
🎏
"Shinzui nangis, Kak Toshi pelukan sama cewek lain!"
"Kak Toshi dipeluk cewek lain."
"Tadi ada cewek aneh yang nyerobot dia."
"Kamu lihat gak, tadi si cewek cacat meluk Kak Toshi. Dan Kak Toshi bales peluk dia, kayak gini." Erika mempraktikan cara Toshi memeluk Lucy pada Shinzui yang masih menangis. Elisa melebarkan mata tak percaya.
"Seriusan? Kapan? Di mana?"
Gadis itu terlihat tak terima. Kejadian tadi terjadi secara tiba-tiba dan singkat, namun menjamur sampai ke penjuru kampus. Bagaimana Lucy menghamburkan pelukannya, bagaimana Toshi membalas pelukan itu, semuanya menjadi topik hangat hari ini.
Shinzui yang sebelumnya sedang berbincang dengan Toshi secara mengejutkan menyaksikan kejadian itu di depan matanya. Tentunya ia tak terima dan melarikan diri dengan mata yang basah saat melihat Toshi dengan gamblang membalas pelukannya. Apalagi Toshi yang selama ini terlihat menjaga jarak dengan perempuan manapun, kini terlihat begitu dekat dengan gadis yang baru ia temui.
Erika yang tak jauh dari sana, langsung mengenali jika itu gadis cacat yang semua foto-fotonya ia hapus saat OSPK kemarin. Meski sedikit kaget, ia tidak merasa heran. Hanya saja, ia termasuk orang yang tak terima akan hal itu karena meskipun Lucy sudah dekat dengan Toshi dari kecil, gadis itu tak pantas disandingkan dengan dosennya.
Menurutnya, Shinzui dan Elisa lebih pantas disandingkan dengan Toshi.
"Cepetan jelasin!" Elisa masih tak percaya.
"Jam sembilan empat tujuh lewat dua enam detik. Di dekat gedung jurusan sastra. Waktu itu Kak Toshi lagi ngobrol dengan Shinzui kayaknya." Erika menjelaskan putus-putus.
Elisa menggigit bibir tak terima, ia melirik Shinzui yang masih berurai air mata.
"Kita harus cari tahu tentang cewek itu."
Erika menggeleng. "Dia cewek yang pingsan Ospek kemarin."
"Yang cacat itu?" Elisa mendelik tak percaya meski waktu itu Erika sudah menceritakan jika ada maba yang bersahabat dengan dosennya. "Yang kalian bully?"
Erika mengangguk. "Aku rasa dia memang beneran deket dengan Kak Toshi."
Mendengar hal itu, Shinzui semakin merengek tak terima. Erika kembali memeluknya dan menenangkannya.
"Berhentilah menangis!" Sergap Elisa, "sebaiknya kita cari tahu lebih dekat tentang dia. Siapa nama gadis itu?"
"Lucy Sorokina Efendi. Matanya cacat, kata Via matanya juga rabun. Terus kemarin waktu Ospek dia ngaku kalau Kak Toshi memang alasan dia masuk ke kampus ini." Jelas Erika dan itu membuat Elisa semakin menggeram.
"Kita harus beri tahu hal ini pada Via."
"Via sudah tahu." Erika menghela napas panjang. "Justru dia yang nyuruh kami untuk ngebully tuh anak waktu Ospek kemarin."
🎐🎐🎐
Lucy membenarkan anak rambutnya yang diterjang desiaran angin di pinggir danau kampus. Sudah lama detak jantungnya tidak dalam mode On seperti ini. Rasanya seperti bisa menghirup jernihnya udara pagi dan merasakan kesejukan embun yang bertaburan.
Dari samping, ia menatap tubuh Toshi yang benar-benar sudah dewasa. Rahang tegasnya yang semakin terlihat jelas sejak Lucy terakhir kali berada di dekatnya. Ini kali pertama ia berdekatan dengan Toshi yang sudah menjadi dosen. Dengan wajah yang terlihat senang, Lucy merasakan ketenangan kembali pada dirinya. Sedikitnya ia merasa menjadi lebih lengkap.
Toshi yang memasang raut senang, terus menanggapi cerita Lucy yang terus menyiarkan bagaimana perjuangannya selama ini demi lulus di universitas ini. Ia hanya bisa mengandalkan pendengarannya karena tulisan di papan tulis cukup sulit ia tangkap meski sudah duduk di barisan depan.
Seperti dulu dan biasanya, Toshi memuji Lucy dan mengatakan jika Lucy benar-benar cerdas. Hanya Toshi yang mengatakan jika Lucy istimewa, dan itu yang membuat Lucy semakin menyukainya hingga saat ini.
"Kakak sendiri bagaimana? Semenjak kakak kuliah dan jadi dosen, kakak jarang terlihat di rumah. Kakak gak lupa shalat kan?"
