Japanese Herons

Japanese Herons
Origami Kedelapan




🎏


Hal yang ingin Lucy lakukan pertama kali ketika pulang dari rumah sakit ialah minta maaf pada Milo. Ia ingin meminta maaf karena tidak dapat menyelesaikan hukumannya secara baik, itu artinya hari kedua Ospek akan jadi hari yang lebih berat baginya.


Namun, hal itu berbeda saat ia sudah kembali ke rumah. Suasana di rumah justru terasa berbeda. Milo menjadi pendiam saat makan malam dan hanya mendekap diri di dalam kamarnya. Begitupula dengan Om Artuhur dan Tante Lisa yang terlihat lebih banyak diamnya. Lucy tak tahu harus berbuat apa sehingga ia terpaksa harus membatalkan niatnya.


Keanehan tidak hanya berlangsung hari itu saja, ketika ia melanjutkan Ospek di hari kedua, ia merasa senior-senior yang lain menjaganya secara ketat dan tidak memaksakan Lucy untuk melakukan seluruh kegiatan terutama kegiatan-kegiatan yang cukup berat. Lucy sendiri merasakan adanya keanehan, apalagi Milo dan Olivia yang tidak terlihat pada kegiatan Ospeknya. Memang Ospek untuk hari kedua dan ketiga hanya khusus untuk mahasiswa perfakultas dan perjurusan, hanya saja meski dengan mata yang rabun dan tak dapat melihat jelas, Lucy tetap tidak merasakan jika kedua orang itu ada di wilayah Ospek.


Senior Sastra yang kemarin membullynya kini mengurusi jalannya Ospek Lucy hari ini, hanya saja mereka menghindari Lucy. Lucy semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tak lama, satu dari mereka menghampiri Lucy dan memberikan ponsel Lucy kepadanya. Orang itu meminta maaf setelah Lucy menerima ponselnya.


Mencoba mengalihkan pemikiran, Lucy kembali teringat kejadian tadi pagi saat Tante Lisa melarangnya untuk melanjutkan kegiatan Ospek, tapi Lucy menolaknya. Akhirnya, Om Arthur memaksakan diri mengantar Lucy meski Milo sudah siap dengan motornya. Lucy merasakan hawa dingin yang kentara antara Om Arthur dan Milo. Mereka bahkan tidak saling bertatap muka ketika Om Arthur melajukan mobilnya, sementara di pertengahan jalan, Milo memotong laju mobil ayahnya.


Kini Lucy tak melihat batang hidung Milo sama sekali. Entah karena firasatnya atau memang hal yang biasa, tapi Lucy merasakan ada yang tidak beres di rumah.


🎐🎐🎐


"Untung saja Mamang Ciloknya datang pagi." Olivia mengunyah cilok gorengnya seakan tak menghiraukan penampilan kacau dari sang pacar. "Sudahlah, aku bosan melihat wajahmu yang ditekuk tiga puluh derajat," celotehnya, "seharusnya kita mengurus maba saat ini." Gadis itu ikut duduk di koridor gedung auditorium tempat Milo menapaki diri.


Gadis itu menggigit bibir dengan mata prihatin melihat wajah pucat pacarnya. Ia menanyakan apakah Milo sudah sarapan dan Milo hanya mengangguk. Olivia kembali memalingkan wajahnya. "Kamu pasti terluka. Aku minta maaf."


Milo tak bereaksi.


"Mau cilok?"


"Dia penyakitan." Olivia menghentikan kunyahannya saat kata pertama yang Milo keluarkan pagi ini terlontar. "Dia punya kelainan jantung dan itu membuatnya memiliki hak istimewa."


"Maksudmu?" Olivia menautkan alisnya. Ia sempat tak percaya dengan apa yang baru saja Milo katakan.


"Kedua orang tuanya membuangnya ke keluargaku." Milo menyeringai dan tertawa nanar. "Dan sekarang orang tuaku menganaktirikanku."


Olivia diam beberapa saat, berpikir akan hal-hal yang sebaiknya ia katakan. "Orang seperti dia memang tidak pantas ditempatkan di manapun," tukasnya, "tapi dia tidak memiliki apapun untuk bertahan selain rasa kasihan."


Milo menatap Olivia heran. Bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu namun tak jadi.


"Aku kasihan padanya."


Milo menggeleng tak percaya. "Kau tidak kasihan padaku? Kau sama saja seperti orangtuaku, sama-sama membuangku."


"Aku tidak membuangmu, Milo." Gadis itu kembali menatap lurus dinding koridor di depannya. Sejenak, ia menghembuskan napas perlahan. "Aku juga membencinya, aku membenci kehidupannya. Itu terlalu kejam."


