
PROLOG
Seperti apa rasanya dicintai?
Apakah itu membuatmu bahagia seperti yang orang lain katakan? Atau membingungkan seperti aksara yang tertuang di lembaran novel romantis? Sebenarnya aku ingin ... merasakan seperti apa rasanya dicintai.
Seseorang yang kucintai pernah mengatakan padaku, "Setiap orang berhak untuk dicintai, Claw. Termasuk dirimu."
Awalnya aku percaya. Tapi kenyataannya, sampai saat ini tak ada orang yang mencintaiku, termasuk dirinya.
Jangan tanyakan perihal mencintai padaku karena sudah begitu banyak cinta yang kuberikan kepada orang lain, sebut saja ayah, ibu, adik laki-lakiku, dan teman-teman yang mungkin tak pernah kuketahui apakah mereka juga menganggapku sebagai temannya di luar dari panggilan 'Pengganggu' yang sering mereka sematkan.Β
Untuk kasih sayang orang tua, aku sendiri tidak tahu seperti apa cinta ibu yang sering orang-orang katakan. Orang tuaku payah. Memang terdengar sarkastik, tapi aku menilai semua itu setelah mereka mengatakan tepat di depanku bahwa mereka sudah lelah mengurusku. Anggap saja aku sebuahΒ ketidak sengajaan yang berujung kekecewaan.
Pada akhirnya mereka sendiri yang meninggalkanku meski sedikit banyaknya itu cukup membantu. Aku juga sudah lelah terus-terusan merepotkan mereka. Jadi, aku lebih memilih selangkah lebih dekat dengan orang yang kucintai namun berjauhan dengan keluargaku.
Mobilku melambat dan berhenti di depan rumah minimalis yang pekarangannya lebih besar. Ayah turun duluan sebelum membukakan pintu mobil padaku. Ibu mengikuti pergerakan kami dan membuka pagar terlebih dulu. Aku mengernyit melihat rumah yang cukup tua tapi mempesona itu. Sekilas nampak seperti perumahan Skandinavia. Namun, sekilas pula nampak semacam perumahan oriental Kyoto.
Perlahan kuhela napas dan tersenyum, sulit memastikan bentuk rumah secara pasti dengan mata yang rabun ini. Akhirnya langkahku mengikuti ayah dan ibu yang lebih dulu memasuki pekarangan. Sebelum menginjak ke dalam, kuletakkan origami bangau yang sudah kulipat dan kutulis harapanku di dalamnya ke atas pagar.
"Yosh!" aku berdesis, "semoga terkabul!" kulalui pekarangan dengan langkah yang sedikit kegirangan. Origami bangau, untuk menghibur kesedihan seseorang.
Yaitu aku.
πππ
Origami Pertama
Sial! Hari yang benar-benar sial!
Milo mendesah seraya menendang batu yang tergeletak di jalan ke pagar rumahnya. Secara sempurna batu tersebut membentur pagar rumahnya dan menjatuhkan sesuatu yang ada di atasnya. Dahinya mengernyit seketika.
"Origami?" sejenak ia berpikir sebelum akhirnya menoleh kanan kiri memeriksa keadaan sekitar, mungkin orang yang membuatnya masih di sini.
Senyumnya mengembang setelah menatap lipatan kertas itu lagi. "Bangau?" seraya mengambilnya, sedikit rasa bahagia meruak di dalam dirinya. Orang Jepang mengatakan origami bangau cocok untuk orang-orang yang sedang bersedih, kesal, atau apalah. Yang pasti untuk orang-orang yang sedang tidak beruntung.
Hari ini Milo termasuk yang tidak beruntung. Olivia, pacarnya, baru saja bertengkar dengannya hanya karena Milo tak dapat menemaninya jalan di akhir pekan nanti. Dia termasuk gadis yang manja, tapi kekurangan itulah yang Milo sukai.
