Jyru

Jyru
28



...Bab ini mengandung adegan yang berhubungan dengan darah. Bagi yang tidak nyaman, silahkan skip....


...Selamat membaca...


...[•]...



...|JyRu 28|...


JyRu's side


Aku merasakan setiap gerakan Doce yang terasa dingin mengitariku. Dia seolah sedang memasang sesuatu di sekeliling ku agar aku tidak lagi bisa lari darinya. Tapi, dia salah jika dia berfikir aku akan diam saja setelah tau apa yang sudah dia lakukan pada Arthur. Dia sudah berani mengikut sertakan apa yang seharusnya tidak perlu dia libatkan.


Doce akan benar-benar mati di tanganku.


Aku tiba-tiba mengubah wujudku. Berdiri tegak diantara pusaran hitam pekat yang mengitariku. Isi kepalaku terbagi, namun aku tetap berusaha fokus pada Doce. Dia yang harus menebus semua yang terjadi, sebelum aku menebus kesalahanku sendiri.


Kuraih pergerakan cepat itu dengan satu lenganku, dan sontak leher Doce berada dalam cekalan erat telapak tanganku. Kuku panjang ku muncul, menusuk permukaan kulitnya yang pucat. Doce meronta dan melakukan perlawanan. Dia menarik tanganku dan melemparku cukup keras hingga menabrak salah satu batang pohon besar yang tumbuh ditengah hutan.


Aku terbatuk, jatuh tersungkur ketanah. Dan sebelum aku berhasil bangkit, Doce datang padaku. Mencekik leherku hingga kedua kakiku mengapung diudara. Nafasku terhenti dan itu terasa begitu menyakitkan. Apa ini rasanya mati?


Aku mencoba melakukan perlawanan, tapi entah mengapa bisikan yang ia ucapkan justru semakin membuatku lemah. Dia menyebut Arthur dan entahlah, aku hanya bisa mendengar nama Arthur. Dan ya tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan dia mengambil alih semuanya. Doce tidak pantas hidup.


Ku tancapkan kuku ku pada dua lengan tangannya yang masih belum mau menyudahi cekikan di leherku. Lelehan cairan hitam pekat mulai membasahi permukaan kulitnya. Dia meringis menahan nyeri, tapi tidak mau melepaskanku. Aku mencari cara untuk menarik diri, tapi terasa begitu sulit karena dia terus merapalkan kalimat-kalimat menyudutkan yang mengganggu.


Perasaanku mulai redup. Aku seperti terpengaruh, tapi itu tidak akan terjadi. Sumpah demi Tuhan, Doce adalah makhluk yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Dia adalah penghasut paling kejam dan menjerumuskan siapapun yang mendengarkan bisikannya.


“Kenapa?” tanyanya padaku dengan seringai memuakkan yang mungkin akan terlihat menakutkan didepan manusia. “Jika kamu sudah ingin menyerah, katakan padaku. Aku akan mengakhirinya.” lanjutnya, mulai meletakkan tangannya tepat di mana ulu hatiku berada. Bahkan darah mulai merembes membasahi bajuku yang sedikit terkoyak.


Apa ini memang akhirnya?


Mataku mulai gelap. Nafasku tidak lagi sampai di paru-paru dan tertahan di tenggorokan. Sakit, begitu menyakitkan.


Apa harus dengan cara memalukan seperti ini aku harus kembali ke tempat asal ku? Kehilangan kesucian, dan mati ditangan seorang vampir pemakan hati? Ini akan sangat memalukan.


Aku mencoba sekali lagi untuk melepaskan diri. Tatapanku jatuh pada dadanya yang tertutup kain hitam pekat. Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi. Tapi, apa tenagaku cukup kuat melakukan itu? Jika tidak, aku akan benar-benar mati ditangannya hari ini.


Dengan sedikit kesulitan aku berhasil menancapkan kuku tajamku tepat di dadanya yang membuat dia melepas dan berjalan menjauh. tapi itu tidak berlangsung lama karena dia kembali menyerangku dengan sebuah pukulan keras. Lagi-lagi tubuhku menabrak sebuah pohon dan terpental.


Dia kembali berdiri dan berjalan cepat ke arahku. Lalu berniat menyerang sesuatu yang amat sangat ku lindungi. Hati.


Akan tetapi, aku kembali lolos dari serangannya. Mungkin Tuhan masih berbelas kasih padaku. Aku menunggu setiap detik berubah untuk membuat tubuhku kembali sembuh, namun sulit. Tenaga milikku seperti diserap oleh kekuatan Doce.


Lantas dengan gerakan cepat bak kilat, aku berdiri dibelakang Vampir hitam itu. Menunggunya berbalik, dan ...


Cresss ...


Dia menatap lenganku yang sudah berhasil menembus rongga dadanya yang rapuh. Ku tekan kuat agar aku dapat segera mengakhiri semuanya.


“Sial!” bisiknya dengan mata terbuka lebar dan bibir yang masih tidak berhenti memberikan seringai, kali ini seringai itu semakin tajam. “Dasar serigala licik—”


Dia terbatuk, menyemburkan cairan hitam lekat ke wajahku.


“Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi dari sini sejak dulu, Doce. Tapi kamu tidak pernah mau menggunakan kesempatan tersebut dan justru dengan sombong dan percaya diri menginginkan hatiku.” kataku, mencoba memanipulasi otaknya agar kembali ke masa lalu, dimana aku pernah menyelamatkan dia dari kepunahan. Doce adalah klan terakhir Vampir hitam yang tersisa setelah beberapa yang lainnya musnah. Kali ini, aku tidak akan lagi memberikan kesempatan. Dia semakin berbahaya karena tau aku sudah menemukan alpha. “Sekarang, semua klan mu akan musnah saat aku mencabik keluar jantungmu—”


“Tolong beri aku kesempatan sekali lagi.”


Tidak ada kesempatan. Jika pun ada dan aku berikan, kamu akan mengulangi hal yang sama. Kamu akan tetap mengincar hatiku.


“Terlambat.”


Dan semua berakhir ketika JyRu melesakkan tangannya lebih dalam, dan menarik keluar pusat kehidupan Doce. Vampir itu terkulai di tanah, dan tak lama kemudian berubah menjadi abu dan tertiup angin. Begitupun sesuatu yang semula di genggam JyRu, yang juga musnah terbawa angin.


Sekarang, keputusan ada di tangannya sendiri. Jika memang Arthur tidak lagi menginginkan diriku dan memilih meninggalkan Folk, maka tidak ada harapan lagi untukku. Semua sudah hancur ketika kami melebur menjadi satu, saat itu.


Seharusnya akan baik-baik saja jika Arthur memang mencintaiku dan tetap berada disisiku meskipun dia tau siapa diriku yang sebenarnya. Tapi, nyatanya tidak seperti itu. Arthur sama saja dengan manusia lain yang akan pergi saat mereka tau siapa aku sebenarnya. Dan aku, harus menerima takdirku. Menghilang.


Aku berdiri didepan bilah pintu rumah Arthur, menunggu siapa yang akan membuka pintu untukku setelah aku mengetuknya sebanyak tiga kali. Hingga kayu tebal itu terayun terbuka dan sosok Arthur muncul, aku menatapnya lurus. Tak berbeda jauh, dia juga menatap diriku namun dengan tatapan terkejut.


“JyRu. Apa yang terjadi denganmu?” []


...To be continue ...