
...Selamat membaca...
...Jangan lupa untuk selalu mendukung JyRu dengan cara Like, komentar, subscribe, dan juga Vote dan hadiah jika berkenan...
...Terima kasih...
...[•]...
...|JyRu 23|...
Sudah hampir satu Minggu aku tidak datang ke kampus dan tidak menghubungi JyRu meskipun hanya berupa pesan. Aku hanya ingin fokus pada kesembuhan dan juga berusaha menenangkan diri. Papa memberikan obat jalan sebagai penghilang nyeri dan agar memar di leherku segera menghilang.
Setiap malam, bisikan seperti sebelumnya selalu datang. Akan tetapi aku selalu berhasil mengendalikan diri dan tidak peduli, sehingga Doce pergi dengan sendirinya, namun tetap kembali lagi, dan lagi pada malam-malam berikutnya.
Selain itu, JyRu—serigala-ku—selalu menemaniku setiap malam. Dia tidur di atas karpet di bawah ranjang, menungguku dengan sabar hingga aku terbangun di pagi hari dan sudah tidak lagi menemukan dirinya di tempat semula.
Pagi ini ketika aku bangun tidur, aku mencoba melihat memar di leherku, dan ternyata sudah hilang sepenuhnya. Besok, aku berencana akan datang lagi ke kampus seperti biasanya, menemui JyRu sesuai janjiku beberapa waktu lalu untuk datang padanya jika aku sudah sehat kembali.
Hari masih terlalu pagi. Aku turun dari lantai atas dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Ada mama yang sedang memasak, dan papa yang sedang meminum kopi di meja makan sambil membaca koran. Aku mencoba abai, biarkan saja diam dan tidak ada obrolan.
Tapi, baru saja aku menyentuh pegangan pintu lemari pendingin, papa menginterupsi.
“Sudah baikan?”
Mau tidak mau aku pun harus melakukan pembicaraan dengan papa. Ku tahan jawabanku sejenak demi meneguk air yang ku sempatkan terlebih dahulu agar tenggorokanku tidak begitu kering. Kemudian, aku berjalan ke meja makan dan duduk diseberang papa berada.
“Sudah. Art juga rencananya ke kampus hari ini.” jawabku, agar papa tidak terlalu kecewa karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk biaya kuliah, tapi aku malah berleha-leha dirumah dengan alasan sakit. Tapi, tidak bohong juga sih. Aku memang sakit dan butuh istirahat. “Papa libur?”
Pria berusia hampir enam puluh satu tahun itu mengangguk sambil berdehem singkat. Lalu, papa melipat korannya dan meletakkan di atas meja yang masih belum terhidang sarapan.
“Papa mengajukan cuti tiga hari. Mau lihat-lihat rumah di kota.”
Rumah? Dikota? Untuk apa?”
“Rumah?” tanyaku penasaran.
“Eum. Papa sudah memutuskan untuk membawa kamu, mama, dan adikmu kembali ke kota.”
Apa? Yang benar saja?
Aku menyuarakan itu dalam hati. Tapi, mengapa papa cepat sekali berubah pikiran?
“Kenapa, pa?”
Papa menyorot ku cukup lama sebelum memberikan jawaban. Tapi, aku juga tidak bisa diam begitu saja karena rasa penasaran mengapa papa tiba-tiba memutuskan untuk kembali ke kota, sedangkan saat aku memintanya dulu, papa selalu menolaknya tegas. Apa papa takut setelah melihat bagaimana keadaanku?
“Kamu sudah tau jawabannya.”
Jawaban papa justru membuatku kesal. Aku tidak puas dengan hanya ‘Aku sudah tau jawabannya’. Dan ya, aku harus mendapatkan alasan yang lebih relevan daripada hanya sekedar ‘sudah tau’.
Aku mendecak. Sekarang, aku sudah sedikit demi sedikit berhasil menyesuaikan diri di Folk, desa yang terkesan primitif dan kental akan mitos ini. Aku bahkan sudah memiliki kekasih disini, tapi papa justru ingin membawaku kembali ke kota? Tidak akan aku biarkan dengan diam saja untuk sekarang.
“Art tidak mau. Art sudah mulai terbiasa di sini. Folk tidak buruk.” jawabku yang justru membuat papa semakin menajamkan tatapan matanya padaku. Mama, terkesan tidak mau ikut campur dengan pembicaraan yang sedang kami lakukan.
“Tapi tidak baik untuk keselamatanmu. Papa tidak bisa menjaga kalian semua selama dua puluh empat jam dirumah. Dan papa tidak bisa tenang di tempat kerja setelah melihat apa yang terjadi padamu.”
Ternyata, papa mulai percaya dengan sebuah mitos. Aku tersenyum disudut bibir.
“Art baik-baik saja, pa. Kita nggak perlu pindah lagi. Butuh waktu dan biaya banyak—”
“Papa tidak peduli dengan uang. Papa hanya ingin melihatmu aman dan tidak lagi mengalami kejadian mengerikan seperti tempo hari.”
Suara menggelegar papa, berhasil menarik perhatian mama. “Papa dan mama ingin yang terbaik, Art.”