Sejenak ia baru tersadar jika ada mobil terparkir di depan rumahnya. Ada tamu? Ia membatin sebelum akhirnya masuk ke rumah untuk mencari tahu kebenarannya.
"Ibu, aku pulang!" teriaknya setelah membuka pintu.
"Itu dia anaknya baru pulang." Terdengar suara ibu sedang bicara pada seseorang di ruang tamu. Benar, sedang ada tamu.
"Milo!" ibunya justru mendekatinya dan menarik tangan Milo, "kemari, ada yang ingin bertemu."
Laki-laki itu mengernyit bingung melihat apa yang baru saja dilakukan ibunya. Ibunya menariknya menuju ruang tamu.
"Ini anak kami satu-satunya. Milo." Ibu mengodekannya untuk mengucapkan salam. Sejenak setelahnya, Milo mengucapkan salam.
"Wah, Milo sudah tumbuh dewasa dan tampan seperti ayahnya." Ucap salah seorang perempuan tua yang sama sekali belum pernah di temuinya. "Berapa umurmu sayang?"
Milo menggaruk kepala, kebingungan menjawab pertanyaan semudah itu, "eh, anu ... delapan belas tahun."
"Dia hampir menyelesaikan semester dua akuntansinya." Ibunya mengambil alih jawaban Milo. Sekilas Milo melirik tiga orang tamu yang ada di depannya. Satu, wanita tua yang baru saja mengajaknya bicara. Dari keriput di wajahnya, ia terlihat benar-benar lelah. Yang kedua, pria yang sama tuanya. Dari wajahnya yang tegas dan keriput lelah yang sama, dapat Milo pastikan bahwa pria itu suami si wanita. Dan yang ketiga, ada seorang gadis yang nampak seumuran dengannya. Dapat Milo pastikan dia anak dari kedua orang tua ini.
Entah apa yang dilakukan gadis itu, dia terlihat seperti menjauhkan diri dari perbincangan yang dilakukan kedua orang tuanya. Namun, yang lebih mengherankan adalah...ada apa dengan matanya?
"Ngomong-ngomong, Milo," ibu tua sebelumnya kembali mengajak Milo bicara. "Ini putri kami, Lucy."
Refleks gadis itu berdiri, "namaku Lucy, umurku tujuh belas jalan delapan belas. Aku akan berkuliah di universitas sekitaran sini. Senang bertemu denganmu, Milo!" Lucy mengucapkan dengan penuh semangat kemudian kembali duduk setelah melihat benda yang ada di tangan Milo.
"Dia memang begitu bersemangat ingin kuliah di universitas yang Milo tempati. Entahlah, dia bilang di sana ada orang yang membuatnya lebih nyaman." Ibunya menggambrungi seakan tak suka dengan sikap anaknya barusan.
Milo terpaku dan merasa aneh pada Lucy karena saat gadis itu memperkenalkan diri, kedua pupil matanya menatap ke arah yang berlawanan. Atau jangan-jangan ....
"Benarkah? Wah siapa ya orangnya?" Ibu Milo tersenyum kepada gadis itu.
"Dia Kak Thosi." Gadis itu masih tak kalah semangatnya. "Dia dosen Sastra dan Bahasa di universitas yang Milo tempati sekarang." Ungkapnya frontal dengan arah mata yang tak jelas. Terlihat wajah tak suka kembali nampak di raut sang ibu.
"Laki-laki?" ibu Milo terus mengajaknya bicara, dapat Milo pastikan jika ibunya menyukai gadis ini. "Berarti dia orang yang kau sukai. Ah, padahal bibi baru saja mau menjodohkanmu dengan Milo."
Milo terlonjak seketika meski tahu itu hanya guyonan. Yang benar saja? Tak mungkin dia meninggalkan Olivia hanya untuk gadis yang entah melihat ke arah mana.
Lucy terkekeh sambil melihat sekilas origaminya di tangan Milo. "Iya bibi, aku suka kak Toshi."
