Jyru

Jyru
26



...Selamat membaca...


...Jangan lupa untuk memberikan like, komentar serta subscribe dan juga Vote dan hadiah jika berkenan ☺️...


...Terima kasih...


...[•]...



...|JyRu 26|...


...🦊🦊🦊...


JyRu's Side.


...Kalian percaya mitos? Tolong beritahu aku, agar aku bisa menempatkan diri sewajarnya diantara kalian....


...—Trche Jyl Ruana—...


..._________...


Jangan pernah melakukan hubungan fisik dengan seorang pria, jika tidak ingin menghilang.


Aku ingat sekali ketika nenek ‘sambung’ yang entah ke berapa ini memperingatkan aku. Semua sama, mengatakan itu agar aku tidak lepas kendali dan menyusahkan diriku sendiri dan tentu saja mereka tidak mau dikenang buruk oleh sejarah karena kesalahanku, dan juga balas budiku karena mereka sudah bersedia membesarkanku.


Saat itu, nenek bernama Lampr mengatakan pantangan yang wajib aku jalani, dengan lantang didepan wajahku yang pada saat itu, aku masih berusia remaja. Tentu saja usia itu diperhitungkan dengan sistem dalam hitungan mitologi kuno.


Aku juga ingat, aku mengangguk mengerti lalu bersumpah pada diriku sendiri agar menepati janji itu dan hidup lama di bumi untuk memberi kesejahteraan pada semua manusia yang hidup di Folk, dan sudah mempercayai akan keberadaan ku walaupun mereka tidak pernah tau siapa aku. Anggap saja aku adalah jimat keberuntungan Folk untuk bisa mendapatkan hidup sejahtera.


Waktu terus bergulir, hingga aku sudah memasuki usia dimana aku harus menjejakkan kaki di bangku universitas, tentu saja masih dengan perhitungan usia yang jauh lebih lamban dari usia manusia. Dengan keistimewaan yang diberikan padaku, aku bisa masuk ke universitas dengan beasiswa penuh tanpa sepeserpun biaya yang memberatkan orang yang membesarkan aku.


Akan tetapi, kehadiranku tidak bisa diterima begitu saja oleh semua orang yang ada disana. Mereka bahkan mengucilkan dan membedakan diriku dengan yang lain. Kemudian dilain waktu, aku mendapatkan dua teman yang saat itu tidak sengaja berada satu kelompok denganku dalam materi seni. Aku senang bukan kepalang saat mendapatkan teman untuk pertama kalinya dalam hidupku meskipun kami tidak terlalu dekat. Sejak itu, aku menganggap jika hidup berkelompok dengan manusia, tidaklah buruk untuk makhluk seperti diriku.


Lalu, hari itu, aku melihatnya. Dia berjalan di koridor dengan wajah bingung terlihat mencari-cari sesuatu. Wajahnya asing, tidak pernah aku lihat sebelumnya. Kami berpapasan dan aku mematung ditempatnya berdiri.


Aroma dari pemuda yang baru saja melewatiku yang terendus oleh hidungku, begitu berbeda dengan semua orang yang berada disini.


Bukan soal pewangi atau parfum yang dia gunakan, melainkan aroma yang menguar dari tubuhnya, dari aura yang terpancar dalam dirinya, yang menunjukkan jika dia adalah seorang alpha.


Jiwa omega dalam diriku pun tertarik ingin mendekat. Namun aku menahan mati-matian agar tetap bisa mengendalikan diri didepan pemuda yang bahkan namanya saja, tidak aku ketahui.


Sabar, akan ada waktunya dia yang datang padamu, Jyl.


Kataku saat itu.


Aku benar-benar mendoktrin diriku untuk tidak datang padanya terlebih dahulu. Tapi apa yang aku dapatkan selanjutnya, adalah hal yang sama sekali diluar kendaliku. Kami bertemu lagi di ruang administrasi saat dia menemui salah satu staff administrasi kampus yang sepertinya mengurus administrasi pemuda yang baru aku lihat itu, saat aku hendak mengumpulkan absensi kepada salah satu dosen yang menjadi pembimbing kelas kami kemarin sore.


