Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Keduabelas




🎏


Dengan mata malas dan mulut yang menguap, Milo terpaksa bangun di hari yang seharusnya menjadi hari liburnya. Ibunya berhasil setelah tiga kali percobaan membangunkan Milo. Parahnya lagi, setelah Milo berusaha membuka mata, ibunya tak henti-hentinya merepet untuk segera mengantarkan Lucy.


Milo memeriksa ponselnya dan melihat jam yang sudah menunjukkan angka delapan lewat sekian. Wajah Olivia yang terpampang sebagai wallpaper ponselnya membuatnya terasa lebih segar dari suntuk yang masih menyiksa.


Dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan merenggangkan tubuh, Milo bangkit dengan handuk di pundak. Seperti orang mabuk, ia berjalan dan hampir menabrak pintu. Ia terhenti setelah sekilas matanya menangkap etalase di kamar Lucy yang terbuka.


Matanya memicing melihat sudah ada enam origami di etalase atas. Meski begitu, jumlah origami di etalase bagian tengah tidak berkurang sama sekali, justru bertambah karena Lucy terus menambah harapan-harapan anehnya.


Meski sudah menghakimi jika harapan gadis itu hanyalah harapan kacangan, rasa penasaran di hati Milo membuncah begitu saja. Rasa kantuk yang begitu kuat seakan hilang seketika berganti dengan rasa waspada. Matanya melirik ke dalam dan tidak menemukan Lucy di sana.


Ia kembali melirik kanan-kiri lorong kamarnya dan kamar Lucy. Mendapati tidak ada siapapun, ia mulai melancarkan aksinya. Dengan mengendap-endap, ia membuka etalasenya secara perlahan. Bunyi decitan terdengar sedikit namun itu tak berarti sama sekali.


Setelah Milo berhasil membuka etalase bagian tengah, matanya tertuju pada origami yang berukuran jumbo berwarna oranye yang pernah ia temukan di atas pagar rumahnya. Ia sempat berpikir apa tujuan Lucy menaruhnya di atas pagar rumah Milo jika di dalamnya tertulis harapannya.


Milo mengusap-usap hidung, kebingungan harus membongkarnya dari mana.


"Kamu boleh kok lihat isinya."


Milo terlompat seketika dan menjtuhkan origami secara refleks ketika suara Lucy terdengar di ambang pintu.


Gadis itu tertawa kecil mendapati reaksi Milo yang seperti itu. "Kamu boleh lihat semuanya, asalkan kamu izin dulu." Lucy memungut bangau jumbo yang terjatuh, lalu memasukannya lagi ke etalase bagian tengah dan ditambah dengan beberapa bangau yang baru ia selesaikan.


"S-siapa yang mau lihat harapan aneh kayak gitu. Aku mau mandi." Milo membantah dan pergi begitu saja.


"Milo." Lucy menghentikannya. "Mau ya ketemu Kak Toshi. Sebentar aja."


"Gak mau." Laki-laki itu berbalik badan dan kembali melangkah.


"Bagaimana kalau sepuluh menit?"


Laki-laki itu menggeleng seraya menuruni tangga. Lucy mengekori dan menatap Milo yang sudah mulai turun ke anak tangga bagian bawah.


"Lima menit deh," bujuknya lagi.


"Lebih baik aku jatuh dari tangga saat ini."


Tepat setelah Milo mengatakan hal itu, kakinya terpeleset dan ia jatuh dari tangga. Lucy mendengar suara jatuh yang begitu kuat turut memejamkan mata merasakan ngilunya.


"Apa yang terjadi?" Tante Lisa tergopoh-gopoh memastikan bunyi yang ia dengar, lalu terperanjat melihat Milo yang tertatih-tatih berusaha berdiri.


"Itu pasti sakit," ucap Lucy setelahnya.


🎐🎐🎐


Sepanjang perjalanan menuju kampus, Lucy terus-terusan membujuk Milo untuk bertemu Toshi sementara Milo terus-terusan meringis kesakitan yang masih terasa pada kakinya. Ia sempat memberontak jika dia keseleo dan tidak mau mengantar Lucy pergi, namun ibunya terus-terusan memaksanya dan mengatakan jika Milo baik-baik saja.