Seketika ibunya Lucy berdeham, menyiratkan kepada anaknya untuk tidak bertingkah lebih jauh. Milo menatap gadis itu lamat-lamat, jarang sekali ada perempuan yang mengakui perasaannya pada orang yang baru saja ia kenal.
"Wah. Toshi pasti pria yang beruntung." Ucap ibu Milo, tetapi kali Ini Lucy hanya mengangguk diam.
"Berarti kamu nantiβ"
"Kamu juling?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Milo. Spontan tiga pasang mata menatapnya kecuali mata Lucy yang entah mengarah ke mana.
"Milo kenapa kamu bicara kasar seperti itu?"
"Ada apa dengan matamu?" Milo terus saja bicara tanpa mengindahkan perkataan ibunya dan tatapan kedua orang tua gadis itu.
Lucy menatap Milo tapi matanya tak mengarah kepada pria itu. Milo sendiri kesulitan memastikan ekspresi Lucy karenanya.
"Dia memang sudah cacat dari lahir." Ibunya yang menjawab, "dari lahir dia sudah seperti itu." Pernyataannya barusan terdengar menggantung dan memiliki kelanjutan.
"Tapi tenang saja, Milo! Meski kelihatannya begini, mataku gak buta kok." Suara gadis itu masih sama riangnya, "yah, cuma agak rabun."
"Bibi jamin Lucy gak akan ngerepotin kamu."
"Ngerepotin? Apa maksudnya?" Milo menatap ibunya meminta penjelasan. Perasaannya mulai tak enak.
"Itu benar, mulai sekarang kamu harus ngejagain Lucy karena dia bakalan tinggal di sini. Yah anggap saja sekarang kamu punya adik perempuan." Penjelasan ibunya langsung membuat Milo menjatuhkan origami di tangannya. Ya tuhan, kesialan apa lagi yang ia dapat.
Milo ingin membantah, tapi hal itu ia urungkan setelah melihat Lucy yang memungut origaminya.
"Origamiku!" ucap gadis itu memungut origami yang Milo temukan tadi.
Pria itu menatap Lucy jijik. "Cih!" Milo berangkat dari tempat duduknya dan melangkah pergi menuju kamarnya.
"Milo!" Ibunya memanggil.
Setelah tersisa mereka bertiga di ruangan itu, saat itu pula ibunya kembali memperingatkan putrinya. "Bersikaplah baik di rumah ini. Jangan buat orang lain tidak menyukaimu."
Lucy diam, menatapi jalan perginya Milo dari ruangan ini. Sejenak ia tersenyum pelan. Ternyata bukan dia saja yang terkejut dengan kepindahannya ini.
"Yosh."
πππ
"Wah banyak sekali barangmu, sini biar tante bantu!" Ibunya Milo langsung merenggut beberapa tas yang Lucy bawa. Setelah menurunkan barang-barangnya dari mobil, ayah dan ibunya pergi begitu saja tanpa mengatakan satu hal kecuali peringatan dari ibunya untuk bersikap baik. Peringatan yang itu-itu saja untuk kesekian kalinya.
Seluruh barang miliknya dipindahkan dan sebagian lagi di buang. Memang terlihat seperti ditelantarkan, tapi setidaknya Lucy bisa lebih dekat dengan Toshi-nya meskipun kemungkinan itu masih di awang-awang ketidak pastian.
"Terima kasih tente! Maaf merepotkan." Lucy sedikit tersandung karena tak melihat jalan semen yang tidak merata.
"Kamu harus lebih banyak beradaptasi." Ucap ibu Milo setelah melihat gadis itu tersandung. "Termasuk kepada anak tante yang sensitif."
"Hal itu wajar terjadi pada anak tunggal, Te." Lucy berjalan agak membungkuk untuk melihat kondisi jalan lebih jelas. "Ngomong-ngomong, Lucy belum lihat Om Arthur." Ungkap gadis itu setelah berada di dalam rumah.