Dan benar saja, dia memang mahasiswa baru. Yang kebetulannya lagi, kami satu jurusan. Seni.


Staff perempuan bernama Unha memintaku untuk mengajak pemuda itu menuju kelas yang sama karena kami memang satu jurusan. Disitulah aku mengenal namanya. Arthur Rhote, nama yang sangat indah bukan? Selain namanya yang indah, dia adalah pemuda yang sangat tampan dan memikat.


Setelah mengenal namanya, lambat laun dia berani mendekatiku. Dia bahkan tidak peduli dengan bisik-bisik teman atau hampir seluruh isi kampus yang membicarakan kami. Dia bersedia menjadi teman ku, dan semakin lama, kami semakin dekat meskipun ada sesuatu yang sempat membuat aku menjauhinya. Itu karena nenek yang melarangku dekat dengan dalih khawatir jika aku melewati batas.


Aku, datang padanya berkali-kali dengan wujud asliku—seekor serigala—tanpa sepengetahuan darinya.


Hingga akhirnya, Doce muncul dan semakin membuat nenek bersikeras memisahkan kami. Tapi aku terus berusaha meyakinkan nenek jika kami akan baik-baik saja, meskipun aku sendiri sangsi dengan apa yang aku pertahankan. Doce akan terus berusaha menguasai Arthur sampai berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, yakni memakan hatiku yang telah patah.


Semua berjalan begitu saja, hingga aku memberi tau pada Arthur jika Doce adalah makhluk berbahaya yang sudah seharusnya ia lawan ketika datang dan berusaha menguasai sisa jiwanya. Tapi tidak seberuntung perkiraan ku, ternyata Doce berhasil mengambil alih separuh jiwa Arthur yang suci untuk ia kendalikan yang membuatku, semakin waspada


Tapi apa? Semua berjalan tidak seperti yang aku haraokan. Pada akhirnya aku dan Arthur menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Dan apa yang selama ini diwanti-wanti oleh nenek, terjadi. Kami melakukannya. Aku melanggar pantangan yang sudah ratusan tahun ku jaga. Aku dan Arthur ... bersetubuh.


Namun, semuanya semakin runyam saat aku sadar ada campur tangan Doce yang mengendalikan setengah jiwa Arthur yang berhasil ia kuasai. Aku bersumpah akan mencabik jantungnya sebelum dia memakan hatiku karena sudah melibatkan Arthur dalam hal ini.


Sejak lama Doce menginginkan hati milikku agar hidupnya sempurna dan akan menjadi makhluk abadi yang tidak akan mati sampai bumi hancur. Begitulah setidaknya tujuan Doce selama ini.


Selama ini aku percaya diri jika semua itu tidak akan mudah, bahkan tidak akan pernah terjadi. Aku selalu menekankan itu dalam diriku agar semua benar tidak terjadi dan aku bisa menjaga diriku agar tetap dalam batasan yang seharusnya aku jaga. Tapi, tak lagi sama sekarang. Semuanya terlihat mustahil karena aku, melihat sendiri bagaimana Arthur menatapku. Dia terlihat begitu kaget dan ... kecewa. Aku melihat dengan jelas bagaimana ekspresinya malam ini.


Dengan wujudku yang berubah sepenuhnya menjadi seekor serigala, aku melihat dia berjalan mundur, menjauh dariku.


Apa ini akan menjadi akhir dariku berada di atas pijakan bumi? Apa aku harus kembali ke tempat asalku? Apa Arthur akan meninggalkan aku?


Semua pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalaku saat dia menjauh.


Melihatnya seperti itu, aku meneteskan air mata dalam diam, tanpa sepengetahuannya. Penilaian ku padanya tak berbuah manis. Dia sama saja seperti orang lain yang akan menjauhiku, saat tau siapa aku sebenarnya.


