Jyru

Jyru
21



...Selamat membaca...


...Silahkan meluangkan waktu untuk memberi Like, komentar, serta jangan lupa untuk berlangganan, vote dan beri hadiah untuk JyRu jika berkenan ☺️...


...Terima kasih...



...|JyRu 21|...


Aku sampai di rumah dengan mobil polisi bernama Jonathan yang mengantar. Mama sempat panik dan adik perempuanku juga sempat ketakutan melihatku dalam gandengan polisi paruh baya itu ketika memasuki area pelataran rumah.


Pak Jo membantuku duduk di kursi teras dengan sabar, kemudian memberikan penjelasan singkat mengapa aku sampai pulang bersamanya.


Sekarang, mama dan Julia terlihat lega dan mengantar pak polisi baik hati itu keluar pagar rumah dan menunggu pria itu menghilang dari pandangan. Setelah itu, mereka berlari ke arahku yang sedang berusaha berdiri untuk masuk ke dalam rumah. Kejadian yang baru saja menimpaku cukup membuatku waspada. Karena, sosok itu tidak akan mengganggu jika aku sudah berada didalam rumah, kecuali sedang terlelap.


“Tunggu.” cegah mama saat lenganku terulur untuk meraih handle pintu rumah dan akan menariknya turun. “Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Art?” tanya mama menelisik, dan matanya membola saat melihat memar dileherku. “Astaga!” pekiknya keras dengan telapak tangan menutup mulut. “Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?” tanya Mama tanpa mau melepaskan aku untuk berhasil masuk terlebih dahulu kedalam rumah.


Tak berbeda jauh dengan mama, Julia juga nampak terkejut dengan keadaanku. Maksudnya, keadaan leherku yang terlihat mengerikan dengan memar biru yang hampir menutupi semua area leher dan membekas lima jari disana, yang mungkin, akan memaksaku untuk tinggal beberapa hari dirumah dan tidak datang ke kampus.


“Mam, aku mau masuk dulu.” kataku yang langsung di iyakan oleh mama. Dan kami bertiga masuk kedalam rumah bersama. Mama mengunci pintu dan Julia menggandeng satu lenganku menuju kursi ruang tamu. Ah, melihat adik ku perhatian begini, aku jadi ingin mengusili nya. Jarang-jarang bisa mendapat pelayanan khusus dari si sok jutek ini kalau tidak dalam keadaan seperti ini.


“Sekarang, mama minta kamu cerita ke mama, kenapa bisa sampai seperti itu. Memar itu, karena apa? Kamu berkelahi?” cerca mama tanpa menjeda karena memang seperti inilah mama. Wanita yang aktif dalam hal apapun, termasuk saat berbicara.


“Tidak, mama. Apa Mama pernah mendengarkan berkelahi sampai usia sebesar ini? Tidak kan?”


“Lalu?”


Aku menimbang jawaban yang hendak aku katakan. Apa Mama akan percaya dengan apa yang aku alami? Apa jawabanku nanti, tidak membuat keadaan semakin runyam? Atau, justru dengan aku bercerita, semua akan kembali membaik?


Ah, bagaimana ini?


“Ada sesuatu yang sedang menggangguku akhir-akhir ini, mam” kataku pada akhirnya. Oke, jujur lebih menguntungkan.


“Apa maksudmu?” telisik mama dengan dahi mengerut. Ia tidak mungkin mengerti tanpa penjelasan yang lebih detail dariku.


“Sesuatu menggangguku. Saat menjelang malam, dan saat tidur.”


Mama diam. Dia masih mencerna informasi yang aku berikan padanya. Julia? Adik perempuanku itu juga terlihat bingung. Pasalnya, kami Memeng keluarga yang tidak begitu percaya dengan hal-hal mistis dan mengklaim itu benar di dunia nyata. Kami lebih percaya sebuah kelogisan dari pada sebuah mitologi.


“Kamu di ganggu makhluk—”


“Mama mungkin tidak akan percaya. Tapi ini, adalah buktinya.” sahutku cepat sambil menunjuk memar di leherku.


“Oh my God. Apa kita perlu pergi ke tempat orang pintar?” kata mama sedikit panik mendapati diriku seperti ini. Jika boleh bercanda, aku ingin menertawakan ekspresi mama saat ini. “Mama tau dimana tempat tinggalnya.”


“Dia termasuk makhluk mitologi, mam. Makhluk yang selama ini tidak pernah aku anggap ada.”


Mama terdiam seribu bahasa. Mungkin mama pikir, makhluk yang menggangguku adalah makhluk yang bisa pergi setelah di rapalkan do'a. Tapi sayang, Doce Gumbl bukan makhluk seperti itu. Dia lebih kuat dari sosok makhluk astral yang akan pergi jika diusir dengan do'a.


“Astaga, bagaimana ini? Apa Mama harus menghubungi papa dan meminta kembali ke kota saja? Mama jadi takut dan khawatir sama kamu, Art.” kata mama panik. Mau tidak mau aku harus menyetujui kekhawatiran mama padaku, sekarang. Karena aku sendiri, merasa tidak tau apa yang harus aku lakukan.


Lantas aku memutuskan,


“Mam, aku butuh istirahat. Mari bicarakan ini besok saja, setuju?”


Julia yang sejak tadi diam, kini bangkit mengikuti gerakan ku yang hendak berdiri. Tapi, mama yang sudah terlanjur panik mencegahku untuk pergi.


“Jangan tidur sendirian. Tidur di kamar mama, biar mama menjagamu sampai kita menemukan solusinya.”


Tidak ada solusi, mam. Selain keinginan makhluk itu terwujud.