"Ah, dia mah biasa. Pulang malam." Bisik ibu Milo seraya mengangkat tas itu ke atas tangga. Dapat dipastikan kamar Lucy berada di lantai dua, itu berarti setiap menuruni anak tangga harus berjalan dengan agak membungkuk.
"Kamu minus berapa?" Lucy dapat menebak pertanyaan itu akan keluar setelah ibunya Milo melihatnya menaiki anak tangga dengan membungkuk.
"Gak tau, Te. Tapi kata ayah rabunnya cukup parah."
"Wah, kamu pernah periksa mata dengan ayahmu, ya?" Ibunya Milo sudah sampai di atas kemudian turun lagi ke tengah tangga untuk membantu Lucy mengangkat kopernya.
"Iya pernah. Sekitar sepuluh tahun yang lalu."
"Oh ..." Terdengar nada kaget sekaligus menyesal dari suara ibunya Milo. "Kenapa gak coba pakai kacamata?"
"Lucy gak suka nyembunyiin mata Lucy, Te." Jawab Lucy, "kata Kak Toshi, Lucy punya mata yang cantik."
Sekilas ibu Milo menatap pupil mata Lucy yang bergerak berlawanan arah.
"Iya sih. Kalo rabunnya parah, ketebalan kaca matanya dapat nutupin mata kamu." Ucapnya menghibur, "jangan pernah berpikiran kalo kamu gak cantik ya, Lu!"
"Lucy bahkan gak pernah berpikir kalo Lucy jelek. Menurut Lucy, Lucy adalah gadis paling cantik di Indonesia. Lucy ini kembang desa loh, Te."
"Kamu orangnya percaya diri yah." Ibu Milo kembali mengangkat tas kemudian berjalan di lorong menuju salah satu pintu ruangan.
"Iya begitulah, ibu Lucy mengatakan hal kayak gitu waktu Lucy berumur empat tahun." Gadis itu terkekeh, ibu Milo hanya tersenyum.
"Di sini kamarmu sekarang." Ibunya Milo membuka pintu dan membiarkan Lucy masuk. Sejenak Lucy melihat ke atas dan ke setiap sudut ruangan dengan mata yang memicing.
"Ini tidak seperti kamar."
Seketika ibu Milo terbahak mendengar pernyataan pertama gadis itu tentang ruangan ini.
"Ini memang bukan kamar. Ini ruangan pribadi Milo. Tempat semua barang-barangnya di simpan." Ibu Milo masuk dan menghirup udara ruangan yang cukup lembab. "Dulu kami ingin punya anak perempuan. Tapi ternyata ruangan ini hanya dapat diisi oleh anak laki-laki kami."
Ibu Milo berjalan menuju Lucy dan memegangi kedua pipi gadis itu, "namun, sekarang kami akhirnya punya anak perempuan yang begitu manis, periang, dan selalu berpikiran positif."
Lucy tersenyum, untuk pertama kalinya ia dianggap sebagai seorang anak perempuan.
"Nanti saat Om Arthur pulang, dia akan tante suruh bawa kasur ke atas sini, dan besok kami akan pesankan ranjang untukmu."
"Jangan." Lucy dengan cepat mengibaskan tangan. "Kasur saja sudah cukup, Lucy sudah banyak merepotkan tante."
"Jangan ngomong kayak gitu. Kamu sekarang putri tante dan adiknya Milo. Kamu bagian dari anggota keluarga ini."
"Apa yang ibu lakukan di sini?" Milo berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang tak suka. "Kenapa dia masuk ke ruanganku?"
"Milo, mulai sekarang biarkan Lucy menempati ruangan ini, ya."
"Apa?"
"Kamarmu kan luas. Jadi biarkan ruangan ini jadi kamarnya. Ibu rasa kamarmu cukup untuk menampung semua barang-barang ini." Bujuk ibunya namun hal itu tak berhasil mengubah raut wajah Milo yang semakin kusut.
