Jyru

Jyru
15



...Selamat membaca,...


...Jangan lupa dukungan kalian untuk JyRu dan Arthur ya......


...Terima kasih...


...•...



...|JyRu 15|...


Ruangan dengan penerangan minim, suara derik hewan malam yang terdengar nyaring, dan ruangan yang . . . asing. Aku dimana sekarang?


Kepalaku masih terasa begitu sakit ketika ku paksa diriku untuk bangkit dengan gerakan cukup kasar dan keras. Ini bukan rumah sakit, apalagi rumahku. Tempat ini begitu asing namun juga sedikit nyaman karena aroma JyRu seperti ada disini, memenuhi ruangan berukuran sempit dan terdapat sebuah rak, meja dan sebuah lemari kayu ini.


Ah, JyRu. Apa ini kamarnya? Tapi, mengapa aku ada didalam kamarnya. Mustahil jika ini mimpi. Ini nyata 'kan?


Suara pintu kamar berderit menarik atensi ku untuk menoleh kesana, pada sebuah daun pintu tanpa motif, hanya saja terbuat dari kayu yang disambung antara potongan satu dengan potongan lainnya hingga membuatnya terlihat artistik. Keningku berkerut.


“Kamu sudah bangun?” tanya JyRu seraya muncul dari balik pintu.


Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku memutar pandangan mengelilingi sudut ruangan kemudian mengajukan pertanyaan sebagai jawaban pertanyaan yang di utarakan JyRu padaku. “Ini kamarmu?”


JyRu mengangguki pertanyaanku.


“Kenapa aku ada disini?” tanya ku penasaran, bagaimana bisa aku berada disini, sedangkan nenek JyRu dan JyRu sendiri tertutup kepada orang asing. Tidak mungkin aku tiba-tiba berjalan masuk kesini tanpa sebab musabab yang jelas.


Perempuan didepanku ini terlihat berfikir. Kemudian, suaranya yang lembut kembali memenuhi seantero ruangan. “Kamu tiba-tiba pingsan.”


Benarkah?


“Aku? Pingsan?” pekik ku sambil menunjuk wajahku sendiri. Ini mustahil.


Bisa saja, sih. Tapi alasanku pingsan itu apa? Mustahil jika aku tiba-tiba pingsan begitu saja. Daya tahan dan performa tubuhku tidak bisa dianggap remeh. Aku tipikal orang yang tahan banting, jadi tidak mungkin pingsan begitu saja. Ya, itu tidak masuk akal.


Aku mencoba mengingat. Menyusun setiap ingatan dimulai dari ketika pergi meninggalkan kampus, berada di mall bersama JyRu, hingga mengantarnya pulang. Dan semuanya stop disana. Aku tidak mengingat apapun kelanjutannya. Memori ku seperti terhapus.


Ku paksa saraf otakku bekerja lebih keras untuk mengingat apapun setelah itu, tapi tetap saja tidak menemukan satu potong ingatan. Dan pening tiba-tiba datang menyerang. Aku mengaduh sembari menyentuh kening dan pelipis ketika rasa ngilu menyambangi kepala.


“Sss, awshh . . . ”


JyRu berlari mendekat. Ia meletakkan segelas air putih diatas meja yang jaraknya cukup jauh untuk bisa dijangkau dari ranjang, lalu dia duduk di tepian kasur dan membantuku duduk.


“Jangan banyak bergerak. Pasti kepala mu sakit, Art.”


Aku menatapnya penuh tanya. Kenapa dia seolah sedang menyembunyikan sesuatu?


“Kamu jatuh dan membentur akar pohon cukup keras. Nenek sedang membuat sesuatu untuk mengurangi rasa nyerinya. Kamu minum air putih saja dulu sambil menunggu obat buatan nenek jadi.” kata JyRu menjelaskan meskipun tidak ku minta, ia berdiri dan mengambil gelas berisi air putih yang tadi sempat ia bawa dan diletakkan di atas mejanya.


Aku menurut dan menerima gelas dari telapak tangan JyRu, kemudian meminumnya hingga tandas. Ku tatap JyRu sekali lagi. Rasa ingin tau ku begitu mendominasi.


“Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?”


JyRu mengedikkan bahu, dan otakku bekerja keras lagi. Tak ku indahkan rasa sakitnya, aku ingin tau apa yang sebenarnya sudah terjadi. Hingga sebuah bayangan punggung menjauh terekam di benakku. Punggung yang amat sangat aku kenali milik siapa itu. Punggung sempit yang selalu ku tatap ketika pergi menjauh dariku. Dan itu milik JyRu.