Sesuai dengan permintaan gadis cacat itu, Milo parkir di area kafe kampus. Namun, dia merasa tertipu karena di dalam sana terlihat adanya keberadaan Toshi. Seketika Milo langsung melajukan motor dan menyerapahi Lucy.


"Milo, stop." Pinta Lucy. "Cuma sebentar aja Milo."


Milo menghentikan motornya yang masih di area parkiran kafe. Laki-laki itu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kesal. Akhirnya ia kembali memutar dan memarkirkannya di tempat sebelumnya.


Lucy turun dan tersenyum senang. Akan tetapi, senyum itu lenyap ketika Milo menjulurkan tangan yang berarti ia akan kembali memotong uang saku Lucy.


"Hari ini aku ambil semuanya." Laki-laki itu mengantongi semua uang Lucy. "Anggap saja biaya jatuh dari tangga."


"Tapi,"


"Sssst. Berisik!" Laki-laki itu ikut turun dan melepas helmnya. Ia menahan Lucy yang hendak masuk seraya melirik Toshi yang terlihat menunggu di dalam kafe. "Mari kita buat perjanjian."


"Perjanjian apa?"


Milo tersenyum, Lucy tak dapat mengelak jika itu senyum termanis yang pernah Milo tunjukkan padanya. "Alasanmu masuk ke kampus ini hanya karena Kak Toshi, kan?"


Lucy mengangguk tanpa ragu.


"Kalau begitu, mari buat perjanjian. Jika nantinya cintamu diterima oleh Kak Toshi, kau boleh menetap. Namun jika suatu hari cintamu ditolak, kau harus hengkang dari rumahku dan tidak menampakkan wajahmu lagi di hadapanku. Bagaimana?"


Lucy menatap Milo tak yakin. Aura kebencian kembali terpancar jelas dalam diri laki-laki itu. Dia memiliki firasat yang kuat dan yakin seyakin-yakinnya jikalau Toshi pastilah memiliki perasaan yang sama dengannya. Lucy bahkan tak pernah sekalipun terpikiran jika Toshi menyukai gadis lain kecuali pada Jisoo yang sering Olivia sebutkan, dan itu terbukti tidak benar pada makan siang mereka kemarin.


"Aku terima." Tegas Lucy dengan percaya diri. "Akan tetapi, jika cintaku terbalaskan olehnya, aku tak ingin hanya tetap tinggal di rumahmu saja. Aku ingin kau menjadi kakakku seutuhnya."


Milo menelan ludah mendengar permintaan itu. Ia memalingkan wajah dan mengangguk secara terpaksa lalu berjalan duluan dengan kaki yang agak pincang.


Lucy mengekori Milo yang sudah masuk ke dalam kafe. Jika mengikuti arahan Milo, ia yakin kalau Toshi sudah berada di sini.


Lucy mengembangkan senyuman setelah melihat Toshi yang melambaikan tangan. Sepertinya Toshi sudah melambaikan tangan sejak mereka masuk ke sana, hanya saja Lucy dapat melihatnya ketika jarak sudah cukup dekat.


"Ini Milo." Lucy memperkenalkan Milo pada Toshi. Toshi melirik Milo dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi sebelum kemudian menyuruhnya duduk di sana. "Milo, ini Kak Toshi."


"Udah tahu!"


Raut muka Toshi berubah seketika setelah mendengar jawaban jutek laki-laki itu.


"Jadi, sekarang kamu kakaknya Lucy?" Tanya Toshi tanpa berbasa-basi.


"Bukan. Aku gak mau jadi kakaknya."


Toshi menyedekapkan tangan dan menyenderkan badan. Matanya lekat menatap Milo yang terlihat turut memberikan tatapan perlawanan.


"Apakah dia kakak yang baik?" Tanya Toshi pada Lucy.


"Sudah kubilang aku bukan kakaknya," sergap Milo tak terima dan hal itu semakin memburukkan presepsi Toshi terhadap anak itu. Lucy yang hanya menjadi penonton merasa mati kutu tak dapat berbuat apa-apa.


"Jadi selama ini kamu tidak menjaganya dengan baik?"