Toshi tersenyum, "kan kakak kuliahnya di luar." Lucy mengingat betapa beratnya hidupnya saat Toshi menghabiskan waktu di luar negeri saat kuliah dulu. Namun, ketika Toshi kembali, Lucy malah hanya beberapa kali melihatnya.
Toshi menjelaskan kegiatan pekerjaannya sebegai dosen saat ini benar-benar padat. Dia bahkan harus pergi kesana-kemari untuk memenuhi panggilan kerjanya. Lucy mencoba mengerti dengan kesibukan Toshi dan merasa bersyukur karena sekarang dia tak akan merasa kesepian lagi setelah menjadi bagian dari kampus ini.
"Setelah ini kita akan sering bertemu." Toshi tersenyum, senyum yang menurut Lucy sama seperti senyuman Jun. Saat tahun-tahun ia tak dapat bertemu Toshi, Lucy kadang mengobati rindunya dengan melihat senyuman Jun yang begitu mirip dengan senyum Toshi. Hanya saja, Jun jarang sekali tersenyum kepadanya. Lucy hanya dapat melihat senyuman Jun ketika laki-laki itu bercerita tentang sekolahnya pada ayah dan ibu di meja makan, atau ketika Lucy mengintip Jun membawa pacarnya ke rumah.
Toshi kembali menanyakan tentang kehidupan Lucy, kabar ibu dan ayahnya, dan kabarnya Jun. Lucy tak dapat memberitahu banyak karena hampir satu bulan ini, ia tak bertemu dengan keluarganya. Ayah dan ibunya tidak pernah mengunjunginya di rumah Milo.
"Rumah Milo? Siapa? Kau tidak tinggal di rumahmu lagi?" Lucy lupa menceritakan hal satu itu pada Toshi.
"Iya, ayah dan ibu menitipkanku pada keluarganya Milo."
"Kenapa?"
Lucy mengidikan bahu dan menggeleng. Ia hanya menjelaskan jika orangtuanya melakukan hal ini secara tiba-tiba, bahkan Milo sendiri juga tidak tahu akan hal ini. "Milo juga kuliah di sini, anak akuntan."
Toshi berpikir sejenak. "Aku tidak tahu orangnya. Nanti kau harus mengenalkannya padaku."
Lucy mengiyakan. "Kakak kenal Olivia? Dia pacarnya Milo."
"Olivia? Aku pernah mendengarnya dari Elisa."
"Siapa Elisa?"
"Asistenku."
Lucy mengangguk mengerti. "Nanti kakak harus terima aku jadi asisten kakak."
Toshi terkekeh dan mengacak rambut Lucy. "Beneran mau jadi Asdos?"
Dengan semangatnya Lucy mengangguk. Ia mengepalkan tangan di depan dada dan menekan dadanya perlahan. Denyutan jantung yang semakin menggila membuatnya hanya bisa menahan napas.
"Ya."
Lucy mengigit bibir dan mulai merasakan wajahnya yang merah padam. "Sepertinya selama ini kakak sudah memperparahnya."
Toshi mengernyit. "Kenapa?"
Lucy menggelengkan kepala sebagai jawaban. Setelah sekian lama tidak dekat seperti ini, ia kambali merasakan jantung yang semakin sekarat. Rasanya ia ingin terus menghabiskan waktu berdua seperti ini dengan Toshi, tapi jam kuliah pertamanya sebentar lagi dimulai.
Waktu rasanya berjalan begitu singkat, Lucy bahkan belum membicarakan tentang puisi dan sajak dengan pria di sampingnya.
🎐🎐🎐
Milo menatap heran wajah pacarnya yang bersungut-sungut padahal sekantong cilok goreng sudah ada di tangan kanannya. Gadis itu mengunyah ciloknya dengan kasar dan langsung menceritakan keluh kesahnya tanpa harus Milo tanyakan.
"Tadi Elisa menelpon." Ia menjeda. "Katanya Lucy dan Kak Toshi pelukan."
"Terus?"
"Terus? Mereka pelukan Milo! Kamu kan tahu aku gak suka kalau ada cewek yang deket-deket sama Kak Toshi-ku."
Milo terkekeh seraya membersihkan noda kecap di bibir pacarnya. "Bukannya teman-temanmu juga mendekati Kak Toshi."
Olivia kehabisan kata-kata. Hal itu juga ada benarnya. "Iya juga sih. Tapi gak sampai segitunya, maksudku dia gak secantik Jisoo, enak aja dia peluk-peluk."
"Dia kan teman lamanya. Lagian kenapa kamu cemburu sih? Aku kan jadinya cemburu juga."
Olivia kembali mengeluarkan alasan-alasan yang membuat Milo geleng-geleng kepala. Ini satu keanehan yang dimiliki pacarnya yang serba ingin semuanya sesuai dengan keinginannya. Tapi ketika Milo menceritakan ini pada orantuanya dulu, mereka menanggapi jika sifat seperti itu sama seperti sifatnya.
