Jyru

Jyru
31[End]



...Selamat membaca...


...Jangan lupa untuk memberikan like, komentar serta subscribe dan juga Vote dan hadiah jika berkenan ☺️...


...Terima kasih...


...[•]...


...|JyRu End|...


Aku mengedip disela kelopak mata yang masih berusaha terbuka dan pupil mata yang menyesuaikan cahaya. Hal pertama yang kudapatkan saat mataku berhasil menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan, aku terlonjak kaget karena aku terbaring di sebuah ruangan beraroma disinfektan dengan infus dan alat bantu nafas yang terpasang di lubang hidung ku.


Aku duduk kasar dan berhasil membuat papa dan mama menahanku agar tidak bergerak.


“Dimana JyRu?” pertanyaan itu yang pertama kali muncul di kepala ku dan terucap dari bibirku ketika sadar dari tidurku. Terakhir aku mengingat jika aku datang ke rumah JyRu, kemudian karena tidak ada orang, aku mencarinya ke hutan dengan petunjuk dari Ghea. Selanjutnya aku melihat sebuah bangunan berpilar besar tanpa atap, dan satu lagi berpilar sedikit kecil dengan atap, yang ternyata banyak sekali kelip disana.


“Ssss, awws ... ” aduhku karena kepalaku terasa sangat sakit karena mengingat sesuatu.


Lalu, bayangan ketika tubuh JyRu berubah lemah dan pusaran kelip itu semakin mengerikan, berhasil membuatku kembali tumbang diatas ranjang rumah sakit dengan tangis yang sengaja ku luapkan tanpa menahannya sedikitpun.


Mama sampai ketakutan melihatku yang seperti ini dan memelukku erat meskipun tidak ku indahkan. Aku hanya ingin melihat JyRu sekarang. Aku tidak ingin dia menghilang karena aku.


“Tolong kembalikan JyRu padaku.” kataku disela tangis. Aku tidak tau lagi bagaimana cara mengatakan penyesalanku selain mengharapkan JyRu kembali. “Mam, tolong bawa JyRu kemari.”


Mama mengusap kepalaku lembut, lalu menatapku dengan airmata yang tidak kalah deras mengaliri kedua pipinya. Apa aku terlihat sangat menyedihkan?


“Kami tidak tau dimana dia, Art. Sudah dua hari kamu tidak sadarkan diri di sini. Pihak polisi menemukanmu tergeletak di tepi jalan yang dekat dengan hutan terlarang yang tidak pernah di jamah manusia. Mama bersyukur kamu selamat.”


Apa? Hutan terlarang? Apa aku sedang bermimpi? Lalu, apa yang kulihat itu hanya mimpi?


Aku menggeleng dalam pelukan mama.


Sumpah demi apapun, aku begitu menyesal melepas JyRu dengan kesalahan yang aku perbuat padanya. Suasana hatiku hancur tak berbentuk. Lalu bagaimana aku akan menjalani hidup setelah ini? Hidup yang pastinya akan penuh dengan penyesalan dan kecewa pada diri sendiri, bagaimana aku bisa seperti ini?


Aku mencoba kembali meneguhkan hati meskipun mungkin akan sulit. Ku usap air mata, ku jauhkan mama dari tubuhku agar pelukannya terlepas. Aku harus melanjutkan hidup meskipun terpuruk. Aku akan mencoba bangkit. Kata putus asa itu akan ku hapus. Mungkin JyRu memang harus kembali kepada takdirnya.


Akan tetapi, disela kecamuk isi kepala yang mendera, pintu ruangan terayun terbuka. Aku tidak percaya begitu seseorang muncul disana.


Air mataku kembali berderai. Apa sekarang yang kulihat ini hanya halusinasi? Atau, memang nyata?


JyRu berdiri diambang pintu, menatapku dengan senyuman yang lembut. Rambutnya berwarna hitam legam dan diikat rapi. Pakaiannya sederhana, dan wajah cantiknya masih sama seperti yang terakhir kulihat. Sontak aku menegakkan dudukku.


Dia berjalan mendekat, namun semua yang ada disini seperti tidak merespon kehadirannya. Benar, ini hanya halusinasi ku.


Sampai dia berdiri di depanku pun, mama dan papa tidak berkata apa-apa selain diam menatapku.


Hingga ...


“Hai, Art.”


Suara lembut itu menyapaku. Pertanyaan yang mencuat dan ingin sekali kutanyakan padanya adalah, Apa ini mimpi? Mengapa rambutnya berubah menjadi hitam?


Aku diam membeku, tidak ingin bertindak konyol karena mama dan papa tidak merespon kehadiran JyRu disini.


“Apa kamu tidak mau menjawab sapaan ku?”


Aku meremas alas duduk cukup keras hingga mengerut. Mataku bergetar. Mimpi ini seperti nyata. Bayangan JyRu ada di depan mata.


Dia tersenyum.


Karena merasa penasaran akan kehadiran JyRu, aku mencoba bertanya pada mama.


“Apa mama mengajak orang lain datang kesini selain papa?”


“Tidak.”


Fix, ini hanya halusinasi ku. Aku mengangguk, lantas mengambil posisi berbaring.


“Aku ingin istirahat dulu, mam.”


Mama mengangguk, mengusap rahangku sambil tersenyum. “Panggil mama atau papa jika butuh sesuatu.”


Ini serius mereka tidak melihat JyRu? Astaga, kenapa JyRu terasa begitu nyata sih?