Toshi berdengus dan tertawa kecil seraya mengepalkan tangannya. Ia melirik Lucy yang terlihat menunduk malu karena kebohongannya yang kemarin mengatakan jika Milo baik kepadanya.


"Sebenarnya Milo tidak begitu." Lucy masih membela.


"Lagian, kenapa Kakak peduli dengan cewek kayak dia? Apa hanya karena teman sejak kecil?" Toshi ingin sekali melayangkan tinjunya pada Milo jika saja ia bukan dosen di kampus ini. Laki-laki itu bahkan tanpa rasa bersalah menjelek-jelekkan orang yang saat ini berada di sampingnya.


"Lucy, ini yang kau sebut baik? Menurutku dia berengsek."


Milo terkekeh kemudian menggeram, "aku muak dengan semua ini."


"Milo? Bukannya kamu gak ada jadwal di sini." Semua orang menoleh pada Olivia yang tengah membawa minumannya.


Gadis itu melebarkan mata tatkala melihat dosen kesukaannya ada di sana. "Kak Toshi," pekiknya seraya mengambil kursi kosong yang ada di samping Toshi.


"Kamu siapa?"


"Kakak gak kenal? Kita udah ketemuan beberapa kali lho." Olivia sedikit kecewa melihat ekspresi datar pria itu. "Aku Olivia Alifie."


"Ah, pacarnya laki-laki ini?"


Olivia menjentikkan jari, "kurang tepat."


"Hei!" Milo tak terima.


"Iya-iya." Gadis itu kembali menoleh dan tersenyum manis menatap Toshi. Detak jantung Lucy juga sempat meningkat saat melihat Olivia yang bertingkah manis. Begitu bertolak belakang dengan Olivia yang seringkali ia temui.


"Aku pernah berpikiran mau pindah ke jurusan Sastra lho, kak." Gadis itu mengabaikan dua orang lain di sana. Milo menatap sebal pacarnya yang mulai bertingkah aneh.


"Benarkah?"


Olivia mengangguk. "Oh, aku bahkan udah hafalin kata-kata puitis yang aku buat sendiri untuk kakak."


"Aku gak pernah dibuatin kata-kata puitis."


"Berisik!" Sergap Olivia menanggapi sanggahan Milo.


Ia kembali melembutkan suara saat menghadap Toshi. "Kakak dengar, ya." Ia berdehem beberapa kali. "Barisan indah kata-katamu, mengingatkanku akan rumus kecepatan dikali waktu yang berarti jarak. Kita begitu jauh, hingga harus memutus jarak ..." Olivia mendekatkan tubuhnya pada Toshi dan itu membuat Toshi memundurkan tubuhnya beberapa senti.


"Telingaku berbunga-bunga, mendengar deret kosa kata yang lebih indah dari deret aritmatika. Tubuhmu yang tak berlimit dan membentuk geometri, layaknya prisma yang saling berdempetan menganalisa jam pasir. Dan aku ... tak bisa menahan diri untuk memeluk ragamu."


Olivia bersiap memeluk Toshi, namun laki-laki itu dengan cepatnya beranjak dari tempat duduknya.


"Wow, itu agak ... antimainstream," ujar Toshi segan.


"Barisan indah kata-katamu laksana gulma dan pohon perdu, menyerap seluruh energi yang kupunya. Melelehkanku dan melayukan jiwa." Semua pasang mata beralih kepada gadis cacat yang kini tengah berucap. "Menciptakan jarak yang begitu dekat, namun nyatanya itu melumpuhkanku."


Lucy menolehkan wajahnya pada Toshi. "Aku dapat mencium nafasmu, bahkan merasakan tiap jengkal sentuhannya yang menggelitik kulitku. Tubuhmu yang kini sempurna membuatku semakin tak berdaya. Dan aku bertanya-tanya apakah aku bisa merangkulmu setelah kuberikan semua jiwaku. Aku begitu takut, sampai-sampai hasrat ini tak tertahankan. Aku ingin memelukmu."


Setelah mengakhiri kalimatnya, Lucy tersenyum mendapati lengkungan kebahagiaan terukir di bibir Toshi. Milo sendiri malahan terkekeh geli melihat pacarnya yang mengerucutkan bibir dan memasang muka masam.