Dulu, aku menolak keras bahkan sampai melakukan mogok makan dan tidak pulang kerumah selama satu minggu ketika papa memberitahu jika kami akan pindah ke desa. Dan sekarang, semua seperti diputar balik. Aku yang bersikukuh menolak kembali ke kota.
“Kamu mau dirimu sendiri dan juga keselamatanmu menjadi taruhannya? Art, papa mendengar sendiri dari seseorang, jika rumah kita ini memiliki aura gelap, pekat.”
“Apa maksud papa?”
Papa menghela nafas. Dia membuang muka sejenak sebelum kembali menoleh padaku.
“Kamu bilang, jika sosok yang menyakitimu, datangnya dari mitos itu, kan?”
Aku diam.
“Oke papa awalnya tidak percaya. Tapi, seorang pria tua yang sudah lama tinggal di Folk, dan tau sedikit tentang hal-hal berbau mistis itu bilang, kalau rumah kita ini sedang di lingkupi kabut hitam yang begitu gelap dan pekat. Papa takut terjadi sesuatu pada kalian semua. Jadi papa memutuskan untuk mengambil cuti dan mencari tempat tinggal lagi di kota.” terang papa yang membuatku diam seribu bahasa. Lalu, bagaimana hubunganku dengan JyRu jika aku kembali ke kota?
“Papa rela melepas pekerjaan papa jika memang pengajuan pindah tugas papa di tolak.”
Ini tidak boleh terjadi. Bagaimana kehidupan kami jika papa di pecat? Aku bahkan belum bisa menghasilkan uang untuk membantu perekonomian keluarga.
“Pa, tolong dengerkan Art dulu,”
“Mendengarkan apa lagi? Papa sudah memutuskan itu, dan semua sudah menjadi keputusan bulat—”
“Art tidak akan kemana-mana. Art akan tetap disini. Papa yang meminta Art untuk menyesuaikan diri dan bertahan disini. Sekarang, setelah perlahan Art bisa melewati itu, mengapa papa justru—”
“Ini demi keselamatan kamu!”
Suasana menjadi sedikit tegang. Papa memang selalu suka memutuskan apapun sepihak, tidak mau diganggu apalagi dibantah.
“Beri Art waktu untuk menyelesaikan kuliah sampai semester depan.” pintaku. “Jika keadaan tidak memungkinkan, Art akan menuruti keinginan papa.”
Aku berdiri, meninggalkan papa yang mungkin sekarang sedang kembali berfikir ulang dengan kemauanku. Aku tidak ingin nanti, menjadi bahan penyesalan papa jika sampai ada kesulitan. Biarkan saja seperti ini terlebih dahulu, sampai aku bisa menemukan sedikit gambaran tentang caraku menyelesaikan semua ini.
***
Kampus masih sepi saat aku datang. Memang, jam mata kuliah dimulai masih sekitar dua jam lagi, dan aku rela datang cepat hanya karena ingin menghindari papa yang masih saja keras kepala ingin kembali ke kota setelah memintaku berjuang bertahan di desa memuakkan ini.
Memuakkan? Tidak sepenuhnya, karena sekarang aku memiliki tujuan untuk tetap bertahan. JyRu.
Ah, dia pasti masih membantu neneknya melakukan sesuatu dirumah sekarang. Mengingat jam masih terlalu jauh untuk memulai mata kuliah, masih terlalu pagi.
Aku berjalan menuju kelas dimana jam pertama nanti akan dilakukan. Pintu berderit berisik saat aku mendorongnya dengan sedikit tenaga. Dan apa yang kulihat saat ini, sangat membuatku terkejut bahkan memaku di tempat ku berdiri. JyRu duduk diantara bangku-bangku yang masih kosong , sendirian.
“Kamu, sudah datang?” tanyaku tak bisa mengendalikan ekspresi terkejutku yang begitu kentara.
JyRu tersenyum, lalu berdiri dan berjalan mendekat dengan langkah kaki yang membuat pantulan suara begitu jelas. Hingga dia berdiri tepat didepan wajahku, aku masih belum bisa menguasai diri dari keterkejutan yang menjadi serangan panik bagiku.
“Ya, sekitar sepuluh menit yang lalu.”
Aku menatap lekat manik mata indahnya yang begitu dominan.
“Kenapa? Untuk apa datang sepagi ini?” tanyaku lembut sambil meraih beberapa helai surainya yang jatuh didepan wajah untuk kuselipkan di balik telinga.
“Kamu datang ke kampus hari ini, untuk itu aku datang lebih pagi karena menerka kamu akan datang amat sangat pagi. Aku menunggumu.”
Sumpah demi apapun, aku tidak memberitahu apapun pada JyRu, termasuk rencana mulai datang ke kampus hari ini.
“Kamu menungguku karena tau aku datang ke kampus hari ini?” tanyaku ingin memastikan jika terkaan yang aku buat didalam kepala, hanya sebuah asumsi kosong.
Tapi, dia mengangguk.
Aku semakin didorong rasa ingin tau yang begitu kuat.
“Darimana kamu tau aku datang ke kampus hari ini?”
JyRu tersenyum, yang justru terlihat seperti sebuah olokan untukku. “Aku tau, semua yang orang lain tidak tau, tentang kamu.”[]
...To be continue...