
...Selamat membaca...
...Silahkan meluangkan waktu untuk memberi Like, komentar, serta jangan lupa untuk berlangganan, vote dan beri hadiah untuk JyRu jika berkenan ☺️...
...Terima kasih...
...|JyRu 20|...
Semuanya terasa ringan sekarang. Aku sudah berhasil mengungkapkan sesuatu yang membuatku tidak tenang dan merasa terbebani saat belum mengatakan itu pada dia.
Aku mengungkapkan perasaanku pada JyRu, dan dia meminta waktu sebentar untuk berfikir. Hingga akhirnya rona merah di wajahnya muncul, dan sebuah anggukan menjadi jawaban atas segalanya.
Kami menjadi sepasang kekasih sekarang. Akan tetapi, dia meminta padaku untuk menyembunyikan hal ini dari sang nenek dengan alasan yang cukup jelas dan masuk akal. Nenek JyRu tidak begitu suka dengan diriku.
Selama berjalan kembali menuju rumahnya, aku menggandeng tangan JyRu, berusaha memberinya perlindungan meskipun aku tau hutan ini tidak berbahaya. Dan ketika bagian samping rumah JyRu sudah terlihat tidak jauh dari pandangan, kami melepaskan gandengan dan berjalan mandiri, sendiri-sendiri.
“Ingat, jangan pernah mengatakan apapun kepada nenek. Aku tidak ingin membuat nenek marah.”
Memangnya, sebenci apa nenek JyRu padaku? Apa aku seburuk itu di benaknya? Lalu, apa yang membuat nenek tidak menyukaiku?
“Eumm. Baiklah.”
JyRu tersenyum dan aku pamit, bersiap pulang.
“Jangan pernah menoleh jika kamu mendengar bisikan-bisikan aneh lagi. Meskipun dalam mimpi.”
Aku mengangguk. Aku akan mendengarkannya kali ini meskipun aku sendiri tidak tau apa yang sedang coba disembunyikan JyRu dan nenek.
“Aku pulang dulu. Tutup dan kunci pintu setelah aku pergi.” pesanku supaya JyRu aman didalam rumah, karena jujur aku khawatir karena tidak ada sosok laki-laki yang akan melindungi mereka jika ada orang yang akan berbuat jahat.
“Eumm. Kamu, hati-hati di jalan.”
Ku pasang helm di kepala, kemudian menyalakan motor dan tersenyum sebagai tanda berpisah dengan JyRu, dan motor pun melaju membelah jalanan yang sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lewat, dan suara itu, kembali menggangguku. Suara berbisik yang selama ini mencoba mengganggu ku dalam keadaan sadar ataupun tidak.
Seperti kata JyRu, sosok ini ingin menguasai diriku. Tapi untuk apa?
Udara semakin dingin menerpa wajah dan permukaan kulit telapak tanganku. Padahal sebelumnya, suhu tidak sedingin ini.
Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah tempat yang tidak jauh dari pemukiman warga yang mulai sedikit padat—tidak seperti di tempat JyRu. Ku lepas gelem tanpa menoleh kebelakang. Ku kepalkan tangan erat hingga memutih, lantas dengan suara sedikit berbisik, aku berkata.
“Jika berani, tunjukkan wujudmu dihadapan ku.” kataku, tidak berniat menantang, hanya ingin tau seberapa tangguh sosok itu dengan makhluk nyata seperti diriku.
Mengabaikan semua peringatan yang di katakan JyRu, aku tetap pada pendirian ku karena diselimuti rasa penasaran. Aku menunggu sosok itu muncul didepan mataku. Aku menggubris menampakkan wujudnya di dunia fana.
“Tunjukkan wujudmu, sialan!!” umoatku dengan rahang mengeras yang kemudian tanpa ku duga, nafasku tercekat. Sesuatu seperti menahan laju udara di paru-paru ku. Wajahku mulai kebas karena menahan sakitnya kekurangan oksigen untuk ku hirup.
Sosok itu muncul dari atas kepalaku dengan sorot mata yang mengerikan. Giginya yang runcing, dan matanya yang berwarna merah, membuatku ingin berteriak, namun sia-sia.
Aku mencoba melakukan perlawanan, tapi nahas, semua pergerakan ku seolah terkunci. Sosok itu melumpuhkan aku yang notabenenya adalah makhluk nyata.
Sial!! Kemana perginya semua orang?
Aku mencoba merapal do'a yang pernah mama ajarkan padaku untuk menangkal hal-hal buruk. Aku mengucapkan sebisaku, namun semua itu tidak berimbas apapun. Makhluk ini terus mengungkung diriku hingga diriku hampir kehilangan kesadaran.