🎐🎐🎐


"Kita bahkan tidak pernah lagi membicarakan tentang sajak dan puisi."


Setelah kelas pertama usai, Toshi mengajak Lucy untuk mencari buku-buku puisi yang barada di perpustakaan kampus. Sebenarnya, berkat kalimat-kalimat indah yang saat kecil sering Toshi perdengarkan pada Lucy dan Jun, membuat Lucy turut mencintai sastra meski ia tak sesempurna Toshi.


Saat Toshi masih SMA, Lucy pernah menanyakan kenapa dia tidak menerbitkan buku. Toshi mengatkan jika dia masih belum memiliki cukup banyak ilmu sampai-sampai laki-laki itu berkuliah tentang sastra di Malaysia dan mengajar sastra di kampus ini.


"Aku sendiri sudah banyak lupa tentang puisi-puisnya W.S. Rendra." Toshi berucap pelan ketika telah sampai di perpustakaan yang dipenuhi dengan orang-orang yang tak kalah sibuknya dengan orang-orang di ruang dosen.


Keduanya langsung melenggang ke bagian rak buku tempat di mana karaya-karya sastra berada. Tanpa berpikir panjang, mreka mulai merebuti buku-buku dan mencari sebanyak-banyaknya.


"Di sini kita tidak boleh bersuara." Bisik Toshi. Lucy berusaha menahan gemuruh jantungnya dengan cekikikkan tak jelas. Sekali lagi Toshi memperingatkannya untuk tidak bersuara.


Sesaat, Lucy terhenti melakukan pencariannya tepat di bagian rak yang berhadapan langsung dengan Toshi. Jarak mereka dibatasi oleh satu rak meski mata mereka saling bertemu.


Kemudian setelahnya Toshi bersiul memanggil Lucy. Di balik kumpulan buku, Lucy dapat melihat mata Toshi yang tersenyum, laki-laki itu kemudian menunjukkan buku dengan judul 'The Universe of Us' yang tentunya membuat jantung Lucy menjadi tak karuan.


Lucy pun membalas dengan buku karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul 'Melipat Jarak'. Sehingga hal itu membuatnya berjalan mendekati Toshi dan kini mereka berada di bagian rak yang sama tanpa terhalang apapun.


Toshi tersenyum dan mengeluarkan buku yang lain. 'Puisi Putih Sang Kekasih dan Surat dari Awan'.


Lucy tak dapat menghindari wajahnya yang mulai merah padam. Kemudian gadis itu mengambil salah satu buku dan menunjukkannya dengan malu-malu, 'Kuajak Kau ke Hutan dan Tersesat Berdua'.


Toshi terkekeh tanpa suara lalu membalasnya dengan buku yang lain.


"Hei!" Pekik Lucy yang langsung menutup mulut melihat buku yang Toshi tunjukkan. Toshi melihat buku itu dan dia menyadari kalau ia salah ambil setelah melihat jika buku yang ia pegang saat ini merupakan buah karya Chairil Anwar yang berjudul 'Aku ini Binatang ******'.


Laki-laki itu menggantinya dengan buku yang berjudul, 'Kebenaran Tanpa Rasa Takut' seraya mengangkat kedua alis tiga kali.


Lucy bersorak girang dalam hatinya, kemudian membalas lagi pada buku lain. Ia kembali mengeluarkan buku Sapardi Djoko Damono yang berjudul 'Pada Suatu Hari Nanti' dan menambahkannya dengan buku Tere Liye, 'Dikatakan atau Tidak Dikatakan, itu Tetap Cinta'.


Hatinya kembali bersorak mendapati ujung telinga Toshi yang memerah. Toshi mencari buku untuk beberapa saat kemudian kembali menunjukannya pada Lucy. Detak jantung Lucy seketika terasa mati tatkala membaca judul pada buku yang ditunjukkan, 'Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu'


🎐🎐🎐


**ORIGAMI 12 : Puisi dan Keberadaanmu


Ini adalah salah satu chapter yang bikin Author tersendat-sendat menulisnya.


Himana nih menurut kalian ceritanya?


Sampai ketemu besok:)


🎋


Qomichi**