
...Selamat membaca...
...Jangan lupa beri dukungan dengan cara Like, komentar, subscribe. Berikan vote dan juga hadiah untuk JyRu jika berkenan ☺️...
...Terima kasih...
...[•]...
...|JyRu 25|...
Pelukan posesif aku berikan pada JyRu di balik selimut yang melindungi tubuh telan-jang kami dari dinginnya udara malam yang sengaja aku biarkan berembus dari arah luar. Aku sengaja membuka pintu balkon agar sisa udara panas dan pengap yang kami ciptakan, berubah segar kembali.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanyaku karena JyRu hanya diam mematung dalam pelukanku. Tidak bergerak sama sekali hingga sempat membuatku mengira dia tertidur.
Jam menunjuk hampir pukul dua belas malam. Tadi aku sempat menawarkan untuk mengantar JyRu pulang karena dia terlihat gelisah, namun JyRu menolak pulang dengan alasan keselamatanku lebih penting dari pada apapun. Dan aku setuju. Jam menyentuh tengah malam seperti ini, sangat rawan dijalanan. Apalagi jika sudah berhubungan dengan, Doce Gumbl.
“Eum.” sahutnya pelan.
Aku mengecup bahunya yang terbuka, lalu merapatkan diri. Memeluknya semakin erat.
“Maaf, aku tidak bisa menahan diri dan—”
“T-tidak. Jangan membahas apapun tentang apa yang baru saja kita lakukan.” pinta JyRu padaku dengan gelagat tidak nyaman. Memang memalukan jika dibahas seperti ini, tapi aku juga butuh memastikan jika kami melakukannya atas dasar suka sama suka.
“Oh, oke.” sahutku, agar dia tenang.
Tapi yang terjadi berikutnya, membuat aku dan JyRu sontak menatap pintu geser yang tertutup kasar, bukan karena tiupan angin. Entahlah, aku tidak tau apa yang membuat pintu tersebut sampai berdebum keras mengejutkan kami berdua.
Aku bergegas bangkit, memungut pakaian dan mengenakannya kembali. Lalu aku berjalan mendekati pintu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Diluar, masih turun hujan namun hanya berupa rintik lebat yang mungkin masih mampu membuat basah pakaian jika diterjang. Aku melongokkan kelapa ingin melihat keluar yang terlihat sepi. Tidak ada siapapun, atau sesuatu yang bisa membuat pintu bisa tertutup kasar seperti yang baru saja terjadi.
Namun, saat langkah kakiku hendak melewati pembatas antara kamar dan balkon, JyRu menarik kuat tubuhku, menutup pintu dengan cepat, kemudian menguncinya. Dari sinilah aku bisa melihat siapa yang berulah. Doce muncul dengan bayangan kabut hitamnya diluar sana. Sosok itu tertawa tanpa suara hingga rongga mulutnya terlihat jelas. Tawa yang bisa aku artikan sedang merayakan sebuah keberhasilan.
Lalu, kualihkan tatapan mataku kearah JyRu yang menatap lurus pada Doce. Apa yang sebenarnya terjadi?
JyRu menarik tirai, menutup tanpa celah agar interaksi kami berakhir. JyRu yang sudah mengenakan kembali pakaiannya, kini berjalan menuju pintu kamar, lalu berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Aku mengikutinya tanpa berkata apapun. Aku menahan semua pertanyaan yang terbesit didalam kepala, termasuk ingin tau siapa JyRu sebenarnya.
“Aku yakin, kamu tidak akan mau lagi bersama ku jika kamu tau siapa aku.” katanya yang sontak membuatku menghentikan langkah. Aku menatap punggungnya yang sekarang sudah menjauh dan berhenti diruang tengah untuk mengambil tas selempang miliknya yang tergeletak di atas sofa.
Jadi, dia memang bisa membaca pikiranku?
Baiklah, aku harus bicara banyak dengannya sekarang.
Langkahku semakin cepat mendekat. Aku menarik pergelangan tangannya dan menahan pergerakan JyRu yang terlihat ingin meninggalkan rumah.
“Sudah malam. Besok pagi-pagi aku antar—”
“Aku harus segera pulang, Art. Aku harus segera menemui nenek.”