Milo mendesah berusaha mencerna kenyataan yang jarang sekali Olivia ucapkan.


"Kehidupannya membuat semua orang memutar integral menjadi turunan. Membuat semua orang menjadi membencinya tanpa kesalahan apapun yang ia perbuat." Ia menjeda sejenak. "Ja-jangan kau pikir aku jadi membelanya, aku tetap membencinya karena dia mengaku menjadi adikmu dan dia dekat dengan Kak Toshi. Hanya saja..."


"Hanya saja apa?"


Olivia menilik wajah Milo lamat-lamat, "dia terlahir cacat dan penyakitan, lalu orangtuanya ingin membuangnya. Itu hal yang tidak dapat diterima siapapun."


"Aku juga tidak menerima kedatangannya."


"Itu maksudku, dia terlahir untuk dibenci. Apa kita salah membencinya? Aku tidak tahu." Olivia melepas kantong ciloknya lalu mendekatkan diri pada Milo. "Tapi jangan kau berpikir jika kau juga dibuang. Hidupmu tidak menyedihkan seperti dia, Milo."


Olivia memeluk Milo dan mendekap kepala laki-laki itu dari samping. Milo memejamkan mata dan merasakan energi baru tertransfer dalam dirinya.


🎐🎐🎐


Lucy bernapas lega saat pertama kalinya setelah tadi pagi, ia melihat Milo lagi. Laki-laki itu berada di tempat parkiran motor menunggunya.


Dengan senyuman yang canggung, Lucy mendekatinya dan bersiap untuk pulang karena Ospek hari ini telah berakhir. "Aku seharian tidak melihatmu." Itu kalimat pertama yang Lucy katakan setelah ia berada di dekat Milo.


Milo hanya memandanginya sesaat dengan tatapan kosong, kemudian menaiki motornya dan mengabaikan apa yang Lucy bicarakan. Lucy hanya terpana bingung dan memutuskan untuk segera duduk di boncengan motor.


Lucy mencoba mengintip wajah Milo dari kaca spion meski itu percuma. Ia hanya dapat melihat siluet postur bahu Milo dari belakang. Hari ini serta kemarin, Milo terlihat lebih tenang dan tidak banyak bicara padanya. Milo melajukan motor dengan kecepatan senyamanya dan mengabaikan cerita-cerita Lucy tentang Ospek hari ini.


"Milo, sebenarnya apa yang terjadi kemarin?" Tubuh Milo terlihat menegang ketika akhirnya Lucy menanyakan hal itu.


"Tidak ada apa-apa."


"Saat aku pingsan, apakah ada sesuatu yang terjadi pada dirimu dan Om Arthur, atau mungkin Tante Lisa?" Lucy mengeratkan tangan, sulit baginya memastikan reaksi Milo jika hanya melihat dari gestur belakangnya.


Setelah cukup lama Milo baru menjawab. "Aku bilang tidak ada apa-apa."


Milo berdecak dan kemudian memberhentikan motornya secara perlahan. Lucy tidak tahu kenapa tapi Milo menyuruhnya turun. Laki-laki itu melepas helm dan mematikan motor. Dia tetap duduk di motornya yang sudah distandar, sementara Lucy berdiri menghadapnya.


"Kamu sakit." Ucapan Milo lebih terdengar seperti sebuah pernyataan. "Sejak lahir. Kamu juga cacat, sejak lahir."


Lucy mengangguk saat merasa Milo sudah menyelesaikan kalimatnya. "Waktu itu aku lahir prematur dan hampir tidak selamat. Mataku cacat karenanya. Kalau kelainan jantungku ada pengaruh dari dari buyutku. Semacam faktor gene-"


"Aku tidak memintamu menjelaskan." Potong Milo yang membuat Lucy terkesiap. "Aku hanya ingin menyadarkanmu kalau penyakit dan cacatmu itu mengganggu semua orang."


Angin sore berhembus sekali lewat, menerbangkan kuncir kuda Lucy dan anak rambut Milo. Dalam jarak sedekat ini, Lucy dapat melihat jelas wajah manis Milo yang dimandikan cahaya senja.


"Tidakkah kau berpikiran jika kau hanya beban bagi semua orang?"


Lucy menundukkan pandangan. "Aku minta maaf."


"Aku tidak butuh itu." Milo memalingkan wajah sesaat. "Kau itu beban bagi semua orang. Termasuk aku."


