Jyru

Jyru
10



...Selamat membaca...


...Jangan lupa dukungan kalian untuk Arthur dan JyRu ya . . . ☺️...


...•...



...|JyRu 10|...


Dia terus menjauhiku. Dengan dalih tidak ini membuatku terjerumus dalam masalah serius, JyRu terus membuat jarak. Ia selalu memutar arah jika berpapasan denganku. Didalam kelas, tak sekalipun dia melihat ke arahku, dan ketiak aku menghubungi nomor ponselnya nomor tersebut sudah tidak aktif akhir-akhir ini. Jujur, ini amat sangat menyebalkan.


“Hai kak Arthur.”


Aku menoleh mendengar namaku disebut seseorang. Dan Ghea berlari menuju ku, membawa beberapa buku dalam dekapannya. Aku tersenyum dan membalas sapaannya dengan tulus.


“Hai, Ghe. Baru selesai kelas?”


“Eum, iya.”


Aku tersenyum sekali lagi dan kami berjalan melewati taman samping kampus yang akan membawa kami menuju parkiran.


“Kak Arthur tidak ada kelas?”


Ada, tapi aku sedang malas. Ingin pulang dan tidur.


“Ada, tapi aku sedang kurang enak badan.”


Alasanku tidak sepenuhnya omong kosong, karena aku memang sedang kurang sehat hari ini.


Aku melihat Ghea memutar pandangannya ke kanan dan kiri. Seperti mengamati keadaan, atau sedang mencari seseorang.


“Mencari siapa?” tanyaku memastikan.


“Ah, tidak.” jawabnya terdengar bohong. Aku tau meskipun hanya menebak. Dia seperti sedang mencari keberadaan JyRu, karena pandangan orang-orang kepadaku adalah, dimana aku berada pasti JyRu juga ada bersamaku.


Pura-pura acuh, aku kembali memacu langkah. Hingga kami sampai di sebuah lahan yang masih lapang yang katanya hendak difungsikan sebagai tempat bersantai. Pepohonan disini juga cukup tinggi dan rindang. Ada beberapa bunga yang sedang mekar, dan ada pula beberapa burung dan kupu-kupu yang bermain disini, menambah keindahan suasana.


“Kalau tidak keberatan, apa kakak mau berhenti disini sebentar?”


Sebenarnya ingin bertanya ‘untuk apa’, tapi aku hanya tidak ingin membuat suasana Ki bersama Ghea menjadi canggung.


“Boleh.”


Ghea tertawa sedikit lebar, lalu berjalan mendahului untuk mencari tempat. Dan tidak menunggu waktu lama, dia menemukan tempat yang menurutnya pas untuk kami. Dibawah sebuah pohon besar yang sepertinya berusia puluhan, atau bahkan ratusan tahun, maybe.


Ghea duduk dan meletakkan buku-buku yang ia bawa diatas rumput kering. Ah, hari ini tidak ada hujan. Tumben?


Lantas, ia menepuk tempat kosong disampingnya. Aku menurut dan duduk begitu saja. Apa salahnya 'kan? Kami memang hanya teman. Kalau ada yang memandang kami lebih dari itu, terserah mereka. Aku tidak peduli.


Tangan berjari lentik itu meraih resleting tas punggung bermerk terkenal, lantas mengeluarkan sebuah buku catatan yang berisi not-not musik.


“Aku sedang membuat satu lagu, kak.” katanya antusias.


Ternyata dia ingin memberitahuku tentang lagu baru yang ia buat.


“Tapi, di bagian reff nya aku masih bimbang karena seperti ada intonasi yang terlalu tinggi. Kayak miss dan nggak enak didengar aja gitu.”


Aku mencoba meladeni Ghea, memperhatikan buku catatan miliknya, lalu berkomentar. “Apa kamu punya rekaman mentahan lagu dan liriknya? Coba aku dengerin.”


Ghea mengangguk dengan wajah bersemu merah. Sungguh, Ghea ini definisi cewek yang manis untuk pria yang suka tipikal cewek imut dan menggemaskan.


“Ini.” katanya sambil menyodorkan ponselnya yang ternyata tidak terlalu mewah. Aku mengernyit dalam diam. Bukannya menilai materi seseorang, tapi yang aku perhatikan selama ini, Ghea memiliki penampilan yang luar biasa menawan. Ia terlihat berkelas dan berasal dari keluarga berada. Tapi, kenapa—


“Coba kak Arthur dengerin pake earphone deh.”


Aku melihat daftar rekaman yang muncul di dalam box, lalu menekan salah satu rekaman yang berada pada bagian paling atas.


Suara asli Ghea terdengar. Dan lirik lagunya serta nadanya begitu enak didengar. Tapi benar katanya, bagian Reff masih terdengar kurang enak didengar. Kayak ada satu nada yang terlalu hambar.