“Kalau begitu, biarkan aku antar kamu.”
Aku melepas cekalan tanganku yang mengungkung JyRu, lalu berjalan hendak mengambil kunci motor dan jaket baru yang ada di kamar. Namun langkahku kembali terhenti lantaran JyRu berkata tegas,
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Tidak. Kalau kamu memaksa pulang sekarang, aku yang akan mengantarmu.” tolakku keras kepala. Siapa yang tega membiarkan seorang perempuan sendirian malam-malam begini? Hanya seorang pecundang breng-sek yang melakukannya.
Itu keputusan mutlak dariku, dan JyRu tidak akan bisa mengubahnya. Bohong jika aku tidak khawatir padanya, setelah apa yang baru saja terjadi pada kami berdua.
“Jika kamu memaksa pergi, kamu dalam bahaya Art. Doce mengincarmu karena kamu telah berhasil merenggut apa yang seharusnya tidak aku berikan kepada siapapun.”
Aku terkejut bukan main. Apa maksud JyRu? Merenggut sesuatu yang seharusnya tidak ia berikan pada siapapun. Apa yang dia maksud, adalah apa yang baru saja kami lakukan?
Sial. Siapa sebenarnya JyRu ini?
Aku memutar tumit, kembali menghadap pada sosok JyRu yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak akan percaya jika aku berkata jujur padamu.” tekan JyRu, membuatku semakin penasaran dengan rahasia identitas yang selama ini mungkin ia sembunyikan dari siapapun.
“Katakan, apa maksudmu.” pertanyaanku masih sama. Aku hanya ingin tau siapa dia dan apa rahasia yang dia sembunyikan dariku. Mengapa dia berkata seolah-olah aku tidak layak tau tentang dirinya?
“Perasaanmu tidak akan sama setelah tau siapa aku sebenarnya.”
Aku mengerutkan kening, terlalu malas untuk berbasa-basi.
“Memangnya, siapa kamu?” tanyaku mencoba memberanikan diri untuk menantang sikapnya yang seolah kekeuh mempertahankan apa yang ingin aku ketahui. Apa yang membuatku penasaran dengan sosok JyRu yang berbeda dengan yang lain.
“Ya. Aku akan tetap mencintaimu.” kataku sekenanya, agar drama ini segera berakhir.
JyRu tersenyum masam seolah tau apa yang sedang aku pikirkan kali ini. Oh, ralat, dia pasti tau apa isi kepalaku sekarang. Dia bisa menebak dan membaca semua yang aku pikirkan dalam otakku.
“Kamu yakin?” tanyanya, tersenyum sarkas sembari mendekat padaku.
Mata itu, terlihat berkilat indah. Aku seolah terhipnotis dan berubah rapuh hanya dengan tatapan mata dari JyRu yang terlihat sendu. Dia terlihat bersedih.
Aku berkata dengan berusaha meyakinkan diri agar JyRu tidak menangkap maksud dan tujuanku berkata seperti ini. “Ya. Aku yakin. Jadi, percayalah padaku.”
Tatapan JyRu pada mataku melunak. Dia berjalan melewati ku untuk menuju sebuah cermin yang terbentang tidak jauh dari kamar Julia. Adikku itu suka sekali bercermin, sampai-sampai meminta papa memasang cermin diruang tengah hanya untuk memeriksa penampilannya sebelum pergi keluar rumah.
Ya, kami berdiri disini. Didepan sebuah cermin yang berukuran lebih besar dari bayangan kami yang muncul disana.
Aku menyusul JyRu yang sudah terlebih dahulu. Sedangkan aku, mengambil posisi berdiri di belakang tubuhnya yang masih mengenakan pakaian milik Julia yang aku pinjamkan padanya.
“Kamu, akan meninggalkan aku setelah tau siapa diriku, Art. Sama seperti orang lain yang pernah dekat denganku.”
Sumpah demi apapun, aku tidak mengerti apa maksud ucapan JyRu.
“Tidak. Aku janji.”
