Jyru

Jyru
29



...Selamat membaca...


...Jangan lupa untuk memberikan like, komentar serta subscribe dan juga Vote dan hadiah jika berkenan ☺️...


...Terima kasih...


...[•]...



...|JyRu 29|...


Aku terkejut saat melihat penampilannya yang begitu berantakan. Lehernya membiru sama persis seperti yang pernah aku alami saat mendapatkan cekikan dari Doce, tapi luka JyRu lebih mengerikan. Memar itu terlihat hampir memenuhi setiap jengkal kulit lehernya, bahkan terlihat seperti mengelupas.


Oh, tunggu! Apa dia juga mendapatkan luka memar itu dari Doce?


Aku menilik penampilannya dari ujung kaki ke ujung kepala. Penampilan JyRu begitu berantakan, kotor, dan ada darah yang masih basah di perpotongan perut dan pinggangnya. Sepasang mata yang biasanya berbinar itu, terlihat redup. Wajahnya sayu dan tubuhnya layu.


“Kamu kenapa?” tanyaku, lalu meraih tubuhnya yang hampir jatuh. “Astaga, ayo kita kedalam.”


Gila jika sampai papa, mama atau Juli melihat JyRu dalam keadaan seperti ini. Tapi aku tidak bisa abai, dia membutuhkan pertolongan. Aku memapahnya masih sampai di kursi ruang tamu, kemudian berlari mencari kotak pertolongan pertama untuk membersihkan luka, juga mengambil air minum untuknya. Sumpah, aku ketakutan melihat JyRu yang seperti sekarang. Dia terlihat begitu lemah.


Dan sialnya, mama muncul dan berjalan tertatih menyusul ku ke ruang tamu.


“Astaga! Siapa dia, Art?!”


Kami menoleh, aku bisa melihat wajah terkejut Mama yang terlihat ketakutan, sama sepertiku saat melihat JyRu ketika baru datang tadi.


“Kamu bisa kena masalah jika membawa orang asing masuk kerumah dengan keadaan seperti itu!” teriak mama tak mau ambil pusing. Dan apa yang dikatakan mama memang benar. Jika sampai tetangga melihat, keluarga bisa terkena masalah. Dan itu yang kami hindari selama ini. Masalah.


Karena teriakan mama, papa dan Juli turut keluar. Habis sudah. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat papa berjalan mendekat padaku, memperhatikan aku dan JyRu.


“Untuk apa kamu membawa orang asing dengan keadaan seperti itu kerumah?”


Aku menatap JyRu. Kenapa harus seperti ini?


“Pa—”


“Pergi dari sini!”


Astaga.


“Pa,”


“Tolong jangan buat keluarga kami terkena masalah karena ulahmu.”


“Pa, dia teman Arthur.”


Papa mengerutkan keningnya. Ini mungkin memang terdengar konyol karena tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba seseorang datang dengan wajah babak belur, lalu aku berkata jika dia adalah temanku. Papa membatasi pergaulanku selama ini, jadi dia mungkin tidak akan percaya sama sekali jika aku memiliki teman seperti JyRu.


Papa semakin menelisik, hingga tatapan matanya terkunci pada darah yang merembes pakaian yang dikenakan JyRu. Panik, papa berlari cepat dan melakukan pertolongan. Dia membuka paksa kain penutup tubuh JyRu, menyibakkan ke atas, dan saat itu juga aku bisa melihat seberapa besar dan menyakitkannya luka dibalik pakaian yang membuat JyRu terduduk lemas tanpa tenaga. Jika itu manusia biasa seperti diriku, pasti aku sudah mati.


“Luka ini harus segera dijahit.” kata papa dengan muka serius dan keduabalis tebalnya yang hampir menyatu. Sebagai anak seorang dokter, sedikit banyak aku tau apa saja yang diperlukan untuk melakukan tindakan.


“Art yang akan ke apotek.”


Memang ada beberapa alat kedokteran atau obat-obatan dirumah. Tapi papa juga manusia biasa yang tidak luput akan kata lupa. Kami tidak memiliki jarum untuk menjahit luka JyRu, untuk itulah akubperlu ke apotek dan membelinya.


Butuh sekitar lima belas sampai tiga puluh menit untuk sampai dan kembali dari apotek, dan tanpa banyak bicara aku pun tancap gas kesana.


Setelah aku kembali dari apotek dengan beberapa benda yang diminta papa, aku bergegas memberikannya dan melihat papa melakukan pekerjaannya dengan amat sangat profesional dan tentu saja rapih.