"Apa-apaan ini? Satu hari gadis cacat ini datang ke rumah, lalu aku harus menjaganya, dan sekarang ruangan pribadiku diambil olehnya. Nanti apa lagi?"
Lucy hanya diam tak tahu harus berbuat apa-apa.
"Pokoknya tidak ada yang berubah pada ruangan ini." Milo menghentak lalu menatap jengkel gadis yang entah sedang menatapnya atau tidak. "Kamu ngapain lagi tinggal di sini, dibuang sama orang tuamu?"
"Hus, jaga mulut kamu Milo." Ibunya memukul pelan bibir putranya, Milo mengibaskannya.
"Sudahlah bu, orang kayak dia memang ngerepotin. Ngelihat aja gak jelas arahnya ke mana."
"Hei! Sana-sana, pergi!" Ibunya segera mendorong Milo menjauh sebelum lebih banyak lagi perkataan-perkataan kasar dari mulutnya. Lucy menatap tak mengerti pria yang ada di depannya, dia selalu menatap lurus kepada orang yang bicara padanya, hanya saja mungkin orang tersebut salah mengartikan karena matanya yang mengarah tak sempurna.
"Pokoknya ruangan ini tidak boleh ada perubahan apapun!!!!!!" Teriakan Milo terdengar jelas meski sudah didorong keluar.
Ibunya segera menutup pintu dan menguncinya. Terdengar jelas gedoran pintu yang dilakukan Milo sambil terus meminta ibunya untuk membukanya.
"Hufft ..." Ibunya menghela napas sambil melirik pintu yang terus digedor-gedor. "Kamu ... jangan dengar omongan Milo tadi, ya."
"Milo memang sensitif ya, Te." Lucy tersenyum sambil menarik koper di dekatnya. "Lucy punya adik yang juga sensitif loh, Te. Cuma ya ... gak sesensitif Milo. Milo pasti bakalan jadi kakak yang bertanggung jawab."
"Aku mengamini hal itu." Ibu Milo tersenyum seraya berjongkok membuka salah satu kardus yang berisi barang-barang Lucy, "kamu orangnya gak mudah tersinggung, ya."
Lucy ikut berjongkok. "Itu karena Lucy sama sekali gak dengar ada perkataan yang menghina dari ucapan Milo tadi."
"Hah?" dahi ibunya Milo terlihat berkerut.
"Yap. Itu semua kenyataan yang sedikit di dramatisir." Lucy mendekatkan jarak antara jari telunjuk dan ibu jarinya, "ibu Lucy juga kadang mengatakan hal yang sama seperti yang diomongin Milo."
Ibunya Milo tersenyum sambil mengelus pipi Lucy. Suasana hening terasa sejenak karena suara gedoran pintu dan teriakan Milo sudah menghilang.
"Dengar, saat Arthur mengatakan padaku bahwa temannya ingin menitipkan anak gadisnya di rumah ini, kau tahu bagaimana senangnya aku?" wanita itu menatap lurus mata Lucy. "Dan aku langsung jatuh cinta pada putri mereka sejak satu jam yang lalu bertemu. Dari dulu aku selalu memimpikan seorang putri baik hati yang mengisi ruang kosong rumah ini, dan lihat sekarang? Kau harus tahu bahwa aku sama sekali tak menemukan kekurangan apapun dalam dirimu, Lu. Jadi jangan rendahkan dirimu hanya karena fisikmu."
Lucy membalas lurus tatapan ibunya Milo meski ia tahu ibunya Milo pasti hanya menatap salah satu matanya saja.
"Lucy tahu, Te." Lucy tersenyum tipis. "Lucy yang paling cantik se-Indonesia, kan?"
Seketika keduanya tertawa, terbahak bersama seolah melupakan gedoran yang kembali terdengar.
πππ
Origami 1 : Harapan di Atas Pagar