersama JyRu. Satu hal yang membuatku ... berdebar ketika melihatnya.


Dan ya. Aku ingin mengungkapkan isi hatiku padanya. Aku ingin mengatakan jika aku menaruh hati padanya. Dan aku juga ingin mendengar apa yang dia rasakan padaku.


Ku tahan pergelangan tangannya dengan genggaman cukup erat hingga membuatnya sontak menoleh padaku. Kemudian, aku berjalan mendekat beberapa sentimeter tidak jauh darinya. Manik mata kami bertemu, dan aku bisa melihat betapa indahnya bola mata oranye yang berkelip itu.


Sangat cantik. JyRu amat sangat cantik jika di pandang dengan jarak sedekat ini.


“JyRu,” panggilku pelan. “Apa aku akan mengganggu pertemanan kita jika mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan padamu?”


Dia menatapku bingung. Lantas dengan intonasi rendah dia bertanya, “Kamu, mau bicara apa, Art?”


Aku menatap telapak tangannya, lalu meraih dan menggenggamnya lembut. Setelah itu, sekali lagi kutatap wajahnya, lalu tepat dikedua bola matanya.


“Aku ... mencintaimu.”


Dapat kulihat wajah cantiknya itu begitu terkejut. Dua manik indah itu melebar hingga aku bisa menelisik lebih jauh pupil matanya yang indah.


“Maukah kamu menjadi perempuan yang berdiri di sisiku, lebih dari seorang teman?” []


...To be continue...


###


Silahkan mampir juga ke karya on Going author yang berjudul My Angel Baby 👇