
...🎉SELAMAT TAHUN BARU 2023 🎉...
...SEMOGA SEMUA YANG KALIAN INGINKAN DAN CITA-CITAKAN DI TAHUN SEBELUMNYA, TERWUJUD DI TAHUN INI. AMIN ......
...TERIMA KASIH SUDAH MENEMANI DAN MENDUKUNG PERJALANAN VI'S MENJADI PENULIS CERITA DISINI HINGGA TAHUN BERGANTI LAGI. TANPA KALIAN, PENULIS BUKAN APA-APA....
...LOVE YOU ALL ❤️❤️❤️...
...Selamat membaca...
...|JyRu 22|...
Keesokan paginya, aku melihat mama bangun yang kemudian menatap padaku dengan sorot bertanya, apa kamu tidak tidur? Kira-kira seperti itu. Tapi mama tidak menyuarakan itu dan bangkit begitu saja sambil menyalakan lampu utama.
“Kenapa lampunya diganti?” tanya mama, memungut selimut dan melipatnya, kemudian meletakkannya diujung ranjang ku.
Mama menoleh dan melihat ke arah jam dinding yang menunjuk angka lima pagi.
“Papa mu sebentar lagi akan sampai dirumah. Apa Mama perlu membicarakan keinginan mama untuk membawamu kembali ke kota?”
“Tidak. Mama tidak perlu membicarakan apapun dengan papa.”
“Lalu, bagaimana kalau papamu nanti bertanya soal memar di leher mu? Mama harus menjawab apa nanti?”
Setuju. Ini adalah hal yang harus aku pikirkan sekarang. Alasan apa yang akan bisa membuat papa percaya dengan memar ini?
Aku meraba leherku sendiri yang saat ini terasa sakit dan sepertinya membengkak.
“Mama rasa, mama harus membicarakan ini dengan papa, Art. Hal ini menjadi masalah yang cukup serius karena menyangkut keselamatan mu.”
Mama sama sekali tidak salah. Dia pasti sangat khawatir melihat keadaan putranya yang seperti ini. Mama pasti merasa amat sangat takut setelah tau penyebabnya, yang aku katakan dengan jujur semalam.
“Nanti biarkan Art sendiri yang bicara dengan papa. Mama tidak perlu khawatir.”
Aku bergerak turun hendak menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan ingin mengecek keadaan memar dan leherku yang sekarang terasa seperti mau meledak.
“Lalu, kenapa kamu tidak tidur?”
Akhirnya, pertanyaan itu keluar dari bibir mama.
Aku terkikik geli dengan tatapan bercanda dan menggoda. “Mama bilang ingin menjagaku dan membangunkan aku jika mengalami sleep paralysis. Tapi, mama dan Julia malah tidur pulas. Jadi aku memutuskan untuk tidur setelah mama dan julia bangun saja.” kataku sedikit berkelakar yang membuat mama mendengus kasar.
“Maaf. Mama ketiduran.”
***
Papa adalah orang yang paling sulit untuk membiarkan aku lolos dari mata kuliah harian yang aku ambil.
Dia bahkan mendatangiku ke kamar setelah mengantar Julia pergi ke sekolah, dan dengan tatapan tidak percaya dia menyorot diriku yang memang dalam keadaan tidak baik.
Tanpa bicara, dia melangkah mendekat. Menelisik dengan wajah dipenuhi tanya saat mendapati leherku.
“Kenapa? Apa yang terjadi?”
Aku terkejut karena papa tidak berbasa-basi menanyakan hal itu padaku. Papa adalah salah satu orang yang sulit di ajak bicara mengenai sesuatu yang berhubungan dengan cerita mitologi. Papa juga yang sejak dulu mengajar dan meyakinkan padaku dan juga Julia untuk lebih percaya pada kelogisan alih-alih cerita yang disambung turun temurun yang belum tentu kebenarannya. Seperti cerita mitologi.
Itulah alasannya disebut mitos, karena belum tentu kebenaran dan bukti nyatanya. Begitu kata papa saat memberitahu padaku dan Julia.
Tapi, aku bisa membuktikan sendiri jika hal seperti itu—yang selama ini coba ditentang oleh papa—memang ada. Aku bahkan merasakan sendiri bagaimana sebuah hal yang belum tentu kebenarannya itu, menyakitiku hingga nyaris mati.
“Mungkin papa tidak akan percaya dan menganggap Art mengada-ada,” jelas ku mulai berbicara.
Tatapan papa menajam seiring rasa penasarannya pada ucapan yang baru saja aku katakan itu.
“Memangnya apa? Jangan berbelit.” sentak papa dengan wajah tenang.
“Kemarin, ada satu makhluk tidak kasat mata yang melakukan ini pada Art, pa.” kataku sambil meraba leherku sendiri.
Papa mengerutkan kening. Mungkin papa pikir aku sedang bercanda atau sedang mencari-cari alasan tidak masuk akal agar terbebas dari amukan karena tidak pergi ke kampus. Atau, mungkin papa sekarang juga sedang menganggap ku mencari alasan agar papa mengembalikan kehidupanku di kota.
