Jyru

Jyru
06




...|JyRu 06|...


Dari sini, aku bisa melihat wajahnya yang tampak murung. Dia menatap lurus kotak bekalnya yang masih belum dibuka. Rambut bergelombang nya jatuh beberapa helai didepan wajahnya yang begitu memukau di mataku. Tidak bisa aku elak sedikitpun, jika JyRu itu, sangat cantik dengan caranya sendiri.


Aku kembali memacu langkah, memasuki ruangan yang setiap hari menjadi tempat kami mengais ilmu. Dan ya, setelah aku muncul dihadapannya, dia tersenyum lembut dan hangat ke arahku. Sangat manis, dan juga bermakna begitu menyentuh dalam relung hatiku.


“Kamu kesini?” tanya JyRu sambil membenarkan posisi duduknya. Hidungnya memerah, matanya terlihat lelah. Dia seperti sedang ... sakit.


“Kamu sakit?” tanyaku, karena sejak masuk tadi, aku tidak begitu memperhatikan keadaannya.


“Tidak apa-apa. Hanya sedikit flu. Lusa juga pasti sudah sembuh.”


Aku menatapnya yang kini mengusap tepian dan sudut-sudut kotak bekal berwarna kuning miliknya.


“Kamu tidak makan siang?” tanya JyRu menarik atensi ku untuk melihat wajahnya.


Apa yang harus ku katakan padanya? Tidak mungkin aku memberitahunya tujuanku datang kesini karena ingin melindunginya dari beberapa gadis yang ingin melakukan keburukan padanya. Tidak. Itu sama sekali tidak boleh dikatakan. Aku hanya akan membuat suasana kami berubah canggung. Mari bersikap natural saja. Mari mencari alasan lain yang lebih bisa diterima akal sehat untuk menjadi seorang teman.


“Ah, aku datang kesini karena ingin mengajakmu ke kantin.” kataku sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah kantin berada. Hal itu sukses membuat manik matanya berpendar penuh binar kegembiraan ke arahku. Apa ucapanku itu begitu berpengaruh untuk JyRu? Mengapa dia menatapku seperti itu?


“Kamu ... tidak mau?” lanjutku canggung. Mengajak dia makan di kantin, seperti sedang menyatakan cinta kepada seseorang. Jantungku berubah ritme. Sedikit berat namun degupan nya begitu keras hingga membuat kepalaku sedikit pening.


JyRu terlihat gugup. Dia terlihat tidak tenang dengan gelagatnya yang bergerak tidak nyaman. “Kalau kamu tidak mau, aku—”


“Baiklah. Aku mau. Kita ke kantin.”


Aku tersenyum dan berdiri menunggunya bangkit dari tempat duduk dan mengikutiku menuju kantin. Entah benar atau tidak, JyRu terlihat merona. Wajahnya memerah bukan hanya di hidung yang tadi ia sebutkan karena flu, tapi kedua tulang pipinya pun ikut bersemu. Dan dia terlihat semakin ... Cantik.


Sesampainya di pintu masuk kantin. Aku melihat semua pandangan tertuju kepada kami. Aku tidak tau kenapa, tapi ini terlihat memuakkan.


Apa hanya karena JyRu berada disamping ku, mereka menatap seperti itu? Apa yang membuat mereka tidak menyukai gadis sebaik JyRu?


Mencoba mengalihkan perhatian dari tatapan aneh ratusan pasang mata yang memperhatikan kami, aku mencari topik untuk memecah keheningan yang terjadi antara aku dan JyRu.


“Untung saja siang ini tidak turun hujan ya?” kataku dengan sedikit senyuman canggung agar mereka tidak lagi menilai jika JyRu adalah gadis yang harus mereka benci dan jauhi. Mereka harus tau, jika JyRu adalah gadis yang sangat baik.


“Ah, ya. Itu karena aku tidak sedang berse—”


Kalimatnya terhenti begitu saja. Dia menatap takut ke arahku. Bibirnya ia gigit pada bagian sudut, telapak tangannya mengepal sempurna. Gestur yang aku tau jika seseorang sedang merasa ketakutan. Ya, JyRu terlihat sedang ketakutan saat mata kami bertemu.


“Kamu sedang tidak apa?” tanya ku penasaran. Dan manik matanya bergerak tidak tenang. Dia terlihat semakin ketakutan. “Oh, oke. Tidak perlu dibahas lagi. Yuk makan siang.” ajakku pada akhirnya, karena aku tidak mau menjadi salah satu dari mereka yang membuat JyRu ketakutan. Aku ingin menjadi sosok teman yang membuatnya nyaman dan merasa aman.


Kami berjalan menuju meja dimana disana terdapat tumpukan tray bersih siap pakai. Aku mengambil dua, untuk aku dan JyRu. Setelah itu kami mengikuti arus yang mengular untuk mengambil satu persatu menu yang terhidang untuk kami santap siang ini.


“Kamu suka ayam goreng?” tanyaku mencoba kembali menarik perhatiannya agar tidak terpengaruh dengan keadaan sekitar yang semakin mengintimidasinya.


JyRu mengangguk, dan aku mengambilkan dua potong untuk ku letakkan di atas nampan makan miliknya.