Semua terlewat begitu cepat. Papa sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan Julia berkenan meminjamkan pakaian bersih untuk JyRu. Sekarang, kami berdua duduk di ruang tengah layaknya menanti hukuman. Papa meminta penjelasan dan dengan jujur aku mengatakan jika JyRu adalah temanku, teman yang bukan sembarang teman.


Aku mengangguk, kemudian JyRu turut menggerakkan kepalanya naik turun. “Kami teman dekat.”


Tapi papa tidak percaya begitu saja mendengar kenyataan yang dikatakan JyRu.


“Luka di lehermu, sama seperti luka Arthur beberapa waktu yang lalu. Jadi kamu juga di serang makhluk alam bawah sadar itu?”


Tidak tau harus berkata seperti apa, aku hampir mengangguk ketika JyRu lebih cepat satu detik mengungkapkan jawaban kebenaran.


“Saya musuhnya.”


Papa berfikir untuk beberapa saat untuk mencerna ucapan JyRu. Namun tak berselang lama dia membulatkan kedua matanya karena terkejut.


“Maksudmu?”


Aku menatap JyRu, memohon, tapi dia sama sekali tidak mau menurutku dan kembali bersuara.


“Namanya Doce Gumbl. Dia jenis ikan Vampir yang mengejar dan menginginkan hati manusia serigala untuk kepentingan pribadinya. Dan sekarang, dia sudah mati.” jawab JyRu dengan nada suara datar. “Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.”


“Kamu—” kata papa saat mulai mengerti jika JyRu bukanlah seorang manusia biasa.


“Ya, saya adalah makhluk itu.”


Mama terlonjak berdiri dan mundur beberapa langkah menjauh. Begitupun Julia dan papa.


“Art, menjauh darinya!”


“Pa, ma. Art bisa jamin dia sama seperti kita.” kataku sedikit berteriak tegas agar mereka percaya. Namun semuanya sia-sia karena papa justru menarikku menjauh dari JyRu yang berhasil membuat sorot matanya semakin redup. Apa dia benar-benar patah hati? Jika Doce sudah berhasil ia habisi, lalu apa kemungkinan terburuk kedua yang akan terjadi padanya?


“Hari ini juga, kita pergi dari kota ini!” titah papa tidak mau dibantah. Aku mencoba kembali berdiri di samping JyRu namun papa justru mengancam jika kami semua akan mati konyol jika tidak pergi. “Kamu mau melihat kami semua jadi korban? Pikiran baik-baik dan jangan bertindak bodoh Art. Dunia mu dengannya itu berbeda!”


JyRu menatap sendu. Manik matanya berair setelah mendengar kalimat papa.


Aku menggelengkan kepala, mencoba memberikan pengertian pada papa jika JyRu baik. “Pa, dia—”


“Cepat kembali dan kemasi semua barang! Kita tinggalkan kota ini malam ini juga!”


Sekali lagi aku menggelengkan kepala, “Art akan tetap disini.”


“Sekarang juga kamu pilih! Kami—keluargamu, atau dia?!”


Pilihan sulit. Tapi benar kata papa jika dunia kami memang berbeda. Tidak akan bisa dipaksa untuk bersatu, kecuali malam itu karena aku tidak tau jika bersetubuh adalah sebuah pantangan keras yang berimbas besar pada sebuah kehidupan.


Aku menatap JyRu yang sekarang mencoba berdiri sembari menahan perutnya yang baru saja papa obati. Dia terlihat putus asa dan aku sangat menyadari hal itu. Tapi bisa apa? Aku hanya bisa melihat dia meninggalkan hunian ini dengan hati teriris perih. Aku memejamkan mata, menahan semua gejolak kemarahan untuk papa, dan untuk diriku sendiri.


Lalu aku berbalik menatap tajam papa yang terlihat masih syok dengan apa yang baru saja terjadi.


“Papa keterlaluan!” tekanku rendah, kemudian mengejar JyRu yang tertatih. Aku meraih lengannya agar berhenti. Dan dia ikut terbawa gerakan hingga terpelanting menghadapku.


“Maaf—”


“Pergi saja. Tinggalkan aku.” sahutnya cepat, lalu berusaha melepas telapak tangan ku yang masih enggan melepasnya.


“Aku tidak akan pergi.”


“Percuma. Mereka selamanya tidak akan pernah menerimaku. Kita berbeda, Ingat itu.” katanya kemudian kembali melangkah.


“Aku—”


“Stop! Jangan pernah mengatakan kamu mencintaiku, untuk menahanku. Karena aku akan tetap pergi.” []


...To be continue...