“Art serius, pa.” kataku mencoba meyakinkan papa yang terlihat sangsi, dan tidak percaya sepenuhnya. “Polisi membawaku ke rumah sakit, dan mengatakan jika bekas luka seperti ini, tidak pernah mereka temui.” kataku kembali menginterupsi pada papa yang masih berusaha mendengarkan kalimat-kalimat yang mungkin terdengar hanya bualan semata di telinganya.
“Mereka bahkan menyangka, aku diserang oleh binatang buas karena—”
“Dimana kamu mendapatkan luka itu?”
“Maksud papa, tempat kejadiannya?”
Tidak ada jawaban, namun sorot mata tajam papa membenarkan asumsi ku.
“Di dekat hutan yang ada diujung folk. Tidak jauh dari kampus.” jawabku dengan kepala tertunduk. “Motor Art masih ada di pos polisi disana. Ini terjadi saat Art dalam perjalanan pulang.”
Papa menahan nafasnya, menyentuh permukaan kulitku yang membiru dan ngilu setengah mati ini. Aku juga bisa merasakan ujung jari papa yang dingin menyentuh satu titik pusat yang paling menyakitkan.
“Dia mencoba menguasai Art, pa. Dan dia ingin membunuh manusia serigala itu melalui Art.” kataku pada akhirnya. Menyampaikan apa yang tidak aku ceritakan kepada mama, karena aku yakin, papa lebih bisa berfikir jernih untuk menerima informasi ini meskipun akan sulit percaya jika ini benar-benar nyata.
***
Malam sudah memeluk bumi sepenuhnya. Aku meminta mama dan Julia untuk tidak datang ke kamar dengan dalih mengganggu tidurku.
Malam ini, aku akan berusaha untuk lebih bisa mengendalikan diri, tidak peduli dengan pengaruh yang Doce gumamkan padaku. Aku akan berusaha melawan apapun yang datangnya dari sosok Doce Gumbl yang pastinya tidak akan berhenti mengejar apa yang menjadi tujuannya pada diriku. Ya, setidaknya aku harus melakukan itu untuk kebaikan dan keselamatan diriku sendiri, meskipun terdengar sulit juga mustahil.
Ditengah semua kecamuk yang merajalela dalam kepala, terbesit sosok JyRu yang semalam datang padaku namun tidak ku indahkan karena keberadaan mama dan Julia. Dan malam ini, aku berharap dia datang kembali dan menemaniku.
Teka-teki yang sempat berantakan semalam, kembali aku susun. Menyambung, kemudian menyusun satu dengan yang lain agar terhubung dan menjadi jawaban utuh atas semua terkaan yang terlalu rumit untuk di jabarkan.
Aku menghela nafas, ku raih gelas berisi air putih yang tadi sempat di sediakan mama untukku sebelum aku memintanya keluar dari kamar dan mengunci pintu. Ku tenggak hingga nyaris tandas. Namun, semua fokus yang coba aku bangun itu kembali luruh ketika ponselku tiba-tiba bergetar. Nama JyRu muncul pada display yang membuatku tersenyum begitu saja karena merasa senang.
Aku raih ponsel yang berada tak jauh dari tempatku duduk. Tombol hijau ku arahkan ke ke atas, dan mulai menyapa yang diseberang sana.
“Halo,”
“Hai. Kamu kenapa tidak datang ke kampus hari ini?”
Pertanyaan lumrah, pasalnya aku memang sengaja tidak memberitahu JyRu tentang kejadian sehari yang lalu, yang menyebabkan aku harus mangkir datang ke kampus.
“Aku sedang kurang enak badan,” jawabku tenang agar JyRu tidak curiga dan khawatir.
“Kamu sakit?”
Aku berdehem menjawab suara JyRu yang tiba-tiba berubah khawatir dalam sekejap. Nah, lihat sendiri bagaimana JyRu kan? Dia itu tipikal perempuan yang terlihat tenang, namun sebenarnya dia memiliki rasa simpati yang begitu besar pada orang lain. Salah jika seisi kampus menjauhi sosok seperti JyRu.
“Iya. Ada sedikit masalah dengan tenggorokanku.” bohongku agar tidak semakin memperkeruh suasana. Jika aku bicara yang sebenarnya, JyRu pasti akan menceritakan itu pada neneknya, dan entahlah bagaimana selanjutnya, aku juga tidak tau.
Untuk beberapa detik, tidak ada sahutan dari JyRu. Namun tak berselang lama, suaranya kembali menggema di indera pendengar ku.
“Boleh aku datang menjenguk kamu, besok?”
Aku terkejut hingga mataku terbelalak. Kalau dia datang, itu artinya sama saja aku memberitahu keadaanku yang menyedihkan. Jadi, aku memutuskan untuk melarang dia datang.
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu istirahat beberapa hari. Kata dokter yang menangani ku kemarin, aku hanya perlu beristirahat.”
“Tidak, aku akan datang ke rumahmu besok pulang dari kampus. Tolong kirim aku alamat rumah kamu—”
Aku memotong suara JyRu. “Please, jangan kesini sekarang. Aku yang akan datang ke tempat kamu kalau aku udah sembuh nanti.” []
...To be continue...