“I-ini te-terlalu banyak, Art.” sahutnya dengan nada terputus-putus.


“Makan yang banyak. Disini kita bayar, jadi makannya yang banyak biar kuat ikut kelas.” kataku sedikit berkelakar dan berhasil membuat satu senyuman kecil terbit di bibirnya yang indah itu.


Setelah itu, aku mengajaknya duduk di salah satu bangku panjang didekat jendela tanpa peduli tatapan mata yang masih ingin menghakimi kami, ingin menguliti sosok JyRu yang bahkan tidak melakukan kesalahan apapun.


“Yuk, makan.” ajakku dengan nada riang agar dia terbawa suasana oleh kegembiraan yang aku ciptakan.


“Kamu harus menjadi gadis yang kuat dan bisa melindungi diri kamu sendiri.”


Setelah mendengar itu, JyRu kembali menunduk dan melanjutkan makan siangnya tanpa memberikan jawaban apapun. Semoga apa yang aku katakan, sampai di salah satu hatinya dan menguatkan JyRu untuk bisa melindungi dirinya sendiri saat mereka datang untuk menjatuhkan.


“Kamu terlahir cantik dan istimewa. Jadi, tolong jaga dirimu baik-baik meskipun aku tidak bersamamu.”


***


Aku menatap langit-langit kamar. Kembali mengingat bagaimana wajah ketakutan JyRu saat melihatku tadi. Aku berfikir mungkin itu hanya salah satu reflek yang ia lakukan untuk melindungi diri dari rasa takutnya terhadap orang lain. Tapi tidak hanya itu. Aku melihat sesuatu yang ia simpan rapat-rapat dan tidak ingin aku mengetahui itu. JyRu memiliki sebuah rahasia yang bahkan aku, tidak ia izinkan tau.


“Haaaah ... ” helaan besar nafasku menguar. Aku meraih remote pendingin ruangan dan menambah jumlah suhu agar tidak terlalu dingin. Karena diluar lagi-lagi hujan.


Aku jadi mengingat ucapanku pada JyRu-ku tempo malam. Agar ia tidak datang jika sedang hujan. Dan dia benar-benar tidak datang. Good girl.


Aku mengulurkan lengan untuk meraih ponsel dari atas nakas yang ada disisi ranjang tidurku. Aku mengetuk dua kali, dan foto JyRu-ku yang ku ambil secara diam-diam muncul disana.


Dalam foto tersebut, terlihat matanya yang sangat indah berwarna oranye. Hidung dan bibirnya yang lucu, serta telinganya yang tegak dan membuatnya terlihat semakin cantik, ah aku jadi merindukannya sekarang. Tapi tahan, aku tidak boleh memikirkannya atau dia akan muncul tiba-tiba dan mengetuk pintu balkon di jam sebelas malam di saat hujan deras. Ya, aku hanya perlu mengendalikan pikiranku agar tidak menginginkannya hadir saat ini.


“Sh-iiit!!!” umpatku keras ketika ponsel tiba-tiba saja bergetar kuat di genggaman tanganku. Nama Nancy muncul di layar ponselku.


Aku mengatur nada bicaraku dan mulai menyapanya.


“Hai, Nan.” sapa ku, tapi apa kalian tau apa yang aku terima dari nya?


“Aku tidak bisa bertahan lebih lama pada hubungan kita, Art.”


Aku mematung. Memang sulit, karena jarak memanglah sangat berpengaruh pada satu hubungan. Tidak terkecuali untukku dan Nancy


“Aku sudah menemukan orang lain disini. Jadi, aku mohon lupakan aku.”


Semudah itu? Lalu apa nilai perjuanganku selama ini? Tidak berguna kah? Dia selalu menginginkan sesuatu yang sulit aku jangkau, tapi aku selalu memenuhi apapun yang dia inginkan. Selalu melakukan seperti yang dia harapkan. Tapi ternyata itu semua tidak ada gunanya hanya karena jarak.


“Ah, begitu ya?” jawabku berusaha tenang.


“Eumm. Jadi mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.”


“Tunggu, Nan—”


Panggilan itu terputus begitu saja. Aku memejamkan mata yang terasa lelah. Rupanya nancy lebih memilih bersama orang baru dari pada diriku yang sudah menemaninya selama lebih dari tiga tahun lamanya.


Mau bagaimana lagi? Perasaan tidak bisa dipaksakan. Dan aku tau Nancy pasti sudah memikirkan ini jauh-jauh hari. Oke, aku harus bisa menerima ini dan mulai menjalani langkah baru disini tanpa bayang-bayang nancy di dalam ingatanku. Aku hanya perlu fokus menyelesaikan kuliah, kemudian mencari pekerjaan agar aku bisa hidup dengan layak dan keluar dari sini.


Tapi tanpa aku duga, aku mendengar suara cakaran kuku di kaca. Seketika itu juga aku melompat turun dari ranjang. Aku berlari menuju pintu geser itu dan melihat JyRu-ku ada diluar.


Ya, dia ada disana dengan senyumannya ketika menatapku. Dia menungguku menyambutnya. Dan saat itu juga, kesedihan di hatiku, sirna. []


...To be continue...


###


Kok melow ya? 😔


Berasa di kalian nggak sih?