Apa ini akhir hidupku?
Atau, jiwaku benar-benar akan terenggut seutuhnya setelah ini?
Lalu, dimana aku akan berlabuh jika jiwaku pergi meninggalkan raga?
Aku masih berusaha melepaskan diri dengan sisa tenaga yang aku punya. Namun semua tetap saja, sia-sia. Tenaganya bukan tandingan manusia biasa seperti diriku.
“Kamu sudah berhasil mendapatkan separuh hatinya.” katanya, sangat jelas di telingaku saat aku terus berupaya melepaskan diri. “Jangan pernah mencoba menolak apa yang aku katakan. Dengan begitu, kamu akan bebas.”
“Shi-iiit!!!” umpatku keras didalam hati. “Aku tidak akan melakukan itu.”
Aku jatuh dari motor. Tubuhku meringkuk diatas aspal yang lembab atau bisa dikatakan, basah. Tiba-tiba ada seseorang yang mencoba menilong membangunkan aku. Aku mencoba sadar, tapi tetap merasa sulit dan orang itu berteriak menjauh dariku untuk mencari pertolongan lain.
Tapi, disaat itulah, aku bisa melihat dengan jelas seekor serigala menerjang dengan gerakan kelewat cepat pada sosok hitam yang berusaha menguasai diriku. Aku terbatuk hebat meraup udara untuk paru-paru ku. Serigala itu ... tidak asing di mataku.
Aku masih terbatuk ketika otakku mencoba mencari tau di dalam laci memori ku, hingga aku menemukan satu nama, JyRu. Dia adalah serigala yang sering datang ke rumah dan menemaniku ketika aku bosan. Tapi, darimana munculnya? Bagaimana dia bisa tau aku sedang berada dalam bahaya?
Aku kembali melihat dimana sosok hitam dan serigala yang bergulat tadi seakan hilang bak cahaya kilat yang menghilang begitu saja dari pandangan.
Jika memang itu JyRu-ku, apa yang akan terjadi padanya?
“Ini pemuda yang tadi saya katakan, pak.”
Suara seseorang menyentak kaget kesadaran ku, membawaku kembali dari dunia lamunan. Ternyata, wanita itu kembali membawa seorang pria paruh baya berseragam polisi.
“Kamu tidak apa-apa, nak?” tanya pak polisi yang ikut khawatir setelah melihat wajahku. Entah, sudah seperti apa wajahku sekarang sampai pria itu bahkan menatapku terkejut. “Kamu butuh ke rumah sakit, nak. Lehermu memar.”
Jadi, makhluk itu mencekik ku?
“Mari, nak. Saya antar kerumah sakit. Mobil saya ada disana. Untuk urusan motor, biar nanti teman saya yang membawanya ke pos pantau.”
Pria itu mengeluarkan walkie talkie dan berbicara dengan temannya. Kemudian, tak lama menunggu, seorang pria bertubuh tinggi tegap, dan seorang pria bertubuh sedikit gempal, datang kepada kami.
“Nah, kamu harus pergi kerumah sakit. Motor kamu akan saya bawa ke pos pantau.”
Aku mengangguk setuju karena aku merasa membutuhkan pertolongan medis agar memar di leherku menghilang. Aku bangkit dengan bantuan polisi pertama untuk menuju mobilnya, dan aku pun dibawa pergi kerumah sakit.
***
“Jangan pernah menganggu dia.”
“Kenapa? Aku memang ingin mengambil jiwanya agar bisa membunuhmu.”
“Itu urusan kita, bukan dengan manusia seperti dia.”
“Aku tidak peduli.”
Memang, JyRu tidak akan bisa menghabisi Doce jika makhluk jahat itu berada dalam raga manusia. Karena JyRu, tidak akan menyakiti manusia.
Mata serigala itu menyala tajam. Amarah membelenggu benaknya, dia kembali menerjang Doce hingga sosok itu berguling diantara dedaunan yang sudah lapuk di atas tanah.
“Jangan menjadi pengecut untuk yang kesekian kalinya, Doce. Jika kamu memang ingin membunuhku, hadapi aku dan jangan pernah melibatkan manusia.”
Memang tidak ada keberanian bagi Doce untuk melawan manusia serigala secara langsung karena dia bisa memastikan dirinya akan kalah.
“Jangan bermimpi aku akan menuruti kata-kata mu.”
Doce tertawa lantang kemudian menghilang dari pandangan JyRu. Mulai sekarang, dia harus waspada. Dia juga harus memberitahu kepada Arthur untuk waspada.
Dalam benak dia berkata, apa seharusnya dia mengungkap siapa dia sebenarnya didepan Arthur?
Sebelum semuanya terlambat. []
...To be continue...