Aku berhenti ketika rasa sakit itu kembali datang. Aku segera menenangkan diri dan menetralisir ingatan, mengunci dan menyimpannya dalam laci memori agar tidak lagi hilang.


Keringat dingin mulai muncul, dan keningku sudah dibanjiri oleh butiran keringat yang membuktikan bahwa aku sedang berusaha mengingat sesuatu. Hal itu dengan mudah di tebak oleh JyRu yang sepertinya tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dariku.


“Jangan paksa dirimu untuk mengingat sesuatu, Art. Itu akan menyakitimu.”


“Ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan padamu sekarang.”


Geram, aku pun bangkit dan meraih jaket yang tersampir di punggung kursi kayu didepan meja belajar milik JyRu. Aku rasa tidak ada gunanya berdiam diri semakin lama disini. Aku harus segera pulang.


“Oke. Aku pamit.” kataku tanpa sanggup melihat wajah JyRu.


“Kamu harus menunggu nenek, Art. Obat buatan nenek sangat kamu perlukan saat ini.”


Aku menghentikan langkah. “Obat untuk apa? Aku tidak terluka. Aku baik-baik saja.”


“Jiwa mu sedang terancam, Art. Kamu tidak boleh pergi tanpa meminum obat dari nenek.” sahut JyRu sepertinya lepas kendali. Aku berhasil menjebaknya untuk bicara.


Sial!


Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa dia berkata jika jiwaku sedang terancam?


“Apa maksudmu?”


“Doce gumbl sedang—”


Kalimat JyRu terputus karena nenek mendorong pintu sedikit kasar.


“Aku melihat sebuah roh jahat sedang mengincar dirimu.”


Aku memicingkan mata. Dahulu berkerut dalam. Omong kosong macam apa yang sedang dikatakan wanita tua ini?


“Minumlah ini. Setidaknya ini akan melindungi mu untuk waktu yang cukup lama.”


Ku lirik gelas kayu berisi air berwarna gelap. Sebuah asumsi buruk sedang berkelebat dalam kepalaku. Tapi semuanya teralihkan ketika JyRu meraih salah satu lenganku dan berkata begitu meyakinkan. Ku tolehkan kepala melihat JyRu. “Kami tidak akan menyakitimu, Art. Percayalah.”


Tatapan sendu JyRu membuatku terenyuh. Aku memutar kembali wajahku dan ku raih gelas kayu itu dari genggaman nenek. Baiklah, jika memang seperti itu yang mereka bicarakan. Tak menunggu lama, aku menenggak minuman itu. Rasanya aneh. Sangat aneh. Seperti pahit dan asam yang membaur menjadi satu, membuat asam lambung ingin menolak, hingga berimbas mual.


Setelah minuman itu tandas, aku mengembalikan gelas kepada nenek dan saat bersamaan aku mendengar JyRu menertawakan aku. Ah, ini menyebalkan, tapi aku suka melihat tawa nya.


“Wajahmu lucu, Art.” katanya, dan aku hanya bergidik karena rasa minuman itu masih tertinggal di lidah. Rasanya seperti . . . racun, maybe? Semoga saja itu bukan benar-benar racun dan aku berakhir mengenaskan disini, dirumah yang letaknya hampir menyentuh kaki gunung ini.


“Sekarang, apa aku boleh pulang?” tanyaku sambil ku tatap mata oranye milik JyRu. Gadis itu melirik sang nenek yang ku ikuti arah gerak bola matanya. Sang nenek mengangguk.


“Eum.”


Aku tersenyum dan berjalan di belakang nenek dan JyRu yang keluar terlebih dahulu menuju teras rumah. Sekarang aku bisa merasakan tubuhku membaik. Ramuan yang di buat oleh nenek JyRu bekerja seperti iklan di televisi, instan dan langsung berefek tanpa menunggu lama.


“Silahkan pulang.”


Oh astaga, aku di usir kah?


“I-iya nek.” jawabku gugup sekali. Aura nenek begitu berbeda dari orang kebanyakan.


Aku melirik JyRu yang terlihat menahan tawa. Aku pun tersenyum padanya. “Aku pamit.”


JyRu berdehem kemudian mengangguk. Atensiku kembali pada nenek ketika beliau berkata, “Jangan pernah menoleh ke belakang jika kamu merasa aneh. Ingat kata-kata ku ini.”


Meskipun terasa sangat aneh, aku mengangguk mengiyakan.


“Dan jangan pernah menjawab pertanyaan yang tiba-tiba terdengar di telingamu saat kamu sendirian.” []


...To be continue ...