
...⚠️ WARNING ⚠️...
...ADEGAN DEWASA YANG PERLU DISIKAPI DENGAN BIJAK...
...Bagi pembaca yang tidak suka dengan hal yang berhubungan dengan See-ks, diharap skip bagian ini....
...Dan peringatan keras untuk pembaca di bawah umur, jangan nekat....
...Terima kasih....
...Selamat membaca, untuk yang boleh membaca...
...[•]...
...|JyRu 24|...
“Aku tau, semua yang orang lain tidak tau, tentang kamu.”
Aku merinding. Mengapa aura yang terpancar ketika JyRu mengatakan itu, justru membuat satu sisi diriku merasa terancam? Tidak seharusnya seperti itu bukan?
Aku memasang sikap antisipasi. Kutarik mundur langkah kakiku beberapa jengkal. Aku menatap lekat mata JyRu yang terlihat sekilas tanpa sengaja tadi, berkelip. Entah itu nyata atau hanya halusinasi ku saja. Aku tidak tau.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku curiga. Gelagat JyRu cukup mencurigakan hingga membuat semua yang dikatakan Ghea, hal yang sudah coba aku tepis jauh-jauh hari itu, kembali berputar di otakku.
JyRu tertawa lantang. Dia berjalan mendekat dan menepuk satu lenganku. “Aku bercanda, Art. Kenapa wajahmu tegang begitu?” katanya masih diselingi tawa yang begitu lepas.
Aku menghela nafas lega, lalu berjalan mendekat dan memeluknya. Tubuh JyRu terasa begitu kaku dalam pelukan. Ah, mungkin itu hanya responnya karena terkejut. Tapi setelah itu, aku juga tidak kalah terkejut ketika JyRu mendorongku menjauh. Ekspresinya terlihat ketakutan.
“Maaf sudah memelukmu tanpa permisi.”
Aku lupa jika JyRu hidup dengan doktrin yang sangat kuat dari sang nenek untuk tidak langsung berkontak fisik dengan orang lain, apalagi seorang laki-laki, dan itu adalah aku. Aku yakin, jika neneknya tau apa yang baru saja aku lakukan pada JyRu, pasti kami tidak akan lagi bisa seperti saat ini.
“T-tidak apa-apa.”
Bagaikan mendapat sejuknya angin sore, jawaban JyRu membuatku sedikit tenang.
Ah, baiklah. Mungkin hubungan kami tidak akan berjalan seperti pasangan pada umumnya, tapi aku yakin jika JyRu pasti tau bagaimana pasangan kekasih di jaman modern seperti sekarang. Untuk itu dia maklum.
***
“Mau jalan setelah selesai kuliah nanti sore?”
Dalam bahasa keren jaman sekarang, hal ini disebut kencan. Aku ingin memberitahu JyRu tentang itu, tapi takut dia salah paham dan berimbas pada hubungan kami yang masih seumur jagung.
“Kemana?”
“Kemana saja. Aku sedang bosan sendirian dirumah. Papa, mama, dan adik perempuanku sedang pergi ke kota dan lusa baru kembali.”
Aku harap dia tidak menolak ajakan ku. Aku benar-benar bosan dirumah, sendirian. Papa ngotot ke kota untuk mencari tempat baru untuk kami tinggali, sedangkan aku tetap kekeuh menolak keinginan papa yang semula sangat menentang kemauanku untuk kembali ke kota.
“Boleh.”
Aku tersenyum dan menatap JyRu penuh perhatian. “Terima kasih sudah percaya padaku.”
Dan sore harinya setelah mata kuliah terakhir sudah usai, aku dan JyRu pergi menuju parkiran motor dengan tatapan dan bisik-bisik mereka yang melihat kami tanpa celah.
Aku tidak peduli, mereka tidak akan tau seberapa baiknya JyRu. Yang mereka tau, hanya JyRu yang buruk, JyRu yang mereka benci dengan segala keunikan yang ada pada dirinya.
Aku memakaikan helm di kepalanya sembari tersenyum. Wajahnya yang cantik begitu indah bagiku. Dari sekian banyak perempuan yang pernah menempati hatiku, JyRu lah yang paling berkesan.