Aku mengangguk, mencatat sebisaku pendapat yang hendak aku sampaikan nanti setelah selesai mendengar rekaman mentah suara Ghea.


Setelah selesai,


“Gimana, kak?”


Aku menatapnya sekejap, kemudian meraih buku catatan dan menunjuk bagia reff pertama.


“Ini, terlalu datar.” kataku mencoba memberi masukan. “Coba dinaikkan satu oktaf, pasti akan sempurna.” kataku sudah terdengar seperti pelatih vocal profesional.


“Oh benarkah?” sahutnya antusias, kemudian mencoba menyanyi dan tidak lupa merekamnya.


Tapi, belum rampung kami mengoreksi nada lagu itu, langit tiba-tiba mendung gelap. Awan putih yang mengepul indah di langit beberapa saat lalu, mulai tertutup gumpalan awan pekat yang mengerikan. Sepertinya akan turun hujan.


“Ghe, kayaknya akan turun hujan. Ayo kita mencari tempat lain agar tidak kehujanan.”


Ghea buru-buru mengemasi barang bawaannya. Aku pun turut membantu membawa buku yang sebelumnya ia dekap, karena rintik sudah mulai turun menyapa bumi.


Saat berjalan, aku menatap langit. Mengajukan pertanyaan dalam hati, mengapa seolah tak mengizinkan aku untuk sedikit mencari celah? Mereka seperti tak mengizinkan aku—


Ah, dia ada disana. JyRu sedang mantap padaku dan Ghea yang sedang berlarian mencari tempat berteduh. Meskipun jarak kami cukup jauh, aku bisa melihat kesedihan di wajahnya. Tapi untuk apa dia bersedih? Bukankah ini yang dia inginkan?


Aku mengalihkan tatapan mata saat sampai disebuah bangunan menyerupai tempat belajar diruang terbuka. Ghea mengibaskan tangan diatas blazernya yang sedikit basah. Aku pun melakukan hal yang tidak jauh berbeda dengan Ghea, namun rambut menjadi tujuanku.Aku mengacak nya agar butiran air itu menghilang dari atas kepalaku.


“Kenapa tiba-tiba hujan, sih?!” kudengar Ghea kembali memprotes dan mengeluh. Gadis ini sepertinya tidak terlalu menyukai hujan.


“Kan sudah menjadi hal biasa kalau hujan di Folk ini, Ghe.” jawabku sekenanya. Namun aku kembali merotasikan bola mata menuju tempat JyRu semula berdiri.


“Iya, kak. Tapi masalahnya, baru saja mataharinya cerah, loh.” sangkalnya masih tak mau mengalah.


Aku mengulum senyum. “Iya, kamu benar. Sepertinya ada yang sengaja mendatangkan hujan agar kita tidak bisa bersama.” kelakarku yang membuat kami terbahak bersamaan. Tapi jujur, ucapanku tidak sepenuhnya ku buat bercanda. Aku mulai memikirkan hal itu akhir-akhir ini. Atau jangan-jangan, ada sosok yang memang sedang mengintai kami?


Entahlah. Itu hanya sebuah terkaan tidak berdasar yang tiba-tiba muncul di kepala ku.


“Kak Arthur pernah mendengar cerita tentang desa ini tidak?”


Aku mengedikkan bahu dengan alis sedikit terangkat, bibir melengkung ke bawah, dan baju berjengit. “Entahlah Katanya itu hanya mitos.”


“Tapi itu bukan mitos, kak. Kami mempercayainya. Sebagian besar penduduk Folk percaya pada cerita yang dianggap mitos itu.”


Aku memperhatikan wajah Ghea dari sisi samping. Gadis ini terlihat serius dengan ucapannya.


“Jadi, cerita tentang gadis serigala yang bisa mendatangkan hujan hanya dengan dia menangis itu—benar?” tanyaku penasaran dengan jawaban dan pendapat Ghea akan hal ini, mengingat dia adalah penduduk asli Folk.


Yang sama sekali tidak aku duga adalah anggukan kepala Ghea. Gadis ini memercayainya.


Aku tertawa sumbang. Aku bukan orang yang sepenuhnya bisa mempercayai hal seperti itu. Hal diluar nalar yang bisa mengubah cara pandang seseorang kepada sebuah realita.


“Ya.” katanya, lalu dia melihat sekeliling. Menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri seperti menilai suasana. “Dan yang aku dengar dari desas-desus banyak orang, manusia serigala itu sekarang berada dan hidup diantara kita.”


Aku mengerutkan kening. Benarkah?


“Kamu percaya?” sekali lagi aku bertanya, ingin memastikan.


“Ya. Aku percaya.”


Sebuah gelengan kepala aku suguhkan sebagai jawaban ketidak logisan apa yang sedang dipercaya gadis ini. “Kalau begitu, berapa usianya sekarang? Seratus tahun?” []