Aku membisikkan jawaban itu dalam hati karena tidak ingin membuat mama semakin khawatir. Tapi aku juga tidak menolak idenya untuk tidur ditemani. Akan sangat mudah kembali dari dunia mimpi jika seseorang membantu kita terbangun ketika mengalami sleep paralysis.


Aku mengangguk dengan sedikit sangkalan. “Aku mau tidur ditemani mama, tapi tidak di kamar mama.” kataku, lalu berjalan dengan bantuan Julia.


***


Kamar ku tetap terang karena mama menolak mengganti lampu utama dengan lampu tidur dengan alasan yang cukup masuk akal. Mama sudah tertidur pulas, sedangkan aku tidak bisa tidur jika lampu tetap menyala.


Dengan gerakan pelan, aku mengganti lampu terang benderang dengan lampu tidur.


Ternyata ada satu hal yang baru aku sadari. Bukan hanya mama yang tidur disini, Julia juga berada di kamarku sambil membawa boneka kesayangannya dan tidur di ranjang yang sama denganku. Sedangkan mama, membawa matras dan tidur di bawah tempat tidur dengan posisi pas di bawah tempatku berbaring. Aku di temani oleh dua orang yang tertidur pulas. Ini cukup menggelikan karena sekarang bukan mereka yang menjagaku, tapi justru sebaliknya.


Aku tertawa kecil tanpa suara, kemudian duduk bersandar di kepala ranjang. Mataku mengedar melihat ke seluruh sudut kamar yang sekarang berubah redup karena aku sudah mengganti lampu utama dengan lampu tidur yang sempat dilarang mama dan menjadi topik perdebatan sebelum tidur.


Aku meraih ponsel dan mulai berselancar di dunia Maya, mengetik pada laman pencarian dengan tulisan Doce Gumbl.


Tidak banyak laman khusus yang tampil. Hanya beberapa artikel yang nampak berjejer pada layar ponselku yang sekarang menjadi objek paling terang di kamar. Aku memilih satu laman dan bersiap membaca informasi yang mungkin akan bisa sedikit membantuku untuk menghindari sosok itu, jika si penulis menuliskan cara untukku bisa menolak kehadiran sosok menyerupai vampir itu.


Doce Gumbl, makhluk mitologi yang sering dikait-kaitkan dengan sosok manusia serigala di Folk.


Judul yang panjang dan dicetak tebal itu membuatku yakin untuk meng-scrol layar dan membaca nya.


Selain manusia serigala, folk juga memiliki satu makhluk mitologi yang merupakan sosok menyerupai vampir, yang digadang dapat memakan hati si manusia serigala.


Sampai artikel ini dibuat, berita itu masih simpang siur karena tidak ada sumber yang jelas yang dapat dimintai keterangan.


Tiba-tiba satu nama muncul dalam benakku. Ghea. Apa Ghea juga mengalami hal yang sama denganku sebelumnya? Mengapa aku baru terpikirkan sekarang?


Aku jadi tidak sabar menunggu pagi untuk menanyakan hal ini pada Ghea.


Aku kembali menggulir layar ponsel ke atas untuk mendapatkan informasi lain yang tertulis.


Makhluk ini dikabarkan memiliki sifat licik dan pandai memanipulasi seseorang yang menjadi targetnya.


Benar. Aku mengalaminya sendiri. Dia seperti mengalihkan sistem kerja otakku untuk percaya dan melakukan hal yang dia inginkan. Memanipulasi, istilah yang aku kenal di jaman sekarang.


Dia juga pandai melarikan diri, namun ada dua kelemahan yang ada pada sosok nya.


Ini informasi yang aku butuhkan. Kelemahannya.


Pertama. Makhluk itu tidak dapat menjamah targetnya jika si target bisa mengendalikan diri, dan menolak manipulasi dengan tidak mendengarkan apapun yang dibisikkan padanya.


Kedua. Yang bisa menghancurkan makhluk tersebut hanyalah di manusia serigala, yang berhasil menemukan alpha nya.


Alpha? Maksudnya ... pasangan? Jika ada alpha, berarti sosok manusia serigala itu adlah omega? Seorang perempuan?


Astaga, mengapa aku baru bisa mencerna berita ini dengan baik, meskipun Ghea sudah pernah membicarakan ini. Bahkan menuduh JyRu sebagai manusia serigala itu.


Jika Ghea pernah berkata padaku pernah menjadi teman si manusia serigala, itu artinya tidak akan berpengaruh apapun karena manusia serigala hanya membutuhkan alpha, karena dia seorang omega?


Aku membuang nafas kasar. Menjumput sebagai rambut untuk ku remas frustasi. Mengapa rumit sekali.


Jadi, apa sekarang aku adalah alpha si manusia serigala? Itulah sebabnya Doce Gumbl terus mengejarku, karena hanya aku yang bisa melemahkan hati dari sosok manusia serigala itu?


Dan yang menjadi pertanyaan diantara jutaan pertanyaan yang ada di otakku, Siapa sosok manusia serigala yang dekat denganku? Atau benar yang dikatakan Ghea jika JyRu adalah—


Semua teka-teki yang coba aku susun terpaksa harus terburai lagi lantaran suara derit kuku mencakar kaca mengejutkanku. Aku hafal betul suara ini. Dan itu artinya, dia sedang ada diluar.


JyRu sedang menunggu ku diluar, dan aku tidak dapat menemuinya karena ada mama dan Julia disini.


Aku menatap lekat siluet JyRu-ku yang terbentuk karena terpaan sinar bulan purnama yang memperindah malam. Dalam hati aku bersyukur jika dia ternyata baik-baik saja.


Dan bulan purnama adalah kunci. Aku harus meyakinkan sesuatu. Aku harus membuktikannya. []


...To be continue...