Setelah itu, aku memakai helmku dan mulai naik ke motor sport yang menjadi kendaraan andalan kemanapun aku pergi, setelah pindah ke Folk. Ah ya, perlu kalian tau, aku sekarang memutuskan untuk menjemput dan mengantar JyRu pulang setelah kami berpacaran.
Kami akhirnya meninggalkan area kampus dan berkendara diantara langit sore yang berubah jingga. Beberapa hari ini, hujan turun saat malam hari, jadi aku sedikit berterima kasih karena alam mendukung.
Aku dan JyRu pergi ke taman dan beberapa tempat lain yang juga baru aku ketahui keberadaannya. Kemudian kami pergi ke sebuah restoran untuk makan malam. Lalu, aku berniat mengantar pulang setelah itu.
Tapi saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun. Dan jarak terdekat untuk kembali adalah rumahku. Akhirnya aku membawa JyRu untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di rumah kami. Menginjakkan kaki dirumah papa, maksudku.
Aku melepas helm, dan menerima helm milik JyRu. Lantas kami masuk kedalam rumah karena selain hujan yang semakin deras, angin menyusul datang dengan tiupan yang sangat kencang dan udara berubah dingin.
“Mau minum apa?” tanyaku, menarik perhatian JyRu yang sedang menelisik memperhatikan ruang tamu.
“Eum, apa saja.”
Aku tersenyum dan berjalan menuju kitchen set yang ada diruang sebelah, memanaskan air, mengambil dua gelas berukuran sedang, satu buah teh seduh, dan juga gula. Aku melihat keluar jendela dan mendapati hujan semakin deras saja. Tidak tau kapan akan reda. Yang aku khawatirkan hanya satu, JyRu. Dia pasti akan mendapat masalah jika sampai malam belum sampai dirumah, karena neneknya pasti akan menunggunya pulang. Mobil juga tidak ada karena sedang dipergunakan papa bersama mama dan Julia ke kota sampai lusa.
Air sudah mendidih, ku tuang setengah di gelas pertama dan setengah lagi di gelas kedua. Tak butuh waktu lama, aku kembali ke ruang tamu dengan dua gelas teh hangat untukku dan JyRu.
JyRu hanya tersenyum. Aku bisa melihat jika baju yang dikenakan JyRu juga lumayan basah, sama seperti milikku.
“Kamu mau baju ganti? Aku bisa meminjamkan milik julia.”
JyRu setuju. Mungkin dia sedang kedinginan hingga tidak bisa menolak tawaranku.
Aku kembali berjalan masuk ke dalam, melewati ruang tengah dan menuju kamar Julia yang khas dan identik dengan warna nude, khas kesukaan adik ku yang kadang dan seringnya bikin jengkel. Tak lama kemudian, JyRu muncul dari balik pintu menyusul ku. Aku sudah menarik satu baju dan celana milik Julia yang ternyata, panjangnya tidak lebih dari setengah paha.
Dasar! Aku akan memberinya pelajaran jika sampai rumah lusa.
“Cuma ada yang seperti ini. Apa kamu mau memakainya?” tanyaku ragu sembari menggaruk pelipis karena merasa tidak enak. Setahuku, JyRu selalu menggunakan celana panjang dan baju yang tidak pernah menunjukkan lekuk tubuhnya. Tapi ini? Mengapa aku baru sadar jika baju yang di kenakan adikku, tidak ada yang pantas disebut pantas digunakan seorang anak gadis dari keluarga baik-baik?
Keterlaluan.
Aku terkejut ketika JyRu menyambut baju itu dari tanganku. Aku menatapnya sejenak dengan airmuka kikuk dan wajah yang mungkin memerah.
“I-itu kamar mandinya.”
Tanpa menjawab, JyRu berjalan ke arah telunjukku terarah. Aku berjalan keluar dan menunggunya di ruang tamu.
Sial, kenapa aku justru membayangkan jika JyRu terlihat sangat indah dengan pakaian seperti itu? Jiwa laki-laki ku mulai tergugah bangkit.
Dan tidak lama, semuanya seperti menjadi nyata. JyRu memang sangat indah dengan baju yang dipakainya. Kulitnya yang putih, kakinya yang terlihat ramping dan jenjang, serta lekuk tubuhnya yang indah. Ditambah lagi aroma lembut seperti bayi yang khas dari JyRu, membuatku terlena. Sesuatu yang tadinya mencoba tetap tenang, kini memberontak menyakitkan. Akan sangat berbahaya jika aku tidak bisa mengendalikan diri.