Memejamkan mata, aku mencoba menguasai diri agar aku bisa kembali ke wujudku sebagai manusia. Dan hal itu membuat Arthur terlihat semakin tidak percaya. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika aku memungut pakaian dan mengenakannya kembali.


“Sekarang, kamu sudah tau siapa aku, kan?” tanyaku, mencoba mengembalikan suasana yang sempat membuat aku dan dia dalam kebimbangan. “Kamu harus menepati janjimu untuk tidak pergi dariku.” tekanku, agar dia memenuhi janjinya, dan aku tetap bisa berada dimuka bumi Folk untuk memberikan hujan.


Egois memang. Aku juga sempat berfikir jika aku terlalu jahat memaksa manusia untuk bertahan dengan diriku yang nyatanya, hanya sekedar makhluk mitos yang bisa menghilang hanya karena sebuah pengkhianatan.


“A-aku ... ” gugupnya, aku tau dia akan mengatakan hal yang tidak aku sukai. Untuk itu aku memotong kalimatnya.


“Kamu berubah pikiran? Ingin pergi dariku setelah apa yang baru saja sudah kita lakukan?” sarkasku tak mau tau. Aku sudah memberikan hal paling berharga yang sudah ku jaga selama hidupku.


“Ke-kenapa kamu tidak jujur padaku sejak awal?” tukasnya, sedikit mematik rasa marahku karena ucapannya yang terkesan memojokkan ku, membuat aku menjadi pihak yang bersalah dalam hal ini.


Sial. Dia benar-benar akan pergi dariku.


Aku menatap lurus, dingin, bahkan mungkin tanpa ekspresi ke arah sorot matanya yang indah. Kesedihan mulai meraba hatiku sendiri untuk tetap percaya jika Arthur tidak akan menghindari ku. Dan aku bahkan berharap Doce tidak merasakannya sekarang, atau aku akan menyerahkan diriku begitu saja padanya.


Hatiku yang sekarang bersedih, harus diterima Folk dengan hujan yang turun begitu deras.


“Jadi, kamu akan pergi dariku?”


Tidak ada jawaban. Hanya mata kami yang saling menyorot satu sama lain, dan aku tidak menemukan apapun karena merasa dikhianati.


Aku membuang muka kemanapun, yang terpenting bukan pada sosok Arthur.


“Ah, aku memang bodoh. Mengapa aku percaya begitu saja pada pria asing yang tiba-tiba datang dan mendekatiku.” kataku, lelah. “Seharusnya aku mendengarkan nenek saja dan menutup hidupku dari dunia luar agar aku bisa tetap menjadi aku yang dibenci dan tidak disukai orang lain, tidak perlu merasa dikhianati oleh orang yang sudah ku beri sebuah rasa percaya yang amat sangat besar.”


Suaraku sudah bergetar karena menahan mati-matian agar airmata tidak jatuh semakin banyak karena sebuah penyesalan.


“Baiklah. Terima kasih sudah membuat semuanya menjadi seperti ini. Semoga kamu menemukan apa yang kamu inginkan. Dan aku, akan menerima apapun yang akan terjadi padaku, setelah ini.”


Aku benar-benar patah hati. Aku merasa dikhianati dan tidak lagi memiliki arti yang berharga, bahkan di mataku sendiri.


“Papa ingin membawaku kembali ke kota.”


Aku tertegun. Mengapa dia tidak memberitahuku? Lebih dari itu, kenapa aku tidak bisa membaca apa yang sedang dia pikirkan? Apa aku sudah tidak lagi memiliki telepati dengan sang alpha? Oh, sial.


Jika sejarah akan mencatat kesialan ku hari ini, aku hanya berharap mereka membuat cerita dengan akhir yang tidak memalukan untuk diceritakan pada anak cucu mereka nanti.


Atau, aku perlu memberi Arthur pelajaran kecil dan berharga agar dia tidak pergi meninggalkan aku?


Sepertinya bukan ide buruk. []


...To be continue...