Akan tetapi, disela keraguan yang muncul begitu saja dalam benakku, kalimat-kalimat yang pernah aku dengar dari Ghea berkelebat dalam memori.Juga beberapa informasi yang aku dapatkan dari laman internet, semua mengacaukan sistem kerja otakku yang ingin menepis kemungkinan buruk yang akan terjadi pada kami. Padaku, dan juga JyRu.
Bulan purnama, cermin. Dua objek yang bisa membuktikan seorang—
“Apa yang kamu pikirkan, tidak salah.”
“Jangan mempermainkan aku.” tukasku tajam saat mata kami bertemu di bilah kaca yang terbentang di hadapan kami.
“Aku harap, kamu tidak menyesal karena menginginkan hal ini.”
Sial.
“Aku harap, kamu tidak menyesal karena memaksaku memberitahu padamu, siapa diriku yang sebenarnya.”
Aku mengepalkan tangan. Pikiran buruk yang muncul semakin menduga jika JyRu—
“Sebentar lagi, bulan akan kembali terlihat di langit.” katanya yang semakin membuatku sangsi. Aku ingin berhenti, namun rasa penasaran mendorongku untuk bersikeras ingin tau. “Kamu akan tau, siapa diriku yang sebenarnya. Seperti yang kamu harapkan.”
Kami diam. Waktu terus bergulir hingga aku bisa merasakan punggungku dirambati udara dingin yang begitu mendominasi. Memicu tulangku bergemelutuk menahan gigil.
Lampu ruang tengah memang akan berubah secara otomatis redup jika sudah lewat tengah malam, dan aku bisa melihat dari ekor mata, jam besar yang menempel di dinding itu sekarang menunjuk angka satu dini hari.
Perlahan, sinar bulan benar-benar hadir padahal beberapa menit yang lalu, langit masih menangis, membasahi bumi Folk. Cahaya itu datang dan menerobos masuk melalui bentangan kaca yang menjadi pembatas dengan dunia luar, menyelinap diantara kami.
Dan saat itu, jantung ku seolah dipaksa berhenti berfungsi saat mata JyRu terpejam. Kulit putihnya berkelip seperti berlian yang terpapar cahaya. Terlihat indah namun begitu asing dan sedikit menakutkan untukku yang notabenenya hanya manusia biasa.
Semakin lama, kelipan itu semakin redup, dan berubah menjadi sesuatu yang berbeda, berwarna oranye, seperti ... bulu?
Astaga. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Seluruh otot wajahku menegang. Tatapan mataku tidak lepas sedikitpun dari JyRu yang setiap detik, menjadi sosok yang mustahil di mataku.
Kini, tatapanku ikut jatuh pada JyRu yang duduk bertumpu pada dua kakinya yang dilipat diatas lantai. Aku semakin terkesiap saat dia berkata,
“Aku harap, kamu menepati janjimu, Art.” katanya sendu, tertunduk pilu. “Aku harap, kamu tidak akan meninggalkan aku.”
Dan wujud JyRu sepenuhnya berubah. JyRu, gadis cantik yang tadi berdiri di sampingku, kini berubah menjadi seekor serigala yang begitu aku kenali. Serigala yang ku beri nama JyRu karena selalu mengingatkan aku pada sosok JyRu. Dan ternyata semua itu kenyataan. JyRu, adalah JyRu yang selalu ada untukku setiap malam-malam tertentu.
Aku melangkah mundur karena tidak percaya dengan kenyataan yang ada didepan mataku. Bagaimana bisa aku melewatkan nama yang pernah aku baca di laman blog yang saat itu aku baca?
TRJ,
Trche Jyl Ruana, itu namanya. Nama dari sosok yang aku cintai, yang kerap dipanggil siapapun dengan sebutan ... JyRu.
Dan dia adalah, manusia serigala dari dunia mitologi yang selama ini selalu aku coba sangkal kebenarannya.
Semua terjawab sekarang. Aku adalah Alpha yang dia cari. Aku adalah orang yang akan menjadi penentu, apakah dia akan memilih tetap hidup, atau berakhir menghilang. []
...To be continue...
###
Apakah Art akan tetap memegang janjinya, atau malah sebaliknya?
Ikuti kelanjutannya pada next chapter
See you
❣️❣️❣️