“Bajunya, kekecilan.” cicitnya pelan dengan gerakan tidak nyaman dan ekspresi malu.
“Tidak, kamu cocok pakai baju itu.”
Dia berjalan mendekat dan aku meraih satu bantal kecil dan meletakkannya diatas pahaku untuk menutupi sesuatu yang tidak pantas diperlihatkan pada gadis baik dan lugu seperti kekasihku itu. Nanti, akan ada waktu nya sendiri jika memang semua harus terjadi.
“Benarkah?”
Aku mengangguk, dan wajah JyRu seketika merona.
Oh Tuhan, bolehkan aku mencium gadis polos itu? Sekali saja.
Ah tidak. Aku harus tetap pada kendali diri.
“Hujannya sangat deras. Nenek pasti menungguku pulang.”
“Nanti, aku antar pulang jika hujannya sudah reda.”
JyRu terlihat gelisah, akan tetapi aku semakin tergoda. Sumpah demi apapun, aku tidak tau mengapa aku jadi seperti ini. Seperti sedang ada yang mengendalikan diriku untuk melakukan sesuatu pada JyRu.
Tanganku terulur meraih helaian rambut JyRu yang terjuntai, kemudian menyelipkannya di balik telinga. Aku bahkan dengan berani memangkas jarak dan mendekatkan wajah kami hingga kini aku bisa merasakan hembusan nafas JyRu yang hangat.
Telapak tanganku menyentuh satu sisi wajah dan mengusapnya pelan penuh perhatian. Lantas, ku sembunyikan telapak tanganku diantara surainya. Dan, bibir kami pada akhirnya bertemu. Dia sempat ingin menjauhkan diri tapi aku menahan pergerakannya hingga kini dia hanya pasrah saat aku mulai menyapa bibir atas dan bawahnya secara bergantian.
Suara decapan dari ciuman yang ku buat berbaur dengan suara hujan. Semua terasa semakin menyenangkan ketika JyRu mulai membalasnya pelan, dan ... kaku. Aku tebak, ini ciuman pertamanya.
Semua semakin tidak lagi terkendali dan kami melewati batas.
Aku merebahkan JyRu di atas ranjang kamarku. Ditemani suara deru hujan yang masih menghujam bumi, aku mulai mencumbunya. Melepas semua atribut yang menutupi tubuhnya, hingga kini aku bisa melihat semua jengkal lekuk tubuh dan seluruh inci kulit mulus JyRu yang terpampang di bawah temaram lampu tidur yang menyala. Wajahnya yang sayu, terlihat begitu memikat.
Ku labuhkan bibirku menyentuh leher, tulang selangka, dan berakhir di dadanya yang bulat dan padat. Aku mengecup puncaknya dan meremas satu yang lainnya hingga bisa kurasakan punggungnya terangkat menjauh dari ranjang. Aku semakin terpacu oleh semangat yang menggelora untuk semakin membuatnya terlena oleh sentuhan dariku.
Sial. Tidak seharusnya aku seperti ini. Tidak seharusnya aku menghancurkan gadis sebaik JyRu. Tapi logika menolak dan menginginkan semua ini terjadi.
Dan pada titik tertinggi hasrat kami, semuanya terjadi.
Tubuh kami menyatu. Suara lenguhan terdengar bersama suara kulit yang beradu, memenuhi ruangan kamar ku. Gerakan yang semakin menuntut, dan suara gerakan yang semakin nyata mengantarkan aku sampai pada pelabuhan terakhir perse-tubuhan kami.
Aku dan JyRu mendapatkan surga dunia yang kami cari bersama-sama beberapa saat yang lalu, tanpa kami sadari, hal ini adalah awal dari semuanya.
Semua pantangan yang tidak pernah JyRu katakan kepadaku, yang kami langgar malam ini.
Dan mungkin, kehancuran atau pengorbanan yang akan menjadi jawabannya. []
...To be continue...
###
Note: Cerita ini memiliki episode yang tidak terlalu panjang. Mungkin hanya 30 atau paling panjang 35 episode saja. Jadi, konflik sebenarnya akan segera hadir.
Stay tune di cerita JyRu ya,
Terima kasih