Papa mama keluar. Aku memutuskan untuk mengubah posisi membelakangi bayangan JyRu, berharap dia menghilang setelah ku acuhkan.


Tapi ...


“Bagaimana keadaan kamu?”


Aku tersentak. Dia masih mengajakku bicara? Apa ini nyata? Atau ...


Ah, sudahlah.


Aku memejam, tapi sedetik kemudian aku merasakan sesuatu menabrak ranjang rumah sakit. Tidak keras, tapi aku bisa merasakan ranjang sedikit terdorong.


“Lihat aku, Art.”


Enak saja. Kamu itu bayangan, tidak akan bisa menggangguku!


Eh—


Tubuhku berubah posisi menjadi sedikit terlentang dan pandangan kami bertemu. Sejenak hatiku merasa lega karena bisa melihatnya lagi seperti ini.


Mataku terbelalak saat merasakan telapak tangannya yang hangat menyentuh permukaan kulitku. Jadi, dia memang nyata.


“Kam—”


“Tapi—”


Pertanyaan kebingunganku terhenti saat jari telunjuknya menyentuh bibirku agar berhenti bicara.


“Kamu mencintaiku?”


Demi Tuhan aku ingin memeluknya saat ini juga. Seolah dia mendengarnya, dia melakukan itu padaku. Dia memelukku, dan aku membalasnya.


“Ya, aku mencintaimu.”


Kami berada dalam posisi berpelukan seperti itu dalam waktu beberapa menit, hingga JyRu menarik diri dan meringis karena merasakan punggungnya kesemutan. Aku tertawa kecil dan mengusap telapak tangannya yang ada di tepian ranjang.


“Jadi mengapa mama dan papa bersikap seolah tidak melihatmu?” tanyaku sedikit kesal karena mereka membohongiku. Atau hanya ingin bermain-main?


JyRu tertawa. “Kami sepakat dengan skenario ini.”


Kuganti ekspresi ku menjadi datar. Bercanda seperti ini terasa tidak menyenangkan. Mereka menggodaku di waktu yang tidak tepat. Tapi, cukup menghibur juga.


“Rambut mu?”


Sejak tadi, aku merasa asing dengan pemandangan itu. Sosok JyRu sudah tersimpan dengan wujud cantik berambut oranye, bukan hitam seperti sekarang.


“Kamu ingat malam itu?”


Tentu saja. Aku mengangguk.


“Kutukan itu sudah diangkat dariku setelah dia tau kamu tulus mencintaiku.”


“Kutukan?”


“Ya. Dan semua akan berakhir jika aku menemukan sosok yang benar-benar tulus mencintaiku.”


Aku masih tidak mengerti. Jadi, memang ada mitos yang berakhir seperti ini? Seperti dongeng saja.


“Tapi ini memang terjadi, Art. Dan kamu melihatnya sendiri.”


Ya. Aku takjub.


“Kamu bukan lagi ... ” aku sengaja menjeda, berusaha menghargai JyRu dengan tidak menyebutnya sebagai manusia serigala.


“Aku manusia. Dan aku juga akan mati seperti manusia lainnya jika sudah tua. Aku bukan lagi makhluk abadi, karena sebuah cinta abadi.”


Aku bangkit perlahan setelah mendengar dia mengatakan itu didepan kedua mataku. Aku bergerak mendekat, lalu meraihnya kedalam pelukan. Bersyukur sekali karena pada akhirnya, kami bisa bersama kembali.


“Terima kasih sudah mencintaiku, Art.”


Aku tidak memberikan jawaban, tapi memeluknya semakin erat. Tidak ingin lagi melepasnya.


“Aku akan bicara dengan papa dan mama tentang ini. Tentang perasaanku padamu.”


JyRu menepuk halus punggungku. “Mereka sudah tau.”


Mendengar itu, saat itu juga aku melepas pelukan dan menatap wajah JyRu yang terlihat bersemu merah. Lalu dia menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Jadi papa dan mama menerima mu?”


Sekali lagi dia mengangguk.


Tidak ada lagi yang bisa menggambarkan kebahagiaanku saat ini. Aku kembali meraihnya kedalam pelukan, sangat erat. Lalu tanpa kusadari airmata meleleh dikedua pipiku.


“Hiduplah bersamaku, Jyl Ruana.”


Aku merasakan dia mengangguk, yang kubalas dengan ciuman dibibirnya. Ciuman tulus dalam sebuah kebahagiaan penuh.


Kisah ini, akan menjadi saksi jika sebuah perjuangan dan kesabaran akan berakhir indah. Kebahagiaan akan hadir setelah tangis, jika kita rela berkorban.


Terima kasih sudah menjadi saksi cinta kami. Aku berharap, kalian juga akan menemukan cinta sejati kalian.


...—End—...


###


Terima kasih sudah membaca dan memberi dukungan untuk JyRu. Cerita ini sudah tamat dengan bahagia ya ...☺️


Maaf jika selama menulis disini, ada kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca sekalian.


Jika berkenan, mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Klik profil dan silahkan mencari bacaan yang menurut pembaca sekalian sesuai dengan selera.


Ada dua judul baru dan masih on Going,


—Nightfall (Romance-action-Spy)


Atau suka kisah percintaan yang lebih ke slice of life, bisa mampir ke MOMENT(Romansa).


Klik profil untuk cerita selengkapnya.


Sekali lagi Vi's ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk yang sudah mendukung cerita JyRu ya ...


See you 💞💞💞


regret,


VizcaVida