
🎏
Milo datang setelah Lucy terbaring di klinik kampus. Ia mendapati pacarnya yang memasang wajah khawatir dan melirik sekilas dari jendela pintu ruangan Lucy.
"Dia baik-baik saja," ucap Olivia kemudian. Akan tetapi wajah pucat Milo tak mengatakan jika dia juga baik-baik saja. Jika saja kedua orangtuanya mengetahui hal ini, maka dia akan terkena masalah besar.
Milo menghembuskan napas panjang seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Milo, aku minta maaf."
Milo menatap pacarnya yang masih ketakutan, ia kemudian menarik lengan Olivia dan membawanya ke luar klinik. "Kamu kenapa sampai segitunya sih? Kamu kan tahu dia sakit."
"Iya-iya, aku lupa. Aku ...," Olivia mengusap wajahnya, "hanya kelewatan."
Milo berkacak pinggang dan mendesah. Ia memalingkan wajahnya sebelum akhirnya kembali menatap Olivia. "Bagaimana keadaannya?"
Olivia menjelaskan jika saat ini Lucy sudah baik-baik saja setelah jantungnya yang berkerja secara tidak normal sebelumnya. Hanya saja Lucy tak dapat diperlakukan seperti itu lagi karena kondisi jantungnya yang kian tidak stabil.
"Seharusnya dia dibawa ke rumah sakit." Milo sempat bersyukur karena klinik kampusnya memiliki fasilitas penanganan yang cukup baik.
Olivia yang masih harap-harap cemas hanya bisa memainkan jemarinya yang terasa dingin. Ia menjelaskan pada Milo jika tidak ada yang mengetahui kejadian ini karena ia melakukannya di atap gedung fakultas MIPA, dan orang-orang yang mengangkut Lucy mengira jika gadis itu terkena sesak napas biasa.
Sekali lagi Milo merasa lega mendengar penjelasan pacarnya.
"Lagi pula kenapa kamu bisa emosian seperti itu, apakah masalah dosen itu perlu dibesar-besarkan?" Milo kambali mengungkit hal itu.
"Kenapa kau memarahiku? Bukankah kau juga senang jika aku memperingatkan posisinya?"
Milo berdecak kemudian menyerapah, kesal pada diri sendiri. "Maksudku tidak sampai segitunya kamu harus cemburu kepada hubungan mereka. Kamu beneran menyukai Kak Toshi sampai-sampai berbuat senekat itu?"
Olivia membisu, diam tak berkutik, dan itu menyakiti hati Milo. Milo menjambak rambutnya dan menatap pacarnya dengan kecewa.
"Lalu aku ini apa? Aku kira kau menganggapnya seperti cowok incaranmu lainnya."
Olivia menggeleng. "Aku hanya tidak suka, Milo." Olivia menggigit bibi. "Dia tidak pantas. Bukankah kau mengerti hal itu?"
Milo menghela napasnya mendengar hal itu lagi.
"Aku ... aku hanya ...."
Milo memberikan pelukannya pada Olivia yang mulai terisak. "Sudahlah, sudahlah." Ia mengelus kepala gadisnya dan mengeratkan pelukannya.
"Aku hanya menyukaimu. Tapi ...."
"Iya-iya, aku mengerti."
🎐🎐🎐
Ketika mengantar Lucy pulang setelah siuman, Milo meminta Lucy untuk tidak memberitahukan kepada siapapun perihal apa yang sudah terjadi. Dan Lucy pun menyetujuinya.
Dengan kepala yang masih berdengung, Lucy memilih untuk menghabiskan malam dengan berbaring di ranjangnya. Jika ditanyakan apakah ia memaafkan apa yang Olivia perbuat padanya, tentu ia memaafkannya.
Seperti biasa, Lucy memaafkannya karena menurutnya ia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Apa yang Olivia katakan adalah kebenaran. Dirinya memang tidak tahu diri karena mengharapkan cinta dari orang yang sempurna seperti Kak Toshi. Menurutnya ia meminta terlalu banyak.
Hanya saja, Lucy tak dapat mengungkiri jika dia tak bisa mengikuti apa yang Olivia minta. Sedari dulu hanya Toshi orang yang memperlakukannya seperti manusia pada umumnya dan itu membuat Lucy tak bisa dan tak ingin menjauhi pria itu. Lucy merasa dirinya berhak untuk bertahan dan berhak untuk dicintai meskipun itu tidak pantas dan meskipun dia harus kembali berpura-pura tak tahu diri.
Selama sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA, semua orang yang ia temui hampir mengatakan hal serupa seperti yang Olivia katakan. Lucy tak pernah membantah atau memarahi mereka karena jika ia membalasnya, maka ia sama saja seperti orang yang membantah kebenaran. Singkatnya orang yang menyembunyikan kebenaran. Bukankah kebenaran memang menyakitkan? Kalau itu memang kebenaran kenapa kita harus menyanggahnya.