"Aku gak suka! Pokoknya aku gak suka, titik, koma, M, Z!" Penekanan yang biasa Olivia lakukan jika ia tidak ingin di bantah. "Hari ini gak usah anter dia pulang, biar dia tahu rasa."
"Terus kamu maunya apa?"
"Aku mau kamu anter aku pulang dan biarin dia pulang sendiri. Nanti aku beliin kamu es krin di Indomaret."
Milo tertawa dan mulai menaiki motornya keluar dari parkiran. "Gak dibeliin juga gak papa."
"Gak mau, aku mau beliin. Aku juga mau dinginin kepala aku yang belangsak seperti aljabar. Rasanya neuron simpatetikku gak bisa lagi terima huruf-huruf yang dijadiin angka."
Tepat saat Olivia ingin menaiki motor, Lucy memanggil Milo dari kejauhan. Gadis itu berlari terseok-seok mendekati posisi mereka berdua.
"Milo, aku tadi cariin kamu kemana-mana. Aku juga udah nungguin kamu dua jam di tempat parkiran biasa." Lucy menjelaskan jika kelasnya sudah lama selesai. Gadis itu harus berkeliling kampus mencari Milo sampai menjelang maghrib seperti saat ini.
Olivia melirik sinis dan mengerucutkan bibir ke sudut kanan. Dengan tangan yang bersedekap, gadis itu melirik Lucy dari atas ke bawah, ia mendengus kesal karena Lucy yang sama sekali tak cantik seperti Jisoo bisa-bisanya memeluk Toshi.
"Milo hari ini pulang sama aku. Kamu pulang sendiri sana."
Olivia melihat mata Lucy yang mengarah ke arah lain tetapi wajahnya tertuju pada Olivia. "Ta-tapi ini sudah hampir gelap. Aku gak bisa pulang sendirian, uangku hanya tiga ribu."
Milo kembali mengambil uang Lucy dan hanya menyisipkan sepuluh ribu untuk gadis itu setiap paginya. Dan Lucy sudah menggunakan tujuh ribunya untuk makan siang tadi.
"Bodoh amat!" Olivia menaiki motor. "Kamu tuh sadar diri dong, kamu tuh jelek, berani-beraninya meluk Kak Toshi. Kak Toshi itu milik aku. Kalau kamu mau deketin dia, kamu minimal harus secantik Jisoo."
"Jisoo itu siapa?"
Olivia tepuk jidat mendengarnya. Rasanya ia ingin segera mencakar-cakar wajah polos gadis itu. "Inget ya, jangan deketin Kak Toshi karena kamu itu jelek. Jangan gangguin Milo juga karena dia punya aku. Asal kamu tahu ya, kamu itu sama menyebalkannya seperti asimtot yang terus-terusan memepet sumbu X. Padahal nyatanya kau tidak bisa menyentuhnya."
Setelah mengatakan itu, Milo melajukan motornya dan mereka meninggalkan Lucy di area parkiran yang sudah semakin sepi. Kakhawatiran Lucy mulai berdatangan karena hari mulai gelap.
Tak lama, adzan maghrib berkumandang samar. Lucy berusaha berjalan dengan pandangan yang semakin buram karena keadaan yang semakin gelap. Jarak tempat parkiran dan masjid kampus begitu jauh, sementara mata Lucy sudah hampir tidak bisa melihat apa-apa.
Lucy mengeluarkan ponselnya dan menghidupkannya. Hanya saja, cahaya di ponselnya tidak cukup untuk menerangi jalan ditambah lagi ponsel keluaran lama miliknya mengalami kerusakan pada fitur senter.
Suara adzan semakin samar dan hilang saat sudah selesai. Lucy melihat beberapa lampu motor melewatinya dan meninggalkannya.
Gadis itu mematung di tempat saat matanya sudah tidak dapat melihat jalanan lagi. Suasananya terlalu gelap di sini. Ia dapat melihat cahaya lampu yang remang dari kejauhkan, namun ia tidak bisa melihat jalanan di sekitarnya.
Dengan tangan yang gemetar, ia berusaha menelpon Milo. Akan tetapi, sambungannya direjeck beberapa kali. Ia tidak memilih untuk menelpon Om Arthur atau Tante Lisa karena itu dapat membuat Milo terkena getah.
Lucy berdoa beberapa kali saat berusaha menelpon Toshi, tapi sambungannya malah dialihkan.
Gadis itu menggigit bibir melihat nomor kontak yang tersisa.
Setelah memilih salah satu kontak yang tertera dengan ragu, Lucy bernapas lega saat keajaiban datang karena orang yang di tuju mengangkatnya telponnya.
"Halo?"
"Jun, ini kakak."
🎐🎐🎐
**ORIGAMI 9 : Sambungan Telepon
Tolong ceritanya dikondisikan.
Wkwkwk. Semoga tetap suka sama ceritanya**.