Lucy menggigit bibir dan tersenyum. "Seharusnya aku hanya memiliki cacat mata saja, tidak untuk kelainan jantung."


"Tidak," bantah Milo, "seharusnya kau tidak selamat saat dilahirkan."


Gadis itu sontak mengangat wajah, menatap Milo dalam. "Kata-kata itu ..." Lucy ingin sekali melanjutkan kalimatnya yang menggantung, hanya saja Milo juga tidak akan senang mendengarnya karena kata-kata yang Milo ucapkan sudah pernah Lucy dengar. Ibunya sudah mengucapkannya sebanyak tiga ratus lima puluh enam kali dalam hidupnya. Ayahnya sudah mengucapkannya sebanyak seratus empat puluh enam kali. Sementara Jun sudah mengatakannya ribuan kali.


Lucy merasa sedih karena Milo sudah memulai hitungan angka yang sebenarnya tidak ingin Lucy hitung.


Milo kembali menyuruhnya menaiki motor dan mulai melajukan kendaraannya pulang. Lucy mengulang kalimat itu dalam hatinya, dan sekarang, dia mencatat jika dirinya telah mengucapkan kalimat itu sebanyak sepuluh ribu enam ratus dua puluh sembilan selama tujuh belas tahun hidupnya.


🎐🎐🎐


Ospek sudah berlalu, suasana rumah sudah kembali seperti biasa setelah Milo mendapatkan ponsel baru dari ibunya. Tapi, Lucy lebih suka dengan Milo yang sering memarahinya daripada Milo yang saat ini sering mendiaminya. Hanya sifat Milo yang satu itulah yang masih belum kembali ke keadaan asal. Tante Lisa mengatakan pada Lucy jika Milo sudah sadar akan kesalahannya.


Tapi Lucy justru merasa jika Milo semakin membencinya, ia lebih suka jika Milo membencinya secara terang-terangan seperti yang dilakukan Jun daripada membencinya secara diam seperti ayahnya.


Lucy mulai membagikan senyuman renyah pada orang-orang yang satu jurusan padanya meski kebanyakan dari mereka membalasnya dengan tawa geli. Ia harap-harap cemas untuk segera bertemu dengan Toshi karena ia begitu merindukan sosok yang selama ini hanya membicarakan hal-hal indah pada dirinya.


Saat mulai melangkah menuju gedung, ia melihat samar-samar orang-orang yang duduk berkelompok dan membicarakan sesuatu. Lucy tidak pernah melakukan hal seperti itu meskipun ia ingin. Seingatnya, teman bicaranya selama ini hanyalah Toshi.


Lucy tersenyum saat beberapa dari mereka melihatnya, tapi kemudian indra pendengarannya yang handal menangkap pembicaraan mereka yang menghina Lucy karena dekat dengan Toshi. Rumor memang menyebar secepat virus, namun Lucy tak menyangka jika rumor tentangnya bisa membuat mereka meningkatkan frekuensi penggibahan.


Entah Olivia atau senior lainnya yang telah menyebarkan ini, Lucy tak mau ambil pusing. Karena tujuannya berada di sini hanyalah untuk bertemu dengan Toshi.


Dan ajaibnya, laki-laki itu kini berada di ujung pandangannya.


Lucy melebarkan mata mensyukuri anugerah yang tuhan berikan padanya. Toshi berdiri di ujung sana, membicarakan sesuatu pada mahasiswi di dekatnya.


Detak jantung Lucy mulai mempermainkannya. Sensasi yang disuguhkan terasa seperti ia memindahkan origaminya ke etalase atas.


Tanpa aba-aba ia langsung berteriak memanggil, "Kak Toshi!!!"


Semua pasang mata seketika mengalihkan pandangan pada gadis cacat yang aneh, termasuk mata kucing dosen muda yang namanya terpanggilkan.


Toshi turut melebarkan mata saat gadis yang memanggil namanya itu berlari ke arahnya. Lima detik kemudian, pelukan erat gadis itu menghambur, melingkari tubuhnya.


Lucy bersorak riang tak mempedulikan semua pandangan tak suka yang mungkin saat ini sedang disematkan orang-orang. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Toshi, dan melingkarkan tangannya ke sekujur tubuh pria itu.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Lucy untuk merasakan balasan peluk dari lengan kokoh yang saat ini melingkari tubuhnya.


"Claw," suara berat Toshi membiusnya, "aku merindukanmu."


🎐🎐🎐


**Origami 8 : Pelukan


Terima kasih yang sudah bertahan pada cerita ini sampai saat ini.


Tunggu kelanjutannya sampai tamat ya.


🎋


Qomichi**