Lucy berbalik dalam posisi tidurnya dan menghadapkan tubuhnya pada jendela yang menampilkan langit malam dengan taburan bintang. Perlahan, ia memegang dadanya dan berusaha menarik napas. Sesak rasanya mengingat saat kanak-kanak ia sudah sering mempermalukan Jun di depan teman-temannya karena mempunyai kakak yang cacat. Jun bahkan tidak mendapat teman karenanya. Semenjak itulah Jun tidak ingin Lucy muncul di depan teman-temannya.
Hal itu menyakiti Lucy. Bukan karena perlakuan Jun, melainkan karena dirinya yang sudah membuat adiknya menderita sejak dulu. Ia tak menyalahkan jika orangtuanya menitipkannya pada orang lain hanya untuk kebahagiaan Jun. Akan tetapi, kesedihannya bertambah ketika sudah berpindah, ia malah membuat hidup Milo menjadi sengsara.
Semua orang mungkin belum tahu jika Milo secara tidak resmi menjadi kakaknya meskipun mereka kadang melihatnya dan Milo yang pulang pergi bersama. Namun, Lucy yakin jika orang-orang tahu-seperti Olivia-tentang kebenarannya, maka itu akan menghancurkan kehidupan Milo seperti ia menghancurkan kehidupan Jun.
Maka dari itu, ia beranggapan bahwa Milo berhak memperlakukannya sekasar apapun.
Lucy tersenyum menatapi gemintang yang ada. Hidungnya berair namun ia tidak menangis sama sekali. Ia bahagia, sangat bahagia. Suatu hari nanti kehidupannya yang dipenuhi cinta akan dimulai. Toshi pasti merasakan hal yang sama tentang perasaannya terhadap Lucy dan setelah hal itu terjadi, maka Milo akan menjadi kakak yang baik untuknya. Jun mungkin juga akan menerimanya setelah mengetahui jika Lucy nantinya akan menjadi istri dari orang yang diidolakannya.
Jun mengidolakan Toshi karena bakat yang dimiliki pria itu. Mereka berdua sudah mengaguminya sejak dulu, hanya saja Lucy jatuh cinta, dan rasa cinta ini membuatnya menjadi egois sampai-sampai tak mempedulikan pendapat orang lain terhadap Toshi nantinya.
Tapi biarlah jika ia mengegoiskan diri untuk satu kali ini saja. Lagipula tidak ada salahnya jika Toshi merasakan hal yang sama padanya. Lucy hanya ingin merasakan sedikitnya rasa cinta yang orang-orang dapatkan sejak lahir, sementara ia tidak.
Untuk itu, dalam kehidupannya yang serba tidak pasti, ia berharap pada-Nya jika ia bisa memperoleh cinta tanpa harus menyakiti orang lain. Ia ingin merasakan hal itu sekali saja meskipun itu akan membunuhnya.
🎐🎐🎐
Hari ini, Lucy memutuskan untuk tidak berkuliah meski ada kelasnya Toshi. Hal ini dikarenakan kepalanya masih terasa pusing. Tante Lisa dan Om Arthur sempat khawatir dan mengira jika Lucy demam. Akhirnya mereka membiarkan Lucy untuk tidak berkuliah hari ini.
Sejenak ia menyumpalkan earphone ke telinga dan mulai memainkan Piano Tales di ponselnya. Toshi pernah mengatakan jika lagu-lagunya Mozart pernah memberikannya inspirasi, hal itu membuat Lucy mencoba beberapa lagu milik Mozart meski tingkat kesulitannya tinggi.
Tak lama kemudian, Tante Lisa mengetuk pintu kamarnya dan datang dengan sepiring biskuit cokelat. "Sudah merasa baikan?"
Lucy melepas earphonenya dan menganggukkan kepala tersenyum.
"Apakah tekanan kuliah membuatmu merasakan stress?" Tanyanya kemudian setelah meletakkan biskuitnya di meja dekat ranjang. Tante Lisa duduk di tepi dan mengusap kepala Lucy.
Lucy menggeleng pelan dan mengatakan jika dia kelelahan saja.
"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong, kau sedang apa?"
Lucy menunjukkan game yang masih tertera di layar ponselnya. Lisa mengangguk dan mengatakan jika Lucy harus memperhatikan kesehatannya karena tekanan saat kuliah begitu banyak.
Lisa beranjak hendak pergi dari sana, namun matanya terpaku pada sesuatu di atas etalase. "Kotak apa itu?"
Lucy beranjak dan mendekat untuk melihat secara pasti. "Oh, itu kotak kacamataku."
"Kau punya kaca mata?"
"Iya, tapi aku tidak pernah memakainya lagi. Sejak dulu."
Lisa mengangguk, namun ia tak segera pergi. Fokusnya terbagi pada etalase yang penuh dengan aneka bangau berwarna-warni yang memang hampir setiap hari Lucy buat. Matanya mengernyit tak mengerti mengapa begitu banyak bangau yang berada di etalase tengah sementara di bagian bawah terlihat kosong, sedangkan di bagian atas hanya ada delapan buah.
"Kau membuat semua ini?" Lisa menanyakan sesuatu yang bersifat retoris sementara pertanyaan yang asli ia tahan.
Ketika hari sudah mendekati senja, Milo akhirnya pulang. Lucy bukannya tahu karena menyambut di depan pintu, ia tahu karena melihat dari jendela kamarnya. Dia bercerita pada ibunya kalau ia mengantarkan Olivia hari ini dengan tenang. Lucy turut senang mendengar cerita Milo dari suara girangnya yang begitu jelas hingga terdengar ke lantai dua.
Namun bukan itu kabar bahagianya. Kabar bahagianya yaitu tepat saat Om Arthur pulang, Tante Lisa memanggil Lucy dan mengatakan jika Toshi berada di bawah. Lucy tentunya kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Ia berkaca sebentar, merapikan rambut dan turun ke bawah. Di sana, terlihat Toshi yang sedang diinterogasi oleh Om Arthur, Tante Lisa, dan Milo yang mendengarkan dari meja makan. Meski sudah pernah melihat Toshi saat mengantar Lucy pulang, namun ini kali pertama Toshi masuk ke rumah ini dan memperkenalkan diri lebih intens.
Lucy tersenyum mendapati wajah Toshi dengan pakaian kemeja mengajarnya. Setelah beberapa saat, Om Arthur terlihat menyukai Toshi-menurut Lucy itu sudah pasti-begitupun dengan Tante Lisa. Mereka pun membolehkan Lucy pergi.
"Pergi? Ke mana?" Lucy tak tahu jika ternyata Toshi datang ke sini untuk mengajak Lucy ke suatu tempat. Lucy sempat kebingungan dan mati kutu karena ia tidak siap apa-apa. Sehingga, dengan penampilan apa adanya, ia kini berada di boncengan belakang motor Toshi. Meski sudah beberapa kali di bonceng olehnya, sensasi detak jantungnya tetap sama. Detak jantung yang sejak kemarin terasa berhenti kini seolah berdetak lagi.
Lima menit kemudian, ia menyadari jika mereka saat ini tengah berada di jalan desanya. Tepatnya desa mereka berdua. Entah apa yang Toshi maksudkan, tapi ini jelas memang tempatnya sejak lahir.
Lucy mencium aromanya dan merasakan kerinduan yang begitu mendalam dengan tempat ini karena sudah dua bulan ia tak berada di sini. Hal ini juga dikarenakan Lucy yang hanya pulang pergi kampus dan itu arah yang berlawanan dengan desanya, meski tempat ini terbilang dekat dengan tempatnya Milo.
Ketika Lucy merasakan jalan rumah yang familiar, ia tidak memalingkan wajah pada rumah dengan dinding cat biru muda dan keramik hijau ditambah ubin merah. Itu rumahnya dan masih terlihat sama. Pintunya terbuka, bisa jadi Jun sudah pulang dari tempat les dan sudah berada di rumah. Lucy seketika rindu akan kehangatan yang terlihat di rumah itu meski ia hanya melihatnya sekilas.
Toshi memarkirkan motornya di rumah orangtuanya. "Ayo!" Dia mengajak Lucy untuk masuk ke dalam sekaligus menjelaskan pada Lucy jika ia sengaja mengajak Lucy ke rumahnya.
"Assalamualaikum, Ibu aku pulang." Toshi hendak menyalami ibunya. Akan tetapi, ibu Toshi malah mematung melihat keberadaan Lucy saat ini.
"Bibi." Lucy tersenyum.
"Ya Tuhan, gadis mungilku tersayang." Ibunya Toshi mendekati Lucy kemudian memeluknya. Lucy suka pelukan dari ibu Toshi yang dulu sering ia dapatkan. "Berbulan-bulan aku tidak melihatmu lagi."
"Dia tinggal di rumah orang lain untuk sementara waktu." Toshi yang menjelaskan pada ibunya.
"Kenapa?"
Lucy menjelaskan alasan versinya sendiri yang simpang siur. Ibunya Toshi masih tak percaya dan ingin menanyakan sesuatu sampai-sampai hal itu tertunda ketika ayah Toshi turut bergabung di sana.
"Lucy?"
"Paman!" Lucy turut menyalami tangan ayah Milo dan hal itu dibalas dengan tepukkan pada bahunya. "Selama ini dia selalu nanyain kabar kamu. Sekarang, malah kamu yang bawa dia ke sini," ungkap sang ayah pada Toshi dengan senangnya. "Kamu selama ini ke mana? Kenapa tidak ke sini lagi?"
Sekali lagi Toshi menjelaskan tentang keadaan Lucy sekarang dan itu menimbulkan pertanyaan yang kurang lebih sama.
"Sudahlah, Ayah. Sebaiknya kita makan sekarang."
"Kalain berdua sudah shalat, kan?" Baik Lucy maupun Toshi sama-sama mengangguk. "Kalau begitu ayo, ibumu sudah masak banyak untuk kalian."
Lucy merasakan perasaan yang begitu penuh dalam hatinya. Seakan rasa sesak dan sakit yang ia rasakan kemarin menguap begitu saja.
Lucy yakin, suatu hari nanti dia akan menjadi bagian dari keluarga ini.
🎐🎐🎐
**ORIGAMI 14 : Suatu Hari
Chapter 14, tinggalkan jejak kalian dengan commentnya ya:)
🎋
Qomichi**